
“Junta, bisakah kau berhenti membuat masalah?”
“Bu Layla, aku sama sekali tidak bersalah dalam hal ini, aku hanya berolahraga dengan si Locus kemarin, itu saja”
“Apa berolahraga harus sampai berkelahi?! Apa berolahraga harus sampai menghancurkan beberapa properti milik sekolah?!”
“Anggap saja aku dan Locus terlalu bersemangat”
Bu Layla menghela nafas panjang setelah mendengar jawaban dari Junta, saat ini waktu masih menunjukan pukul 06.45 tapi Junta sudah berada di ruang konseling, dia sedang duduk di sebuah kursi dengan sebuah meja besar di depannya, dia atas meja itu terdapat banyak kertas-kertas dan alat tulis, lalu di sisi lain meja itu, dapat di lihat Bu Layla sedang menulis sesuatu di sebuah kertas berwarna kuning, ruangan itu sangat sepi karena tidak ada siapa-siapa lagi disana selain Junta dan Bu Layla.
“Kau hanya perlu tanda tangan di sini dan kau boleh keluar”
“Apa ini? Surat pengurangan poin? Dan juga… 40 poin?! Bukankah ini setara dengan 4 hari membolos?!”
“Hey! Kau sudah merusak banyak fasilitas sekolah! Dan juga kau tau sendiri kalau perkelahian itu sangat dilarang di sekolah ini! Berterimakasih lah pada ku karena hanya memberikan mu 40 poin! Seharusnya, kau mendapat 60 poin!”
Junta membuat ekspresi seperti orang sakit kepala dan menatap kertas kuning itu.
“Bagaimana dengan Locus? Apa Bu Layla sudah memberikan poin kepadanya?”
“Aku bukan guru konselingnya, aku tidak tau hukuman apa yang akan menimpa Locus nanti”
Masih dengan ekspresi seperti orang sakit kepala, Junta membaca kertas itu dengan hati-hati.
“Aku tau ini permintaan yang sangat tidak sopan, tapi, bisakah Bu Layla membantu ku? Bisakah Bu Layla memberikan hukuman lain? Apapun selain poin”
“Maafkan aku Junta, aku sudah cukup membantumu dengan memberikan 40 poin, aku juga butuh pekerjaan ini kau tau?”
“Aku rasa Anda benar, jika kepala sekolah mengetahui bahwa Anda meringankan hukuman murid, maka pekerjaan Bu Layla bisa saja di gantikan oleh orang lain..”
“Bagus jika kau mengerti, sekarang kau hanya perlu tanda tangan di sini dan kita akan berdamai tentang masalah yang terjadi kemarin, dan jangan membuat masalah lagi! Ingat! Jika poin mu menyentuh angka 50 dari 100 maka aku akan memberikan surat merah kepada mu, jika kau menandatangani kertas itu maka total poin mu saat ini adalah 60 poin”
“Aku tau, aku akan berusaha untuk tidak membuat masalah lagi agar tidak di skor”
Junta menghela nafas panjang dan hanya bisa pasrah, dia menandatangani surat itu dan keluar dari ruang konseling lalu berjalan menuju kelasnya, karena ruang konseling dan ruang kelasnya tidak terlalu jauh, maka dalam waktu singkat Junta sudah sampai di tujuannya, walaupun masih pagi kondisi ruang kelas Junta cukup ramai, murid-murid disana berbincang-bincang ringan atau bahkan memainkan beberapa permainan yang sederhana, lalu di pojok belakang ruangan ada Yui yang menatap Junta dengan rasa khawatir.
“Ada apa Junta? Kenapa kau di panggil ke ruang konseling pagi-pagi seperti ini?”
“Tidak ada apa-apa Yui, hanya masalah kecil”
Junta menjawab Yui dengan nada lemas.
Tidak lama setelah Junta duduk di kursinya, pintu ruang kelas terbuka dan Bu Layla masuk ke dalam ruangan.
“Baiklah, semuanya silahkan kembali ke tempat duduk kalian…. Junta?!”
“Oh bagus, bagus sekali, biar aku tebak ini Bu Layla, anda adalah guru wali kelas kami?”
