Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
58. Persinggungan Di Jogja


__ADS_3

Laki-laki berperawakan sedang berjalan mendekat ke pojok parkiran diskotik Papilon di Ketandan.


Kedipan lampu neon di plafon sesekali menerangi sosok laki-laki lain yang terlihat sedang duduk merokok di pojoknya.


Hingar jedag jedug suara musik dari dalam diskotik terdengar sayup dari pojok parkiran tempat laki-laki tadi duduk merokok.


Laki-laki itu masih duduk menyapa sosok yang menghampirinya. Keduanya lalu duduk bersebelahan memunggungi rolling door toko yang tercoret sapuan cat pilox dengan tiga huruf besar ... JXN ...


Hampir semua anak muda Jogja paham dengan coretan QZR atau JXN yang tercoret di beberapa sudut Jogja ... Inisial yang menunjukkan irisan sisi gelap Jogja.


Dunia jalanan Jogja setelah era gali atau gabungan anak liar yang sempat menghilang tahun 80'an ternyata menggeliat lagi.


Masih ada saja kelompok yang menyandarkan hidup lewat kekuatan ototnya.


Tiap inisial huruf yang tercoret menunjukkan eksistensi dan wilayah masing-masing kelompok yang mengandalkan otot itu.


Jasa keamanan, mengutip bongkar muat, dan meminta paksa uang sewa atau sumbangan kepada pedagang pendatang menjadi pembatas tirai mencari uang tiap kelompok.


Masing-masing punya target dan cara yang berbeda.


Ada yang mengikuti dan pasrah karena masih mampu menuruti kemauan mereka. Tetapi ada yang memilih menyingkir menghindarinya.


"Sori... Membuatmu lama menunggu Sen," laki-laki yang baru tiba di sudut tadi menyapa.


"Gak papa, ... tadi beberapa anak buahmu menemani," jawab Husein mendengar sapaan laki-laki itu.


"Gak dinas atau undercover ?"


"Libur, ... lepas piket malam Man," Husein tersenyum menjawab pertanyaan Herman, nama laki-laki yang barusan duduk menyebelahinya.


Salah seorang anak muda yang sedang bergerombol tak jauh dari keduanya beranjak berdiri. Tampaknya mereka mengenali Herman.


"Anggur mas ... " Anak muda tadi menawarkan segelas minuman keras lokal ke arah Herman.


Herman hanya menyeringai tak menjawab. Menerima gelas yang disodorkan dan menghabiskan isinya dengan sekali teguk.


...----------------...


Bagi anak muda di sekitaran Ketandan, terutama yang sering minum-minum menghabiskan waktu malamnya di pelataran diskotik Papilon sudah tak asing dengan sosok Herman.


Yang akrab dengan Herman selalu memanggilnya Blegog. Julukan yang disematkan teman sepermainan-nya di masa masa awal kenakalannya.


Blegog dalam bahasa Jawa menunjukkan sifat seseorang yang cenderung emosional. Mudah marah dan ringan tangan apabila keinginannya tak dipenuhi. Mudah meledak tanpa pernah berpikir konsekuensi tindakan yang dilakukan-nya.


Masa kecil Herman yang selalu penuh keributan dan perkelahian dengan teman sepermainannya menjadi sebab awal dirinya dijuluki Blegog.


Entah sudah berapa teman sepermainan Herman yang berdarah-darah sebab pertengkaran sepele kala itu.

__ADS_1


Permainan kelereng, karet atau hal-hal remeh yang sebenarnya tidak perlu dipersoalkan bisa menjadi sebab awal amukan Herman kecil.


Bapak Herman meninggalkannya sejak bayi. Ibunya juga entah kemana sejak dirinya seharusnya bersekolah. Paman-nya yang menjadi calo bis di terminal Umbulharjo lalu mengasuh Herman sejak itu.


Dunia terminal bis Umbulharjo yang keras membuat Herman kecil yang sering dibawa paman-nya ke sana menjadi matang sebelum waktunya.


Terlalu cepat mengerti cara mendapatkan uang dengan mengemis dan menyemir sepatu di Umbuharjo membuat Herman melupakan sekolah.


Keluar sekolah di kelas lima SD, ... jalanan dan kehidupan di sekelilingnya seolah menjadi guru baru bagi Herman.


Rokok, minuman keras, judi, ... dan akhirnya terperangkap dalam kenikmatan wanita malam yang sering mangkal di depan Umbulharjo menjadi hari-hari Herman kecil sampai remajanya.


Memutuskan meninggalkan rumah paman-nya untuk menjadikannya lebih bebas menjadi pilhan Herman tepat di umur enam belasnya setelah mengenal Darmi, wanita malam sepantaran bibinya yang pertama kalinya mengajarinya menjadi laki-laki.


Hidup bersama Darmi di kost murahan adalah awal Herman mengenal kebutuhan hidup.


Jika sebelum bersama Darmi uang yang dikaisnya dari jalanan cukup untuk menghidupinya. Sejak bersama Darmi itulah semua uang yang dikais-nya selalu tidak mencukupi kebutuhan mereka berdua.


Melarang Darmi menjual diri lagi dan sifat cemburunya yang membabi buta ditambah kesenangan duniawi yang tak mau ditinggalkan menjadi pemantik dunia hitam Herman.


