
Hari berlalu dengan cepat dan sekarang hari sudah pagi, saat ini Junta dan Kou berdiri dekat pintu gerbang masuk kota, mereka sekarang memakai semacam kain cokelat polos yang sangat besar, kain itu menutupi seluruh tubuh mereka mulai dari pundak sampai mata kaki, tidak hanya itu, Junta dan Kou juga memakai topeng untuk menutupi identitas mereka, jika kalian bertanya apa yang dilakukan Junta dan Kou di sini maka tentu saja mereka saat ini sedang menunggu Hako dan Ratu Rana, mereka akan pergi menuju tempat pasukan utama musuh berada, sesuai rencana, mereka akan mengajak berduel pimpinan mereka sambil mempertaruhkan wilayah terakhir dari kerajaan ini.
“Apa kau mendapatkan tidur yang cukup Kou?”
“Tentu saja, kamar di dalam kastil itu sangat mewah dan nyaman, jadi sudah pasti aku mendapatkan tidur yang cukup”
“Kau mengingat peraturan duel nya kan?”
“Tentu, aku tidak diperbolehkan untuk membunuh jenderal itu kecuali keadaan memaksa, dan juga aku diizinkan untuk menggunakan senjata pusaka ku kan?”
“Benar, dan jika bisa, kau harus menyelesaikan duel ini dengan cepat, tidak perlu kau membuang-buang waktu bermain-main dengan jenderal itu”
“Aku mengerti itu, tapi Kakak, apa kau yakin dengan keputusan mu membiarkan ku menggunakan senjata pusaka itu?”
Junta terdiam sejenak sebelum menjawab Kou.
“Tidak ada pilihan lain Kou, kita tidak tahu seberapa kuat musuh kita kali ini, tidak ada salahnya kita berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk”
Senjata pusaka yang dibicarakan oleh Junta dan Kou adalah senjata pusaka unik milik keluarga Rayka, masing-masing anggota keluarga Rayka memiliki senjata pusakanya sendiri-sendiri, dan masing-masing senjata itu memiliki kekuatan unik yang berbeda dari senjata pusaka milik anggota keluarga Rayka yang lain, tentu saja setiap senjata itu memiliki wujud yang berbeda-beda dan setiap senjata hanya bisa digunakan oleh pemilik aslinya, yang ini berarti senjata pusaka milik Kou hanya bisa digunakan oleh Kou saja.
“Aku mengerti alasan mu, tapi aku tidak ingin langsung mengeluarkan senjata pusaka ku dalam duel ini”
“Apa kau menemukan senjata lain?”
Kou mengeluarkan dua buah pisau pemotong daging dari balik jubah kain cokelatnya.
“Woah, dari mana kau mendapatkan itu Kou?”
“Aku mengambilnya dari dapur kastil, aku sudah izin ke Ratu Rana jadi tenang saja”
“Jadi kau akan menggunakan pisau itu untuk berduel nanti?”
“Yap, dan jika pisau ini tidak kuat melawan orang itu, barulah aku akan mengeluarkan senjata pusaka ku”
Tidak lama setelah Kou mengatakan itu, Ratu Rana dan Hako datang menghampiri mereka sambil menaiki kuda.
“Apa kalian menunggu lama?”
“Tidak juga Hako”
Hako dan Ratu Rana memakai sesuatu yang berbeda dari biasanya, jika biasanya Hako memakai baju armor yang terbuat dari kulit, sekarang dia memakai baju armor yang berat yaitu baju armor besi, dia juga membawa pedang di pinggang nya dan ada bendera yang diikat di punggungnya, bendera itu menggambarkan kepala harimau yang berwarna hitam dan warna background bendera itu adalah putih, sepertinya itu adalah bendera kerajaan ini.
Ratu Rana juga memakai pakaian yang tidak biasanya dia pakai, jika biasanya dia memakai baju mewah seperti layaknya seorang ratu, sekarang ini Ratu Rana hanya memakai armor biasa yang terbuat dari kulit dengan mahkota kecil di atas kepalanya seperti biasa, dan juga, kuda yang dinaiki Ratu Rana dan Hako berbeda, tetapi warna kuda mereka sama yaitu cokelat tua.
“Sebaiknya kita bergegas, Junta, Kou, kalian bisa menaiki kuda mana pun yang kalian sukai”
“Baiklah.. Aku akan menaiki kuda milik Hako”
“Itu berarti aku akan menaiki kuda milik Ratu Rana”
Setelah mereka mengatakan itu, Kou segera naik ke kuda milik Hako dan Junta segera menaiki kuda milik Ratu Rana, tentu Junta dan Kou tidak mengendalikan kuda itu karena mereka duduk di belakang, setelah semua siap, kuda-kuda itu berlari dengan cepat menjauhi ibu kota kerajaan.
