Junta & Dunia Sihir

Junta & Dunia Sihir
#0 Junta - Prolog


__ADS_3

“Oh sial tidak ada makanan.”


Pemuda itu melihat kulkas yang kosong dengan dahi yang mengerut, setelah melihat beberapa saat untuk memastikan bahwa kulkas itu benar-benar kosong, pemuda itu menutup kulkasnya dan membuka lemari makan yang ada di atas kulkas itu, tapi tidak ada makanan di dalamnya jadi dia segera menutupnya, setelah itu dia berjalan menuju sofa yang berada di ruang tengah dan duduk disana.


“Belakangan ini tidak ada perkejaan paruh waktu baru di koran ataupun majalah, ini benar-benar tidak bagus untuk dompet ku.”


Yang dilakukan pemuda itu hanya lah menggerutu, dia terus menerus komplain dengan keadaan yang dia alami sekarang, sesekali dia berteriak tapi tidak ada yang mendengar nya, suasana ruang tengah itu tetap sama yaitu suasana yang tenang dan damai.


“Tidak ada pilihan lain, aku akan pergi ke kedai milik Paman Ji, sebetulnya aku tidak ingin melakukannya tapi untuk sekarang mau tidak mau aku harus kesana.”


Setelah dia membuat niat yang sebenarnya tidak dia inginkan, dia mulai berjalan keluar dari rumah dan tentu tidak lupa mengunci pintu.


“Baiklah sepertinya semuanya sudah aman dan terkunci, aku pergi dulu.”


Dia tetap mengatakan itu walau dia tau tidak akan ada orang yang akan menjawab salam nya, setelah dia beranjak pergi dia melewati banyak sekali tikungan yang ada di jalan, matahari tepat berada di atas kepalanya menandakan waktu sudah memasuki tengah hari, setelah melewati banyak jalan yang berliku-liku akhirnya dia sampai di sebuah stasiun kereta yang sangat ramai, sebuah jam besar yang berada di halaman depan stasiun kereta itu berdiri dengan kokoh di atas sebuah tiang, pemuda itu melihat jam yang tinggi itu dengan mata biru nya.


“Oh ho! Hey Junta!”


“Apa aku mengenal mu?”


“Hahahaha! Oke lelucon mu bagus juga.”


Tiba-tiba pemuda itu di sapa oleh pemuda lain, mungkin dia adalah temannya karena mereka terlihat cukup akrab, dan juga umur mereka terlihat tidak jauh berbeda, temannya itu masih tertawa terbahak-bahak sampai mata kuning nya mengeluarkan air mata.


“Jadi apa yang kau mau?”


“Ahaha.. Ya.. Kau tau mungkin ini sebuah takdir kita di pertemukan di stasiun ini, aku hanya ingin bilang bahwa aku tidak akan lagi datang ke sekolah sialan itu.”


“Hm? Apa maksud mu Gil? Kau akan berhenti bersekolah?”


“Yap, orang tua ku harus pindah ke distrik lain di kota ini, lebih tepatnya mereka harus pindah ke distrik 24.”


“Woah, itu distrik yang jauh sekali dari distrik ini, tapi aku dengar orang-orang disana tidak suka dengan seseorang yang memiliki rambut kuning, apa kau akan baik-baik saja nanti?”


“Ha! Apa kau lupa kau berbicara dengan siapa? Aku adalah pemimpin anak-anak nakal di sekolah kita! Tidak apa! Aku akan menghajar siapapun yang macam-macam dengan ku!”


Teman Junta, Gilda, mengatakan itu dengan penuh semangat, badan mereka tidak jauh berbeda, mereka berdua sama-sama kurus, tapi dapat di pastikan bahwa soal pertarungan tangan kosong Gilda sama sekali tidak bisa diremehkan.


“Apa kau sudah mengatakan kepada semua teman-teman mu tentang hal ini?”


“Belum, ayah dan ibu ku memutuskannya secara tiba-tiba, lebih tepatnya kemarin sih, jadi aku tidak ada waktu untuk menghubungi teman-teman ku.”


“Kau tau, kau harus menghubungi mereka sekarang, apa kau bisa membayangkan bagaimana keadaan sekolah ketika tidak ada pemimpin para preman yaitu kau?”


“Hoho! Aku dapat membayangkannya dengan jelas, tidak ada seseorang yang di takuti maka anak-anak nakal itu pasti mulai berulah, dan mungkin mereka akan membuat grup-grup kecil untuk merebutkan kekuasaan atas seluruh preman di sekolah itu.”


“Jika kau tau hal itu kenapa kau masih belum mengabari mereka?”


