
Tumpukan kardus kemasan berjajar rapi. Label Sanggar Seni Taji dengan warna hitam putih dan bentuk huruf sederhana yang tersemat di kemasan semakin menguatkan kesan etnik barang yang ada di dalamnya.
Hening tampak puas dengan kemasan packing yang dipesannya. Jerih payahnya bersama Yuni membesarkan sanggar seni akhirnya berbuah.
Tak menyangka saran beberapa pengunjung yang diturutinya untuk memberi nama sanggar dengan nama yang unik di pasar seni Ancol mampu menambah ketertarikan beberapa turis asing singgah.
Nama taji terucap saat berdiskusi dengan Yuni, Asri, Joe, Doni dan Seti.
Makna kata taji sanggar tidak seperti makna kata tajen di Bali yang berasal dari kata taji yang berarti sabung ayam dengan benda tajam yang telah berkembang cukup mengakar di dalam kehidupan masyarakat Bali dan merupakan bagian dari acara ritual keagamaan tabuh rah atau prang sata dalam masyarakat Hindu Bali.
Tabuh rah ini mempersyaratkan adanya darah yang menetes sebagai simbol atau syarat menyucikan umat manusia dari ketamakan dan keserakahan terhadap nilai-nilai materialistis dan duniawi.
Tabuh rah juga bermakna sebagai upacara ritual buta yadnya yang mana darah yang menetes ke bumi disimbolkan sebagai permohonan umat manusia kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari marabahaya.
Taji yang dimaksud sebagai pembeda nama sanggar Hening dan Yuni lebih berfilosofi sebagai alat pertahanan diri karunia Sang Khalik dari marabahaya dan penghindar dari sesuatu yang jahat.
Joe-lah yang kemudian menuangkan ide nama itu dalam coretan logo hitam putih yang membedakannya dengan sanggar seni lain.
Perlahan nama Sanggar Seni Taji selain dikenal dari lukisan-lukisan juga dari kerajinan kulit dan pernak pernik etnik yang dipajang.
...----------------...
Naluri dagang Yuni yang mencoba memajang tas kulit buatan Doni di Sanggar Taji akhirnya terjawab oleh pasar. Tas yang dipakai dari satu dua pembeli mulai menarik minat pengunjung sanggar yang melihatnya.
Dari mulut ke mulut tas-tas yang dipajang di sanggar mulai dikenal pembeli lokal. Apalagi setiap tiga bulan Doni rajin memproduksi model yang baru.
Entah karena faktor keberuntungan atau juga sebab kedekatan Yuni dan Hening dengan seniornya sesama alumni IKJ dan seniman-seniman kontemporer di Jakarta ahirnya melibatkan keduanya di kepanitiaan Pameran Seni Kontemporer dari Negara-negara Non Blok.
Didukung kemampuan berbahasa Inggris Yuni dari pergaulannya sejak kecil dengan teman Bapaknya di Pasar Seni Ancol, momen itu dimanfaatkan betul oleh Yuni dan Hening untuk mengenalkan Sanggar Taji kepada beberapa perwakilan luar dan lokal yang sedang menyiapkan pameran.
Tak menyangka setelah singgah di Sanggar Taji beberapa perwakilan pameran tertarik membeli kerajinan kulit yang dipajang.
Yuni dan Hening sempat ragu dengan stok yang tersedia. Untungnya beberapa permintaan pengunjung sanggar masih ada di lapak Malioboro.
Hening yang juga menangkap peluang itu membuat kemasan ramah lingkungan dari bahan kardus daur ulang setelah pembeli dari luar negeri menanyakan kemasan yang akan dipakai membungkusnya untuk dibawa pulang ke negaranya sebagai cindera mata setelah selesai mempersiapkan pameran.
Dua minggu menyiapkan segala macam barang yang dipesan dan dikemas sampai pengiriman, dipelajari betul dan dicatat oleh Yuni dan Hening. Bersiap supaya tidak kerepotan jika ada permintaan lagi saat pengunjung lain yang dijanjikan akan datang di bulan April setelah pameran dibuka.
__ADS_1
"Sudah beres urusan ekspedisi Yun ?" Tanya Hening di sela mengecek catatan barang yang akan dikirim oleh perusahaan ekspedisi.
"Sudah semua ... Tinggal diambil nanti sama orang ekspedisi," Yuni memainkan kamera untuk mendokumentasikan pengiriman pertama Sanggar Taji ke luar negeri.
Ada setengah jam keduanya kembali sibuk dengan urusan masing-masing.
"Kita makan dulu terus ngopi yuk ?" Tak lama sesudah merasa puas dan tak ada ketidaksesuaian dengan catatan, Hening mengajak Yuni mengisi perutnya yang terasa lapar.
