
Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari, keadaan di kota saat ini begitu sepi, hampir tidak ada mobil atau pun orang yang berlalu lalang di jalanan kota, saat ini Junta sedang duduk di bangku yang berada di halaman depan stasiun kereta api yang ada di distrik 14, dia sudah berada di sana sekitar 30 menit yang lalu, sambil menunggu Daska yang tak kunjung datang, Junta meminum kopi panas yang dia beli di mesin minuman terdekat.
Junta sebenarnya tau kalau rencana ini sangat berbahaya, memasuki kantor polisi secara diam-diam lalu mengambil barang bukti penyelidikan? Bahkan Junta tidak bisa membayangkan hukuman apa yang menantinya jika polisi menangkap mereka berdua.
Di sisi lain, Junta mau tidak mau harus melakukannya, karena buku yang akan mereka ambil hari ini mengandung informasi yang sangat sensitif, tentu informasi itu berkaitan dengan keluarga Junta, dan karena Junta tidak bisa membocorkan informasi keberadaannya maka Junta harus bisa mengambil buku itu apa pun yang terjadi.
Tidak hanya kantor polisi yang menjadi rintangan, tapi Daska juga menjadi masalah tersendiri, buku itu adalah milik Kakak Daska yang telah di bunuh oleh Junta beberapa hari yang lalu, setelah mengambil buku itu dari kantor polisi, lalu bagaimana Junta akan merebut buku itu dari Daska?
Junta masih memikirkan cara untuk merebut buku itu sambil meminum kopi panas yang tak kunjung habis, dia memilih kopi panas karena udara dingin masih sangat terasa meski pun Junta sudah memakai celana panjang dan sebuah jaket, tidak lama setelah kopi yang di minumnya habis, sebuah taksi menepi ke tepi jalan, dekat dengan tempat Junta duduk, setelah taksi itu berhenti, pintu penumpangnya terbuka dan yang keluar ternyata adalah Cyla, sekretarisnya Daska, meski pun hari ini dini hari dan dia tidak berada di area sekolah, Cyla tetap memakai seragam sekolahnya dan dia membawa sebuah tas yang cukup panjang di punggung nya.
“Apa kau menunggu lama Junta?”
Junta melihat jam besar yang berada di depannya, dan waktu menunjukkan pukul 01.15, setelah melihat jam besar itu, taksi yang tadinya berhenti di tepi jalan sekarang sudah menghilang entah ke mana.
“Tidak terlalu, di mana Daska?”
“Daska sudah berada di kantor polisi, dia menunggu mu di sana”
Cyla mengatakan itu dengan ekspresi seperti biasanya, sebuah ekspresi yang sangat tenang tanpa senyuman.
“Jadi kau datang ke sini hanya untuk memberitahu ku hal ini?”
“Lebih tepatnya aku datang ke sini karena perintah Daska, aku akan mengantar mu ke sana”
Setelah mengatakan itu, mereka berdua pergi menuju tempat pertemuan, sepanjang perjalanan, Cyla tidak mengatakan sepatah kata apa pun, Junta yang berjalan di belakang Cyla merasa sedikit tidak nyaman dengan keheningan ini, sebenarnya Junta tau kalau Cyla adalah orang yang tidak banyak bicara, tapi suasana kota yang sepi ditambah kesunyian di antara mereka berdua membuat perjalanan Junta terasa sedikit menyeramkan.
“Jadi Cyla.. Kenapa kau mau menerima perintah ini?”
“Karena aku sekretaris nya”
Cyla menjawab Junta dengan jawaban yang singkat.
“Uh.. Maksud ku.. Kau bisa saja menolak nya kan? Ini dini hari, suasana kota sangat sepi di saat seperti ini, apa kau tidak takut?”
“Tidak ada yang perlu di takut kan”
“Lalu bagaimana dengan orang tua mu? Apakah mereka mengizinkan mu untuk keluar malam-malam begini?”
