Junta & Dunia Sihir

Junta & Dunia Sihir
#11 Keanehan Dalam Satu Hari


__ADS_3

 


 


 


Sore hari adalah waktu yang sangat di tunggu-tunggu oleh Junta, atau setidaknya itulah yang Junta harapkan sebelum dia di paksa masuk ke sebuah ekstrakurikuler yang tidak jelas, saat ini Junta sedang berjalan di lorong menuju ruang ekstrakurikuler nya, tentu di temani oleh Yui.


“Maafkan aku Yui, kau jadi ikut tergabung dalam ekstrakurikuler yang tidak jelas ini”


“Tidak usah di pikirkan! Lagi pula ekstrakurikuler itu tidak punya kegiatan apa-apa kan? Benar-benar ekstrakurikuler yang memberikan waktu luang kepada para anggotanya..”


“Aku masih tidak mengerti kenapa aku harus masuk ke ekstrakurikuler itu, aku ingin pulang, aku ingin istirahat, aku juga tidak mengingat aku melanggar sesuatu.. Sebenarnya apa yang di rencanakan oleh Bu Layla?”


“Aku tidak tau.. Mungkin saja Bu Layla marah kepada mu Junta?”


“Tidak, aku tidak melanggar apa pun belakangan ini, jadi aku sangat yakin bukan itu alasannya”


“Kenapa kau tidak tanya langsung kepada Bu Layla? Aku rasa itu adalah jalan yang paling mudah”


“Bu Layla pasti tidak mau menjawabnya.. Aku kenal Bu Layla lebih baik dari siapapun yang ada di sekolah ini?”


“Karena kau setiap hari bertemu dengannya di ruang konseling?”


“Hey, itu bukan sesuatu yang pantas untuk di banggakan”


Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan pintu ruangan ekstrakurikuler “Free Time”, Junta membuka pintu itu dan tentu di dalam sana hanya ada Virda yang sedang duduk di kursinya sambil membaca buku favoritnya, Junta dan Yui masuk ke dalam setelah membuka pintu itu dan duduk di kursi mereka masing-masing, sama seperti kemarin.


“Oh? Aku tidak menyangka akan melihat kalian berdua lagi”


“Hey, aku rasa kau kenal dengan Bu Layla kan? Kau tau apa yang akan terjadi jika aku menentangnya kan?”


Virda tidak menjawab argumen Junta dan melanjutkan membaca bukunya seperti biasa, karena ini adalah ekstrakurikuler “Free Time”, yang mana memberikan waktu luang kepada para anggotanya, maka ekstrakurikuler ini tidak memiliki kegiatan apa pun, yang perlu di lakukan anggota nya hanyalah datang dan melakukan apa pun yang mereka suka.


Dalam kasus ini, Virda suka membaca buku, jadi yang dia lakukan sepanjang sore di sini hanyalah membaca buku bersampul kucing itu, di sisi lain, Yui lebih suka memainkan handphone miliknya, ya mungkin sesekali Yui mencoba untuk mengajak bicara Virda atau Junta, sedangkan Junta, dia lebih suka tidak melakukan apa-apa, yang dia lakukan hanyalah melihat Virda yang sedang membaca buku atau mungkin melihat Yui yang sedang memainkan handphone miliknya.


Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu.


“Permisi”


Dia adalah seorang wanita yang berkaca mata, seragam yang di pakainya sama seperti milik Junta, rambutnya hitam panjang se punggung dan matanya berwarna cokelat.


“Silahkan masuk, ada perlu apa?”


Virda mencoba untuk membuka pembicaraan.


“Uhm, sebenarnya aku perlu bantuan.. Tapi Bu Layla menyuruh ku ke sini.. Jadi.. Apa kalian bisa membantu ku?”


“Bu Layla menyuruh mu ke sini?”


Virda bertanya dengan raut muka yang kebingungan, sedangkan wanita itu hanya mengangguk menandakan jawaban iya.


“Baiklah.. Kau butuh bantuan apa?”


“Sebenarnya…”


Wanita itu pun menceritakan seluruh masalah nya selama 15 menit, Virda mendengarkannya dengan seksama seperti sedang mendengarkan sebuah pelajaran yang sedang di berikan oleh seorang guru.