“Aku sudah mendapatkan firasat buruk jika aku menjadi guru wali kelas ini… Tapi tidak ku sangka aku akan bertemu dengan Junta.. Mungkin aku harus mengusulkan untuk menambah data seperti data kelas pada surat pengurangan poin.. Andai saja jika di surat itu ada data kelas murid yang bersangkutan maka aku tidak akan pergi ke kelas ini dan meminta kepada kepala sekolah untuk memindahkan ku ke kelas lain..”
Bu Layla terus berbicara dengan nada yang lirih, mengeluh atas apa yang menimpanya hari ini, setelah bergumam di depan pintu sekitar 2 menit, Bu Layla duduk di meja guru yang ada di depan kelas dan menghela nafas panjang.
“Baiklah, mari kita mulai perkenalan, nama ku Layla, kalian bisa memanggilku Bu Layla, aku adalah guru konseling dan sekarang aku adalah guru wali kelas kalian, aku rasa aku tidak perlu menegaskan tugas guru wali kelas kan? Baiklah, kita mulai pelajarannya”
Tugas seorang guru wali kelas tentunya adalah untuk membina suatu kelas, layaknya orang tua dan anak, dan Bu Layla sekarang sedang menjelaskan peraturan-peraturan sekolah yang tidak boleh di langgar, tentu saja Junta tidak mendengarkan, karena dia sudah hampir setiap hari mendengar hal ini dari Bu Layla di ruang konseling, Junta lebih memilih melihat pemandangan yang ada di luar melalui jendela yang ada di samping kiri nya daripada mendengarkan ceramah milik Bu Layla, beberapa menit berlalu dan sepertinya Bu Layla mulai menyadari bahwa Junta tidak mendengarkan apa yang dijelaskannya.
“Hey Junta! Apa kau mendengar apa yang aku jelaskan?”
“Ah? Oh, ya ya tentu aku mendengarnya”
“Lalu kenapa kau malah melihat pemandangan yang ada di luar jendela? Apa kau lebih tertarik untuk keluar dari kelas ini?”
“Ayolah Bu Layla, Anda sudah sering membicarakan hal ini dengan ku kan? Aku sudah bosan dengan itu”
__ADS_1
Bu Layla menghela nafas panjang.
“Kau tau, kau benar Junta, aku rasa kau jauh lebih hafal dan mengerti tentang peraturan-peraturan yang ada di sini, baiklah, kelas sudah selesai, jika aku tidak salah ingat… kelas kalian selanjutnya adalah Dasar-Dasar Memasak kan? Kalian aku persilahkan untuk pergi meninggalkan ruangan ini dan segera menuju Lab Makanan”
Dengan begitu seluruh murid yang ada di kelas mulai meninggalkan ruang kelas satu persatu, Junta berdiri dari bangku nya dan berjalan menuju pintu keluar, sebelum Junta melangkahkan kakinya keluar dari ruang kelas, Junta menerima tatapan membunuh dari Bu Layla, seolah-olah Bu Layla berkata ‘Jangan membuat masalah lagi’ , Junta yang melihat hal ini hanya bisa menghela nafas dan pergi menuju Lab Makanan bersama Yui yang yang berusaha mengejar Junta di belakangnya.
“Hey Junta! Sudah kubilang tunggu aku!”
Junta yang mendengar ini berhenti dan menoleh ke belakang.
“Aku berjalan dengan kecepatan yang normal… Seharusnya kau bisa mengejarku...”
Setelah Yui berhasil mengejar Junta, mereka berdua berjalan bersama menuju Lab Makanan.
“Hey Junta, apa kau punya hubungan yang buruk dengan Bu Layla?”
“Ya.. Aku tidak membenci Bu Layla, dan Bu Layla tidak membenci ku, hanya saja kami lelah bertemu hampir setiap hari hanya karena aku sering terlambat”
“Lagipula kenapa kau sering terlambat Junta? Apa tidak ada seseorang yang membangunkan mu di pagi hari?”
Junta berhenti berjalan dan terdiam sejenak, lalu menjawab.
“Mungkin aku saja yang tidak bisa bangun lebih pagi”
Tidak lama kemudian mereka sampai di Lab Makanan yang penuh dengan orang-orang, berbagai murid yang ada di sana melakukan kegiatan yang berbeda-beda, ada yang bermain dengan pisau, ada yang bermain dengan bahan-bahan makanan yang tersedia, ada juga yang bercanda sehingga suara orang tertawa dapat di dengar. Sebenarnya tempat ini bukanlah ‘Lab’, lebih tepatnya ini adalah dapur besar yang sering di gunakan untuk kelas memasak, Lab ini cukup besar hingga mampu menampung sekitar 50 anak, jadi seringkali lab ini di gunakan oleh 2 kelas di waktu yang bersamaan.
