Junta & Dunia Sihir

Junta & Dunia Sihir
#1 Pemberontakan


__ADS_3

“Oh? Coba lihat siapa yang datang lebih awal.”


 


Seorang wanita berumur 34 tahun menyapa Junta di depan pintu gerbang sekolah.


“Masih dengan pakaian yang seperti biasa ya Bu Layla?”


“Hey ini pakaian favorit ku kau tau.”


Bu Layla sebenarnya adalah guru konseling, tapi dia sangat suka memakai pakaian layaknya seorang dokter atau pakaian seperti guru IPA yang hobi bereksperimen, dia memakai jas berwarna putih dan celana yang putih juga, tidak ada yang tidak putih di pakaiannya, ditambah rambut hitamnya yang panjang membuat penampilannya terlihat mencolok.


“Hari ini aku harus memuji mu Junta, kau tidak terlambat seperti biasanya.”


“Tidak perlu memuji ku, untuk kali ini saja aku akan meringankan beban mu Bu Layla.”


“Hey apa kau pikir tidak melelahkan terus melihatmu terlambat? Aku juga tidak ingin bertemu dengan mu setiap hari, kau membuat ku bosan.”


“Daripada mengeluh seperti itu kenapa tidak memikirkan cara agar Bu Layla cepat menikah? Bukankah sekarang Anda berumur sekitar 34 tahun?”


“Diam! Tidak perlu kau nasihati pun aku juga tau! Ah… Kenapa hidupku seperti ini...”


Bu Layla memejamkan mata dan membuat ekspresi seperti orang yang sedang sakit kepala.


“Anda hanya perlu sedikit berusaha lagi, menurutku Bu Layla itu cantik, hanya saja anda kurang berusaha menampakkan kecantikan itu.”


“Ha! Jangan harap kau bisa lolos dari masalah hanya karena kau memuji ku seperti itu! Ingat, jika poin mu menyentuh angka 50 dari 100 poin, maka kau akan di skor.”


“Ya ya aku tau, baiklah kalau begitu, aku harus pergi sekarang.”


“Kau ingin melihat papan pengumuman? Kalau begitu bergegaslah sebelum murid-murid itu memenuhi aula.”


 


- Khusus hari ini aula menjadi tempat pilihan para guru untuk menempatkan papan pengumuman\, hal ini memang masuk akal mengingat akan ada banyak murid yang berbondong-bondong untuk melihat di kelas mana mereka berada selama 1 tahun kedepan\, dan di sana ada Junta yang masih berdiri di pojok ruangan\, dia bersandar di dinding sambil meminum kopi kaleng yang dia beli di mesin minuman tadi\, dia menunggu keadaan agar sedikit lebih tenang atau sedikit lebih sepi.


 


“Hari masih pagi tapi tempat ini sudah seperti rumah semut.”


 


Junta mengatakan itu kepada dirinya sendiri sambil meminum kopi, tahun lalu Junta di tempatkan di kelas F yaitu kelas paling akhir, di sekolah ini di tetapkan sistem penempatan berdasarkan nilai, jadi bisa di bilang bahwa murid yang menduduki kelas A adalah murid yang pintar sedangkan murid yang duduk di kelas F adalah murid yang paling bodoh.


Sebenarnya Junta tidak memiliki pendapat khusus tentang sistem ini, tapi jika memang harus mengeluarkan pendapat maka Junta lebih memilih tidak setuju, ini dikarenakan kepintaran seseorang tidak dapat di ukur dengan nilai, ataupun sebaliknya nilai tidak dapat di gunakan untuk mengukur kepintaran seseorang.


“ ‘Karena setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, setiap manusia itu pintar, hanya saja letak kepintarannya yang berbeda’, bukan begitu Ayah?”


Junta mengulangi perkataan yang dulu sering di ucapkan Ayahnya, tidak banyak yang dapat dilakukan Junta di pojok ruangan, jadi dia hanya melamun dan sesekali meminum kopi kalengnya yang entah kenapa tidak kunjung habis, saat sedang meneguk kopinya seorang wanita sedang mendekat ke arah Junta.


“Hey apa yang kau lakukan di situ?”


“Meminum kopi.”


Wanita itu berdiri di samping Junta dan bersandar di dinding, jika di lihat-lihat lagi wanita itu sedikit lebih pendek daripada Junta, dan juga dia cukup cantik.