“Itu kenapa aku pikir ini adalah takdir kita dipertemukan di sini, aku ingin kau memberi tahu mereka saat waktu masuk sekolah telah tiba, dan aku ingin kau menjadi pemimpin baru mereka.”


“Tunggu dulu, kau baru saja berencana untuk pindah sehari setelah libur semester datang dan sekarang kau mengatakan kepada ku bahwa kau ingin aku menjadi bos baru mereka?!”


“Iyap, aku rasa kau sudah mengerti kalimat ku dengan jelas.”


“Aku tolak.”


“Woe! Bukankah jawaban itu terlalu cepat?”


”Apa kau gila? Aku memimpin pasukan mu? Pasukan yang penuh dengan masalah itu? Kau ingin membuatku jadi gila juga ya?!”


“Hey Junta, coba pikir ini, kita mungkin masih berada di kelas 1 SMA, tapi kita sudah menguasai seluruh anak nakal di sekolah kita, bahkan kakak kelas juga menghormati kita.”


“Biar aku koreksi, bukan ‘kita’ tapi ‘aku’ dan juga kita secara teknis sudah berada di kelas 2 SMA.”

__ADS_1


“Hey ayolah! Aku tau aku yang membuat ide gila itu tapi kita lah yang menjalankannya, bukan aku seorang, jadi kau pantas jika aku masukan ke kata ‘kita’ .“


“Lanjutkan dulu apa yang ingin kau katakan tadi lalu aku akan melanjutkan membantah pernyataan mu.”


“Baiklah, sampai di mana tadi… Oh, kita di hormati oleh seluruh anak nakal yang ada di sekolah kita, apa kau bisa memikirkan seseorang selain kau yang dapat memimpin anak-anak nakal itu?”


“Locus dapat melakukannya.”


“Apa? Maksudmu tangan kanan ku yang gila itu? Apa sekarang rambut biru mu itu sudah mulai masuk ke dalam otak mu dan membuatnya menjadi biru juga?”


“Hey, aku benar kan?”


“Tidak tidak tidak! Mungkin dia kuat tapi dia tidak punya otak, kau bisa bayangkan apa yang terjadi jika Locus yang mengambil alih.”


“Okay kau benar, lanjutkan.”


“Jadi itu kenapa aku memilih mu, mungkin kau sangat jarang ter ekspos, tapi setidaknya ada satu atau dua anak di geng ku yang tau siapa dirimu.”


“Hey Gilda, aku bahkan tidak pernah terlibat dalam pertarungan, aku tidak tau cara bertarung, dan kau masih ingin tetap memilih ku?”


“Kau tidak perlu bisa bertarung! Maksudku lihat lah dirimu, memiliki mata biru yang mata kanan nya di tutupi oleh rambut biru juga, badan mu juga kurus sama seperti ku, aura yang kau keluarkan kurang lebih sama seperti yang aku miliki, jadi semua akan berjalan dengan lancar.”


“Lalu bagaimana jika ada yang tidak terima dan akhirnya mengajak ku untuk adu kekuatan?”


“Tenang saja, aku sudah membuatkan mu ini.”


Gilda mengeluarkan sebuah kertas dari saku baju nya, dan memberikannya kepada Junta.


“Apa ini? Sebuah jawaban untuk ujian?”


“Bukan bodoh, ini adalah surat perintah yang aku buat, tinggal kau tunjukan ke mereka para anak nakal sialan itu dan kau akan baik-baik saja.”


“Apa ini, apakah ini semacam formalitas atau semacamnya? Apa yang kita bicarakan tidak seperti para preman biasanya.”


“Hey, kita adalah preman dengan gaya kau tau.”


“Oh itu, ya sebetulnya kau memang anak yang normal sih, hanya saja penampilan mu yang seperti berkata ‘menjauh dari ku’ dan aura di sekitar mu yang membuat kau susah di dekati membuat mu terlihat seperti.. kau tau, sedikit nakal.”


“Eh? Hanya karena itu?.”


“Ya aku tau kau juga berlangganan masuk ke ruang konseling, terima lah kenyataan, kau terlalu tidak normal, orang mana yang akan bilang kau normal jika kau sering masuk ke ruang konseling, kau tau sendiri ruangan itu hanya untuk anak-anak yang bermasalah.”


“Aku.. Tidak memiliki pembelaan.. Apa kau benar-benar yakin dengan hal ini?”


“Tentu saja, kau pikir kertas yang aku berikan itu adalah sebuah lelucon?”


“Izinkan aku bertanya satu hal padamu, apa kau akan pergi dan tidak akan kembali lagi Gil?”