"Wah sampai lupa isi perut ... yuk kita makan enak." Yuni mengemas kamera mengikuti ajakan Hening.
...----------------...
"Aku rasa kerja keras kita mulai berhasil Hen," kata Yuni diantara suapan nasi padang yang dipesannya.
"Semoga berlanjut Yun, ...tak sabar aku secepatnya ke Jogja berbagi rejeki dengan lapak Malioboro," Hening menanggapi kata-kata Yuni.
"Minggu depan kita jadi ke sana kan ?" Tanya Yuni kemudian.
"Jadilah," jawab Hening sambil menyeruput kuah soto Betawi kesukaannya, " Mbak Ning juga akan ke Jogja menemui kita di sana," lanjutnya lagi.
"Kelihatannya dia sudah mulai merelakan kepergian mas Joko. Hanya saja dia menyampaikan ingin berbicara langsung denganku di luar rumah Jengki saat terakhir meneleponku,"
"Moga-moga dia senang ngobrol di Jogja,"
"Aku harap seperti itu. Hanya tidak seperti biasanya dia tidak mengajakku berbicara berdua di kamar rumah Jengki jika ada sesuatu yang mengganjal hatinya ingin dibicarakannya denganku,"
"Hahaha... mungkin dia ingin menanyakan siapa pacarmu," Yuni mencoba mengalihkan apa yang sedang dipikirkan sahabatnya.
Hening membalas tawa Yuni. Teringat berkali-kali beberapa teman lelakinya di kampus mencoba mendekatinya dulu.Tidak seperti Yuni yang akhirnya semakin dekat dan akhirmya jatuh cinta dengan Doni, dirinya mengabaikan teman lelakinya yang mencoba mendekat.
Membatasi hanya Seti, Joe dan Doni sebagai teman lelaki untuk berbagi cerita, Hening fokus dengan kuliahnya sampai selesai setelah diuji dengan kesusahan sakit sampai meninggalnya Joko suami Bening kakaknya.
Bertemu dan akhirnya akrab dengan Yuni yang sudah dianggapnya sebagai saudara di persinggahan Jakarta diakui hati kecil Hening sebagai anugrah dalam hidupnya.
Hening tak bisa membayangkan jika tanpa Yuni dirinya akan mampu mengatasi kesulitan yang telah dilaluinya.
Menjadi mandiri dan tak lagi tergantung kepada uluran tangan Bening tak lepas dari persinggungannya dengan Yuni.
__ADS_1
Kopi pesanan Yuni yang disajikan setelah makan siang selesai menepikan apa yang melintas di benak Hening.
Masing-masing lalu menyalakan sebatang rokok. Menunggu kopi menghangat untuk dinikmati. Kedua perempuan yang semakin cantik dengan kedewasaannya itu terlihat menikmati udara siang Jakarta.
...----------------...
"Sudah yuk, kita balik dulu ke sanggar. Barangkali orang ekspedisi sudah di sana," Hening menghabiskan sisa kopi dan mematikan rokok yang dihisapnya ke asbak.
"Wah iya ... hampir lupa ada satu kerjaan lagi yang harus diselesaikan." Yuni bangkit berdiri mengikuti Hening yang beranjak lebih dulu.
Tak jauh jarak tempat mereka makan dengan Sanggar Taji.
Berjalan sekitar lima menit sampailah Yuni dan Hening ke sanggar sekaligus kantor mereka setelah sama-sama menyelesaikan kuliahnya.
"Baring-baring dulu Hen di sebelah sambil menunggu barang diambil," Yuni menyerahkan kunci sanggar peninggalan Bapak.
Sanggar yang ada di sebelah Sanggar Taji itu sudah sedikit dirubah fungsinya. Sekarang lebih sebagai studio finishing saja dan tempat tinggal sementara Yuni dan Hening setelah om Rudi panggilan Hening kepada bapak Yuni pindah ke Jogja.
Menerima kunci yang diberikan, Hening beranjak ke pintu sanggar om Rudi. Hawa dingin ruang ber AC menyejukkan panas Jakarta yang dirasakannya saat berjalan tadi.
Menyalakan radio yang ada di sudut studio, hati Hening tersentak saat alunan lagu Kangen Dewa 19 terdengar. Mengingatkan kembali dengan kenangan suatu masa yang sulit untuk dilupakannya ...
Kuterima suratmu, telah kubaca dan aku mengerti
Betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku
Di dalam hari-harimu, bersama lagi
Kau tanyakan padaku, "Kapan aku akan kembali lagi?"
Katamu kau tak kuasa melawan gejolak di dalam dada
Yang membara menahan rasa pertemuan kita nanti
Saat bersama dirimu ...
...----------------...
__ADS_1