“Kenapa kau tidak melihat papan pengumuman seperti yang lain? Atau mungkin kau sudah melihatnya?”


“Tidak, aku belum melihatnya karena masih banyak murid di sana, aku tidak terlalu suka dengan kerumunan.”


Keadaan menjadi hening, yang dilakukan wanita itu hanya lah menatap kerumunan dengan matanya yang berwarna oranye, dia juga terlihat gugup karena sejak dia bersandar di dinding dia selalu memainkan rambut bob oranye nya.


“Jadi kenapa kau kesini?”


Junta berusaha membuka percakapan.


“Eh? Ah.. Ya.. Aku melihat mu di sini jadi aku datang untuk menyapa mu.”


“Uh.. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Eh? Tunggu dulu Junta.. Kau tidak mengingat ku?”


“Uhm… Maaf aku tidak mengingat mu, apa aku berhutang sesuatu padamu?”


Wanita itu menunduk lalu mengatakan sesuatu dengan nada yang sangat lirih, setelah menghembuskan nafas yang sangat panjang dia menatap Junta dengan penuh senyuman.


 


“Ya kalau begitu mari kita mulai dari awal, aku Yui.”


“Yui? Hmm entah mengapa aku pernah mendengar nama itu sebelumnya…”


“Tentu saja! Aku adalah teman sekelas mu tahun lalu kau tau?!”


Yui mengatakan itu dengan mata yang hampir menangis.


“Ah.. Jika di ingat-ingat memang ada murid di kelas ku yang memiliki nama seperti itu..”


“Kejam sekali kau Junta.. Apa kau tidak mengingat semua nama teman sekelas mu?”


“Jujur saja, aku bahkan lupa wajah murid yang ada di kelas ku tahun lalu.”


“Huwaah…”


Yui menatap Junta dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.


“Jadi, apa kau kesini untuk memberitahu kalau Bu Layla memanggil ku ke ruang konseling?”


“Tidak, aku hanya ingin bilang kalau siapa sangka di tahun ini kita berada di kelas yang sama.”


“Hm? Di kelas apa? Aku belum melihat papan pengumuman itu sejak tadi.”


“Ah.. Kita berada di kelas D.”


“Apa kau serius? Aku? Di kelas D?”


“Kau bisa melihatnya sendiri nanti jika kau tidak percaya.”


Junta masih dengan ekspresi kebingungannya meneguk kopi kaleng yang belum dia buang.


“Apa di papan itu juga di tuliskan siapa wali kelas kita?”


“Guru wali kelas ya.. Aku tidak melihatnya tadi, aku rasa kita akan tau ketika kita sudah mulai memasuki hari efektif bersekolah”


“Yang itu artinya besok ya…”


“Jadi.. Uhm..”


Yui berusaha mengatakan sesuatu, tapi entah mengapa dia terlihat gugup, hal itu dapat di lihat oleh siapapun karena dia semakin cepat memainkan rambut nya dan nada bicaranya yang terbata-bata.


 


“Apa kau baik-baik saja Yui?”


 


“Ah! Ya! A-Aku hanya ingin mengajak mu u-untuk pergi ke kelas kita bersama-sama…”


 


“Oh, ya tentu, kenapa tidak.”


“Eh? Kau mau?”

__ADS_1


“Ya, akan sangat mudah jika ada seseorang menunjukkan jalannya kepada ku jadi aku bisa cepat pulang.”


“Kalau begitu ikuti aku!”


Yui mengatakan itu dengan nada bahagia dan penuh semangat, dia juga tidak terlihat gugup lagi, dia berjalan di samping Junta dengan penuh senyuman.


 


- Koridor sekolah adalah tempat dimana keramaian menjadi teman setianya\, entah itu murid yang berlalu-lalang ataupun murid yang sedang bercakap-cakap\, hari ini adalah hari masuk sekolah\, tapi bukan hari efektif\, dapat di katakan kalau kegiatan hari ini hanya mengetahui di mana kelas kalian berada lalu pulang\, hanya itu\, tidak ada pelajaran\, umumnya hari pertama setelah liburan semester ini di manfaatkan oleh para murid untuk berkenalan dengan teman-teman barunya\, atau bisa juga mereka memanfaatkannya untuk datang ke ruang klub mereka dan bertemu dengan teman-temannya disana\, Junta sekarang sedang berjalan berdampingan dengan Yui\, tujuan mereka sekarang adalah ruang kelas 2-D\,


“Jadi Junta.. Apa kau ikut suatu klub?”


