Junta & Dunia Sihir

Junta & Dunia Sihir
#23 Bermalam di Dalam Hutan


__ADS_3

“Kita akan tidur di sini? Serius?”


Kou bergumam dengan pelan sambil menunjukkan ekspresi tidak percaya.


“Apa kau melihat ada kota atau desa di sekitar sini? Atau mungkin kau melihat sebuah bangunan? Tidak kan? Jadi jawabannya adalah kita tidak punya pilihan lain”


Tepat setelah mengatakan itu, Zonya menepuk kedua telapak tangannya seperti orang yang sedang berusaha menyingkirkan debu.


“Oi! Lihat apa yang aku dapatkan!”


Dari jauh, Junta datang sambil membawa banyak ikan yang dia tusuk dengan sebuah tongkat dan dia bawa di atas pundaknya.


“Kerja bagus Junta”


“Oh, kalian sudah selesai mendirikan tenda ya”


“Kalau begitu aku akan pergi ke sana untuk mengambil beberapa kayu”


Junta dan Kou mengangguk dan Zonya pun segera bergegas pergi, tidak perlu waktu lama, Zonya pun menghilang ditelan pepohonan.


“Kakak, apa Kakak setuju kita tidur di sini malam ini?”


Sambil menancapkan tongkat yang penuh ikan itu Junta pun menjawab.


“Tidak ada pilihan lain Kou, kita tidak menemukan satu bangunan pun selama perjalanan, menginap di tempat terbuka juga terlalu mencolok, satu-satunya pilihan adalah menginap di dalam hutan ini dan melanjutkan perjalanan besok pagi”


“Walaupun Kakak mengatakan itu… Bermalam di hutan juga bukan hal yang bagus, terlalu banyak pohon di sini dan juga dedaunan yang ada menutup cahaya bulan sehingga hutan ini tidak terlalu terang, kita bisa diserang dari sudut mana saja dan kita rentan terkena serangan kejutan”


“Aku setuju dengan mu Kou, hanya saja kita belum tahu seluruh hal yang ada di dunia ini, siapa tau bermalam di dalam hutan ternyata lebih aman dari pada bermalam di tempat terbuka”


Setelah menancapkan tongkat terakhir, Junta melanjutkan pembicaraan.


“Lagi pula jika kita bermalam di tempat terbuka, kita juga rentan dengan serangan jarak jauh, ketika itu terjadi kita tidak punya tempat persembunyian, semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, percaya lah kepada Zonya, dia yang menyarankan kita untuk tidur di sini jadi dia pasti tau alasannya”


Setelah Junta mengatakan itu, Zonya datang dari belakang mereka sambil membawa banyak sekali kayu bakar.


“Maaf jika aku meninggalkan kalian terlalu lama”


“Tidak sama sekali Zonya, jangan terlalu dipikirkan”


Setelah Junta mengatakan itu, Zonya memulai menyusun kayu-kayu itu menjadi sebuah api unggun, setelah susunannya jadi, Zonya mengambil sesuatu yang ada di dalam jubah hitam yang selalu dia pakai.


“Apa itu?”


“Ini? Kalian tidak pernah melihatnya?”


“Hm… Itu terlihat seperti peluru bagi ku”


“Peluru? Apa itu?”


“Hiraukan saja Kou Zonya, kami mempunyai barang yang serupa di negara asal kami, tapi sepertinya apa yang kau pegang mempunyai fungsi yang berbeda”


“Begini cara menggunakannya”


Zonya melempar benda yang berbentuk seperti peluru kecil itu ke arah kayu bakar yang sudah dia susun, setelah benda kecil itu mengenai kayu bakar tersebut, susunan kayu bakar itu terbakar dan terbentuklah api unggun.


“Oh.. Pemantik api”


“Benda seperti ini sangat umum digunakan untuk menyalakan api, kalian bisa membeli nya di toko-toko yang ada di kota”


“Ohh.. Begitu ya, lalu kenapa kau tidak menyalakannya dengan sihir saja Zonya?”


“Aku tidak bisa melakukan itu Junta, sihir ku adalah elemen tumbuhan”


“Tumbuhan?”