Selama perjalanan, Junta dan Ratu Rana tidak berbicara satu sama lain, sedangkan Hako berada di depan mereka memimpin perjalanan ini, Junta yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri tiba-tiba merasa terganggu dengan kehadiran telinga kelinci milik Ratu Rana, telinga itu beberapa kali bergerak seolah-olah sedang mencoba mendengarkan sesuatu, Junta yang penasaran dengan keaslian telinga kelinci itu pun tanpa sadar menggerakkan tangan kanannya untuk menyentuh telinga kelinci milik Ratu Rana.
“Woah! Ada apa Junta?”
Ratu Rana mengatakan itu sambil menolehkan kepalanya ke belakang.
“Oh, maaf, aku hanya ingin memastikan keaslian telinga mu..”
“Tentu saja ini asli, apakah telinga yang bisa bergerak seperti ini palsu?”
Ratu Rana menggerakkan telinganya sekali lagi untuk membuktikan kepada Junta bahwa telinga miliknya itu asli.
“Apakah menyakitkan ketika aku menyentuh telinga mu Ratu Rana?”
“Tidak, bukan begitu, hanya saja telinga ku ini cukup sensitif..”
“Ah.. Aku mengerti, maafkan aku”
“Tidak masalah, aku hanya terkejut karena tidak siap menerima sentuhan mendadak seperti itu.., ngomong-ngomong, apakah kau dan Kou sudah memiliki rencana?”
“Tentu, Kou akan mengusahakan yang terbaik, percayalah padanya”
“Tentu, aku juga ingin mengatakan terima kasih, bantuan kalian sangat berarti bagi kerajaan ini”
“Masih terlalu cepat untuk mengatakan terima kasih Ratu Rana”
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di tempat pasukan musuh berada, tempat perkemahan mereka dijaga dengan ketat dan banyak sekali tenda-tenda yang didirikan sejauh mata memandang, di sekitar perkemahan itu didirikan sebuah dinding pendek sederhana yang terbuat dari kayu, setelah Hako dan Ratu Rana menghentikan kuda mereka, Ratu Rana turun dari kudanya dan berjalan mendekat ke arah kedua penjaga pintu perkemahan itu.
“Aku, Ratu dari kerajaan Aruf, meminta bertemu dengan komandan tertinggi pasukan kalian!”
Kedua penjaga itu melihat satu sama lain sebelum akhirnya masuk ke dalam perkemahan.
Tidak lama setelah mereka pergi, kedua penjaga itu kembali dengan seorang pria berbadan tinggi dan memakai armor besi yang mengkilap, kepalanya botak dan matanya berwarna hitam, tidak hanya itu, di bagian sekitar matanya, terdapat warna hitam yang sekilas memberi kesan kalau orang ini kekurangan tidur, kulit cokelatnya sedikit keriput menandakan dia sudah memasuki umur tua, dia membawa kapak berukuran besar di punggungnya dan dia berjalan menuju Ratu Rana dengan langkah yang mantap.
“Ratu Rana, ada apa kau ingin bertemu dengan ku?”
Setelah mendengar ini, Junta turun dari kudanya dan berjalan mendekat menuju mereka berdua, sedangkan Hako dan Kou masih berada di atas kuda mereka yang berada sedikit jauh dari Ratu Rana.
“Salam, aku di sini sebagai salah satu prajurit dari kerajaan Aruf, aku ingin bertemu dengan mu karena aku ingin menawarkan suatu hal kepada mu”
“Oh, apakah itu?”
__ADS_1
“Mau kah kau berduel dengan perempuan bertopeng yang ada di sana?”
Junta menunjuk ke arah Kou yang masih duduk di atas seekor kuda.
“Apa untungnya bagi ku?”
“Jika kau menang, maka ibu kota kerajaan Aruf akan kami berikan kepadamu tanpa perlawanan”
“Jika aku kalah?”
“Maka kau harus menarik mundur pasukan mu dari sini dan memberikan salah satu wilayah yang ada di sekitar ibu kota kerajaan Aruf kepada Ratu Rana”
Pria berbadan tinggi dan besar itu terlihat berpikir sejenak, setelah cukup lama diam seribu bahasa, komandan tertinggi itu berkata.
