Kantor Urusan Gaib

Kantor Urusan Gaib
KUG BAB 13


__ADS_3

( Amelia POV)


Aku menelan ludahku dan memandangi ekspresi Arya dan kucing putih yang kini berada diatas meja. Mereka tidak menanggapi candaan ku dan tetap berwajah datar.


Aku benar benar terkejut saat mendengar apa yang Arya sebutkan, namun kini semuanya terasa lebih masuk akal. 


Pantas saja ketika Arya masuk, para Jin tidak terlalu bising dan menunjukkan rasa hormatnya. Mereka seperti tidak ingin mengganggu pembicaraan kami, bahkan para wanita yang biasanya centil pun duduk manis seperti murid sekolah saja.


Sepertinya mereka semua sudah mengenal Arya dan kucing putih itu. 


Aku mulai merasa gugup dan merasa pegal karena harus menahan senyum kaku yang mulai kupertahankan lagi. Namun sudut bibirku berkedut kedut saat para Jin di sekitar mulai mengarahkan semua pandangannya kepadaku.


'Ayolah… Aku bukan wanita yang butuh perhatian seperti ini… kalian semua membuatku lebih tegang..'


Aku mulai merasakan keringat dingin di punggungku, dan mulai mengamati orang orang disekitarku yang sepertinya tidak bisa mendengar pembicaraan kami.


"Gak perlu tegang lagi, tarik nafas dalam dalam dulu Mel."


"Hehe.. Maaf Aku... Saya sedikit kaget.."


Maksudku, siapa yang tidak akan kaget bila tiba tiba ditawarkan pekerjaan seperti ini..


Apakah posisi yang akan mereka tawarkan kepadaku adalah asisten dukun atau semacamnya?.


Aku sama sekali tidak tahu mengenai dunia perdukunan. Meskipun Aku bisa melihat keberadaan Jin, Aku tidak pernah mencoba mengetahui mereka lebih jauh.


Apakah Aku harus mencium bau kemenyan setiap hari saat bekerja?. Aku tidak yakin bisa mencium bau seperti itu sepanjang hari, membayangkannya saja membuat aku mual sekali.


Pikiranku mulai mengambang kesana kemari dan pandangan para Jin membuatku semakin gugup.


"Kamu tidak perlu memaksakannya Amel, kamu tidak harus menerima pekerjaan ini. Hanya saja tolong rahasiakan apa yang kita bicarakan disini dari orang lain."


Senyuman yang Arya berikan membuatku terbangun dan merasa malu karena telah bersikap seperti ini. Bukankah dia jauh lebih muda dariku?


Dia pasti sama sepertiku yang bisa melihat mereka dan sepertinya dia memiliki posisi yang khusus karena para Jin menghormati dirinya.


"Apa kamu berinteraksi dengan mereka setiap hari?" Aku mencoba bertanya kepada Arya untuk menghilangkan kegugupanku ini.


Aku harus bisa kembali tenang dan mendengarkan penjelasan yang dia berikan dulu.


Aku tidak pernah menceritakan kemampuanku kepada teman temanku, namun mungkin ini saatnya Aku bisa berbagi cerita dengan seseorang yang memiliki kemampuan yang sama.


"Hmm.. Iya, Aku sudah terbiasa sejak kecil dan menurutku mereka tidak jauh berbeda dari manusia. Lihat saja mereka, mereka mengobrol, bergosip, dan mempunyai kegiatan masing masing."


"Tolong hentikan pandangan kalian, kalian membuat Amel gugup"

__ADS_1


Arya mengerutkan dahinya dan perkataannya membuat para Jin tertawa malu dan melanjutkan apa yang mereka lakukan sebelumnya.


Sepertinya hal ini memang nyata dan bukan halusinasiku saja. 


Aku menghela nafas yang panjang dan mulai berpikir apakah aku harus menerima pekerjaan ini atau tidak.


"Tenang saja. Kantor kami bukanlah kantor dukun dan pekerjaanmu kelak hanya akan mengurusi beberapa dokumen saja. Kami tidak memiliki posisi khusus dan sebenarnya berbeda jauh dengan kegiatan perkantoran pada umumnya."


"Kami lebih seperti organisasi dan sangat bebas dalam peraturan. Kamu bisa berpikir pikir dulu sebelum memberikan keputusanmu."


"Memilih pekerjaan adalah sesuatu yang penting, jadi Aku tidak akan memaksamu. Tidak semua orang ingin berkaitan dengan hal hal yang ghaib, oleh karena itu Aku akan menghormati keputusanmu."


Ahh.. curang sekali, berkata seperti itu dengan wajah yang perhatian.. 


"Bisa Aku mengetahui lebih jauh tentang pekerjaan di kantor kamu? Atau kalau tidak keberatan, bisa lihat bagaimana pekerjaannya dulu?"


Aku menjadi lebih rileks dan berbicara lebih dekat dengannya. Pandangan matanya benar benar berbahaya sekali, dia seolah olah bisa mengetahui dan mengerti siapa diriku sebenarnya.