“Klub? Ah maksudmu ekstrakurikuler.. Tidak, aku tidak mengikuti satu pun klub yang ada di sekolah ini.”


“Eh? Kenapa?”


“Kupikir itu hanya membuang waktu-waktu saja, ya aku tau klub digunakan untuk mengasah bakat dan minat para murid.. Tapi tidak ada klub yang dapat menarik perhatian ku.”


“Memangnya kau ingin bergabung ke klub apa?”


“Hmm… Sesuatu yang berhubungan dengan mencari petunjuk.. Sesuatu yang berhubungan dengan investigasi suatu kasus.”


“Apa kau ingin menjadi detektif Junta?”


“Ya.. Anggap saja begitu.”


“Keren ya.. Kau sudah menemukan apa yang kau suka dan ingin menjadi apa.. Sedangkan aku masih bingung harus ke mana dan menjadi apa..”


Yui mengatakan itu dengan kepala yang sedikit menunduk dan senyuman yang terlihat sedih.


“Kau akan menemukan apa yang kau inginkan, cepat atau lambat.”


“Aku harap apa yang kau katakan itu benar.. Ngomong-ngomong ini dia ruang kelasnya.”


Tidak ada yang jauh berbeda dengan kelas Junta tahun lalu, tetap dengan tipe kursi untuk satu orang dan sebuah meja berukuran sedang, ukuran itu cukup jika hanya di pakai satu orang, keadaan kelas sedikit ramai, sepertinya murid-murid yang lain sudah mulai berkenalan dan mengakrabkan diri, Junta berdiri di pintu masuk dua pintu sambil menatap sekelilingnya, sebelum akhirnya berjalan menuju bangku yang ada di pojok belakang.


“Kau ingin duduk di sini Junta?”


“Ya begitu lah, aku suka tempat ini, tempatnya di pojok belakang sendiri, dan juga dekat dengan jendela.”


“Kau tidak pernah berubah ya.. Dulu kau juga duduk di posisi bangku yang seperti ini.”


 


“Ya kau harus mencobanya sesekali dan kau akan tau kenapa aku suka duduk di sini.”


“Kalau begitu aku akan duduk di depan mu, apa kau tidak keberatan?”


”Tentu, silahkan saja, ruang kelas ini bukan milikku jadi duduk lah dimana pun kau suka.”


Setelah mengatakan itu Junta merogoh sakunya dan meletakkan sesuatu di kolong meja, hal ini untuk menandakan bahwa meja itu sudah ada yang menempati.


“Wah.. Aku tidak menyangka kalau awan mendung akan datang secepat ini.. Hey Junta apa kau membawa payung?”


 


“Tidak, aku tidak membawanya, jika hujan akan segera turun.. Maka sebaiknya aku harus pergi.”


“Kau mau kemana Junta?”


“Aku harus pergi, ada urusan yang harus aku selesaikan.”


Yui ingin mengatakan sesuatu tapi tidak sempat karena Junta terlihat tergesa-gesa dan menghilang dalam sekejap mata.


Junta sedang menuju tempat perkumpulan para preman di sekolahnya, yaitu di belakang sebuah gudang yang dekat dengan gedung olahraga, setelah sampai di sana Junta disambut dengan tatapan mata yang tidak mengenakkan dari para preman itu, seolah-olah mereka kedatangan tamu yang tidak di undang.


“Hey kau! Apa yang kau lakukan di sini huh?!”


“Di antara kalian siapa yang bernama Kenya?”


“Itu aku.”


Seorang pemuda tiba-tiba jatuh dari atas dan dia mendarat dengan sangat halus, sepertinya dia sudah duduk di atap gudang jauh sebelum Junta datang.


“Ada perlu apa?”


Kenya tetap berbicara dengan nada seperti seorang preman, hanya saja intonasi nya tidak terlalu tinggi.


“Aku memiliki surat dari Gilda untuk kalian.”


“Tuan Gilda?”