Setelah Junta bertanya, Zonya menaruh tangan kanannya di atas tanah, lalu dari sela-sela tangannya tumbuh tumbuhan-tumbuhan kecil berwarna ungu.


“Ohh, menarik, aku tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya, bagaimana menurut mu Kou?”


“Hmmmm.. Sangat menarik”


Kou melipat kedua tangannya di dada dan pandangannya terpaku ke arah tumbuhan yang ada di sela-sela jari Zonya, dia terlihat memikirkan sesuatu.


“Benda seperti ini sangat berguna bagi mereka yang tidak bisa menyalakan api dengan sihir mereka, lagipula benda ini sangat murah, hanya dengan 1 koin perak maka kalian akan mendapatkan 5 biji”


“Hm.. Rupanya harganya lebih murah dari senjata kita Kakak”


“Baiklah, karena api sudah menyala, mari kita bakar ikan yang didapatkan Junta tadi”


“Oh ya, Kakak, ngomong-ngomong dari mana kau mendapat ikan-ikan ini?”


“Tidak jauh dari sini ada sebuah sungai kecil, di sana aku menemukan ikan-ikan ini”


“Oh ya? Lalu bagaimana Kakak-  Hm.. Lupakan, aku rasa aku mengerti bagaimana Kakak mendapatkan ikan-ikan ini”


Kou duduk terlebih dahulu, kemudian Junta duduk di samping Kou lalu Zonya duduk di depan mereka berdua, mereka mengambil ikan yang ditancapkan di atas tanah dan mulai membakar ikan yang mereka ambil, secara perlahan aroma ikan yang dibakar memenuhi udara sekitar, membuat siapapun yang menciumnya pasti ingin mencobanya, Kou yang tidak sabar untuk memakannya akhirnya menarik ikannya dari perapian dan langsung menggigitnya.


“Ah Kou, itu masih panas..”


“Tenang saja Kakak, makanan seperti ini justru lebih enak jika kita memakannya selagi panas”


“Tidak tidak tidak, memakan makanan yang masih panas itu tidak bagus, itu bisa membuat lidah mu mati rasa beberapa hari”


“Oh? Jika memakan makanan panas tidak bagus, lalu bagaimana dengan memakan makanan pedas?”


“Hmm, jika terlalu pedas tidak bagus, terlalu panas juga tidak bagus, akan lebih baik jika kita memakan makanan yang hangat atau tidak terlalu pedas”


“Huwah.. Kakak, kau sudah terdengar seperti kakek-kakek”


“Hei, aku memberi tahu mu hal ini karena aku peduli pada mu kau tau?”


Junta dan Kou meneruskan argumen kecil mereka, di sudut lain, Zonya melihat mereka sambil memakan ikannya, dia tersenyum kecil ketika melihat Kou dan Junta berargumen, sebuah senyuman yang terlihat tidak mengandung kegembiraan, melainkan mengandung kesedihan.


“Baiklah, aku akan tidur terlebih dahulu, bisa kah aku menyerahkan keamanan perkemahan ini kepada kalian?”


Setelah Zonya mengatakan itu, Junta dan Kou menghentikan argumen kecil mereka dan menatap Zonya.


“Kau ingin tidur dulu? Kita masih punya banyak ikan di sini kau tau?”


“Tidak apa Kou, kalian bisa menghabiskan sisanya”


Zonya masuk ke dalam salah satu dari dua tenda yang ada, sekarang, di luar hanya tersisa Kou dan Junta.


“Aku pikir dia terlalu lelah”


“Tentu saja Kou, dia terus menjaga kita hari ini, biarkan dia beristirahat”


“Lalu sekarang, siapa yang akan menghabiskan semua ikan ini?”


“Jika kau ingin kau bisa mengambilnya Kou”


“Aku tidak menginginkannya, Kakak saja yang makan”


“Oh? Aku tidak ingat kau tidak suka dengan ikan”

__ADS_1


“Tidak, bukan itu masalahnya, aku hanya merasa sudah kenyang, itu saja”


Kou menatap ke atas setelah mengatakan itu, langit malam yang dihiasi oleh bintang dan bulan terlihat sangat indah di dunia itu, sangat berbeda dengan dunia dimana Kou dan Junta hidup, setelah selesai melihat langit, Kou memandang api unggun yang ada di depannya dan perlahan menyandarkan kepalanya ke pundak Junta.