“Baiklah, tawaran mu cukup adil mengingat aku adalah komandan pasukan tertinggi dari kerajaan Slyn, maka aku adalah simbol dari kekuatan kerajaan Slyn, dan jika aku kalah, maka itu sama saja dengan menjatuhkan harga diri kerajaan Slyn, mari kita berduel di tempat lain”
Mereka pun berjalan menjauh dari kerumunan, beberapa prajurit segera mengikuti komandannya setelah kedua penjaga itu menyiarkan kabar tentang duel ini, tempat duel yang dipilih oleh komandan tertinggi itu adalah sebuah tanah lapang yang dipenuhi oleh rumput hijau yang pendek, tidak ada satu pun pohon sejauh mata memandang sehingga dapat dipastikan bahwa tidak ada pihak ke tiga yang bersembunyi untuk membantu salah satu pihak untuk menang, setelah jenderal tertinggi itu berdiri di seberang Junta, Kou turun dari kudanya dan menghampiri Kakaknya yang sedang berdiri menatap komandan itu.
“Kakak”
“Sudah waktunya ya, Kou, ingat lah, meskipun aku berkata ini adalah sebuah duel, tapi sejujurnya aku hanya ingin kau mengalahkan dia secepat yang kau bisa, tentu saja jika kau memerlukan informasi tentang dunia ini maka kumpulkan informasi yang kau perlukan lalu setelah itu kalahkan dia”
“Aku mengerti”
“Jangan lupa aku mengizinkan mu untuk menggunakan senjata pusaka mu, aku harap kau dapat menunjukkan kepada ku hasil latihan mu selama ini”
Kou hanya tersenyum kepada Junta, Junta mengerti maksud dari senyum itu dan membalasnya dengan senyuman juga, setelah saling menganggukkan kepala, Junta pergi menjauh dari Kou, Junta berjalan ke arah Ratu Rana dan Hako yang berada di belakang Kou.
“Apakah Kou sudah siap Junta?”
“Kou selalu siap Ratu Rana, dia akan memberikan yang terbaik”
Jarak antara Kou dan Jenderal itu adalah sekitar 50 meter, prajurit yang ada juga mulai bertebaran ke sekitar arena duel untuk melihat siapa pemenang duel ini, tentu saja mereka bersorak untuk komandan tertinggi mereka, daripada disebut duel, suasana ini lebih mirip seperti turnamen.
“Sebelum aku memulai duel ini”
Jenderal itu tiba-tiba berteriak.
“Aku akan mengenalkan diri ku, nama ku adalah Jenderal Barmun, siapakah nama mu wahai wanita berambut merah?”
Kou diam sejenak, kemarin malam, Kakak nya sudah berkata kepadanya masalah identitas, mereka harus menyembunyikan identitas mereka karena mereka tidak tau, seberapa besar kekuatan yang akan mereka keluarkan, Junta dan Kou mengerti bahwa menarik perhatian orang banyak itu tidaklah bagus, karena bisa saja pembunuh orang tua mereka ada di dunia ini, atau mungkin akan ada orang yang tertarik dengan kekuatan mereka sehingga mengganggu jalannya penyelidikan, itulah kenapa mereka memakai topeng dan memakai jubah kain polos berwarna cokelat.
“Tidak perlu mengetahui nama ku wahai Jenderal Barmun, nama ku sangat susah diucapkan sehingga tidak ada gunanya kau mengingat nama ku”
“Begitu ya, baiklah jika memang itu keinginan mu”
Setelah mengatakan itu, jenderal itu memakai armor helm besi nya yang dibawakan oleh salah satu prajurit, setelah itu dia mengambil kapak besar yang berada di punggung nya dan mengarahkannya ke arah Kou dengan kedua tangannya, siapapun yang melihat ini pasti mengerti bahwa Jenderal Barmun sudah siap untuk bertarung.
“Aku mulai”
Tepat setelah Jenderal itu mengatakannya.
Hanya dalam sekejap mata, Jenderal itu sudah berada di depan Kou, dia mengangkat kapaknya lalu menghantam Kou dengan kapak besarnya yang ia pegang dengan kedua tangannya.
Kou menahan kapak besar itu dengan kedua pisau nya yang dia bentuk seperti huruf X.
Apa yang membuat penonton terkejut adalah bagaimana Kou menahan kapak itu tanpa bergeser sedikit pun dari posisi aslinya, Kou menahan kapak besar itu dengan diam seperti patung.
Merasa ada yang tidak beres, jenderal itu melompat ke belakang untuk mengambil jarak antara dia dengan Kou.
Setelah Jenderal itu merasa jarak nya cukup, dia berhenti, dan tepat setelah berhenti, pisau milik Kou hancur berkeping-keping.