Junta memberikan surat itu kepada Kenya dan Kenya dengan cepat membuka dan membacanya, Junta memilih memanggil Kenya karena Junta tau kalau Kenya adalah tangan kanan ke 2 Gilda, dan juga dia lebih memiliki otak dari pada Locus, si tangan kanan ke 1 Gilda, para preman yang ada di belakang Kenya terlihat kebingungan, sama seperti Kenya.


“Memang benar ini dari Tuan Gilda, hey kalian! Aku sudah melihat keaslian surat ini dan isinya, dan dengarkan ini baik-baik! Mulai sekarang orang ini adalah pemimpin baru kita.”


“APA?!”


Tiba-tiba suara yang tinggi dan sangat berat datang dari arah belakang Junta.


“Aku baru datang setelah membeli sebungkus roti dan sekarang kau mengatakan kalau orang pendek ini adalah pemimpin baru kita?!”


Dia adalah Locus, badannya tinggi, bahkan lebih tinggi dari pada Kenya dan Junta, kalau tidak salah tinggi badan Locus adalah 210cm, tidak hanya tinggi, badannya juga penuh dengan otot, dia memakai ikat kepala berwarna merah sama seperti Kenya, yang berbeda dari mereka berdua selain badannya adalah rambutnya, Kenya memiliki rambut pendek sedangkan Locus memiliki rambut yang sedikit panjang.


“Locus ini adalah perintah dari Tuan Gilda.”


“Berikan kertas itu padaku!”


Dengan kasar Locus mengambil kertas itu dari tangan Kenya.


“Apa sekarang kau percaya Locus? Ini benar-benar surat dari Tuan Gilda.”


 


“Ini pasti bohong! Orang ini pasti membuat surat palsu untuk menipu kita semua!”


“Locus! Dengarkan aku! Surat ini asli! Tidak kah kau melihat tanda tangan yang di atasnya ada cap sidik jari di akhir surat?”


 


“Tidak! Aku sama sekali tidak percaya! Apa kalian akan menerima hal ini begitu saja?! Apa kalian akan tunduk kepada orang yang tidak pernah kalian lihat sebelumnya dan bahkan kalian juga tidak tau kekuatan orang itu?!”


Semua preman yang hadir di sana terdiam dan saling menatap satu sama lain dengan wajah kebingungan.


“Locus, aku tau perasaan mu, tapi jika ini perintah dari Tuan Gilda maka kita tidak bisa berbuat banyak, aku yakin Tuan Gilda memilih orang ini karena suatu alasan.”


“Aku tetap tidak percaya! Aku ingin bertemu dengan Gilda sekarang! Aku ingin mendengarnya langsung dari mulutnya!”


“Apa kalian belum di beritahu oleh Gilda?”


“Apa maksudmu Orang Biru?”


“Kenya, bahkan kau belum di beritahu? Apa tidak ada yang tau di antara kalian semua?”


Sekali lagi para preman itu saling melihat satu sama lain dengan ekspresi kebingungan, Junta hanya bisa menghela nafas dan mengutuk Gilda di dalam hatinya.


“Gilda sudah pindah dari distrik ini.”


“APA?!”


 


Semua preman yang hadir di situ terkejut di saat yang bersamaan.

__ADS_1


“Hey orang biru! Jangan main-main dengan kami! Kau hanyalah seseorang yang berukuran seperti ikan teri! Kami bisa menghajar mu sampai kau tidak bisa lagi bernafas kau tau itu?!”


“Orang ini sudah terlalu melampaui batas! Apa kau pikir kau bisa mengalahkan kami semua?! Preman yang hadir di sini berjumlah 52 orang! Jumlah kami lebih besar jika kami memanggil semua teman-teman kami! Apa kau ingin mati sekarang huh?!”


“SEMUANYA HARAP TENANG!”


Kenya berteriak dengan suara yang sangat keras, membuat seluruh preman yang hadir disana menjadi terdiam.


“Dalam surat ini memang di sebutkan bahwa Tuan Gilda tidak bisa memimpin kita lagi sampai waktu yang tidak dapat di tentukan, dan alasannya karena Tuan Gilda sudah tidak lagi berada di sekolah ini, jadi ada kemungkinan bahwa Tuan Gilda memang sudah pindah ke sekolah lain.”


“Kenapa kau tidak bertanya langsung kepada Gilda lewat smartphone mu Kenya?”