“Kau tidak perlu khawatir”
Dan setelah Cyla mengatakan itu, keadaan menjadi hening kembali, Junta yang sudah kehabisan topik pembicaraan terpaksa membiarkan keheningan itu sampai mereka tiba di lokasi.
Saat sudah tiba di tempat pertemuan, Junta melihat Daska yang memakai seragam sekolahnya sedang duduk bersandar di dinding dengan memangku sebuah laptop, laptop itu terhubung dengan sebuah kabel yang berasal dari sebuah box besi, box itu menempel di dinding yang letaknya tidak jauh dari tempat Daska duduk, Junta tidak tau box apa itu, tapi box itu terlihat penting karena di dalam box itu terdapat banyak sekali kabel yang terhubung ke dalam gedung.
“Oh Junta, sejak kapan kau tiba?”
“Baru saja Daska, apa yang sedang kau lakukan?”
“Aku? Aku mencoba mematikan kamera pengawas yang berada di dalam kantor ini, kau tau, untuk memperlancar aksi kita”
“Daska, aku rasa tugas ku sudah selesai, boleh aku pulang?”
“Oh tentu saja Cyla, terima kasih sudah membantu ku malam-malam begini”
Cyla mengangguk dengan ekspresi seperti biasanya dan dia pergi menuju tepi jalan, tidak lama kemudian sebuah taksi datang menghampirinya dan dengan cepat taksi itu menghilang dari pandangan Junta.
“Bagaimana menurutmu?”
“Apanya?”
“Sekretaris ku”
“Ah, dia orang yang tidak banyak bicara”
“Sudah ku duga kau akan berpikir begitu”
“Apa aku salah?”
“Tidak, tidak ada apa-apa”
“Ngomong-ngomong kenapa kau menyuruhnya untuk menjemput ku di stasiun malam-malam begini?”
“Itu karena aku harus melanjutkan tugas ku di sini, apa kau pikir mematikan seluruh kamera pengawas di sebuah kantor polisi adalah hal yang mudah?”
“Aku tidak akan membantahnya, tapi apa kau tidak khawatir dengan Cyla?”
“Tenang saja! Kau tau? Dia menjadi sekretaris ku bukan tanpa alasan”
“Apa ini ada hubungannya dengan tas panjang yang dia pakai di punggung nya?”
“Yap, itu adalah senjata nya, apa kau tau sebuah olahraga yang melatih mu untuk bertahan diri menggunakan sebuah pedang kayu?”
“Ah.. Olahraga itu..”
“Tepat sekali, dan Cyla adalah juara nasional dalam olahraga itu, jadi sebaiknya kau jangan macam-macam dengannya”
“Sangat menarik, lalu bagaimana dengan tugas mu? Apakah kamera nya sudah kau matikan semua?”
“Seharusnya sebentar lagi…. Dan selesai”
Setelah mengatakan itu, Daska menutup laptop nya dan memasukkan laptop itu ke dalam tas yang ada di sampingnya.
__ADS_1
“Mari kita mulai?”
“Dari mana kita harus masuk?”
“Kita sekarang berada di belakang gedung, gedung ini hanya memiliki 1 pintu masuk dan pintu itu berada di depan gedung, seperti yang kau lihat, di sini ada beberapa jendela, kita akan masuk lewat jendela yang ada di sana”
Daska mengatakan itu sambil menunjuk sebuah jendela yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Apa kau bisa membuka jendela itu Daska?”
“Sebetulnya aku sudah membukanya dari tadi, yang perlu kita lakukan adalah masuk ke dalam, mengambil buku itu, dan pergi keluar, sederhana kan?”
“Kau sebut itu rencana?”
“Apa kau punya rencana yang lebih baik lagi?”
“Baiklah, mari tidak membuang waktu lebih lama lagi, silahkan kau duluan Daska”
Setelah Junta mengatakan itu, Daska berjalan menuju jendela yang dia tunjuk sebelumnya lalu dia membuka jendela itu dengan mulus, dia masuk ke kantor polisi melalui jendela itu di susul oleh Junta, setelah mereka masuk, mereka di sambut oleh suasana tenang dan sepi yang menyelimuti gedung polisi itu, bahkan suara sekecil apa pun yang mereka buat akan terdengar besar karena kesunyian nya, di tambah kondisi gedung yang gelap membuat suasana sedikit terasa mencengkam.