“Apa kau sudah mengantuk?”


“Tidak, aku hanya ingin menikmati momen-momen ini”


“Jika kau mengantuk, kau bisa tidur duluan”


“Hei Kakak, katakan, apa yang akan kau lakukan jika kita tidak bisa pulang?”


Junta menelan daging ikan yang ada di dalam mulutnya terlebih dahulu sebelum berkata.


“Aku yakin kita bisa pulang Kou, aku percaya pada mu”


“Bagaimana jika aku tidak bisa melakukannya?”


“Kau pasti bisa, jika itu kau pasti bisa”


Kou hanya tersenyum kecil setelah mendengar jawaban Junta.


“Jangan meniru perkataan Ayah dan Ibu”


“Apa salahnya? Semenjak kecil, keluarga kita selalu percaya pada mu jika hal itu berkaitan dengan informasi, Ayah dan Ibu juga selalu percaya pada kita, mereka berkata bahwa kita harus saling percaya satu sama lain, dan itulah yang aku lakukan sekarang”


“Jika kita terjebak di sini bersama dengan orang tua kita, menurut Kakak apa yang akan mereka lakukan?”


“Aku sangat yakin hal pertama yang mereka lakukan adalah menyuruh kita untuk tenang”


“Benar-benar seperti mereka”


“Lalu, Ayah pasti akan memerintahkan mu mencari informasi bersama dengan Ibu”


Kou tertawa kecil setelah mendengar jawaban dari Junta.


“Tidak kusangka Kakak masih bisa membayangkan itu semua”


Setelah mendengar itu, Junta menatap langit malam yang tidak terlalu jelas karena tertutup oleh dedaunan, meskipun tidak terlalu jelas, keindahan langit malam itu masih bisa dilihat dan dirasakan, karena Kou merasa bahwa Kakaknya sedang memikirkan sesuatu, dia pun bertanya.


“Apa yang Kakak pikirkan?”


Junta tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Kou, bukan sebuah senyuman kesenangan yang ia pasang, melainkan senyuman yang menanggung sebuah kesedihan.


“Bukan apa-apa, hanya saja aku membayangkan hukuman apa yang akan menantikan ku”


“Apakah benar itu yang kau pikirkan?”


“Tentu, kita sudah berada di dunia ini lebih dari 3 hari kan? Kurasa ketika kita kembali, aku akan dimarahi habis-habisan oleh Bu Layla”


“Guru konseling? Kakak tidak perlu mendengar ocehan mereka kau tau?”


“Tentu saja, itulah yang setiap hari aku lakukan”


Keadaan mendadak menjadi hening setelah Junta mengatakan itu.


“Apa kau merasakannya Kou?”


“Ada sesuatu yang bergerak di sekitar kita, berkaki dua, dua orang”


Kou bangkit dari pundak Kakaknya dan langsung berdiri.


“Haruskah kita?”


Kou mengatakan itu sambil menunjuk ke arah tenda tempat Zonya tidur.


Kou yang mengerti apa yang Kakaknya pikirkan akhirnya memutuskan untuk duduk kembali di samping Kakaknya, sesuatu yang bergerak yang dimaksud oleh Kou rupanya adalah suara langkah kaki, suara langkah kaki itu memang terdengar tidak beraturan menandakan bahwa ada lebih dari 2 orang, tidak ada suara besi atau apapun, hanya murni suara langkah kaki, memungkinkan bahwa lawan Junta dan Kou tidak bersenjata.


“Siapa yang ingin datang ke dalam hutan malam-malam begini?”


Kou bertanya kepada Kakaknya dengan nada yang sangat halus, dia melakukan itu agar posisi mereka tidak ketahuan.


“Siapapun itu, dia pasti memiliki sebuah lentera, atau mungkin dia tidak mengalami masalah dalam melihat di dalam kegelapan, tempo langkah kaki mereka normal yang menandakan bahwa mereka berani dan mengerti apa yang ada di depan mereka”


Junta pun menjawab pertanyaan Kou dengan nada yang rendah.