“Kau…”
“Ah sial, aku kita pisau ini adalah pisau yang bagus”
Junta hanya menghela nafas kecil mendengar adiknya berkata seperti itu.
“Itu pisau untuk memotong daging Kou, bukan untuk bertarung”
Kou hanya tertawa kecil mendengar Kakaknya berkata seperti itu.
“Kalian terlihat cukup percaya diri sekali ya”
“Oh, maaf kan aku Jenderal Barmun, tidak ada salahnya kan untuk sedikit mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang?”
Setelah mengatakan itu, Kou tersenyum kepada musuhnya yang masih terlihat sangat waspada.
Setelah tersenyum kepada musuh nya, Kou menghadap ke belakang untuk melihat Kakaknya, Junta mengerti maksud dari Kou, Kou sedang meminta izin kepadanya untuk mengeluarkan senjata pusaka miliknya, Junta mengangguk menyetujui ini dan Kou membalas anggukan itu dengan senyuman.
Setelah itu, Kou kembali menghadap ke jenderal itu, Kou menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya, Jenderal Barmun merasakan sesuatu yang aneh, jadi dia meningkatkan kewaspadaanya.
Setelah selesai mengatur nafas, Kou memejamkan matanya dan berdiam seperti patung, tidak lama setelah dia memejamkan matanya, angin dingin berhembus kencang, Jenderal Barmun yang merasa terancam pun mulai mengatakan sesuatu yang tidak bisa di dengar, saat Jenderal Barmun mengucapkan sesuatu yang seperti mantera itu, tubuhnya mengeluarkan cahaya yang berganti-ganti dari cahaya berwarna hijau, merah, orange dan seterusnya.
Di sisi lain, Kou masih diam seperti patung, angin yang berhembus semakin kencang dan semakin dingin, matahari yang awalnya menyinari mereka mulai menghilang tertutup awan hitam, dan dengan cepat, awan hitam itu menutup langit pagi dan membuat suasana di sekitar seolah-olah seperti akan diterjang oleh badai yang besar.
Tidak lama setelah awan-awan itu menutupi langit, Kou membuka matanya lalu berkata.
“Wahai senjata pusaka ku! Dengan ini aku memanggil mu sesuai kontrak yang kita buat! Kom naar me toe!”
Petir menyambar-nyambar ke sekitar arena pertarungan setelah Kou mengatakan itu, sebelum akhirnya petir itu menyambar ke tanah yang ada di dekat Kou.
Setelah petir itu menyambar, muncul di dekat Kou sebuah pisau yang terlihat seperti pedang mini melayang di udara, di pegangan pisau itu, ada 3 batu permata berwarna putih layaknya warna salju, Kou mengambil pisau itu dan setelah pisau itu dia pegang, hujan pun turun dengan deras.
__ADS_1
Tubuh Jenderal Barmun yang mengeluarkan cahaya putih terlihat sedikit berbahaya, setelah selesai menyiapkan tenaga yang dibutuhkan, Jenderal itu bergerak dengan cepat ke arah Kou lalu menghantamnya dengan kapak nya yang besar!
Kou dengan mudah menahan serangan itu hanya dengan satu pisau yang dia pegang di tangan kanannya.
Jenderal Barmun menggerakkan kakinya untuk menendang pinggang Kou!
Tapi Kou dapat dengan mudah menghindarinya dengan cara melompat ke belakang.
“Hanya segitu kah kemampuan mu wahai wanita mera-”
Belum selesai berkata, Jenderal Barmun merasakan panas di balik punggung nya.
Ternyata itu Kou yang sedang menusuk nya tepat di punggung sebelah kanan.
Setelah Kou menusuk Jenderal Barmun, dia mengangkat pisau itu dari punggung Jenderal Barmun dan melompat beberapa langkah ke belakang agar ada jarak di antara mereka.
Seluruh penonton yang ada di sana kebingungan dengan apa yang terjadi, karena yang mereka tahu adalah Kou baru saja menghindar dari serangan kaki yang dilancarkan Jenderal Barmun kepadanya, Kou baru saja berada di depan Jenderal Barmun dan tiba-tiba sekarang dia sudah berada di belakang Jenderal Barmun, menusuknya dengan pisau tepat di punggungnya yang terlindungi oleh armor besi yang tebal.
Hako masih melihat pertarungan itu dengan mata yang terbelalak, dia yakin dia tidak berkedip sedikit pun dan dia sangat yakin bahwa Kou berada di depan Jenderal Barmun tadi.
Jenderal Barmun segera berbalik untuk dapat melihat muka Kou, dapat dilihat dari raut wajahnya bahwa Jenderal Barmun sendiri juga kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa Jenderal Barmun? Apakah hujan ini mengganggu mu dalam pertarungan ini?”