“Hey Junta!”
“Locus? Apa yang kau lakukan di sini?”
Junta menghampiri Locus yang berada tidak jauh dari pintu, di samping Locus ada Kenya yang sedang memotong-motong sebuah wortel.
“Sepertinya hari ini kita berada di kelas memasak yang sama! Kelas ku baru sampai beberapa menit yang lalu bersamaan dengan kelas mu”
“Oh? Menarik, jadi hari ini kita akan belajar memasak bersama? Dan juga apa yang kau lakukan Kenya?”
“Ah Tuan Junta, maafkan aku tidak menyapa mu, aku hanya sedang memotong wortel-wortel ini”
“Ya.. Aku tau kau sedang memotong wortel… Maksud ku kenapa kau memotong wortel-wortel itu? Pelajaran belum di mulai kan? Apa kau ingin memasak sesuatu?”
“Sebetulnya Kenya sangat suka memasak Junta! Dia selalu memasak sebuah makanan terlebih dahulu sebelum kelas memasak dimulai, aku cukup hafal dengan kebiasaannya karena sudah satu tahun aku menjadi teman sekelasnya”
“Diam Locus! Yang kau lakukan hanyalah memakan makanan buatan ku tanpa membantu ku sedikit pun!”
“Ayolah! Masakan mu sangat enak kau tau? Apa kau tidak senang jika ada seseorang mencoba masakan buatan mu?”
“Aku memasak untuk diri ku sendiri, bukan untuk orang lain”
Junta hanya melihat mereka berdua beradu argumen, Junta ingat bahwa Kenya tidak suka dengan Locus, tapi melihat hal ini Junta berpendapat bahwa mereka berdua cukup akur.
“Hey Locus, tentang duel kemarin, hukuman apa yang kau terima?”
“Ah itu sangat parah Junta, aku mendapatkan 49 Poin dan harus membersihkan kamar mandi selama 3 hari kedepan, tidak hanya itu aku juga diharuskan untuk membersihkan kolam renang di sore hari dan merawat tanaman yang ada di rumah kaca, benar-benar hukuman yang menyusahkan”
“Kau harus melakukan itu semua dalam waktu 3 hari?”
“Ya begitulah.. Tapi aku sama sekali tidak menyesal! Jika tidak ada duel itu maka aku tidak akan tau kekuatan mu!”
“Tunggu dulu, Junta, apa kau berkelahi kemarin? Apa itu sebab kau masuk ke dalam ruang konseling pagi ini?”
Junta terdiam seolah-olah tidak mendengar Yui, di sisi lain Yui terus bertanya dari belakang Junta seperti seorang anak kecil yang sedang meminta sesuatu kepada orang tuanya, tidak lama kemudian suara pintu terbuka dapat di dengar dan guru memasak memasuki ruangan membuat pandangan seluruh murid tertuju pada guru itu.
“Baiklah, silahkan membuat kelompok yang beranggotakan 4 orang, lalu kalian akan aku beri tugas untuk memasak sebuah sup, aku harus pergi karena ada rapat guru, jika tugas kalian sudah selesai, salah satu dari kalian bisa menemuiku di ruang guru”
Setelah mengatakan itu guru itu pergi dengan langkah yang sangat cepat, seolah-olah dia sedang di kejar sesuatu yang menakutkan.
Beberapa saat setelah guru itu keluar dari ruangan, keadaan menjadi ramai karena murid-murid yang ada disana mulai mencari kelompok.
“Apa itu tidak apa?”
“Tentu saja tidak apa! Tanya saja ke Kenya jika tidak percaya”
“Aku dengan senang hati akan menerima Tuan Junta dalam kelompok ku”
“Baiklah jika kau dan Kenya tidak masalah… Kita hanya perlu satu orang lagi”
“Uh.. Apa aku bisa bergabung?”
“Yui? Sejak kapan kau ada di belakang ku?”
“Kejam sekali kau Junta! Aku berada di belakang mu sejak kita memasuki ruangan tadi!”
Yui menjawab Junta dengan mata yang hampir menangis.
