
Cahaya bulan purnama membuat malam pada hari ini terlihat lebih terang dari biasanya. Cahayanya cukup terang hingga ditengah-tengah hutan belantara seperti ini pun, manusia biasa akan bisa melihat kehidupan yang ada di dalam hutan pada malam hari ini.
Suara serangga dan hewan lainnya membuat suasana hutan semakin ramai. Namun ketika Arya berjalan semakin jauh ke dalam area hutan, suasananya menjadi semakin sunyi.
"....."
Arya mengerutkan dahinya dan menghentikan langkah kakinya. Firasat buruk yang ia rasakan semakin menjadi dan membuatnya sedikit ragu.
Firasat seorang praktisi spiritual sepertinya terkadang sangatlah tepat dan bisa menjadi suatu pendeteksi bahaya.
Apalagi kutukan kesialan yang terjadi sebelumnya membuat Arya semakin berhati-hati di dalam setiap langkahnya.
Untungnya, tidak ada kesialan yang terjadi ketika ia masuk ke dalam hutan. Namun hal tersebut membuat Arya semakin lebih berhati-hati.
Arya mengambil suatu jimat dari dalam kantong dimensinya dan menempelkan jimat tersebut di dalam tubuhnya. Lalu ia turut mengambil beberapa jimat pelindung lain yang ia miliki dan menempelkan semua jimat tersebut di tubuhnya.
Bila Arya membuka pakaiannya, maka orang akan melihat beberapa jimat yang seperti terbuat dari kertas dan menempel di sekujur badan Arya yang saat ini tertutupi oleh kaos yang ia kenakan saat ini.
Kemudian Arya kembali berjalan dengan perlahan-lahan dan memfokuskan semua inderanya. Ia menahan nafas dan membuat tubuhnya lebih ringan sehingga suara langkah kakinya tidak terdengar.
Arya juga menggunakan energi spiritualnya untuk mendeteksi daerah sekitarnya. Namun ia tidak berani untuk menggunakan teknik pendeteksi tersebut terlalu jauh. Ia tidak ingin membuat seseorang yang ia cari mengetahui keberadaannya.
Arya terpaksa berhati-hati seperti ini karena ditempat ini tidak terlihat bangsa Jin. Bahkan saat ia mengalihkan pandangannya ke alam astral, ia hanya menemukan padang rumput yang sunyi.
Namun firasatnya masih memberi sinyal bahaya yang berarti bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di tempat ini.
Saat Arya sampai di bagian hutan yang paling dalam, Arya mendeteksi suatu gelombang spiritual yang berasal dari suatu pohon yang berjarak 50 meter dari dirinya.
Arya menarik energi spiritualnya dan seluruh tubuhnya yang tegang menjadi lebih rileks.
Arya memejamkan mata dan menarik nafas dalam dalam. Kemudian ia memperhatikan pohon beringin tersebut, ia mengira ada suatu gerbang dimensi yang berada di dalam pohon.
Gerbang dimensi adalah suatu gerbang menuju suatu dimensi tersembunyi. Dimensi tersebut bisa terjadi secara natural ataupun memang sengaja dibuat oleh seseorang yang memiliki teknik ruang dan dimensi.
Namun gerbang dimensi adalah suatu hal yang cukup berbahaya, karena kita tidak akan tahu apa yang menunggu kita ketika kita masuk kedalam gerbang tersebut.
Setelah Arya merasakan bahwa seluruh tubuhnya berada di dalam kondisi yang maksimal, Arya pun berjalan dengan perlahan menuju gerbang dimensi tersebut.
Karena seseorang yang mungkin ia cari berada di dalam gerbang dimensi, maka tidak ada gunanya lagi ia bersembunyi.
__ADS_1
Arya tidak memiliki pilihan lain selain masuk ke dalam gerbang tersebut.
Arya mengambil sebilah pedang yang merupakan senjata spiritual dan menggenggamnya. Kemudian ia masuk ke dalam gerbang dimensi yang berada di batang pohon beringin.
Seluruh tubuh Arya pun terlihat menghilang ketika ia masuk kedalam pohon tersebut.
***
Dalam beberapa cerita, terkadang pahlawan ataupun seorang protagonis selalu datang terlambat.
Ketika pahlawan tersebut tiba ditempat kejadian, maka tokoh antagonis sudah berhasil melakukan rencananya.
Sisanya adalah pertarungan hebat yang akan terjadi antara sang pahlawan dan musuhnya.
