Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
61. Menjelang Pelepasan


__ADS_3

Aula kampus baru Seti di Condong Catur masih ramai setelah gladi bersih wisuda selesai.


Di pojok aula, Seti terlihat mengobrol dengan beberapa teman seangkatan-nya yang sama-sama molor kelulusan-nya dan akan mengikuti wisuda besok.


Asri yang berdiri di sebelah Seti tentu saja tak lepas jadi bahan candaan teman-teman Seti. Menanyakan kenapa selama ini dirinya mau menjadi kekasih Seti.


Menurut teman Seti itu, ... Asri terlalu cantik dan beda kelas ... Mereka tak tega jika membiarkan Asri terlalu lama berjejeran dan berdekatan dengan Seti ... Menyuruh Asri memikirkan ulang pilihan hatinya itu.


Asri tersenyum, ... tertawa lebar mendengar Seti mengumpat candaan itu ... Apalagi mereka menuduh Seti memakai jimat atau pelet ki Joko Bodo dan meminta untuk membagi jimat dan pelet itu supaya mendapatkan kekasih secantik Asri.


Tawa dan canda sore itu sangat mengesankan hati Seti ... Dia merasa tak sendirian.


Jika ketika perpisahan kelas Satu Delapan SMA-nya dulu tak ada Asri yang memancing perdebatan tentang kekasih hatinya. Kali ini perpisahan dengan teman kampusnya terasa istimewa ... Sebab kini ada Asri di sampingnya.


Hampir dua jam menemani Seti mengikuti gladi bersih wisuda, tak terlihat rasa lelah di wajah Asri. Binar kebahagiaan-nya terlihat jelas di wajahnya. Semakin menunjukkan keayuan tanpa polesan kewanitaan yang berlebihan.


Siapa sih yang tidak bangga ketika tambatan hatinya berhasil menyelesaikan suatu kewajiban mencari ilmu untuk bekal hidup setelahnya ?


Yang masih disembunyikan Asri dari Seti adalah kabar diterimanya lamaran pekerjaannya di perusahaan tempat Tyas teman kost-nya dulu bekerja.


Rencananya jika surat jawaban itu sudah di tangan-nya, barulah Asri akan memberitahu Seti, sekaligus juga menjadi kado hadiah kelulusan Seti darinya.


Masih bertahan dengan isi hati tentang dirinya yang diterima bekerja, Asri sesekali menanggapi godaan teman Seti ke arahnya di tengah obrolan itu.


Semakin tahu jika selama ini lingkungan kampus Seti juga sangat peduli dengan apa yang dialami Seti ... Opini media malah menjadi olok-olok mereka ketika obrolan beralih menyinggung kejadian Drini ...


...----------------...


"Ok ... Sampai ketemu besok dab !" Seti melambaikan tangan ke arah teman-nya yang beranjak meninggalkan aula setelah ada setengah jam obrolan hangat mengalir.


Asri merasa senang ketika tangan Seti memeluk dirinya dan menariknya merapat ... Membiarkan Seti memamerkan kedekatan keduanya kepada teman-nya itu.


"Ke mbah Jum dulu, lalu ke tempat mas Gun sebelum kita ke rumah Wirobrajan atau bagaimana As ?" Tanya Seti setelah teman kampusnya meninggalkan aula.


"Terserah kamu saja, ... "


"Ok ... kita ke mbah Jum dulu ..." Seti menggamit lengan Asri.


Bergegas menuju tempat si Denok terparkir, mata Seti selalu memperhatikan siapapun yang berpapasan dengannya, ... menuruti kata -kata Seto dan Gunawan.


Bagaimanapun selama Sigit masih berkeliaran, dirinya tak boleh teledor menganggap permasalahan dengan-nya sudah selesai ... Apalagi kini ada Asri di sampingnya.

__ADS_1


...----------------...


Dari Condong Catur ke Samirono tidak terlalu jauh ... Seti sengaja melalui jalan Selokan Mataram yang ramai ke arah jalan Gejayan sebelum mengarah ke Demangan.


Asri tenang membonceng. Tak ada kekuatiran lagi ... Percaya Seti mampu melindunginya jika ada sesuatu yang menimpa mereka di perjalanan.


Ketika berangkat mengikuti gladi bersih wisuda tadi, Gunawan dan Santo yang akan ke kantor menemani setelah singgah di rumah Wirobrajan menemui Seto.


Dari situ keduanya mengikuti laju si Denok dari belakang sebelum berpisah di depan kampus Seti.


Tepat di pertigaan jalan Gejayan, Seti melambatkan laju si Denok. Lalu berhenti di depan kampus Sanata Darma.


"Kenapa berhenti ?" Tanya Asri.


"Gak apa-apa ... Sepertinya ban si Denok kempes."


Setelah menyuruh Asri turun, Seti memeriksa ban belakang si Denok.


