Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
54. Singgah Di Rumah Banjarejo


__ADS_3

Ada 20 pertanyaan penyidik yang dijawab Asri dengan ketegasan saat tiba gilirannya dimintai keterangan kejadian Drini yang dialaminya. Tidak ada sedikitpun rasa takut dan cemas ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.


Tadi sebelum masuk ruangan penyidik menunggu giliran dimintai keterangan, Advokat LBH yang mendampingi Asri bercerita banyak tentang kejadian Drini yang bisa saja mengendap terlalu lama jika dirinya selaku korban ada rasa takut dan malu untuk menjawab apa yang dialaminya.


Mengetahui jika Seti dan Seto terseret dalam pusaran kejadian Drini, sementara Sigit masih berkeliaran bebas dari paparan yang disampaikan tak ayal membuat tekad Asri untuk membuka hitam putih perkara Drini menjadi semakin tak terbendung.


...----------------...


Mendekati jam tiga sore barulah Asri selesai memberikan keterangan. Baru beberapa langkah keluar ruangan penyidik, rombongan wartawan yang rupanya sudah menunggu mengerumuni Asri.


Advokat yang mendampingi sigap mencarikan jalan saat dilihatnya Asri tak berminat menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar hasil pemyidikan yang diajukan wartawan.


Tidak seperti kedatangan Asri tadi. Kali ini lorong ruang penyidik tempat Asri memberikan keterangan penuh sesak. Seti dan Gunawan ikut berdesakan mendorong beberapa wartawan supaya Asri bisa segera meninggalkan ruangan itu.


"Kasih jalan .. kasih jalan !" Suara tegas Serda Husein yang keluar dari ruangan mendengar kegaduhan memberi kesempatan Asri untuk secepatnya meninggalkan kerumunan dibantu tangan Seti yang sigap menariknya.


Asri tergopoh setengah berlari mengikuti Seti ke arah parkir mobil. Tetap tak ada sepatah katapun yang terucap dari Asri ke arah wartawan yang terus bertanya sambil mengikutinya.


"Huuuft ... " Hembusan nafas Asri setelah berhasil memasuki mobil menunjukkan kelegaannya.


"Tidak ada berkas atau HP yang tertinggal ?" Seto mengingatkan setelah memastikan semuanya masuk ke mobil.


"Sepertinya tidak ada," Timpal Gunawan yang duduk di samping Seto.


"Baiklah, kita pulang ke tempat Dibyo dulu." Sambung Seto.


Mobil hijau lumut itu perlahan meninggalkan parkiran Polres menuju Tanjungsari.


Beberapa wartawan yang terus mengikuti sepertinya kecewa tak ada sepatah katapun yang terucap dari masing-masing buruan berita medianya.


...----------------...


Mendengar nama Dibyo disebut Seto, hati Asri bertanya-tanya tentang nasib sahabat Seti itu. Yang diingat olehnya tentang Dibyo adalah ketika dia mati-matian berusaha melawan Sigit laki-laki tak bermoral yang berusaha menjamahnya.


Bagaimana akhirnya Dibyo lunglai jatuh tertelungkup di kedai Drini masih diingat betul dalam memori Asri.


Kekaguman Asri tidak hanya kepada Seti saja. Tetapi juga kepada lingkungan orang terdekat dan sahabat Seti yang diakuinya mempunyai mental kesetiakawanan yang tak ternilai.


Satu sama lain akan saling membela jika ada yang menyentuh dan menyakiti siapapun yang ada di lngkaran mereka. Perlawanan Dibyo itu sangat membekas ...


Bagaimana Dibyo yang terlemah di antara mereka tak kehilangan nyali dan berdarah-darah melindunginya meninggalkan kesan yang mendalam di hati Asri. Itulah salah satu sebab akhirnya dirinya menyingkirkan semua rasa malu dan ketakutan untuk berani mengungkap dan mencari keadilan tentang kejadian Drini.


Tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dirinya terus-terusan larut termenung dan berdiam diri tanpa upaya perlawanan menjadi titik awal kedewasaan kewanitaan Asri ...


Dirinya paham jika mengikuti keraguan dan ketakutannya tanpa upaya perlawanan, sudah pasti Seti tak akan berdiam diri dan akan membalaskan luka dengan caranya ....

__ADS_1


Melawan ketidakberadaban dengan cara yang tidak beradab adalah sama saja ... Itulah yang dihindari Asri ... Tak mau perkara Drini akan berujung saling balas demgan cara jalanan yang berdarah-darah.


...----------------...


"Tadi Husein bercerita banyak kepadaku," suara Gunawan menyingkirkan apa yang ada dalam benak Asri.


"Ke arah mana angin-nya ?" Advokat LBH yang duduk paling belakang mengomentari ucapan Gunawan.


"Masih ke kita San, ...," jawab Gunawan.


"Maksudku tentang sebab kematian lawan kita ?" Santo nama advokat LBH itu menegaskan pertanyaannya lagi.


"Iya ... itu tadi yang disinggung Husein ..." Gunawan menatap mata Santo dari kaca spion dalam mobil. "Ada arah kesimpulan saksi ahli kita sesuai dengan data forensik,"


"Uuuuh... sukurlah," Santo menghela nafasnya dalam-dalam.


"Setidaknya, konstruksi hukum pembelaan diri yang kita susun semakin kokoh San,... terimakasih simulasimu dan tim Junjung Keadilan," Gunawan meneruskan percakapan.


"Paling tidak keadilan yang sesuai fakta hukum harus diupayakan untuk dilaksanakan,"


Tak mau mengganggu percakapan hukum Gunawan dan Santo yang terus berlanjut, yang lain hanya diam menyimak. Hati kecil masing-masing berharap percakapan itu menjadi kenyataan yang memberikan rasa keadilan bagi semua pihak yang berperkara imbas kejadian Drini.


