Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
27. Tentang Keterbukaan Hati


__ADS_3

"Tidur di mana semalam Hen ?" Asri memecahkan kebisuan di teras ruang rawat inap rumah sakit tempat Joko dirawat setelah duduk menyebelahi Hening.


"Di rumah Jengki bareng Yuni," jawab Hening.


"Lama aku tidak ke sana," Asri merapat ke arah Hening mencoba menghilangkan degup jantungnya yang tak beraturan.


"Nanti malam temani kami. Sudah lama juga kita tidak bersapa langsung," sama seperti Asri, perasaan hati Hening juga tak menentu. Dua hari bersama Seti di Jogja membuat perasaannya tak karuan terhadap Asri.


"Nanti kalau Ibu mengijinkan, aku pasti menemani kalian Hen," masih dengan nada saling menebak arah pembicaraan, Asri mengiyakan permintaan Hening.


"Kayaknya seru nih kalau kamu mau menemani kami," Yuni ikut nimbrung.


Percakapan ketiga perempuan itu semakin menghangatkan teras ruang rawat inap.


Cerita kesibukan masing-masing kampus mengalir dari mulut mereka. Yuni yang pintar mengarahkan percakapan membuat suasana hati Asri dan Hening menjadi riang. Pagi itu kedekatan Asri dan Hening bertambah dengan Yuni yang ada di tengah keduanya.


...----------------...


Bening memasuki rumah Jengki. Wajah lelahnya masih terlihat saat membuka pintu kamar tidurnya. Hening menyusul masuk kemudian. Membuka daun jendela selebar mungkin. Membiarkan udara segar masuk setelah sekian lama kamar itu tertutup rapat. Lalu mengepel bersih lantainya.


Tak lama setelah visite dokter dan perawat, Teguh adik Joko mengantarkan Ibunya menjenguk Joko. Ibu Joko menyuruh Bening beristirahat di rumah dulu, sepertinya dia tahu Bening sangat membutuhkan istirahat, melupakan urusan Joko sejenak. Asri dan Ibunya bergantian menunggui Joko di rumah sakit setelah Bening akhirnya mau mengikuti saran mereka untuk beristirahat sebentar di rumah Jengki, sekaligus menengok rumah itu.


Tak mau mengganggu kakaknya, Hening keluar dari kamar setelah melihat Bening yang mulai terlelap di tempat tidur.


"Nanti Asri jadi tidur di sini Hen ?" Tanya Yuni ketika Hening mendekatinya di teras belakang rumah Jengki.


"Jadi ... Tadi Ibunya mengijinkan," jawab Hening, "Nanti diantar mas Teguh ke sini sekalian jemput mbak Ning menggantikannya," lanjutnya sambil duduk menyebelahi Yuni.


"Kulihat ada sesuatu yang ingin kalian bicarakan berdua saja,"


"Ah tidak yang seperti kamu pikirlan Yun. Aku dan Asri lama tak mengobrol di rumah ini setelah aku di Jakarta dan dia di Jogja,"


"Sukurlah, aku berharap kedekatan kalian tak terganggu karena masalah laki-laki,"


"Seti maksudmu ?" Hening tertawa kecil.


"Iya," Yuni tersenyum mendengar tawa Hening.

__ADS_1


"Ah kamu terlalu berlebihan. Aku yakin Asri mempercayaiku jika nanti kuceritakan tentang cerita kita selama di Jogja kepadanya."


...----------------...


"Nanti malam jadi menginap di rumah Jengki As ?" Tanya Ibu ke arah Asri yang sedang memasukkan pakaian kotor Joko ke dalam keranjang cucian.


"Jadi bu, sekalian cuci baju mas Joko di sana," jawab Asri pelan tak mau Joko yang tetidur terganggu suaranya.


"Jangan lupa buatkan sarapan buat Bening jika pagi-pagi kamu berangkat dari sana," Ibu mengingatkan Asri.


"Pastilah Bu, nanti Asri belanja sekalian bareng mas Teguh sebelum ke sana."


"Sudah dikasih Bapak buat belanjamu ?"


"Uang Asri dari Seti masih ada Bu."


Ibu mengalihkan tatapan dari Joko ke arah Asri. Kedekatan dengan Seti yang sering disinggung di dapur rumah Sokaraja sebenarnya dipahami Ibu. Hanya tentang uang yang diterima Asri dari Seti diingatkannya untuk selalu memberitahu Seti jika memakainya.


Walau Ibu Asri tahu uang yang diperoleh Seti dan Asri adalah dari berjualan di lapak Malioboro, dia tidak mau hanya karena persoalan uang, hubungan Asri dan Seti terganggu. Keibuannya mengajarkan keterbukaan masalah uang bersama jika kelak Asri dan Seti semakin serius untuk bersatu dalam ikatan rumah tangga.


Ibu juga berkali-kali menyinggung asal mula bengkel keluarga Sokaraja yang semula hanya Bapak sendirian mengelolanya sampai menjadi besar dan cukup untuk membiayai Joko sampai Yanti adik Asri terkecil kuliah adalah karena adanya ketebukaan mengenai keuangan.