Sebenarnya bukan itu yang sedang dilakukan Seti ... Dari depan kampus Condong Catur tadi, dirinya merasa curiga dengan motor RX-King yang seperti mengikutinya.


Dua orang berjaket kulit yang memakai helm full face terlihat dari kaca spion si Denok.


Tak mau Asri ketakutan ...Seti menghentikan si Denok. Berpura-pura memeriksa ban si Denok sambil melirik ke arah RX-King itu yang ikut berhenti. Salah seorang di atas motor itu sepertinya membeli rokok di kios kaki lima tak jauh si Denok berhenti.


Entah itu berpura-pura atau memang kebetulan, ... Seti tak mau mengambil resiko.


Cukup lama Seti memutuskan untuk berhenti sambil mengamati kedua laki-laki berjaket itu yang malah sepertinya menunggu si Denok kembali melaju. Keduanya terlihat duduk sambil merokok di samping kios kaki lima itu.


"Kenapa belum jalan Set ?" Tanya Asri lagi.


"Rantainya ternyata kendor,"


"Bahaya tidak jika dipaksa jalan ?"


"Gak ... yuk jalan,"


Seti bergegas menyuruh Asri naik setelah bis kota yang ditunggunya berhenti di halte di dekat mereka dan menutupi si Denok.


Kali ini Seti mengajak si Denok melaju cepat ke arah Demangan.


Memastikan RX-King itu tak mengikutinya lagi, Seti mengarahkan si Denok ke arah jalan Solo, dan berbelok masuk ke arah gang depan Duta Foto ke arah kampung Demangan.

__ADS_1


Asri sepertinya masih belum menyadari apa yang dilakukan Seti tadi. Tak ada kata-kata ketka si Denok masuk ke gang kecil kampung Samirono yang sudah dihapalnya.


Di jam-jam menjelang petang itu, biasanya banyak anak kecil yang bermain di bawah pohon Sawo belakang kost Samirono. Asri tak mau mengganggu konsentrasi Seti di gang itu jika dirinya malah mengajak mengobrol Seti di atas si Denok walau berjalan pelan.


...----------------...


"Sugeng sonten mbaaaah ... !!!" Seti sengaja mengejutkan mbah Jum yang tak menyadari kedatangan dirinya dan Asri.


Keterkejutan mbah Jum bukan karena sapaan keras Seti barusan ... Tetapi ketika menyadari Asri ada di samping Seti.


Tak menunggu Asri mengucapkan kata, mbah Jum memeluknya ...


Seti tak mau mengusiknya, ... membiarkan kedua perempuan itu melepas rasa.


"Wah... anakku datang-datang kok malah bikin kaget ... bawa oleh-olah apa itu ?" Mbah Jum melepas pelukannya dan menunjuk tas besar berisi pakaian wisuda Seti yang ditenteng Asri setelah keterkejutannya mereda.


"Toga mbah... buat wisuda Seti besok," Asri tertawa.


"Weh... bukan oleh-oleh to ?" Mbah Jum ikut terbahak.


Hati Seti merasa lega melihat canda Asri dan mbah Jum mulai terdengar.


Seperti harapan Seti, .. kehati-hatian dirinya untuk tidak membuat Asri ikut curiga dan ketakutan sebab kecurigaan dirinya jika ada yang mengikuti sepulang gladi bersih tadi terkabul.


Seti lalu menuju ke dapur membuat kopi. Pikirannya masih penuh dengan persangkaan yang bisa saja benar terhadap dua laki-laki yang mengendarai RX-King tadi.


Memisahkan diri dari Asri dan mbah Jum setelah selesai membuat kopi. Seti memilih duduk di sudut warung, ... memperhatikan kedua perempuan itu bertukar kabar masing-masing.


Setelah kejadian Drini. Baru kali ini Asri berkunjung lagi ke kost Samirono. Tak heran mbah Jum terlihat sangat senang bertemu lagi demgan Asri.


Selama ini kabar tentang Asri hanya didengar mbah Jum dari mulut Seto, Seti, dan Gunawan.


Pertama kali mendengar apa yang terjadi di Drini dari Gunawan, hampir sebulan warung mbah Jum tutup. Sehari-hari selama warung tutup mbah Jum berpuasa meminta perlindungan dan keadilan untuk Seti, Asri dan Dibyo dengan caranya.


Kali ini Asri yang memeluk dan menghibur mbah Jum setelah mendengar cerita bagaimana mbah Jum menangis seharian ketika Gunawan mengabari kejadian Drini.


"Aku baik-baik saja mbah," Asri menegaskan jika dirinya sudah pulih.


Mbah Jum balas memeluk Asri. Masih tak percaya perempuan muda yang sudah dianggapnya sebagai anak, ... kini ada di dekatnya lagi ...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2