Meskipun Aku selalu mencoba mengacuhkan keberadaan Jin di sekitarku, namun melihat situasi para Jin di sekitar sini tidak membuatku terlalu terganggu.


Mungkin pekerjaan ini bisa memberikanku pengalaman baru dan menghilangkan keseharianku yang monoton ini.


Jadi lebih baik Aku mencoba memahami apa yang harus Aku kerjakan dahulu. Apalagi ini adalah kesempatan yang baik untuk mendekati Arya.


***


Hey Hey.. Apa yang terjadi saat ini?


Mengapa Arya membawaku kedalam rumah yang terlihat sepi ini?.


Setelah Arya mengatakan bahwa Aku bisa mengunjungi kantornya, Aku mengikuti Arya dan Maja yang sebetulnya adalah Jin yang berwujud harimau putih.


Aku sedikit kaget ketika pertama kali melihatnya, namun wajah malasnya tidak menakutkan dan Aku mulai bisa beradaptasi dengan situasi yang baru ini.


Apalagi Maja merupakan Jin yang bisa dengan bebas bergerak di alam manusia. Itu adalah hal baru yang sangat menarik bagiku, apalagi terkadang candaannya seperti layaknya candaan seorang manusia saja.


Saat Aku turun dari taxi, Aku melihat pagar besi yang rapat dan cukup tinggi. Aku pun mengikuti Arya masuk ke dalam dan melihat rumah yang cukup besar disertai halaman yang luas.


Rumah itu terlihat sedikit kuno, namun kondisinya bersih dan tidak terlihat kumuh. 


Namun yang membuat jantungku berdebar debar adalah suasananya yang terlihat sepi. Bahkan tidak ada satu Jin pun yang terlihat di sekitar rumah ini.


Arya memang mengatakan bahwa kantornya berada di rumahnya sendiri, namun apakah kenyataannya benar seperti itu?


Membawa seorang wanita ke dalam rumah yang sepi seperti ini.. Apa dia memiliki maksud lain?

__ADS_1


Arya terlihat seperti orang yang serius, Aku yakin dia tidak akan melakukan hal hal yang aneh ditempat sepi ini kan…


Lagipula.. Apa Aku bisa melawannya dan pergi dari tempat ini?


Aku tidak yakin bisa menolak Arya bila dia meminta hal hal yang…


Aku menelan ludahku dan pikiranku mulai mengambang kesana kemari. Apa hari ini akan menjadi hari dimana Aku akan menjadi seorang wanita yang sesungguhnya?


Bagaimana bila sebetulnya Akulah yang menjadi mangsa dan Arya lah yang memburuku sejak awal..?


Aku menatap Arya yang kini berdiri di depanku. Dia hanya diam memandangi rumahnya sendiri dan seperti sedang memikirkan sesuatu dengan serius.


Saat ini hanya ada kami berdua di halaman rumah ini, Maja mengatakan bahwa dia ada urusan mendadak dan pergi meninggalkan kami di depan gerbang.


Tatapan mata Maja yang terlihat seperti penuh arti itu kembali terbayang bayang di benakku.


Jantungku berdegup semakin kencang ketika Arya membalikkan badannya yang kini berada didepanku.


Dia mendekatiku secara perlahan dan wajahnya pun mendekati wajahku. Aku pun menatap wajahnya dengan gugup, pandanganku tertuju pada bibirnya. 


Aku merasa seluruh tubuhku terasa sedikit panas, khususnya kepalaku. Seluruh darahku bagaikan naik semua ke atas kepalaku, Aku mulai memejamkan mataku dan bersiap siap untuk menyambut hal yang akan terjadi selanjutnya.


Ayo! Siapa takut! Aku tidak akan kalah dan akan membuatmu bertekuk lutut dihadapanku kelak!


Saat Aku merasa sentuhan tangan Arya yang sedikit mengangkat daguku, Aku mulai memajukan bibirku dengan perlahan namun tidak terjadi apa apa. Tidak ada sentuhan pada bibirku, apa yang terjadi? Apakah Arya mulai ragu ragu?


Aku pun membuka mataku dengan perlahan dan melihat Arya yang tersenyum kaku, namun kini Aku merasa bahwa suasana di sekitar terasa berbeda dari sebelumnya.


"Nyalimu boleh juga Nona!"


"Wah.. Sampe pasrah gitu."


Suara bisikan yang berasal dari para Jin yang tiba tiba ada disekitar kami ini membuatku terkejut. Mengapa tempat ini menjadi ramai? Bukankah suasana sebelumnya berbeda jauh sekali?


*prok prok prok*


Lalu mereka mulai bertepuk tangan sambil mengatakan beberapa pujian tentang betapa berani dan tegasnya Aku sebelumnya.


"Maaf, Aku harus menyentuhmu untuk membuka mata batinmu di tempat ini."


Arya meminta maaf sambil tersenyum kaku, namun tawa dan canda para Jin di sekitarku masih terdengar ditelingaku.


'Aaahh!! betapa memalukannya!'


Aku Amelia, 25 tahun. Telah menghancurkan diriku sendiri di depan orang banyak.

__ADS_1


__ADS_2