“Jadi.. Kesimpulan dari penjelasan mu yang berbelit-belit adalah… Kau ingin menurunkan berat badan mu?”


Wanita berkacamata itu hanya menganggukkan kepalanya menandakan jawaban iya.


“Uhm.. Menurut ku kau tidak perlu melakukan itu.. Ya kan Virda?”


“Aku setuju dengan Yui, di lihat dari postur tubuh mu, kau terlihat tidak memiliki masalah dalam berat badan”


“Ta-Tapi! Teman-teman ku menyarankan aku untuk menurunkan berat badan ku…”


Virda menghela nafas kecil.


“Aku rasa aku tidak bisa membantu mu jika masalah nya ada di berat badan, karena aku tidak pernah memiliki masalah itu…”


“Kalau begitu biar aku yang membantu mu!”


Yui menjawab itu dengan penuh semangat, setelah memutuskan untuk membantu wanita berkacamata itu, Yui menuntun wanita itu keluar dari ruangan, entah dibawa kemana wanita itu pergi, karena Yui pergi meninggalkan ruangan, ini berarti yang tersisa di ruangan itu hanya ada Junta dan Virda, suasana sepi membuat Junta sedikit canggung.


“Tidak punya masalah dalam berat badan huh? Aku rasa kau benar-benar membuat wanita lain iri”


“Aku percaya mengatur makanan secara teratur adalah kunci berat badan ideal”


“Jadi.. Daripada kita berdiam diri seperti ini, kenapa kita tidak berbincang-bincang ringan?”


“Aku rasa tidak ada yang harus di bicarakan”


“Baiklah jika memang itu keinginan mu..”


Setelah menjawab itu, Junta kembali dalam kegiatannya yang sedang tidak melakukan apa-apa, keadaan menjadi hening cukup lama sampai suara pintu terbuka memecah keheningan.


“Yo! Maaf jika aku terlalu lama”


“Apa kau sudah membantu dia Yui?”


“Semua aman Junta! Sekarang dia sudah pulang ke rumah”


“Kau terlihat bersemangat sekali hari ini, ada apa?”


“Eh? Ah… Tidak ada apa? Bukankah aku memang seperti ini setiap hari?”


“Benarkah? Kalau begitu lupakan saja”


“Baiklah, aku rasa cukup sampai d sini pertemuannya”


“Sebenarnya kita tidak melakukan apa-apa…”


“Ah sudah sore ya.. Membantu wanita tadi benar-benar membuat ku lupa waktu”


Setelah Yui membalas percakapan Virda, semua orang yang ada di ruangan itu bersiap-siap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing, tapi seperti nya hari masih panjang bagi Junta, Junta tidak bisa langsung pulang ke rumah nya karena dia merasakan sesuatu yang tidak beres, setelah berpisah dengan Yui di depan gerbang sekolah, Junta dengan cepat pergi ke stasiun kereta yang berada di distrik 14.


Sesampainya di sana, hari sudah gelap, tapi stasiun itu masih ramai di kunjungi orang, di halaman depan stasiun ini, berdiri sebuah jam besar yang menunjukkan waktu kepada setiap orang yang melihatnya, setidaknya itulah yang di percaya oleh masyarakat, tapi bagi Junta, jam ini berbeda.


Jam ini lebih dari sekedar jam biasa, Junta sering pergi ke stasiun ini juga karena memiliki alasan tersendiri, sebenarnya jam ini adalah jam buatan yang di buat oleh Ayahnya Junta, yaitu si Pahlawan Putih, Jam ini berfungsi sebagai menara pelindung yang melindungi kota ini dari ancaman para monster, tentu tidak hanya satu buah jam ini saja yang di buat oleh Pahlawan Putih, ada banyak sekali jam yang di buat dan seluruh jam itu tersebar di seluruh penjuru negara ini, Junta tidak tau secara pasti bagaimana alat ini bekerja, tapi Junta tau satu hal pasti, jika salah satu dari menara ini rusak, maka dapat di pastikan bahwa kota ini atau bahkan negara ini berada dalam bahaya.