“Hmmm jujur saja aku tidak tau, pekerjaan orang tua ku kali ini terlihat tidak terlalu lama, jadi mungkin aku akan kembali saat kau naik ke kelas 3.”


“1 tahun lagi ya hmm.. Keputusan mu ini sangat menjengkelkan kau tau, kita baru saja naik ke kelas 2 dan tiba-tiba kau ingin pindah.”


“Hey kau pikir aku menginginkan hal ini? Jika orang tua ku tidak pindah tentu ini tidak akan terjadi.”


“Baiklah aku akan menerima ini, tapi kau harus membantu ku jika ada sesuatu terjadi.”


“Bagus! Jika kau butuh bantuan ku panggil saja aku lewat smartphone mu, kau punya nomor ku kan?”


“Ya ya tentu aku punya.”


“Baiklah, jadi kau ingin bertanya sesuatu sebelum aku pergi? Kereta ku akan datang 1 menit lagi.”


“Hmm.. Bagaimana dengan rumah mu? Apakah kau akan menjualnya?”

__ADS_1


“Aku tidak tau… Mungkin iya mungkin tidak, dan hey ingat ini baik-baik, jika kau ingin bertemu dengan ku katakan saja!, kita akan bertemu di titik biasanya, di distrik 12 tepat di taman Flora.”


“Okay, aku rasa itu saja yang ingin aku katakan.”


“Baiklah aku akan pergi sekarang, jaga dirimu Junta!”


“Ya.. kau juga.”


Dengan percakapan terakhir itu Gilda pergi masuk ke dalam stasiun dan menghilang di telan kerumunan, Junta melihat selembar kertas yang di lipat rapi oleh Gilda, sebuah surat perintah, Junta ingin membukanya, tapi dia merasa tidak perlu dan meletakkan ke dalam kantong, jika seseorang ingin mengetahui bagaimana Junta bersikap di sekolah, maka jawabannya adalah biasa saja, mungkin hanya beberapa masalah seperti datang terlambat atau tidur saat kelas berlangsung, tapi jika Junta di bandingkan dengan Gilda maka sudah jelas siapa yang paling bermasalah, karena hal itu lah Junta masih bingung kenapa Gilda memilihnya untuk memimpin seluruh anak nakal atau para preman yang ada di sekolah mereka, Junta juga terlihat sedikit sedih dengan kepergian Gilda, meskipun dia adalah seorang preman tapi Gilda adalah anak yang baik, dan juga dia adalah satu-satunya orang di sekolah itu yang cukup dekat dengan Junta, ya, Junta memang terlihat seperti seorang penyendiri, atau seseorang yang cukup susah didekati, tapi itu semua dia lakukan dengan sebuah alasan, alasan yang kuat yang kekuatannya melebihi harga dari hidupnya sendiri.


 


  - Kedai Paman Ji, terlihat sepi seperti biasanya, penampilannya juga tidak ada yang berubah selama 16 tahun, Junta sedang duduk di salah satu meja, menunggu pesanannya tiba.


“Ini dia Junta, seperti biasa.”


“Terima kasih Paman Ji.”


Paman Ji meletakkan makanan yang dibawanya lalu duduk di samping Junta.


“Jadi.. Bagaimana sekolah mu?”


“Biasa saja, tidak ada masalah.”


“Tidak terasa kau sudah kelas 2 SMA ya Junta.. Padahal dulu saat kau datang untuk pertama kali di kedai ini kau begitu kecil.”


“Ya.. Aku bahkan tidak ingat lagi kapan aku datang ke kedai ini untuk pertama kalinya.”


Junta meniup-niup makanannya yang mengeluarkan asap putih, sebuah mie y dengan topping sebuah telur, beberapa daging iris dan sebuah roti, kuahnya berwarna sedikit kemerahan menggambarkan bahwa makanan itu pasti pedas rasanya, pria yang sudah tua itu hanya melihat Junta makan, kulitnya yang sudah keriput tertutupi oleh baju ala chef berwarna putih, jika seseorang tidak melihat muka Paman Ji maka mereka mungkin akan berfikir kalau Paman Ji masih berumur 27 tahun, Junta dan Paman Ji sangat dekat, ini dikarenakan Paman Ji adalah teman baik orang tua Junta, bisa di bilang bahwa Junta mempercayai Paman Ji setara dengan dia mempercayai orang tua nya sendiri.


“Hey Junta, ngomong-ngomong bagaimana keadaan penyelidikan mu?”


“Tidak ada hasil Paman, aku masih mencari petunjuk.”