“Ah.. Maafkan aku Yui, aku tidak tau jika kau ada disana selama ini, baiklah kalau begitu, kelompok kita sudah sudah penuh dan sekarang yang perlu kita lakukan adalah mengerjakan tugas yang di berikan tadi.”
“Kalau begitu apa yang harus kita lakukan Kenya?”
“Locus, apa kau tau kalau di kata ‘kita’ itu tidak ada dirimu?”
“Hey! Aku anggota kelompok ini juga kau tau?”
“Hah! Aku tau yang akan kau lakukan hanyalah duduk bersandar di dinding sebelah sana sambil menunggu makanan nya selesai kan?!”
Locus mengalihkan pandangannya, berusaha menghindari kontak mata dengan Kenya.
“Sudahlah, berhenti bertengkar dan mari kita kerjakan tugas ini”
“Haha! Dengarkan itu Kenya! Kau harus mendengar perintah dari Junta”
Kenya terlihat ingin protes tapi dia mengurungkan niatnya dan mulai membagi tugas ke setiap anggota kelompok, Junta mendapatkan tugas untuk mengupas dan membersihkan bahan-bahan yang akan di pakai, setelah selesai membagi tugas, masing-masing anggota sudah mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan berpencar ke seluruh ruangan. Meninggalkan Junta sendirian dengan kentang yang di berikan Kenya kepadanya, Junta menatap kentang itu lalu dia mengalihkan pandangannya ke pisau yang ada di dekatnya dengan ekspresi kebingungan, sejujurnya Junta sangat jarang memasak, mungkin lebih tepatnya dia tidak bisa memasak, sehingga dia tidak tau harus bagaimana untuk mengupas kentang yang ada di depannya.
- Waktu berlalu dan pelajaran sudah selesai\, setiap kelompok sudah menyelesaikan tugas yang di berikan dengan baik\, keadaan di sana menjadi sangat ramai karena masing-masing kelompok mulai memakan-makanannya dan mencicipi masakan buatan kelompok lain\, tapi ada juga beberapa kelompok yang terlihat kelelahan dan duduk bersandar di dinding\, di sisi yang sedikit jauh dari kerumunan\, dapat dilihat bahwa kelompok Junta sedang kebingungan melihat hasil masakan mereka.
“Uh… Kenapa kentangnya hanya ada 5 potong? Dan juga potongannya kecil-kecil”
Locus mengatakan itu sambil melihat sup yang ada di dalam panci.
“Ini karena Tuan Junta mengupas habis kentang-kentang itu sehingga hanya ini yang tersisa”
“Uh.. Maafkan aku, aku sangat jarang mengupas bahan makanan seperti ini”
“Tidak apa Tuan Junta, kau melakukannya dengan sangat baik, jauh lebih baik dari apa yang dilakukan oleh Locus”
“Hey aku juga membantu!”
“Kau membantu apa Locus?!”
“Aku membantu mu memperbaiki rasa makanannya! Dengan cara memberikan pendapatku!”
“Bilang saja kau hanya ingin memakan makanannya!”
Murid-murid yang ada di sana mulai meninggalkan ruangan dan keadaan perlahan menjadi sepi, meskipun keramaian yang ada di ruangan itu mulai reda, tapi adu argumen antara Locus dan Kenya terlihat tidak akan berhenti, Junta yang melihat ini hanya menghela nafas dan tersenyum kecil melihat keakraban mereka.
“Yui, ayo pergi”
“Eh? Apa kau ingin meninggalkan mereka dengan kondisi seperti ini?”
__ADS_1
“Ini akan menjadi perdebatan yang panjang, sebaiknya kita meninggalkan mereka berdua di sini”
Dan dengan begitu Junta meninggalkan ruangan bersama dengan Yui, meninggalkan Locus dan Kenya sendirian di dalam ruangan, tidak lama setelah keluar dari Lab Makanan, lonceng berbunyi 2 kali, menandakan jam istirahat telah tiba, lorong-lorong yang tadinya sedikit sepi mendadak menjadi penuh dengan orang, suara murid yang sedang berbincang-bincang bisa di dengar di temani suara langkah kaki dari setiap orang yang berada di lorong.
“Hey Junta, kau mau ikut aku ke perpustakaan?”
“Apa kau perlu mengembalikan sebuah buku?”