Menjual pil koplo dan sesekali meminta uang paksa kepada pedagang Cina yang ada di sekitaran Umbulharjo dilakukan Herman untuk menutup kebutuhan hidup bersama Darmi... Namun kebutuhan itu tak pernah dapat ditutupnya akibat gaya hidup keduanya.


Pertengkaran kecil menjadi besar ketika suatu malam Herman melihat Darmi bersama laki-laki lain keluar dari losmen kecil ketika dirinya pulang sehabis mabuk-mabukan.


Tak ada basa basi ketika Herman berpapasan dengan keduanya.


Teriakan Darmi membuat Herman semakin kalap melampiaskan amarahnya. Lawannya terkulai berdarah ... Roboh terlentang di jalan beraspal.


Darmi lari entah ke mana ketika amarah Herman hendak dialihkan ke perempuan itu.


Suara keributan itu memancing warga sekitar berdatangan menangkap dan mengeroyoknya beramai-ramai ketika pisau Herman justru melukai salah seorang warga yang mendekat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


...----------------...


Mendekam dua tahun lebih di Wirogunan malah menjadikan Herman semakin dalam dii dunia gelapnya.


Keluar dari Wirogunan tak serta merta menjadikan dunia Herman berubah menjadi baik, ketika rasa lapar dan haus tak bisa ditahannya ...


Memutuskan kembali ke Umbulharjo untuk meminta pinjaman uang ke orang yang dikenalnya, Herman justru mengetahui kasak kusuk ketakutan orang-orang tentang kebebasan dirinya.


Insting Herman merasakan ada kemudahan lain yang didapatnya setelah kasak kusuk rasa takut kebebasan dirinya dari Wirogunsn.


Jika dulu dirinya harus menggertak lebih dahulu, sekarang orang yang didatangi Herman akan menyingkir secepatnya jika melihat kedatangannya.


Yang tak sempat menyingkir akan pasrah dan menuruti apa saja kemauan dan keinginan Herman. Itulah yang dimanfaakannya ...


Blegog jebolan Wirogunan menjadi nama yang semakin sering dibicarakan di Umbulharjo ...

__ADS_1


...----------------...


"Nih bagianmu,.." Herman menyerahkan amplop yang cukup tebal ke arah Husein setelah basa-basi di pojok keremangan Papilon berakhir.


Husein menerima amplop itu, ... menyelipkan ke jaketnya.


"Ramai daganganmu di dalam ?" Tanya Husein kemudian.


"Selama ada kamu, daganganku semakin rame dab,"


"Asal jangan telat saja setoranmu ... Banyak mata dan mulut yang harus kusumpal jika kamu masih ingin berjualan," tertawa kecil, mulut Husein memuntahkan kepulan asap rokok.


"Siap ndan..." Herman menyeringai.


Salah satu teman sepermainan Herman di masa kecilnya adalah Husein.


Kenakalan keduanya di masa itu menjadikan mereka akrab sampai jalan hidup yang berbeda sempat memisahkan mereka.


Husein karena berasal dari keluarga yang berkecukupan tidak sampai terjerambab ke dalam kubangan gelap kehidupan jalanan Jogja karena kenakalan-nya.


Entah karena keberuntungan atau memang ada sebab lain, Husein malah diterima ketika mendaftar polisi atas permintaan bapaknya.


Keduanya bertemu kembali secara tak sengaja ketika Husein yang baru selesai pendidilkan bertugas di Jogja.


Pertemuan yang mendekatkan kembali kedekatan masa lalu Husein dan Herman itu terjadi ketika ada suatu keributan di salah satu tempat hiburan malam.


...----------------...


Dua geng besar yang sedang bersaing mencari nama baku hantam karena aksi corat coret inisial QZR dan JXN yang saling menimpa tulisan masing-masing kelompok.


QZR adalah inisial Qizruh, singkatan dari Q-ta Zuka Ribut Untuk Hiburan ... Tidak diketahui pasti siapa yang pertama kali mendirikan.


Konon QZR menguasai wilayah utara Jogja. Pengikut geng ini sering terlihat nongkrong di wilayah Terban.


Sementara JXN adalah inisial Joxzin singkatan dari Joxo Zinthing.Tetapi ada juga yang mengatakan berawal dari kata Pojox Benzin,yaitu tongkrongan anak-anak Kauman yang bergerombol di pojok alun-alun.


Mendengar suara keributan tak jauh dari tempatnya berdiri, Herman yang ketika itu sedang menjadi tukang parkir di tempat hiburan itu tak sengaja berpapasan dengan seorang remaja tanggung yang terdesak dan berlari ke arahnya.


Berpikir Herman adalah teman remaja tadi, gerombolan pengeroyok yang mengejar mengalihkan amukannya ke arah Herman.


Tak mau mati konyol, Herman melawan habis-habisan. Ketika terdesak hebat, dan terpojok menjadi bulan-bulanan lawan letupan suara tembakan akhirnya membubarkan perkelahian yang terjadi... Suara tembakan itulah yang menyelamatkan dirinya.


Saling bertatapan ... Kedua pasang mata itu akhirnya menyadari pernah bersinggungan di suatu masa ...


"Blegoooog ..." Husein yang mengingat persis tato ular di tangan Herman memeluk laki-laki yang terkulai di aspal jalanan.


Begitulah awal waktu yang mempertemukan kembali Herman dan Husein dan juga si remaja yang tak sengaja ikut tertolong tadi ... Yang ternyata adik dari salah satu pentolan JXN yang disegani ...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2