Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
52. Kembali Ke Wonosari


__ADS_3

Merapikan riasan sederhananya, Asri memastikan bekas lebam luka Drini tak ada lagi. Setelah cukup lama tak berias, ada kesenangan dalam hati Asri ketika memandang wajahnya dalam cermin.


Semalam dirinya memutuskan memotong pendek rambut panjangnya di salon sebelah kost Mantrijeron. Model potongan rambut pendek yang mengingatkan dirinya saat pertama kalinya Seti berkunjung ke kost Mantrijeron bersama Joe.


Masih terekam jelas mata Seti yang mencuri pandang ke arah dirinya di sela obrolan kala itu.


Pandangan mata laki-laki menjelang kedewasaan yang menunjukkan kekaguman kepada perempuan yang menarik hati seperti yang dilihatnya di filem roman SMA-nya Rano Karno.


Dari situlah Asri merasa yakin Seti ingin lebih dari sekedar berteman dengan dirinya sama seperti perasaan dirinya kepada Seti yang dipendamnya.


Merasa sudah cukup patut dan pantas berpatut di cermin riasnya, Asri menepikan sejenak bayang masa pertemuan pertamanya dengan Seti di Jogja.


Merapikan peralatan dan perlengkapan riasnya. Memastikan tidak ada yang tercecer di meja riasnya lalu beranjak menyusul Ibu yang sedang menikmati secangkir teh hangat di meja makan.


...----------------...


"Weh ... sudah siap nduk ?" Sepertinya ibu Asri senang melihat anak perempuannya berdandan menjelang keberangkatannya ke Wonosari.


"Iya bu ... " Jawab Asri setelah duduk di depan ibunya.


Setelah ketetapan hatinya menguat untuk mengurai apa yang terjadi di Drini, pagi itu Asri bersiap memberikan keterangan di Polres Gunung Kidul.


Menyempatkan menemani Ibu sambil menunggu kedatangan Seti, Seto, Muji, Gunawan dan tim LBH yang nanti akan menjemput terasa menenangkan hati Asri.


Merasa tak ada lagi yang perlu dikuatirkan dengan kondisi fisik dan mentalnya, Asri mengatur jadual kedatangannya di Polres Gunung Kidul berbarengan dengan perkara Seti, Seto dan Muji.


Kali ini Ibu percaya Asri mampu menyelesaikan suatu urusan tanpa perlu didampingi dirinya.


"Jangan pernah lupakan Gusti Pangeran nduk ... Supaya kamu selalu dimudahkan segala urusan, " Ibu mengingatkan Asri di sela perbincangan minum teh yang hangat.


"Pasti bu ... " Tak membantah, Asri menuangkan teh keroncong panas dari poci tanah liat ke cangkir ibunya yang mulai kosong dan memperlihatkan gumpalan gula batu di dalamnya.


"Jam berapa undangan panggilanmu ?" Ibu meneruskan percakapan sambil menggoyangkan cangkir teh panas yang baru dituang Asri untuk mencampurkan gula batu yang mulai larut.


Bagi orang Jawa yang masih memegang tradisinya, minum teh dari poci tanah liat dan gula batu menunjukkan rasa kebersamaan, dan perbincangan hangat yang tidak terlalu terburu-buru.


Banyak yang setuju ketika memikirkan kata demi kata untuk suatu topik serius yang akan dibahas dengan ditemani sajian teh poci panas akan semakin dalam hasilnya.

__ADS_1


Konon suasana hening batin menjadi tercerahkan ketika mencium aroma wangi teh dan sensasi rasa pahit ke manis gula batu yang tidak mudah larut ketika menikmatinya di pagi hari. Waktu yang terbaik setelah terjaga dari tidur dengan pikiran yang masih belum terganggu dengan kepenatan aktivitas dan kewajiban hidup.


Kebersamaan pagi dengan Ibu kali ini terasa sangat berbeda bagi Asri. Lebih banyak kata yang terucap dari bibirnya. Sepertinya segala rasa yang terpendam tumpah ruah dari hati dan benaknya.


"Jam sepuluh bu ...," Asri menjawab setelah dilihatnya Ibu meletakkan poci teh yang baru dicicip.


"Masih cukup waktu untuk mengisi perutmu dulu ... Itu tadi Ibu buatkan roti omelet kesukaanmu," Ibu menunjuk tudung saji di hadapan Asri.


Membuka tudung saji, mata Asri berbinar. Bukan tentang sepotong roti omelet kesukaannya. Tetapi lebih kepada kekaguman kekuatan hati Ibunya setelah berbagai kesulitan cobaan hidup yang menimpa keluarganya.


Bagaimana sosok Ibunya tanpa pernah berkeluh kesah kepada Bapak menghadapi semua kesulitan sangat berarti bagi diri Asri. Belajar bagaimana menjalani kodrat sebagai perempuan pendamping laki-lakinya kelak.


Dari Ibu juga Asri banyak belajar tentang bagaimana kelak jika dirinya mendampingi sosok Seti, laki-laki yang sudah menjadi pilihan hatinya.