“Hey Junta, sepertinya kau harus melepas sepatu mu”
“Apa?”
“Kau tidak ingin suara langkah kaki mu terdengar kan? Aku tidak tau apakah di gedung ini ada polisi yang berjaga atau tidak, jadi lebih baik kita berhati-hati”
“Kau benar”
Junta melepas sepatu yang dia pakai dan membuang nya keluar melalui jendela yang berada di belakang nya.
“Kalau begitu mari kita lanjutkan”
Daska mengeluarkan sebuah senter kecil dan mulai menyalakan nya, senter itu mungkin tidak terlalu terang tapi itu cukup untuk menerangi jalan, setelah menyalakan senter, Daska mulai berjalan dengan pelan sambil sedikit membungkuk, di belakang nya ada Junta yang membuat pose yang sama dengannya, mereka berdua berjalan dengan sangat hati-hati, setelah berjalan melewati banyak ruangan, mereka diharuskan berbelok ke arah kanan karena ada dinding yang menghalangi, tidak jauh setelah berbelok, mereka berhenti.
“Kau lihat tangga itu Junta?”
Daska menunjuk tangga yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang.
“Kenapa?”
“Semua barang bukti yang ada di kantor polisi ini di tempat kan di satu ruangan, dan ruangan itu berada di atas kita, jadi kita harus naik ke lantai atas”
“Aku mengerti”
Setelah mengatakan itu, Daska pergi ke tangga yang dia tunjuk di ikuti oleh Junta, setelah berada di lantai 2, mereka berhenti sejenak untuk melihat-lihat keadaan sekitar.
“Sejauh ini kita belum menemukan polisi, tapi aku harap kita tetap berhati-hati”
“Aku mengerti, jadi, dari sekian banyak ruangan yang ada di sini, yang mana yang benar?”
“Jika aku tidak salah ingat, ruangan nya berada di tengah-tengah, ikuti saja aku”
“Ini dia”
Di pintu ruangan itu terdapat tulisan ‘Ruang Barang Bukti’ yang menandakan bahwa itulah ruangan yang mereka cari..
“Baiklah tunggu apa lagi? Cepat buka sebelum kita kehabisan waktu”
“Aku tau”
Setelah mengatakan itu, Daska mengeluarkan sebuah kunci, dia memasukkan kunci itu ke dalam lubang pintu dan tidak butuh waktu lama, suara pintu terbuka dapat di dengar.
“Baiklah ayo masuk”
“Kau duluan Daska”
Setelah Daska membuka pintu, Daska sedikit terkejut, harus Daska akui bahwa ruangan ini terlihat lebih besar dari apa yang terlihat di luar, ruangan itu memiliki dua lantai dan ruangan itu penuh dengan rak-rak yang di isi dengan berbagai macam barang, tidak hanya rak, tapi juga ada loker-loker yang terlihat menyimpan sesuatu yang sangat penting.
“Baiklah, rak-rak di dekat dinding dan loker-loker berada di tengah-tengah ruangan, di tambah ruangan ini memiliki 2 lantai, ini bukan ruangan yang kecil Daska, dan aku harap kau tau di mana buku itu di simpan”
“Uh.. Aku tidak tau”
“Apa?”
“Aku kira ruangan ini adalah ruangan yang kecil! Jadi aku berpikir untuk mencari buku itu di sini, tapi.. Jika sebanyak ini..”
“Lalu apa yang akan kita lakukan?”
Daska terdiam sejenak memikirkan sebuah cara, sedangkan Junta terus melihat-lihat sekitar untuk memastikan tidak ada seseorang yang mendekat.
“Jika aku tidak salah ingat, setiap barang bukti yang masuk ke dalam gedung ini selalu di data terlebih dahulu, dan jika kita bisa mendapatkan data itu, maka kita akan tau di mana buku milik Kakak ku di simpan”
“Bagus, di mana data itu?”