__ADS_1


Setelah melihat kondisi fisik jam besar itu, Junta meletakkan tangan nya ke dinding jam dan merasakan aliran Mana yang mengalir di dalam menara besar itu, sejauh ini Junta merasakan tidak ada masalah, tapi, walaupun sudah di periksa oleh Junta, tetap saja Junta merasa ada yang salah dengan jam ini, seperti ada sesuatu yang mengambil Mana dari jam ini, seperti ada seseorang yang berusaha melemahkan menara pelindung ini.


Junta melihat ke sekeliling nya, tapi tidak ada apa-apa, tidak ada orang yang mencurigakan atau alat sihir yang mengganggu, untuk saat ini Junta memutuskan untuk menetap di stasiun ini untuk beberapa waktu, hanya untuk memastikan bahwa semua berjalan dengan baik, sambil menunggu, Junta membeli kopi kesukaannya dari mesin minuman dan tidak lama kemudian, ada suara yang memanggil Junta.


“Yo!”


“Gilda?”


“Haha! Apa kabar kawan lama ku?”


“Kau sudah kembali?”


“Oh tidak, tentu saja tidak, aku hanya mampir ke sini karena aku ingin membeli buku dari toko buku yang terkenal itu”


“Sial, kalau begitu pergi dari sini”


“Hey hey, aku mencoba untuk ramah kau tau?


“Jadi? Bagaimana keadaan mu?”


“Cukup baik, di distrik tempat aku tinggal semua berjalan dengan lancar, aku dapat teman, aku bisa berkelahi, aku dapat markas rahasia, semuanya lancar”


“Hey, jangan lupakan sekolah mu”


“Haha! Tentu tentu, lagipula apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?”


“Aku sedang.. Mencari udara segar”


“Oh? Seperti nya hidup sedang tidak berpihak kepada mu?”


“Ya begitulah, aku di paksa masuk ke ekstrakurikuler aneh oleh Bu Layla”


“Ahahaha! Kasian sekali kau!”


“Jangan tertawa, aku tidak ingin masuk kesana kau tau? Walaupun ada Virda sebagai ketua ekstrakurikuler”


Setelah mendengar balasan Junta, Gilda mendadak terdiam dan mulutnya terbuka lebar, dia terkejut seperti baru saja mendengar sesuatu yang tidak mungkin terjadi.


“APA?! KAU BERTEMU VIRDA?”


“Hey, kecilkan suara mu”


“Kau bercanda?!”


“Apa aku terlihat sedang bercanda?”


“Sial! Apa kau tau betapa beruntung nya kau dapat bertemu ratu paling cantik di sekolah itu?”


“Benarkah? Aku rasa dia biasa saja”


“Sialan kau, jika kau tidak bersyukur bertemu dengan Virda, maka tukar posisi sekarang dengan ku! Biar aku yang menggantikan mu datang ke ekstrakurikuler itu!”


“Aku akan sangat senang dengan hal itu, tapi masalahnya, sekarang kau bukan murid di sekolah itu lagi”


“Ah sial! Sial!”


Gilda frustasi sambil mengacak-acak rambut kuning nya.


“Aku rasa aku tidak seberuntung dirimu”


“Ahh! Ini membuat ku semakin stress, aku rasa aku akan pergi sekarang, ini sudah malam dan aku harus kembali sebelum ibu ku membunuh ku”


“Oh, baiklah, hati-hati di jalan”


Dan dengan itu, Gilda masuk ke dalam stasiun dan menghilang dari pandangan Junta, tepat setelah Gilda menghilang, perasaan yang mengganggu Junta juga hilang, tidak ada lagi perasaan yang mengancam, karena di rasa aman, Junta memutuskan untuk berjalan kembali ke rumah nya, tapi sebelum pulang, Junta ingin mampir ke kedang Paman Ji.


Kedai Paman Ji masih sepi seperti biasanya, saat sampai di kedai, Junta tidak melihat Paman Ji di sana, jadi Junta harus menunggu beberapa saat sampai Paman Ji tiba.


“Oh Junta, apa kau menunggu lama?”


“Tidak terlalu, aku pesan seperti biasanya Paman”


“Okey, akan segera aku buatkan”


“Ngomong-ngomong Paman Ji, jarang-jarang aku melihat mu tidak ada di dalam kedai, apa ada sesuatu terjadi?”