Betapa setelah kepergian Joko, lalu hantaman kesusahan dan kesulitan Drini tidak membuat Ibu kehilangan semangat mendampingi Bapak dan dirinya sangat membekas dalam pembelajaran hidupnya.


Kata-kata bijak dan meneduhkan ketika suasana hati suatu keluarga gersang dan kering menghadapi persoalan menjadi oase yang merubah suasana kemuraman hati jika disampaikan pada saat yang tepat.


"Ketika sudah menjadi bagian hidup laki laki, seorang perempuan tidak melulu hanya siap untuk urusan ranjang dan dapur ... Perempuan juga harus tahu kapan dirinya memacu dan mencegah laki-lakinya ketika ada kebimbangan pilihan ... Terutama ketika suatu kesulitan menimpa." Kata bijak Ibu ketika berduaan dengan dirinya tertanam dengan jelas di benak Asri.


Sempat menutup diri ketika kejadian Drini menimpa dirinya, dari figur Ibulah Asri semakin paham tentang kodrat perempuan yang harus selalu siap dalam situasi sesulit apapun. Ibulah yang selalu menyalakan api jiwanya. Belajar tak menyalahkan keadaan ketika serumit apapun suatu kejadian menguji sebab suatu awal pilihan ...


...----------------...


"Asri mbak ... " Suara laki-laki yang baru dikenal terdengar ketika Asri menanyakan siapa yang akan ditemui.


"Saya sendiri ... Mas siapa ?" Asri melanjutkan pertanyaannya.


"Gunawan ...,"


"Oh mas Gun... tunggu sebentar mas ..." Mengetahui siapa yang datang, Asri melepaskan tombol intercom yang dipencetnya. Bergegas ke pintu utama kost Mantrijeron.


"Seti nduk ?" Tanya Ibu melihat Asri bergegas ke depan.


"Mas Gun bu ... mungkin bersama Seti ...," Jawab Asri.


...----------------...

__ADS_1


Senyum Asri yang mengembang ketika membuka pintu menunjukkan suasana hatinya ketika mengetahui rombongan laki-laki yang datang.


Gunawan yang ada di depannya lalu disalami Asri sambil mempersilahkan yang lain duduk di teras samping. Hati Asri semakin senang ketika melihat kehadiran Seti yang terlihat sedang memperhatikan potongan rambut dirinya.


"Kamu terlihat segar dan cantik As ..." Ucap Seti ketika menyambut uluran tangan Asri.


Semua laki-laki yang ikut mendampingi Seti ke kost Mantrijeron dan memperhatikan sepasang kekasih itu tak ada yang membantah kata-kata Seti.


"Kamu sudah mantab dan yakin untuk ikut As ?" Setelah saling mengucap salam, Seto bertanya ke arah Asri.


"Ya mas... aku sudah siap untuk menyampaikan apa yang aku ketahui," jawab Asri. "Mau minum apa ?" Asri mengalihkan pembicaraan sejenak.


"Tidak usah buat apa-apa As... Kami sudah sarapan dan minum tadi di warung mbah Jum," jawab Seti.


"Jadi kita langsung berangkat ?" Lanjut Asri.


"Kalau kamu sudah bersiap, kita segera berangkat," jawab Seti.


"Baiklah... sebentar aku pamit ke Ibu dulu," Asri berdiri dari duduknya.


"Ibu tidak jadi ikut ?" Tanya Seti lagi.


"Tidak ... Kali ini Ibu percaya Aku mampu melakukannya bersama kalian," Asri melemparkan senyum ke arah Seti sambil beranjak ke dalam.


...----------------...


Mobil om Rudi yang dikemudikan Seto perlahan meninggalkan halaman rumah kost Mantrijeron.


Kedekatan Yuni dan Bening membuat om Rudi sangat peduli dengan siapa saja yang bersinggungan dengan anak perempuan satu-satunya itu.


Ketika suasana senang dan susah menghampiri Yuni, om Rudi pasti selalu menyempatkan diri ada di sampingnya. Apalagi sejak kedekatan Yuni dan Doni yang sering membawa keakraban dan kehangatan rumah Wirobrajan.


Om Rudi tak segan mengulurkan bantuan jika dilihatnya ada suatu persoalan ... Itulah sebab kenapa mobil om Rudi dipakai berkali-kali oleh siapa saja berkaitan dengan permasalahan di Drini.


Memastikan tidak ada barang dan dokumen yang tertinggal, Seto sedikit memacu mobil om Rudi ketika memasuki jalan Raya.


Gunawan duduk disamping Seto, Seti bersebelahan dengan Asri, lalu Muji duduk di jok paling belakang bersama satu orang perwakilan tim LBH-nya Gunawan.

__ADS_1


Kijang grand hijau lumut itu melaju ke arah Gunung Kidul dengan berbagai perandaian di benak masing-masing yang ada di dalamnya ...


...----------------...


__ADS_2