
Kepergian Seti ke Panjatan bersama Slamet, seperti dugaan Seti ternyata memang ada hal-hal berkaitan urusan pekerjaan yang berlanjut. Seti mengetahuinya setelah menjemput Yoga direktur CV tempatnya bekerja dari bandara dan mengantarkan ke kantor cabangnya di Jogja.
Tentang kedatangan Yoga selain berkaitan dengan progres pekerjaan perencanaan jalan tembus waduk Sermo juga menindaklanjuti pekerjaan tambang pasir besi di Panjatan yang masih dalam tahap eksplorasi CV tempat Seti bekerja.
Slamet sengaja mengajak Seti selain untuk menandatangani kontrak kerja dan penempatan-nya, juga untuk dikenalkan dengan Yoga.
Tutur kata Yoga yang lembut tetapi tegas sangat mengesankan Seti. Apalagi umurnya yang tak berbeda jauh dengan Slamet membuat pembicaraan tentang pekerjaan yang dikehendaki Yoga mudah dipahami Seti.
Tawaran untuk kontrak kerja selama satu tahun dan ditempatkan di Panjatan akhirnya diterima dan ditandatangani Seti setelah Yoga juga menceritakan kesulitan usahanya yang terkendala situasi politik yang memanas.
Slamet juga yang meyakinkan Seti bahwa kontrak kerja itu hanya semacam komitmen CV untuk mempertahankan karyawan baru yang berpotensi. Barulah setelah ada kejelasan situasi politik status karyawan kontrak akan diperjelas.
Yang tak diduga Seti, setelah dirinya menerima dan menandatangani kontrak kerja ternyata pembayaran gajinya dibayarkan penuh di muka. Yoga tak mau mengambil resiko apabila terjadi kekacauan politik yang menyebabkan pekerjaan di Panjatan terhenti dan menyebabkan pembayaran gaji menghambat pekerjaan.
Karena itu, untuk gaji karyawan kontrak CV-nya yang di tempatkan di Panjatan, Yoga memilih pembayaran di muka. Tentu saja tidak sembarang orang yang dipilih Yoga. Dari pembicaraan tatap muka dengan Seti dan jaminan dari Slamet menjadi salah satu faktor Yoga tak ragu memilih Seti untuk membantu pekerjaannya yang masih beresiko rugi.
...----------------...
"Jadi kamu ke Jogja bareng Hening ?" Tanya Seti di tengah pembicaraan teleponnya.
"Ya Set," jawab Asri.
Setelah pembicaraan kejelasan urusan pekerjaan Panjatan selesai, Seti tak sabar menelepon Asri untuk mengabarkan keadaan dirinya yang baik-baik saja sekaligus mengajak Asri menghabiskan akhir tahun bersamanya di Jogja.
Hening yang kata Asri juga akan ikut berakhir tahun di rumah Wirobrajan justru membuat Seti tak ingin membiarkan kesempatan berdekatan dengan keduanya untuk mengakhiri tahun itu dengan cerita baru masing-masing, terhalang jarak dan waktu.
Jika cerita tentang Asri sudah hampir sepenuhnya menjadi bagian cerita dirinya, hati kecil Seti ingin tahu lebih banyak tentang Hening setelah pertunangan dirinya ... Bagaimanapun Hening pernah singgah di masa lalu yang menyenangkan.
Tak mungkin dirinya membiarkan Hening begitu saja ketika kini sebelah kakinya sudah menapak kemandirian sebagai laki-laki.
Sebenarnya sejak Hening memutuskan kembali ke rumah jengki, Seti ingin menanyakan lewat Asri apa yang bisa dilakukannya untuk Hening, jika kepulangan Hening ke rumah jengki karena suatu sebab yang bisa dibantunya.
__ADS_1
Jika saja Asri tidak menyinggung Hening pada pembicaraan telepon barusan, Seti tidak akan terusik untuk ingin tahu lebih jauh tentang keadaan Hening sekarang dan banyak kedekatan lain yang menghilang lalu tiba-tiba saja muncul mengusik ruang rindu Seti.
Betapa sejak kejadian Drini sampai menginjak tanah Panjatan tak ada lagi Joe dan Doni dengan riuh lapak Malioboro, lalu Dibyo dengan asap wangi ikan bakar kedai Drini, canda tawa Muji dan mbah Jum di kost Samirono dan masih banyak kerinduan lorong Jogja yang silih berganti menampar Seti.
"Aku senang jika Hening ikut ke Jogja. Sepertinya akhir tahun ini akan menyenangkan," Seti memulai lagi percakapannya. "Aku juga lama tak ketemu dengan Joe dan Doni. Moga-moga saja mereka ada waktu untuk ketemuan," lanjutnya.
"Eh bagaimana kabar mereka ?" Sela Asri.