“Seharusnya data itu berada di ruangan yang menyatu dengan meja resepsionis, ruangan itu berada di lantai 1, dekat dengan tangga”
“Jadi kau mengatakan kalau kita baru saja melewati ruangan itu?”
“Jangan membuang waktu, kita harus turun sekarang”
Daska langsung bergerak cepat setelah mengatakan itu, suara langkah kaki nya terdengar sedikit keras sehingga membuat Junta sedikit was-was, Junta mengerti kalau mereka tidak boleh berada di sana terlalu lama, tapi melakukan sesuatu secara terburu-buru bukanlah hal yang bagus, terima kasih kepada Daska yang berjalan dengan sangat cepat, saat ini mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka.
“Baiklah ini ruangan nya”
“Apa kau punya kunci nya?”
__ADS_1
“Tentu, aku membawa seluruh kunci ruangan yang ada di gedung ini”
Junta ingin menanyakan dari mana Daska mendapatkan kunci-kunci itu, tapi dia mengurung kan niatnya, tidak butuh waktu lama untuk pintu itu terbuka dan mereka dihadapkan dengan laci-laci yang tak terhitung jumlah nya.
“Kau serius Daska? Kita harus mencari data itu di sini? Maksud ku lihatlah laci-laci ini!”
“Aku tau, dan justru itu sebaiknya kita cepat bergegas, sebelum kita kehabisan waktu”
Junta dan Daska berpencar untuk mencari laci yang tepat, sebelum berpencar, Daska memberikan sebuah senter kecil kepada Junta untuk mempermudah pencarian nya, untung nya, setiap laci yang ada di sana memiliki sebuah tulisan yang menerangkan isi laci itu, berkat tulisan inilah pencarian mereka menjadi lebih mudah dan cepat.
“Hey Junta! Psst!”
Daska memanggil Junta dengan suara yang tidak terlalu tinggi.
“Ada apa? Kau menemukannya?”
Setelah mengatakan itu, Junta pergi menuju posisi Daska.
“Bisa kau pegang ini untuk ku?”
“Baiklah”
Junta memegang senter kecil milik Daska dan menerangi lubang kunci yang di tunjuk oleh nya, setelah Daska dapat melihat dengan jelas lubang kunci itu, Daska mengambil kunci kecil yang berada di saku celana kiri nya dan membuka laci itu dengan kunci yang dia ambil.
Di dalam laci itu terdapat banyak sekali berkas-berkas yang di tata cukup rapi, di setiap kertas yang ada di sana tertulis tanggal, bulan, dan tahun. Mungkin itu untuk menandakan di tanggal berapa berkas itu di tulis, setelah menemukan tanggal yang tepat, Daska mengambil berkas itu dan mulai membaca nya.
“Baiklah, buku yang kita cari berada di ruang bukti lantai 2, dia berada di loker B205, sebaiknya kita pergi sekarang sebelum hari mulai pagi”
Daska mengembalikan berkas itu ke posisi nya dan mulai berjalan menuju ruang bukti yang ada di lantai 2, setelah berada di depan ruang bukti, Daska membuka pintu itu.
“Tunggu dulu, kenapa pintu nya tertutup?”
“Bukankah kau memang menutup nya tadi?”
“Apa benar? Apakah aku memang menutupnya?”
“Aku rasa begitu?”
“Sebaiknya kita bergegas Junta, perasaan ku tidak enak”
Setelah pintu itu terbuka, mereka masuk dan berjalan menuju tangga yang berada tepat di samping kanan pintu masuk, setelah mereka berada di lantai 2, Junta dan Daska berpencar untuk mencari loker B205.
Tidak butuh waktu lama, Daska seperti nya sudah menemukan loker yang dia cari, Junta langsung menuju posisi Daska yang sedang memberikan sinyal kepada Junta berupa gerakan tangan, gerakan itu adalah pertanda bahwa Daska telah menemukan apa yang mereka cari, setelah Junta sampai di posisi Daska, Daska memberikan senter kecil miliknya kepada Junta dan dia mulai membuka loker itu, loker itu terbuka dan banyak sekali barang-barang kecil di sana, sepertinya loker ini tidak hanya menyimpan buku milik Kakak Daska, tapi juga menyimpan barang bukti lain.
Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, Daska langsung ingin membuka buku itu, tapi dia di hentikan oleh Junta.
“Aku tau kau penasaran, tapi sebaiknya kita pergi dulu dari sini”
“Kau benar.. Jika kita tertangkap di sini maka semuanya akan sia-sia”
“Bagus, sekarang mari kita pergi sebelum ada polisi yang datang”
Daska mengangguk setuju setelah mendengar usulan Junta, dia memasukkan buku itu ke dalam kantung baju nya dan mulai berjalan keluar dari ruang bukti.
Setelah berada di luar, mereka berjalan sedikit cepat, lebih cepat dari sebelumnya, sehingga langkah kaki mereka sedikit terdengar, tidak lama setelah mereka turun dari tangga yang menghubungkan lantai 1 dan 2, mereka tiba-tiba berhenti.
“Daska, kau merasakannya?”
“Jadi bukan aku saja ya”
“Aku sangat yakin ada suara langkah kaki lagi selain kita, tapi terdengar sangat samar”
“Gedung ini terdiri dari 3 lantai, mungkin orang itu berada di lantai 3”
“Kalau begitu kita harus cepat, jangan membuang waktu lagi”
Tepat setelah Junta mengatakan itu, Daska mempercepat langkahnya dan dengan cepat mereka sudah tiba di jendela tempat mereka masuk, Daska dengan cepat melompat keluar melalui jendela itu dan di ikuti oleh Junta, setelah mereka berdua berada di luar, mereka langsung menutup jendela itu, setelah jendela itu tertutup Junta langsung mengambil sepatu nya dan Daska mengambil tas miliknya dan mereka berdua langsung pergi menjauh dari gedung itu.
Mereka berlari dengan cepat agar dapat menjauh dari gedung itu, mereka tidak tau harus ke mana dan hanya mengikuti langkah kaki mereka, mereka terus berlari hingga mereka sadar bahwa gedung itu sudah tidak dapat mereka lihat lagi, saat ini mereka berada di sebuah taman, sebuah taman di distrik 14 tentu nya, jam besar yang ada di taman itu menunjukkan waktu 04.00, setelah lelah berlari-lari, mereka memutuskan untuk berhenti di sini dan beristirahat di bangku taman yang ada.
“Ironis sekali, Aku akan mengetahui apa yang Kakak ku lakukan selama ini di tempat di mana dia terbunuh”
“Aku tidak menyangka kalau rencana itu akan memakan waktu”
“Ya, kita selamat, seharusnya saat ini ada seorang petugas bersih-bersih yang sedang membersihkan gedung itu”
“Maksud mu setiap jam 04.00 akan ada petugas yang datang ke gedung itu?”
“Tepat sekali, kita keluar tepat waktu”
Setelah hening sejenak, Daska mengeluarkan buku kecil itu, Junta yang melihat ini mulai menempatkan tangannya ke arah pisau kecil yang sudah dia persiapkan di kantung celananya.
“Buku ini terlihat biasa, tapi seperti nya buku ini mengandung isi yang luar biasa”
“Bagaimana kau tau?”
“Kakak ku sangat menjaga buku ini, tidak ada seorang pun yang ada di rumah ku yang mengetahui isi buku ini”
“Mungkin saja buku itu hanya mengandung rahasia kecil Kakak mu Daska”
“Aku harap isi nya memang se sederhana itu Junta”
Dengan perlahan Daska membuka buku kecil itu, Junta mendekat ke samping nya agar dia juga bisa melihat isi buku itu.
Buku itu pun terbuka dan Daska sudah membalik beberapa halaman.
__ADS_1
Setelah membalik beberapa halaman, Daska dan Junta menatap satu sama lain lalu berkata.
“Kosong?”