“Ya.. Bisa di bilang begitu”
“Baiklah aku tidak masalah, kau yang memimpin”
Yui tersenyum dan berjalan di depan Junta, jarak antara perpustakaan dengan posisi Junta saat ini sedikit jauh, jadi butuh sedikit waktu untuk sampai di sana, setelah melewati banyak ruangan dan tikungan-tikungan yang ada, sampailah Junta di perpustakaan, pemandangan dan suasana yang ada di sana sangat berbeda dengan apa yang ada di lorong, di sini sangat sunyi dan hampir tidak ada orang, hanya ada satu guru yang duduk di dekat pintu masuk dengan sebuah meja besar melingkarinya.
“Permisi, aku ingin mencari buku tentang astronomi, di mana aku bisa menemukannya?”
“Ah, buku itu ada di sana, dekat dengan rak buku fiksi”
Setelah bertanya pada guru itu, Yui pergi ke rak yang di tunjuk dengan Junta yang mengikutinya di belakang, sebelum sampai di rak yang di tuju, Yui berhenti dan pandangannya tertuju pada suatu buku yang berada di rak fiksi.
“Apa yang kau lihat?”
“Ah Junta, maaf, aku hanya melihat buku ini”
Yui mengambil buku itu walaupun letaknya sedikit lebih tinggi darinya.
“Aku tidak menyangka masih ada yang percaya dengan legenda ini”
“Apa kau suka dengan cerita legenda Yui?”
“Ya.. Aku tidak membencinya, jadi bisa di bilang begitu”
“Apa kau ingin membaca itu?’
“Bagaimana kalau kita membaca buku ini bersama-sama?”
“Aku tidak tertarik dengan buku itu”
“Eh? Tapi ini adalah legenda tentang kota ini, apa kau tidak penasaran dengan apa yang terjadi di masa lalu?”
“Tidak”
“Kalau begitu maukah kau menemani ku membaca ini?”
Junta dengan ekspresi yang sedikit marah mengangguk, Yui tersenyum dengan respon Junta dan berjalan menuju sebuah meja yang ada di pojok ruangan, dia meletakkan buku itu di sana dan duduk di sebuah kursi yang sudah di sediakan.
Setelah duduk di kursi. Yui mengusapkan telapak tangannya di atas buku itu untuk menghilangkan debu yang menempel, debu-debu ini adalah pertanda bahwa buku cerita ini belum pernah di sentuh oleh tangan manusia dalam jangka waktu yang cukup lama.
“ ‘The White Hero’ … Membaca judulnya saja sudah benar-benar membuat ku nostalgia..”
“Apa kau sangat suka dengan cerita ini Yui?”
“Kau bisa menganggapnya begitu, dalam buku ini menceritakan seorang pahlawan yang menyelamatkan kota ini dari sebuah bahaya”
Junta hanya terdiam mendengar jawaban dari Yui.
“Tapi sayang sekali sudah banyak orang yang tidak mempercayai legenda ini, konon kejadian yang ada di cerita ini terjadi bertahun-tahun yang lalu, dan cerita ini di angkat dari kisah nyata”
“Jadi… Apa yang dilakukan oleh pahlawan ini?”
“Kau tidak pernah mendengar cerita ini Junta? Pahlawan itu menyelamatkan kota-- tidak, mungkin dia menyelamatkan seluruh dunia dari potensi bahaya yang sangat mengancam”
Junta menutup mulutnya dan mendengarkan Yui berbicara.
“Bahaya itu adalah ancaman serangan monster mematikan dengan berbagai ukuran, tapi berkat pahlawan ini semua monster itu telah di habisi dan tidak pernah terlihat lagi”
“Kenapa tidak para tentara saja yang menyelesaikan ini? Kenapa harus pahlawan ini?”
“Ya tentu saja karena monster itu terlalu kuat, butuh banyak pengorbanan untuk mengalahkan satu monster kau tau?, aku dengar satu monster berukuran manusia dewasa membutuhkan senjata berat untuk membunuhnya”
“Senjata berat ya… itu berarti pistol tidak akan efektif melawan monster-monster itu”
“Tepat, pahlawan ini dapat membunuhnya hanya dengan tangan kosong karena dia menggunakan sihir”
“Apa sihir benar-benar ada? Kau percaya dengan hal itu Yui?”