“Kakak benar, jika mereka mengalami  kesusahan dalam melihat, tempo langkah mereka pasti lambat, atau setidaknya kita akan mendengar beberapa kali suara benda bertabrakan”


Suara langkah kaki itu semakin keras, meskipun langkah kaki itu terdengar sayup-sayup, Junta sudah bisa memprediksikan ke arah mana langkah kaki itu mengarah.


“Aku rasa mereka mengarah ke sungai”


“Apa Kakak yakin?”


“Ya.. Mereka tepat mengarah ke sungai, posisi mereka tidak terlalu jauh dari sini, tapi aku rasa kita harus tetap waspada”


“Bagaimana kalau kita mengikuti mereka dari belakang?”


“Untuk apa? Mereka tidak berniat untuk bertarung dengan kita, kita tidak perlu mencari masalah dengan mereka”


“Apa Kakak tidak merasa aneh? Di sekitar sini tidak ada desa atau kota, bahkan tidak ada satu bangunan pun yang menandakan ada orang yang tinggal di sekitar sini”


“Hm… Kalau begitu mungkin saja mereka berasal dari suatu suku yang tinggal di hutan ini”


“Maksud Kakak seperti orang asli yang tinggal di dalam hutan ini? Kalau memang itu benar, maka kita sudah pasti kalah dari segi pengetahuan medan”


Langkah kaki itu terus berkumandang dan semakin lama semakin pelan, seolah-olah mereka menjauh dari posisi Junta.


“Aku terlalu curiga dengan mereka Kakak, aku akan melihat apa yang sedang terjadi”


Junta menghela nafas sebelum berkata.


“Baiklah, mari kita lihat ada apa sebenarnya ini”


Mereka pun segera bergegas ke arah sungai, setelah sampai di sungai, mereka bersembunyi di balik pohon-pohon yang ada di sana, area di sekitar sungai yang ada di sana ternyata cukup terbuka, tidak ada pohon yang tumbuh di sekitar sungai, membuat Junta dan Kou tidak bisa pergi mendekat ke arah sungai itu.


Setelah sedikit menunggu, muncul dua sosok yang keluar dari pepohonan hutan, kedua sosok itu berjalan ke arah sungai dan berhenti di sana.


“Aku tidak bisa melihat nya dengan jelas.. Kita terlalu jauh Kakak”


“Di lihat dari postur tubuhnya, seperti nya mereka adalah laki-laki”


“Lalu apa yang mereka lakukan berhadap-hadapan seperti itu?”


“Mungkin mereka sedang berbicara?”


Tidak lama kemudian, salah satu dari dua sosok itu menusuk sosok yang lain, membuat sosok yang tertusuk itu jatuh ke tanah.


“Dia.. Membunuhnya?”


“Apa yang dia lakukan sekarang..”


Sosok yang menusuk mengangkat sosok yang terjatuh itu, lalu dia membuangnya ke sungai, setelah selesai membuang mayat itu, sosok itu kembali berjalan ke dalam hutan.


“Apa yang sebenarnya terjadi?”

__ADS_1


“Aku tidak tau Kakak, ingin mencoba melihatnya?”


“Mayat itu pasti sudah hanyut sekarang”


“Belum terlalu jauh jika kita bergegas”


Junta menghela nafas sebelum akhirnya berkata


“Baiklah, tapi kita harus berusaha berlari sepelan mungkin”


Junta dan Kou mulai berlari menyusuri sungai, mereka berlari nyaris tanpa suara, pandangan mereka terfokus ke arah sungai untuk mencari sosok yang dibuang tadi, arus sungai tidak sangka cukup deras, membuat Junta berpikir kalau mungkin mayat itu sudah pergi terlalu jauh.


“Kakak!”


Kou menunjuk ke sesuatu berwarna hitam yang mengapung di atas derasnya aliran sungai, sepertinya itu adalah sosok yang dibuang tadi, Junta menganggukkan kepalanya menandakan dia mengizinkan Kou untuk membawanya keluar dari sungai, dengan cepat Kou berlari mendekat ke arah sosok itu yang terus terhanyut dibawa arus sungai, setelah berada beberapa meter di depan mayat itu, Kou menyentuh permukaan air sungai dengan telapak tangannya dan dalam sekejap muncul sebuah dinding es yang menghalangi arus sungai, dinding itu memang tidak besar, tapi cukup jika hanya untuk mencegah arus sungai agar tidak membawa mayat itu hanyut lebih jauh lagi.