“Aku tidak bisa melakukan itu wahai Orang Biru, Tuan Gilda sangat tidak suka jika dia menerima panggilan dari kami, jadi biasanya kami hanya menerima kabar saja dari Tuan Gilda, bisa di bilang kontak satu arah.”


Tiba-tiba Locus berjalan dengan cepat ke arah Junta dan memegang erat-erat kerah bajunya, lalu mengangkat Junta hingga wajah mereka sejajar, Junta yang di angkat seperti itu oleh Locus hanya berekspresi tenang dan tidak memberontak.


“Apapun yang di katakan Gilda di dalam surat itu, sama sekali tidak bisa ku terima, oleh karena itu aku menantang mu untuk duel Orang Biru.”


Locus mengatakan itu dengan sangat marah dan sangat serius, setelah itu dia melempar Junta dengan kuat ke samping tapi Junta tidak terjatuh dan dapat menyeimbangkan tubuhnya sehingga Junta bisa berdiri dengan kedua kakinya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tidak lama setelah melempar Junta, Locus pergi dengan langkah yang marah menjauhi Kenya dan para preman.


“Baiklah aku tau ini akan terjadi, jadi siapa di antara kalian yang ingin menemani Locus dalam pemberontakannya?”


Seluruh preman yang hadir di situ terdiam, termasuk Kenya.


“Oh? Apa kalian tidak ingin menemani teman kalian si Locus itu?”


“Sejujurnya kami juga tidak suka dengan Locus.”


Kenya menjawab pertanyaan Junta dengan nada yang sedikit marah.


“Kenapa? Apa dia pernah memukuli kalian sampai-sampai kalian tidak lagi bisa berjalan?”


Semua orang yang hadir disana terdiam dengan pertanyaan Junta.


“Baiklah jika kalian tidak ingin menjawab ku, ngomong-ngomong namaku adalah Junta, jadi jangan panggil aku Orang Biru lagi kalian paham?”


“Junta ya.. Setidaknya beri tau kepada kami Junta, apakah kau dan Gilda sangat dekat?”


“Ya.. Tidak terlalu dekat.. tapi.. Ya.. Gilda adalah salah satu teman dekat ku.”


“Lalu ke mana Gilda pergi?”


“Dia pergi ke Distrik 24, dia terpaksa pindah karena pekerjaan kedua orang tuanya.”


Setelah mendapatkan jawaban dari Junta, Kenya terdiam sejenak.


“Baiklah, aku menerima mu Tuan Junta, hey kalian! Jika ada yang menentang Tuan Junta silahkan pergi dari sini!”


“Tidak ada dari kami yang menentang kepemimpinan Tuan Junta Kenya!”


 


“Ada apa ini? Tadi kalian begitu menentang ku sekarang kalian sangat patuh kepada ku?”


“Anggap saja kami berubah pikiran Tuan Junta, sekarang biar aku beri tahu beberapa hal.”


Kenya mendekat ke Junta yang masih berdiri di tempat dimana dia di lempar oleh Locus.


“Kau pasti tau kalau Locus dan Aku adalah tangan kanannya Gilda, sejujurnya di bawah kepemimpinan Gilda, kami terbagi menjadi dua fraksi, yang pertama adalah fraksi ku, yaitu orang-orang yang lebih nyaman dengan ku dan yang kedua adalah fraksi Locus, yaitu orang-orang yang lebih nyaman dengan oleh Locus, semua orang yang ada di kedua fraksi ini setia dengan Gilda hanya saja mereka memilih untuk bersama tangan kanan Gilda yang mereka sukai.”


“Dengan kata lain, fraksi mu berisikan anggota yang suka bertarung dengan mu, dan fraksi Locus berisikan anggota yang suka bertarung dengan Locus, dan kalian semua tetap setia pada pemimpin kalian yaitu Gilda, apa aku benar dalam menyimpulkan ini.”


“Tepat sekali, saat ini semua yang hadir di sini adalah anggota dari fraksi ku, dan seperti yang kau lihat bahwa fraksi ku telah menerima kepemimpinan mu, jadi yang perlu kau urus sekarang ada fraksi milik Locus.”


“Apa ini akan menjadi pertarungan 1 lawan banyak?”


Kenya menggelengkan kepala.