“Hm.. Aku percaya, tapi aku tidak pernah melihat bagaimana sihir itu, jadi aku tidak bisa meyakinkan mu kalau sihir itu benar-benar ada”
“Lalu bagaimana dengan nasib pahlawan itu sekarang?”
“Ah, banyak orang berkata dia menghilang tanpa jejak, anehnya ketika pahlawan itu menghilang, seluruh monster juga ikut menghilang, tidak ada lagi serangan monster dan kehidupan kembali berjalan normal”
“Jadi… Semua ini gara-gara si pahlawan itu?”
Junta mengatakan itu dengan nada yang sedikit tinggi.
“Entahlah, aku tidak percaya pahlawan itu yang mendatangkan para monster ke kota ini, maksud ku bahkan tidak ada seorang pun yang pernah melihat wajahnya karena dia sangat cepat, sepertinya dia tidak mengincar ketenaran, jadi jika memang dia tidak mengincar ketenaran maka apa yang dia incar?”
“Aku tidak tau, mungkin dia memang tidak ingin terkenal?”
“Ya.. Aku harap begitu, aku memang tidak percaya kalau pahlawan itulah yang menyebabkan monster-monster itu datang ke sini, tapi kebanyakan orang percaya bahwa semua bencana itu terjadi gara-gara Pahlawan Putih”
“Ironis sekali, pahlawan itu yang menyelamatkan kota ini tapi dia tidak mendapatkan rasa terima kasih, melainkan rasa kebencian”
Junta mengatakan itu dengan nada yang sedikit marah, legenda yang di ceritakan dalam buku itu adalah kisah tentang Ayahnya, Ayah Junta adalah seorang pahlawan di kota ini yang biasa dikenal dengan nama Pahlawan Putih.
Tapi, meskipun Ayahnya sudah mengalahkan semua monster-monster itu, tetap saja mereka tidak mau berhenti datang dan menghancurkan semua yang mereka lihat, Junta juga masih sedikit ingat tentang beberapa pesan Ayahnya yang menyangkut para monster, seperti jenis serangan atau titik lemahnya.
“Memang menyedihkan melihat pahlawan itu di benci semua orang, tapi bukti bahwa ketika para monster hilang bersamaan dengan pahlawan itu membuat masyarakat semakin percaya kalau pahlawan itulah yang menyebabkan semua ini terjadi”
“Sialan!”
Junta memukul meja yang ada di depan dengan kuat hingga suara dentuman keras dapat di dengar ke seluruh penjuru ruangan.
“Kau kenapa Junta? Kenapa sampai marah seperti itu?”
“Maafkan aku, hanya saja aku… sangat tidak suka dengan apa yang terjadi dengan Pahlawan Putih, dia sangat tidak pantas menerima semua ini”
“Aku tau perasaan mu, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa karena kita tidak memiliki bukti”
Junta dapat menenangkan dirinya walaupun ekspresinya masih terlihat marah, Yui yang melihat ini membuat ekspresi khawatir di wajahnya.
“Tenang saja Junta! Aku yakin suatu saat kebenaran akan terungkap dan Pahlawan Putih akan di akui kembali!”
“Percuma saja, Pahlawan Putih sudah mati, segala apresiasi yang di berikan masyarakat tidak lagi bisa sampai kepadanya”
“Eh? Pahlawan Putih mati? Dari mana kau tau itu Junta?”
“Ah, ya… Maksudku… sudah bertahun-tahun dia menghilang kan? Jadi aku berpikir dia sekarang sudah mati”
Junta menjawab itu dengan nada yang terdengar meyakinkan walaupun dia berbicara dengan sedikit terbata-bata.
“Aku tidak berpikir seperti itu, aku masih yakin jika Pahlawan Putih masih hidup di luar sana, tapi jika memang dia sudah mati maka aku harap keturunannya akan tetap melindungi kota ini jika suatu saat hal yang sama terjadi lagi”
Junta hanya terdiam mendengar perkataan itu, dapat dilihat dari ekspresinya bahwa dia masih menyimpan amarahnya di dalam hati, di sisi lain, Yui menatap langit-langit perpustakaan dengan tatapan seperti orang yang melamun.
“Hey Junta”
__ADS_1
Yui berhenti sejenak.
“Apa yang akan kau lakukan jika kau adalah anak dari Pahlawan Putih dan kota ini diserang kembali oleh para monster?”