Kali ini Jenderal Barmun mengucapkan sesuatu seperti mantera lagi, dia mengucapkan itu dengan cepat dan setelah selesai, tubuhnya mengeluarkan cahaya merah cerah.
Tepat setelah itu.
Tibat-tiba Jenderal Barmun berada di belakang Kou dan menghantamnya dengan kapaknya!
Suara dentuman dapat didengar oleh seluruh penonton, tapi, Jenderal Barmun sadar bahwa serangannya mengenai tanah sehingga debu-debu bertebaran di sekitarnya, terima kasih kepada hujan, debu-debu itu dengan cepat menghilang.
“Aku di sini Jenderal”
Kou rupanya berada di samping kiri Jenderal Barmun, entah sejak kapan dia berada di sana padahal Jenderal Barmun sangat yakin bahwa Kou berada di depannya tepat sebelum dia menghantamnya dengan kapak.
Pertarungan berlanjut di arena, sedangkan di sisi Junta, Hako masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Mustahil! Aku yakin sekali Jenderal Barmun baru saja menggunakan seni bela diri yang dapat mempercepat gerakannya!”
“Apa maksud mu cahaya yang keluar dari tubuh nya itu Hako?”
“Tepat! Cahaya itu adalah hasil dari seni bela diri, seni bela diri tidak sama dengan sihir, karena sihir biasanya menghasilkan wujud, sedangkan seni bela diri hanya memperkuat penggunanya dengan cara meningkatkan kekuatan, kecepatan, pendengaran atau semacamnya”
“Menarik”
Jenderal Barmun membaca sesuatu yang tidak bisa didengar lagi dengan nada yang cepat, dan setelah selesai membaca, tubuhnya mengeluarkan cahaya ungu.
”Hati-hati!”
Hako berteriak seperti itu dan setelahnya, Jenderal Barmun muncul tepat di hadapan Kou dan mengayunkan kapak nya dari arah samping agar bisa mengenai pinggang Kou.
Tapi, Jenderal Barmun hanya memotong udara karena Kou tidak ada disana
Tepat setelah kapak itu berhenti membelah udara, Jenderal Barmun tiba-tiba terjatuh tengkurap di atas tanah.
Dan di atas tubuh Jenderal Barmun yang tengkurap, ada Kou yang sekali lagi menusuk punggung nya yang dilindungi oleh armor tepat di bagian sebelah kiri.
Jenderal Barmun terdiam sesaat.
“Ini mustahil! Tidak bisa diterima oleh akal!”
Hako berteriak dengan nada seperti orang gila, untungnya suara hujan deras membuat suaranya tidak terlalu didengar banyak orang.
Junta hanya bangga dalam hati melihat bagaimana adiknya tumbuh dengan baik, Kou benar-benar berlatih dengan serius selama ini.
Itu lah kekuatan Kou, dan juga, kekuatan senjata pusakanya adalah dapat menembus baju armor apapun yang dipakai oleh musuhnya, sehingga, walaupun musuhnya memakai baju armor yang terbuat dari bahan yang terbaik sekalipun, bagi Kou itu sama saja musuhnya tidak memakai baju armor apapun.
“Aku menyerah”
Tiba-tiba ada suara yang mengejutkan datang dari mulut Jenderal Barmun.
Hako dan Ratu Rana bersorak setelah mendengar perkataan dari Jenderal Barmun.
Kou berdiri menjauh dari Jenderal Barmun yang masih tengkurap di atas tanah setelah dia mendengar perkataan itu.
Prajurit yang ada di sana masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, mereka terlihat sangat kebingungan dan tidak percaya dengan kenyataan.
Di sisi lain, Hako dan Ratu Rana berpelukan menangis bahagia dengan kemenangan dari kerajaan mereka.
Setelah beberapa saat setelah Jenderal Barmun menyatakan kekalahannya, hujan yang ada di sana berhenti, awan-awan hitam pun pergi dan sekali lagi matahari menyinari tempat itu, perlahan setelah cuaca kembali tenang, pisau yang dipegang oleh Kou berubah menjadi debu dan hilang ditiup angin.
Tidak butuh waktu lama setelah pisau Kou sepenuhnya hilang dari kedua tangannya, Jenderal Barmun berdiri dan menatap Kou dengan tajam.
“Kau.. Bukanlah orang biasa, siapa kau sebenarnya wanita berambut merah?”
Kou hanya tersenyum kepada Jenderal Barmun.
“Aku hanyalah temannya Ratu Rana”
__ADS_1