...----------------...


Asri memperhatikan beberapa anak kecil yang berlari mengikuti mobil ketika memasuki halaman rumah Dibyo yang baru kali ini dikunjunginya.


Salah seorang bocah itu menciumi bau ban mobil yang baru berhenti. Tak mempedulikan Asri dan penumpang lain yang turun dari mobil.


"Mambu sate ...!!!" Teriak bocah itu kegirangan.


"Eh awas le... ndak kejepit lawang !!!" Hardik laki-laki paruh baya yang keluar dari rumah.


Bocah itu mundur selangkah mendengar hardikan itu, matanya tetap tak berkedip mengawasi setiap sudut mobil itu.


Bocah yang lain berkerumun tak jauh dari mobil, saling berdebat tentang mobil dan menirukan suaranya.


"Sini naik ... " Seto yang tak tahan melihat binar mata keingintahuan dan kekaguman bocah-bocah itu menyuruh mereka naik.


"Jangan mas ... nanti kotor dan rusak," bapak Dibyo yang dikenali Seto dari peci dan kaca mata tebalnya melarang bocah-bocah itu sambil mendelik ke arah mereka.


"Gak papa pak, namanya juga anak-anak, ... biarlah saya ajak keliling kampung sebentar," Seto melambaikan tangan ke arah bocah-bocah itu.


Sedikit ragu dan takut dihardik lagi oleh bapak Dibyo, akhirnya satu persatu mendekat mengikuti ajakan Seto.


Tak berapa lama mobil yang penuh sesak itu berputar keluar dari halaman rumah Dibyo lagi. Suara tawa dan celotehan riang terdengar dari dalam mobil.

__ADS_1


"Silahkan masuk nak Seti ... Ajak temannya beristirahat dulu," bapak Dibyo yang tak bisa mencegah keinginan bocah-bocah tadi menyuruh Seti dan yang lainnya masuk setelah mobil yang dibawa Seto tak terlihat dari pandangannya.


"Njih pak... maturnuwun," Seti melangkah masuk ke dalam rumah diikuti yang lain.


...----------------...


Baru kali ini Asri singgah ke rumah Banjarejo setelah mengenal Dibyo. Biasanya dirinya bertemu Dibyo di kedai ikan Drini atau di rumah gubug ladang dekat Drini.


Duduk di risban jati yang terasa dingin menghilangkan kepenatan Asri.


Seti dan lainnya duduk berhadapan di meja bundar tak jauh dari risban tadi. Masing-masing lalu melemaskan badan yang terasa kaku.


Asri tersenyum kecil ketika melihat Muji yang kegerahan melepas celana dan baju batiknya.


Bercelana kolor dan singlet, Muji yang sudah sering main dan menginap di situ tak mempedulikan yang lain. Sepertinya dirinya sudah menganggap rumah Banjarejo seperti rumahnya sendiri.


"Sori As... sumuk ... " Kata Muji menyadari mata Asri memperhatikan tingkahnya.


"Hihihi ... mas Muji saru," Asri membalas ucapan Muji.


"Alumni bioskop Royal ya kayak gitu kelakuannya As," Seti mulai mengolok Muji.


Gunawan dan Santo ikut tertawa mendengar olok-olok Seti. "Weh kapan yuk kita rame-rame ke sana," Gunawan ikut tertarik dengan bioskop Royal.


"Ntar mas, tunggu Eva Arnaz main ...," Muji menjawab santai sambil mengipas badannya dengan koran yang ditemukan-nya dari bawah meja.


"Yeni Farida wae ..." Santo menimpali sambil terbahak.


Ruang tamu rumah Banjarejo ramai dengan perdebatan artis hot kesukaan masing-masing. Gelak tawa membicarakan bagian mana artis hot itu yang bikin panas dingin laki-laki sejenak melupakan keseriusan tanya jawab di Polres yang melelahkan tadi.


Asri yang terbiasa dengan candaan Seti dan sahabatnya hanya memperhatikan dari duduknya tak mempermasahkan obrolan laki-laki itu.


"Rebahan di kamar As kalau ingin lebih nyaman," Seti menengok ke arah Asri yang terlihat menyandarkan badannya di risban.


"Gak usah, ... di sini juga enak Set... Sambil menunggu mas Seto," jawab Asri.


"Ya sudah kalau itu maumu... Aku ke rumah belakang dulu ya sebentar." Seti beranjak masuk menuju rumah kakak perempuan Dibyo yang terletak persis di belalang rumah Banjarejo.


"Aku ikut ..." Asri berdiri mengikuti Seti.


Seti mengangguk mengiyakan, menunggu Asri beranjak mengikutinya.


Rumah Banjarejo lebih sering untuk menemui dan bermalam tamu. Bapak dan Ibu Dibyo lebih banyak berada di rumah kakak Dibyo atau di rumah gubug ladang. Begitupun Dibyo yang lebih banyak bermalam di kedai ikan Drini sebelum kejadian itu.


Sejak pulang dari rumah sakit, Dibyo memulihkan kondisinya di rumah kakaknya. Tak heran Seti yang sudah berkali-kali menengoknya tak sungkan untuk keluar masuk dua rumah itu.

__ADS_1


Mendekati rumah kakak Dibyo, hati Asri berdebar kencang. Ingin secepatnya mengucapkan rasa hormat dan terimakasih-nya yang tak sempat terucap karena suatu sebab yang tak mungkin bisa dikesampingkan ...


...----------------...


__ADS_2