Setelah mayat itu menabrak dinding es yang dibuat oleh Kou, Kou dengan cepat masuk ke dalam sungai dan menarik mayat itu lalu membawanya keluar dari sungai, setelah Kou keluar dari sungai itu dan meletakkan mayat yang dibawanya di pinggir sungai, dinding es yang dia buat tiba-tiba hancur berkeping-keping dan serpihan es itu hilang terbawa arus sungai.


Mayat itu rupanya adalah seorang laki-laki yang berumur sekitar 32 tahun, dia memakai pakaian seperti orang desa yang berwarna serba hitam, setelah Kou memeriksa denyut nadinya, Kou memasang ekspresi kasihan..


“Orang ini sudah mati”


“Laki-laki yang malang, dilihat dari derasnya arus air sungai ini, dia pasti sudah berulang kali terbentur oleh beberapa batu besar yang ada di sungai, dia mati dengan rasa sakit”


“Coba kau lihat ini Kakak”


Kou menunjuk ke arah dada sebelah kiri mayat itu.


“Tusukan ini…”


“Siapapun pembunuh orang ini, dia bukanlah seorang amatir”


“Pembunuhnya menggunakan pisau ya.. Tapi luka ini sangat kecil.. Mirip seperti… Ditusuk oleh pisau kecil? Pisau bedah?”


“Perkiraan ku adalah, pembunuh orang ini adalah seorang assassin, mengingat kita juga tidak mendengar suara benda berat seperti baju zirah besi atau pedang saat mereka berjalan di hutan, dan juga, luka di dada mayat ini bukan seperti luka karena tertusuk pedang, ku rasa hanya seorang assassin yang mempunyai gaya membunuh seperti ini”


Junta menolehkan kepalanya ke arah Kou dan berkata.


“Aku tau jika seorang assassin tidak bisa membawa banyak hal dengannya karena dia harus menjalankan misi nya dengan cepat, rahasia dan tepat”


Junta memandang mayat itu sekali lagi sebelum akhirnya berkata.


“Tapi.. JIka memang pembunuh itu adalah seorang assassin, bukankah seharusnya assassin membunuh targetnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun? Tapi orang ini justru berjalan bersama dengan pembunuh itu.. Bukankah seharusnya jika memang orang ini adalah target pembunuh itu, setidaknya pembunuh itu akan membawanya dengan paksa? Seperti membuat dia pingsan dulu?”


“Mungkin dia mengalami sesuatu atau ada hal yang membuat dia tidak bisa lari? Tidak ada tanda-tanda dia mengalami kekerasan di tubuhnya sejauh ini, hanya luka di dada kiri yang mengenai jantungnya saja yang aku temukan”


“Ini aneh, orang ini berjalan bersama dengan pembunuh itu.. Seolah-olah dia tidak takut dengan apa yang akan terjadi… Atau mungkin dia tidak tahu?”


“Maksud Kakak dia berjalan bersama dengan seorang pembunuh ke dalam sebuah hutan di malam hari dan dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya?”


“Mungkin lebih tepatnya aku berpikir kalau orang ini tidak tahu kalau dia sedang berjalan dengan seorang pembunuh, atau mungkin.. Dia tahu tapi dia tidak khawatir atau tidak takut dengan apa yang akan terjadi?”


Junta dan Kou terdiam sambil melihat mayat itu terbaring di atas tanah.


“Pakaian laki-laki ini, kelihatannya dia berasal dari desa, dan juga.. Pakaiannya yang berwarna hitam ini.. Apa kau pernah melihat pakaian seperti ini Kou?”