“Ya… Bisa di bilang begitu, tapi tenang saja aku sudah mengatasinya”


“Apa Paman yakin? Paman tau kan kalau Paman bisa meminta bantuan ku?”


“Yap, tenang saja! Meskipun aku sudah tua, tapi jiwa ku masih muda!”


“Baiklah jika Paman memang tidak butuh bantuan…”


“Baiklah ini dia, pesanan mu”


Setelah makanan itu datang, Junta langsung memakan makanannya dan makanan itu habis dalam sekejap.


“Oh, sepertinya kau belum makan ya seharian?”


“Ya.. Begitulah”


“Kau harus kuat Junta, aku tidak dapat membayangkan kau bisa hidup dengan tenaga mu sendiri sejak kecil”


“Tidak perlu khawatir, baiklah, ini uang nya paman”


“Eh? Kau tidak perlu membayar..”


“Tidak apa, aku sangat memaksa”


“Baiklah.. Terima kasih Junta”


“Tidak masalah, kalau begitu aku harus pulang sekarang”


“Hati-hati”


Setelah itu, Junta pergi meninggalkan kedai dan pulang menuju rumahnya, saat dalam perjalanan pulang, Junta mampir ke sebuah taman yang letak nya tidak terlalu jauh dari kedai Paman Ji, dia berniat untuk membeli sekaleng kopi untuk di bawa pulang, tapi, saat dia memasuki taman itu, dia melihat sosok yang tidak asing.


“Virda? Apa yang kau lakukan di sini?”


Di taman itu ada Virda yang sedang duduk di sebuah ayunan sambil membaca buku kucingnya.

__ADS_1


“Oh, Manusia Biru, aku tidak menyangka aku akan bertemu dengan mu di sini”


“Hey, aku punya nama kau tau?”


Setelah membalas jawaban dari Virda, Junta pergi ke sebelahnya untuk membeli sekaleng kopi dari mesin minuman.


“Apa yang kau lakukan malam-malam begini Manusia Biru? Apa orang tua mu tidak khawatir?”


“Hey hey, itu kalimat ku seharusnya, apa yang kau lakukan di sini malam-malam?”


Junta yang melihat ke anehan dalam Virda memutuskan untuk membeli sekaleng kopi lagi untuk di berikan kepadanya.


“Tidak ada, aku hanya mencari tempat yang baik untuk membaca buku”


“Hey, ini sudah malam, kenapa kau tidak membaca buku di rumah saja?”


Virda diam tidak menjawab pertanyaan Junta, setelah kaleng kopi yang di beli Junta keluar dari mesin minuman, Junta duduk di ayunan tepat di sebelah Virda dan memberikan kopi yang dia beli tadi.


“Ini, mungkin kau butuh sesuatu yang hangat”


“Ah.. Terima kasih”


Setelah memberikan sekaleng kopi kepada Virda, Junta membuka kopi miliknya dan langsung meminumnya habis, sedangkan Virda hanya menggenggam kaleng itu dengan tangan kanan nya, Junta tau kalau Virda sepertinya memiliki masalah, tapi Junta tidak ingin membicarakannya karena Junta tidak terlalu dekat dengan Virda, untuk saat ini, bantuan yang dapat Junta berikan adalah menemaninya di taman ini.


“Hey Manusia Biru, bagaimana pendapatmu tentang Pahlawan Putih?”


 


 


Tiba-tiba Virda membuka pembicaraan.


“Hm.. Dia adalah pahlawan?”


“Pernahkah kau membayangkan, apa yang akan terjadi jika Pahlawan Putih tidak menyelamatkan kota ini?”


“Mungkin para monster akan semakin berkeliaran dan membuat kekacauan di seluruh penjuru negara ini”


Virda terdiam sejenak setelah mendengar jawaban Junta.


“Apa kau pikir Pahlawan Putih masih hidup?”


“Aku tidak tau… Cerita mengatakan dia sudah mati, tapi, ada juga cerita lain yang mengatakan dia masih hidup, aku tidak tau mana yang benar”


“Lalu apa yang akan kau lakukan ketika kau bertemu dengan Pahlawan Putih?”