“Locus bukanlah orang yang seperti itu, fraksi kami mungkin saling tidak menyukai tapi kami tetap tunduk kepada satu pemimpin, yaitu Gilda, dan Gilda tidak pernah mengajarkan itu.”


 


“Lalu apa yang harus aku takutkan?”


“Seperti yang aku bilang tadi kalau kami terbagi menjadi dua fraksi, tentu setiap fraksi ada pemimpinnya kan? Jika kau dikalahkan oleh Locus maka seluruh fraksi Locus tidak akan menerima kepemimpinan mu, yang mungkin bisa kau bayangkan apa yang akan terjadi.”


“Ah aku mengerti maksudmu, organisasi preman di sekolah ini akan terbagi menjadi 2 dengan pemimpinnya masing-masing, sehingga bentrokan tidak dapat di hindari yang menyebabkan sekolah ini menjadi kacau.”


“Sepertinya kau sudah sangat paham alasan kenapa Gilda menyatukan seluruh preman yang ada di sekolah ini.”


“Tentu, Gilda menyatukan seluruh preman yang ada di sekolah ini untuk menjaga ketertiban kan?”


 


“Tepat sekali, aku sudah mulai mengerti kenapa Gilda memilih mu menjadi pemimpin kami.”


“Jadi ke mana aku harus pergi?”


Tiba-tiba suara petir menyambar dengan keras dan rintik-rintik air pun turun dengan sangat deras, membasahi Junta beserta seluruh preman yang hadir di sana.


“Locus sangat suka dengan lapangan sepak bola yang letaknya tidak jauh dari sini, dan juga di sana ada sebuah gudang tak terpakai yang biasa dia gunakan sebagai tempat perkumpulannya, dia pasti menunggu mu di sana.”


“Baiklah aku akan ke sana.”


“Tunggu dulu Tuan Junta!”


Kenya berteriak untuk menghentikan Junta yang hampir pergi meninggalkan mereka.


“Berhati-hati lah karena Locus itu suka dengan kecurangan, dan juga cuaca yang sedang hujan ini mungkin akan membuatmu kesusahan dalam melawan Locus.”


“Akan ku ingat itu”


Dengan begitu Junta pergi meninggalkan fraksi Kenya dan pergi menuju lapangan bola, tempat dimana Locus menunggunya.


“Kenya! Kenapa kau membiarkan Tuan Junta melawan Locus?!”


“Ya benar! Ini kesempatan bagus untuk kita agar bisa menghajar Locus kan?! Jika Locus dapat kita kalahkan maka dia pasti akan menerima kepemimpinan Tuan Junta!”


 


“Apa kalian tidak melihat gerakan Tuan Junta saat dia di lempar oleh Locus tadi?”


Seluruh preman disana terdiam.


“Tidak ada seorang pun yang pernah berhasil untuk tidak jatuh dari lemparan Locus, termasuk Gilda sendiri.”


“Ya tentu kami melihatnya Kenya! Dia bisa bertahan dari lemparan Locus itu sangat luar biasa! Kami semua sudah pernah merasakan kekuatan Locus dan bahkan Tuan Gilda juga tidak bisa bertahan dari lemparan itu dan akhirnya terjatuh dan terkapar di atas tanah.”


“Jika kalian tau itu kenapa kalian masih bertanya? Apakah kalian tidak percaya pada kekuatan pemimpin baru kita?”


“Bukan begitu! Kami hanya ingin menghabisi fraksi si Locus sialan itu!”


“Benar.”


 


Setelah menjawab serentak seperti itu para preman itu menunggu respon dari Kenya.


“Tidak, jangan, jika Tuan Junta dapat mengalahkan Locus sendirian pastilah fraksi Locus akan sepenuhnya tunduk kepada Tuan Junta karena mereka mengakui kekuatannya, tapi apa yang terjadi jika kita yang mengalahkan fraksi Locus? Tentunya mereka tidak akan sepenuhnya percaya kepada Tuan Junta yang mengakibatkan potensi pengkhianatan atau pun pemberontakan di masa depan.”


Para preman itu saling memandangi satu sama lain dengan ekspresi khawatir.


“Mari kita berangkat ke tempat duel untuk menyaksikan kekuatan Tuan Junta sendiri.”

__ADS_1


__ADS_2