"Sejak pertunangan kita, aku malah belum sempat bertemu lagi. Selama aku di Kulon Progo, baru sekali aku ke Jogja. Tak sempat menemui mereka."
Pembicaraan keduanya lalu beralih kepada kerinduan masing-masing dan tentu saja juga membahas urusan perkara Drini yang masih menjadi ganjalan ....
Ada rasa senang di hati Seti setelah bertukar cerita dengan Asri.
Jika dulu kebahagiaan adalah sebab apa yang telah dilakukannya telah memberikan rasa senang kepada dirinya, kali ini kebahagiaan Seti adalah jika apa yang dilakukannya memberikan rasa senang kepada orang lain.
Tawa lepas Asri yang terdengar masih terekam jelas di benak Seti ketika menutup hand phone-nya. Rencana meluangkan waktu di akhir tahun dengan orang terdekatnya membuatnya tak sabar menyelesaikan urusan pekerjaan Panjatan yang harus dikerjakannya sebelum libur Tahun Baru datang ....
...----------------...
Untungnya CV tempatnya bekerja memberikan uang tempat tinggal sementara sampai ada kejelasan kelanjutan eksplorasi pasir besi yang sedang dilakukan.
Jam istirahat siang itu dimanfaatkan Seti untuk mencari kost di sekitar direksi keet sekaligus kantor kerjanya.
Hampir mirip ketika di waduk Sermo, pekerjaan Seti di Panjatan mengharuskannya lebih sering turun di lapangan.
Hanya saja jika di waduk Sermo dirinya lebih sering naik turun ke pedalaman bukit Menoreh, di Panjatan lokasi pengambilan sample Seti hanya di sepanjang pantai pesisir Panjatan.
Teknik pemboran manual menggunakan bor auger mengharuskan fisik pekerja harus tetap fit untuk memanggul dan memindahkan peralatan dan perlengkapan kerja setiap berpindah tempat.
Karena itu, Seti yang semula berpikir pulang pergi bekerja dari kost Samirono setiap hari akhirnya memutuskan untuk mencari kost di sekitar tempat kerjanya sampai pekerjaan pengambilan sample selesai.
__ADS_1
...----------------...
"Permisi ...," Seti mengetuk rumah sederhana yang ada di pinggir sawah dekat jalan Daendels.
"Monggo ....," tak berapa lama sosok kakek membuka pintu dan tersenyum ramah ke arah Seti. "Masuk nak," sambungnya lagi.
Satu set risban bambu tanpa plisturan menyambut Seti yang memasuki rumah itu. Duduk di atas risban bambu ketika matahari sedang panas-panasnya sangat meneduhkan hati siapapun setelah terkena terik matahari ketika menyusuri jalan kampung di dekat jalan Daendels.
Setelah bertanya ke beberapa orang yang sedang bekerja di sawah, Seti ditunjukkan rumah yang barusan diketuknya. Tidak mudah mencari kost di sekitar tempat kerjanya yang jauh dari kampung.
"Saya Seti mbah .... kerja di CV Bintang Mas dekat pantai Mlarangan," Seti memperkenalkan diri setelah duduk berhadapan dengan kakek tadi.
"Oh, .... Pabrik yang jualan pasir dari Jakarta itu ?" Kakek itu menyangka tempat kerja Seti sejenis perusahaan perdagangan pasir." Ada perlu apa sama si mbah ?" Tanya-nya lagi.
Seti ikut tertawa setelah kakek itu terbahak mendengar penjelasan tempat kerjanya dan maksud kedatangannya.
"Panggil saya mbah Karto saja nak," pembicaraan lalu mengalir akrab.
Mbah Karto yang ramah tinggal dengan cucu tertuanya di rumah itu. Semua anak-anaknya ada di Lampung ikut transmigrasi tahun 80-an.
Mbah Karto lalu menceritakan, anggapan lahan tak subur di pantai pesisir selatan yang sangat melekat dalam ingatan masa kecilnya. Tak heran banyak yang memilih meninggalkan pesisir itu ke daerah lain.
Lalu beberapa pendatang mencoba peruntungan, mengolah lahan pesisir Panjatan dengan menanami semangka, cabai, dan melon.
Mbah Karto dan beberapa penduduk yang bertahan ikut-ikutan mencoba mengolah lahan itu dan memadukannya dengan membuat tanggul-tanggul sederhana. Sehingga ketika terjadi pasang tidak semua lahan pesisir terendam air rob.
Tak disangka cara itu berhasil. Perlahan daerah pesisir Panjatan menjadi salah satu daerah penghasil cabai terbaik di Indonesia.
Seti membenarkan cerita mbah Karto. Hati kecilnya mengingatkan adanya potensi konflik dengan warga sekitar jika eksplorasi pasir besi di sepanjang pesisir pantai selatan Kulon Progo berlanjut ke pekerjaan pertambangan kelak.
...----------------...
__ADS_1