Mesin-mesin bubut yang dibeli Joko dengan pembayaran secara mengangsur semakin mempercepat pekerjaan bengkel. Hanya saja setelah Joko jatuh sakit, beban angsuran mesin terganggu setelah banyak pekerjaan bubut yang tertunda penyelesaiannya. Belum semua karyawan yang dipercaya Bapak dan Joko mampu mengoperasaikan mesin-mesin bubut baru itu. Bapak yang semula bersama Joko mengoperasikan mesin-mesin bubut itu sekarang sendirian mengoperasikannya.


Tabungan keluarga juga mulai terpakai untuk biaya pengobatan dan perawatan Joko. Asri yang akhirnya menceritakan pemberian Seti dari hasil berjualan di lapak Malioboro setelah mendengar keluh kesah Ibu tentang keuangan bengkel dan keluarga merasa lega ketika Ibu tak menyuruhnya mengembalikan uang pemberian Seti.


Dari Ibunya, Asri memahami bahwa perempuan dalam rumah tangga juga harus ikut bertanggungjawab terhadap pemasukan dan pengeluaran secara terbuka supaya sekencang apapun badai kesulitan yang menimpa tidak menambah persoalan baru yang akhirnya memicu pertengkaran keluarga.


...----------------...


Dapur rumah Jengki terlihat sedikit ramai dengan suara perempuan yang saling bersahutan. Kebersamaan Asri, Hening, dan Yuni di rumah sakit tadi pagi tersambung lagi dengan sapaan-sapaan keakraban malam itu di rumah Jengki.


Tadi Asri diantar Teguh ke rumah Jengki sekalian menjemput Bening yang bergantian menunggu Joko di rumah sakit.


"Yuni kayaknya ngebet banget sama Doni As...,"Hening menggoda Yuni.


Asri melirik wajah cantik Yuni yang kelihatan memerah pipinya mendengar kata-kata Hening.

__ADS_1


"Doni teman kampus Joe ?" Asri mencoba menebak siapa yang dimaksud Hening.


"Ya ... si gondrong seniman kulit Malioboro," Hening terbahak.


"Cocok kalau Doni dan kamu jadian Yun. Anaknya kalem, ganteng dan pintar merubah sesuatu dari kulit menjadi uang," Asri mengalihkan percakapan ke arah Yuni yang pura-pura mengelap sendok dan piring buat makan malam.


"Ah, belum tentu dia mau sama aku," Yuni menjawab sebisanya dari sudut dapur.


"Kalau dia gak ada rasa denganmu mana mungkin kamu dibuatkan contoh karyanya," Hening menimpali percakapan dapur yang semakin hangat dan akrab.


"Kan ada Seti dan Joe juga selama kita di Jogja Hen. Bisa saja tas dan dompet buatan Doni hanya titipan mereka saja buat sekedar berdagang," Yuni menyinggung teman barunya di Jogja.


Mendengar nama Seti disebut Yuni, dapur rumah Jengki terdiam sejenak. Asri dan Hening saling bertatapan sejenak dengan isi hati masing-masing.


Melihat kekakuan keduanya, hati kecil Yuni merasa bersalah membuka topik pembicaraan yang membuat suasana hati Asri dan Hening berubah.


"Maafkan aku Hen," tak tahan dengan keterdiaman, Asri membuka percakapan lagi.


"Aku perlu meninggalkan kalian berdua untuk berbicara ?" Yuni bertanya sambil bergantian menatap Asri dan Hening.


"Di sini saja Yun, gak apa-apa," Asri menjawab pertanyaan Yuni.


Hening mengangguk mengiyakan kata-kata Asri setelah Yuni memandangnya. "Kenapa kamu meminta maaf As ?" Kali ini Hening bertanya balik ke arah Asri.


"Tentang Seti," jawab Asri pendek di antara gemuruh jantungnya.


"Ada apa dengan Seti ?" Hening mencoba memancing Asri untuk menegaskan kata-kata yang baru diucapkannya tadi.


"Aku mengabaikan kepercayaanmu padaku. Aku membalas permintaannya untuk lebih dari sekedar berteman dekat,"


Hening mendekap erat Asri. "Kenapa aku harus memaafkanmu. Justru aku yang akan minta maaf padamu, masih mencoba mengganggu kedekatan kalian di Jogja,"


"Aku percaya padamu Hen. Tak mungkin kamu mengganggu aku dan Seti. Tapi kuminta jangan menjauh dari kami. Bagaimanapun kamu pernah singgah di suatu masa," Asri membalas dekapan erat Hening.


Yuni yang melihat kedua sahabat lama itu saling mengungkapkan kerahasiaan hati masing-masing merasa lega. Perasaan bersalahnya mereda setelah keduanya saling tersenyum dan mengajaknya makan malam.


Tak lama, meja ruang makan rumah Jengki kembali ke kegembiraan semula. Kegembiraan tentang kenangan masa lalu, cerita hari ini, dan harapan hari esok menjadikan ketiga perempuan yang beranjak dewasa itu untuk terus dipersatukan dalam kedekatan yang abadi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2