Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
28. Kerinduan


__ADS_3

Si Denok meliuk-meliuk di sela kemacetan Jalan Solo. Melaju sigap ke arah bandara Adisucipto menjelang sore. Seti yang ada di atasnya terlihat tak sabar bertemu Seto yang mengabarkan akan singgah di Jogja dulu lewat telegram yang diterima Seti tiga hari lalu.


Setelah lebih satu tahun tak bertemu kakaknya, Seti ingin memamerkan semua isi surat yang dikirimkan ke Seto. Mulai dari kampusnya, lapak Malioboro, kost Samirono dengan mbah Jum, dan tentu saja tentang Asri tak mau berlama hanya sekedar cerita tulisan tangan yang tersekat jarak dan waktu dengan Seto. Berharap Seto membenarkan isi surat-surat yang rutin diceritakan Seti tentang segala kisahnya selama di Jogja.


The road is long


With many a winding turn


That leads us to who knows where


Who knows where


But I'm strong


Strong enough to carry him


He ain't heavy, he's my brother ...


Masuk pelataran parkir motor bandara, mulut riang Seti menyanyikan He ain't heavy, he is my brother-nya The Hollies. Memastikan si Denok terkunci dengan aman, Seti bergegas menuju ke arah pintu kedatangan bandara. Langkah bergegasnya berganti langkah santai setelah melirik arloji di tangannya.


Sepertinya masih banyak waktu untuk menunggu pesawat yang membawa Seto tiba sambil ngopi dulu di kedai kopi yang terlihat berderet tak jauh dari lorong pintu kedatangan bandara.


...----------------...


Gelas kopi panas yang tersaji di depan duduknya sepertinya belum menggugah minat Seti untuk menyentuhnya. Membiarkan dulu gelas panas itu berlama-lama. Seperti rasa rindunya kepada Seto.


Kopi kental dan kerinduan sepertinya dua filosofi yang mirip tentang rasa. Semakin dibiarkan akan semakin menjerat penikmatnya untuk berusaha berlama-lama meresapi ketika bersentuhan dengannya.

__ADS_1


Rasa rindu itu tidak harus selalu dilepaskan secara langsung. Jika untaian kata tertulis dapat melepaskan rasa rindu itu secara tak langsung, maka jarak hanyalah sebuah rintangan. Hanya ego seseorang saja yang menjadikan jarak sebagai rintangan alasan pelepas rindu.


Betapa Seto menempuh ribuan kilometer hanya untuk menemuinya, membuat Seti tak mau terbebani rintangan kerinduan. Tak hanya kepada Seto, semua ego dirinya akan dikesampingkan jika orang terdekatnya yang terpasung jarak tiba-tiba saja muncul dalam ruang rindu hatinya.


Jika untaian tulisan lewat surat menyuratnya dengan Seto bisa mengobati rasa rindu itu, lain lagi kepada Asri. Ruang rindu itu dilepaskannya dengan meneleponnya. Mendengarkan suara Asri dirasa mampu menghilangkan jarak penyekat rindu dengan rasa yang menyenangkan hati masing-masing.


Semalam hampir satu jam Seti meluangkan waktu menelepon Asri dari wartel ke rumah Sokaraja sepulang dari lapak Malioboro. Perbincangan tentang rutinitas masing-masing, perkembangan kesehatan Joko, dan tentu saja kedatangan Seto bergantian mengisi perbincangan semalam.


"Salam dari Hening," Asri beralih menyinggung Hening di sela perbincangan.


"Eh ... Hening masih di Purwokerto ?" Tak menyangka Asri menyinggung itu, sedikit tergagap Seti tersadar ada seseorang yang dilupakannya setelah kelegaan dan kegembiraan di rumah Wirobrajan dulu.


"Sudah balik ke Jakarta bareng Yuni dua hari lalu," Asri menjawab pertanyaan canggung Seti dengan nada menggoda. Menyadari sedikit kekakuan nada bicara Seti.


Nada riang Asri menceritakan tentang kedekatannya dengan Hening dan Yuni selama di rumah Jengki membuat kerisauan Seti tentang hubungan perkasihannya i menjauhkan Asri dan Hening memudar. Apalagi Asri juga mengatakan bahwa Hening baik-baik saja setelah keterus terangan Asri tentang hubungan itu.