“Tidak, jika kita membawa Zonya ke sini, mungkin dia tahu”


“Tidak kita tidak bisa melibatkan Zonya, sebaiknya kita hiraukan saja kejadian ini”


“...Kakak benar, tidak ada sesuatu pun yang mengharuskan kita untuk menyelidiki ini”


“Dan juga, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi jika kita menyelidiki ini lebih jauh lagi”


“Kalau begitu biar aku kubur orang ini terlebih dahulu”


“Tidak, jangan”


Kou menatap Kakaknya dengan raut wajah kebingungan.


“Kita tidak bisa menguburkan orang ini karena kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, bisa saja mayat ini adalah sebuah pesan yang dikirim melalui sungai ini, atau kemungkinan-kemungkinan lain, kau mengerti maksud ku kan?”


“Aku mengerti... Jika kita mengubur mayat ini dan ternyata itu adalah sebuah kesalahan, maka tragedi ini akan berlanjut menjadi tragedi lain”


“Tepat, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi jika mayat ini terhanyut terus dibawa arus sungai, dan kita juga tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi jika kita memilih mengubur mayat ini daripada membiarkannya hanyut di sungai, kedua pilihan itu bisa berakibat buruk atau baik untuk kita, atau bisa juga untuk orang lain, untuk situasi ini, pilihan terbaik adalah untuk tetap membiarkan bagaimana sesuatu seharusnya terjadi”


Kou memandang mayat itu untuk sesaat, dia menghela nafas pendek lalu berkata.


“Kakak benar, aku mengerti maksud Kakak”


Setelah mengatakan itu, Kou menyeret mayat itu dan kembali membuangnya ke sungai.


“Kita harus segera kembali, kita tidak tau apa yang akan terjadi jika kita terus berada di sini”


“Aku harap kita tidak meninggalkan Zonya terlalu lama”


Dan dengan begitu, Kou dan Junta berlari dengan cepat kembali ke perkemahan mereka, setelah sampai di sana, Junta melihat Zonya memasang ekspresi sedikit tidak senang dan sekarang dia sedang duduk dekat dengan api unggun.


“Dari mana saja kalian?”


“Uh.. Aku ingin pergi ke toilet tapi aku terlalu takut.. Jadi aku meminta Kakak  untuk menemani ku”


Zonya berdiri setelah mendengar respon Kou dan berjalan mendekat ke arah mereka, raut mukanya menggambarkan bahwa dia tidak senang dengan respon yang diberikan Kou.


“Kou, apa kau mengerti apa arti dari sebuah tim?”


Junta berjalan dan berdiri tepat di samping Kou, lalu berkata


.


“Aku yang bertanggung jawab atas hal ini, aku mengajak Kou untuk melihat sesuatu di sungai”


“Sesuatu? Apa itu?”


“Tadi ada 2 orang yang datang ke sungai, lalu salah satunya membunuh rekan yang datang bersamanya dan membuang rekannya yang mati di sungai, aku dan Kou sudah memeriksanya, orang yang dibuang ke sungai itu benar-benar sudah mati”


“Pembunuhan? Mayatnya dibuang?”


“Tepat, aku tidak tau siapa pembunuhnya karena kami tidak ingin ikut campur terlalu dalam, tapi yang dibunuh adalah seorang laki-laki yang berumur sekitar 32 tahun, mayat itu terlihat seperti orang desa karena dia memakai pakaian serba hitam dan pakaiannya terlihat seperti pakaian orang pedesaan”


Zonya terkejut setelah mendengar penjelasan dari Junta, mukanya menggambarkan bahwa dia sedang panik sekaligus khawatir.


“Serba hitam.. Orang desa..”


“Apa ada yang salah?”


“Katakan dengan jujur Junta, apa yang kalian lakukan terhadap mayat itu?”


“Tidak ada, kami hanya memeriksanya dan kembali membuangnya ke sungai, mayat itu masih dengan kondisi yang sama seperti waktu dibunuh, aku jamin itu”


Setelah mendengar itu, Zonya terlihat sedikit lega, tapi dia masih terlihat sedikit khawatir.


“Bagus.. pilihan yang tepat…”


“Apa ada sesuatu dengan mayat itu?”

__ADS_1


Tepat sebelum Zonya ingin menjawab pertanyaan Junta, Kou mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka dan berkata.


“Sepertinya kita kedatangan tamu”


__ADS_2