“Kau tau Junta, terkadang aku masih bermimpi, di dalam mimpi itu aku melihat mu, Kou, Ayah dan Ibu mu, semua nya datang ke kedai ini dan meramaikan suasana seperti biasa, ada Kou yang sangat aktif, ada juga Ayah mu yang sangat berisik saat dia makan, lalu ada Ibu mu yang terlihat kewalahan dengan sikap ayahmu dan adik perempuan mu itu, aku benar-benar merindukan mereka.”


Junta hanya meneruskan memakan makanannya, tidak merespon perkataan Paman Ji.


“Aku juga masih sedikit tidak percaya kalau orang tua mu di bunuh di tengah-tengah kerumunan saat salju menghias langit malam di kota ini.. Maksud ku, aku tau Ayah dan Ibu mu adalah penyihir yang sangat kuat, tanpa mereka mungkin kota ini tidak akan bisa seperti saat ini, tapi sepertinya takdir berkata lain dan akhirnya kisah heroik orang tua mu terkubur dalam-dalam dan tidak ada yang tau tentang apa yang terjadi sebenarnya.”


Junta menghabiskan sisa makanannya dan mulai menatap tajam Paman Ji.


“Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan kota ini Paman, aku hanya ingin menemukan pembunuh orang tua ku dan akan kubunuh mereka dengan tangan ku sendiri.”


“Aku tidak ingin menghalangi mu, tapi aku juga tidak bisa membantu mu, kau tau sendiri aku hanya manusia biasa, aku bukan seseorang dengan kekuatan super seperti sihir, apa yang bisa ku lakukan hanya lah memberimu nasihat saja, seperti yang umum di lakukan oleh para orang tua.”


“Aku tau, Ayah dan Ibu sudah mengajari ku banyak hal, termasuk mengendalikan amarah dan tetap berfikir tenang, aku hanya meminta Paman untuk selalu membuka mata dan telinga, berikan kepadaku informasi apapun yang berhubungan dengan kasus orang tua ku, walaupun itu tidak ada kaitannya dengan sihir.”


“Ya tentu aku akan memberikan informasinya kepada mu jika aku punya, tapi Junta, kasus itu sudah 8 tahun yang lalu, umur mu sekarang sudah 16 tahun kan? Apa kau pikir masih ada orang di luar sana yang membicarakan hal ini?”


“Sejujurnya tidak Paman, sudah banyak yang melupakan kasus orang tua ku, polisi juga sudah lama menutup masalah ini, aku juga tidak bisa menyalahkan polisi karena pembunuhan orang tua ku bukan lah pembunuhan biasa yang dapat di selidiki oleh orang normal, tapi aku berharap ada seseorang di luar sana yang masih membicarakan tentang kasus orang tua ku dan mempunyai 1 atau 2 informasi.”


“Ya.. Aku merasakan hal yang sama seperti mu, aku hanya tidak mengerti kenapa ada seseorang yang ingin membunuh seorang pahlawan seperti orang tua mu.. Sihir juga menjadi hal yang tidak di percayai lagi, ini hanya mempersusah penyelidikan mu karena tidak akan ada yang percaya apa yang akan kau katakan.”


“Kita akhiri saja pembicaraan ini Paman, aku tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan kita.”


“Ah ya tentu tentu, maaf sudah membicarakan hal ini dengan mu.”


“Tidak apa-apa, aku sudah bisa lebih mengendalikan amarah ku sekarang jadi tidak masalah.”


“Baiklah seperti biasa kau tidak perlu membayar untuk makanan itu.”


“Maaf sering merepotkan mu Paman.”

__ADS_1


“Tidak usah dipikirkan, orang tua mu sudah banyak sekali membantu ku, di bandingkan dengan bantuan itu, bantuan yang ku berikan pada mu ini tidak ada apa-apanya.”


Dengan itu Junta tersenyum ramah seperti biasanya, lalu dia keluar dari kedai Paman Ji dan melangkahkan kakinya kembali ke rumah, langit sudah mulai gelap, bulan dan bintang mulai menghias langit malam dengan sinarnya  lampu-lampu jalan juga mulai dinyalakan, nuansa ini sedikit mengingatkan Junta dengan kejadian tragis yang tidak dapat dia lupakan, tepat seperti ini lah suasana malam dimana orang tua Junta di bunuh di tengah-tengah kerumunan yang ada di sebuah taman, lebih tepatnya di malam natal saat salju sedang turun, memikirkan hal ini membuat Junta menundukkan kepalanya, sambil berjalan dia terus mengingat detik-detik terakhir sebelum orang tua nya menghembuskan nafas terakhir, tanpa sadar air mata Junta berjatuhan dan dia tetap berjalan dengan kondisi seperti itu sepanjang perjalanan.


__ADS_2