Menghabiskan gelas kopi yang masih terasa hangat isinya, Seti bergegas berdiri menuju pintu kedatangan menjemput Seto. Bersiap mengisi ruang rindunya yang lain.


...----------------...


Sosok yang dirindu Seti terlihat semakin gagah dan segar ketika membalas senyumannya. Seto memeluk erat Seti setelah keluar dari pintu kedatangan.


Tak mau berlama-lama lagi berbagi cerita, keduanya bergegas meninggalkan bandara ke arah parkiran sepeda motor tanpa banyak kata.


Dua laki-laki muda itu menarik beberapa perempuan yang berpapasan untuk meliriknya. Kedewasaan Seto yang lebih matang dan Seti yang tumbuh menjadi laki-laki dengan daya tarik masing-masing menyenangkan lawan jenisnya untuk menatapnya sejenak.


Baru kali ini Seto berdua saja dengan Seti di luar kota. Kesempatan berbicara banyak tentang masalah laki-laki dewasa dengannya sudah ada dalam benak Seto. Tentu saja bukan kengawuran seperti masa lalunya. Seto tak ingin adiknya terperangkap bayangan masa lalu seperti dirinya.

__ADS_1


Suka tidak suka, bayangan masa lalu tentang Bening tak mudah dihilangkannya begitu saja. Mengetahui Bening dan Joko dalam masalah serius dari Seti, dia memutuskan untuk tidak ada keraguan kali ini menemui Bening dan Joko.


Bukan tentang roman masa lalu yang akan dirajutnya lagi. Tetapi paling tidak menunjukkan bahwa dirinya berguna bagi Bening dan Joko setelah kedatangannya menemui mereka kelak.


Dari cerita Seti tentang kondisi keuangan Bening dan Joko yang terganggu setelah Joko sakit, Seto mencoba memikirkan membantu keduanya dengan cara yang patut. Bening yang mengijinkannya untuk menengok Joko memantapkan keputusannya untuk mencari tahu lebih jauh apa yang bisa dilakukannya tanpa berbagai persangkaan.


...----------------...


Seperempat jam menerobos keramaian jalan dari bandara ke arah Samirono. Akhirnya si Denok sampai juga di depan warung makan sederhana yang terlihat sepi.


Seto mengikuti Seti masuk ke dalam warung itu. Di jalan tadi Seti sudah menyinggung kost Samirono dan warung makan mbah Jum.


"Selamat sore mbah," Seti masuk ke arah dapur mencari mbah Jum yang tak terlihat di warung.


Seto memperhatikan dari depan warung sambil mencuci tangan dan wajahnya. Guyuran air segar melepaskan penat setelah perjalanannya. Mengelap tangan dan wajahnya dengan tisu, Seto duduk bersandar di bale-bale bambu yang ada di sudut warung dekat meja saji yang dipenuhi sayur dan lauk pauk dagangan mbah Jum.


"Eh ada tamu ...," suara teguran mengalihkan perhatian Seto ke arah sosok mbah Jum yang terlihat keluar dari pintu dapur.


"Selamat sore mbah. Saya Seto kakak Seti," Seto berdiri dari bale-bale menyambut uluran tangan mbah Jum yang menyalaminya.


"Iya, Seti sudah banyak bercerita tentang mas-nya yang pelaut," mbah Jum mulai berkata ramah seperti kebiasaannya kepada siapa saja yang singgah di warungnya.


Seti mengambil tas besar Seto dan membawanya ke kamarnya di tengah perbincangan mbah Jum dan Seto. "Aku siapkan kamar dulu mas. Mau mandi sekarang atau nanti ?" Tanya Seti ke arah Seto sebelum beranjak meninggalkannya.


"Nanti sajalah Set setelah ngopi dan ngrokok dulu di sini," jawab Seto.


Perbincangan mulai akrab setelah Seti meninggalkan warung. Seperti adiknya, Seto juga pandai membawa diri. Mbah Jum semakin senang ketika Seto tertawa mendengar ceritanya tentang penghuni kost Samirono. Juga tentang kedekatannya dengan Seti dan Asri yang sudah dianggap bagian dari keluarganya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2