“Bertemu dengan Pahlawan Putih ya…”


Junta menatap langit malam yang di penuhi bintang sebelum akhirnya menjawab.


“Aku rasa aku akan menanyakan banyak hal..”


“Begitu ya..”


“Ada apa tiba-tiba? Apa kau sedang membaca buku cerita tentang Pahlawan Putih?”


“Kau bisa menanggap nya seperti itu”


Setelah menjawab itu, Virda membuka kaleng kopi yang dia pegang dan meminumnya habis.


“Oh? Kau tipe orang yang kuat terhadap rasa pahit ya?”


“Rasa ini.. Tidak ada apa-apanya”


“Oho! Aku suka itu, orang yang tahan terhadap rasa pahit bukanlah orang yang jahat”


Virda hanya diam tidak menjawab perkataan Junta, keheningan terjadi cukup lama di antara mereka, Junta ingin pulang dan tidur, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Virda di sini sendirian.


“Satu hal lagi Manusia Biru, apa kau percaya kalau Pahlawan Putih itu memiliki anak?”


“Hm… Aku tidak tau, bisa saja iya bisa saja tidak, kenapa?”


“Aku hanya berpikir.. Apa yang akan terjadi ketika monster-monster kembali menyerang kota ini, apakah Pahlawan Putih kembali muncul atau tidak”


“Jika monster kembali menyerang ya… Aku rasa semua monster sudah di habisi oleh Pahlawan Putih, kau bisa tenang”


“Aku harap begitu, tapi sepertinya, masa lalu lebih sulit dari apa yang dapat aku bayangkan”


“Apa maksud mu?”


“Tidak ada apa-apa, aku hanya benar-benar khawatir tentang nasib kota ini jika para monster menyerang lagi”


Junta tau kalau itu bukanlah masalah Virda yang sebenarnya, tapi Junta tetap diam dan mengikuti percakapan itu.


“Aku percaya Pahlawan Putih masih melindungi kota ini, walaupun ada cerita yang mengatakan dia sudah mati, tapi aku tetap percaya kalau Pahlawan Putih pasti sudah melakukan sesuatu agar kota ini tetap aman”


“Dan bagaimana jika monster-monster itu menyerang lagi?”


“Mungkin seseorang yang setara dengan Pahlawan Putih akan muncul untuk menyelamatkan kita, atau mungkin Pahlawan Putih nanti akan muncul untuk menyelamatkan kita lagi”


“Kau sangat optimis dalam hal ini ya Manusia Biru”


“Aku hanya yakin bahwa Pahlawan Putih sudah melakukan yang terbaik untuk melindungi kota ini, aku percaya pada kekuatan Pahlawan Putih, dan aku percaya kalau kota ini akan terlindungi”


Virda terdiam sejenak setelah mendengar jawaban dari Junta.


“Ngomong-ngomong apa kau tidak ingin pulang Virda? Ini sudah malam dan kita harus pergi ke sekolah besok, aku percaya bahwa kau tidak pernah terlambat kan?”


“Kau benar.. Tidak terasa hari sudah terlalu larut”


Setelah mengatakan itu, Virda berdiri dari ayunan yang dia duduki.


“Kalau begitu aku pulang sekarang, aku rasa aku perlu mengucapkan terima kasih kepada mu yang telah menemani ku di sini”


“Tidak masalah, jangan di pikirkan, jika kau punya masalah dan tidak bisa menceritakannya ke aku atau orang lain, kau bisa menceritakannya ke Yui, dia cukup terpercaya dalam hal ini”


“Begitu kah? Kalau begitu aku akan mengingatnya”


“Yap, hati-hati di jalan Virda”


Dan dengan cepat, Virda pergi meninggalkan Junta sendirian di dalam taman, setelah Virda tidak lagi terlihat, Junta berdiri dari ayunan yang di dudukinya dan berjalan pulang kembali ke rumah, sambil berjalan, Junta memikirkan apa yang sebenarnya terjadi hari ini, banyak sekali ke anehan yang terjadi, mulai dari menara pelindung, Paman JI, dan sekarang Virda, Junta berharap ini bukanlah suatu pertanda buruk.

__ADS_1


__ADS_2