Meskipun pahlawan ataupun tokoh protagonis tersebut akan kalah di awal pertarungan, maka sang protagonis akan selalu mendapatkan kekuatan yang entah berasal dari mana dan bisa membalikkan keadaan.
Sehingga pada akhirnya, sang protagonis akan memenangkan pertarungan tersebut dan mengalahkan tokoh antagonis.
Namun saat ini Arya merasa bahwa dirinya bukanlah seseorang yang spesial ataupun seorang pahlawan.
Arya masih bisa merasakan rasa marah, dendam, penyesalan, ketakutan, teror, kebencian dan penyesalan yang ada di dalam ruangan ini.
Ia juga bisa merasakan sedikit sisa serpihan jiwa ataupun roh yang telah hilang.
Semua yang ada di hadapannya membuat Arya merasa terpukul. Apalagi saat ini ia tidak bisa bergerak sama sekali dan hanya bisa terbaring dan menatap langit-langit ruangan yang gelap ini.
Sesekali ia merasa seperti bisa mendengar jeritan dan tangisan dari para jiwa yang telah sirna disini.
Namun lamunannya tersebut terhenti ketika suatu benda menghantam kepalanya.
Arya melihat ujung dari tongkat sihir milik Nenek Tua yang bertanggung jawab atas semua kejadian ini kembali memukul kepalanya.
" Ckckck… Semuanya akan pergi pada waktunya, kenapa kamu masih memikirkannya?"
Ucap Nenek tua itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Lagi pula semua ini adalah salahku dan bukan kesalahanmu. Mengapa harus menyalahkan diri sendiri. "
"Meskipun Kamu datang lebih awal, hasilnya akan tetap sama. Mereka akan menjadi bahan dari ramuanku, dan Kau akan tetap tergeletak tak berdaya seperti ini."
__ADS_1
Nenek tua itu menggunakan ujung tongkatnya untuk mengangkat dagu Arya sehingga mereka berdua bisa saling bertatap mata.
"Untuk seorang manusia, kau terbilang cukup kuat dan memiliki masa depan yang cerah. Jangan bersedih dan tetaplah semangat anak muda."
Nenek itu tersenyum ramah kepada Arya, namun Arya mengetahui bahwa dibalik senyuman ramahnya itu tersimpan hati yang sangatlah gelap.
Bahkan setelah melakukan semua ini, Nenek itu tidak merasa seperti telah melakukan suatu hal yang besar. Ia bahkan masih bisa berbicara dengan santai kepada Arya.
Kekuatan Nenek tua ini terlalu kuat untuk Arya.
Saat ia melewati gerbang dimensi dan menemukan ruangan ini, Arya merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak.
Bahkan seluruh aliran tenaga dalam di tubuhnya terhenti. Arya merasa menjadi manusia biasa yang tidak bisa melakukan apa-apa.
Untungnya tubuh Arya telah terlatih sehingga kekuatan fisiknya masih bisa menahan beberapa pukulan dari tongkat sihir Nenek tua itu.
Meskipun Arya tidak tahu apa yang akan terjadi bila Nenek tua itu berniat untuk melukai dan membunuhnya, namun untuk saat ini sepertinya Nenek tua tersebut belum melakukan hal yang mengancam nyawanya.
"....."
Arya hanya memberikan tatapan mata yang kosong beserta ekspresi wajah yang datar kepada Nenek tua itu.
Namun di dalam hatinya, ia merasa sangat terpukul.
Bahkan ia belum sempat melakukan perlawanan dan hanya bisa pasrah ketika Nenek tua itu melumpuhkannya.
Senjata rahasia yang diberikan dari Sang Ratu Pantai Selatan pun belum sempat ia gunakan karena tubuhnya yang tidak bisa bergerak.
Namun meskipun ia bisa bergerak, ia tidak akan bisa mengaktifkan kristal tersebut tanpa energi spiritual di dalam tubuhnya.
"Hmmm.. Wajahmu.. Aku menyukainya. Kau sangat cocok dan bisa menjadi pelayan pribadiku."
Nenek tua itu menunduk dan mengusap wajah Arya menggunakan ujung tongkatnya.
Arya hanya bisa pasrah ketika menerima perlakuan seperti ini.
Arya sudah mencoba menggunakan kekuatan tubuh dan tenaga dalamnya berkali-kali. Bahkan ia telah mencoba menggunakan luapan perasaannya untuk mendapatkan kekuatan tambahan.
Namun hal tersebut tidak bisa memberikannya kekuatan apapun. Arya tidak bisa menjadi seperti seorang protagonis yang bisa mendapatkan kekuatan secara tiba-tiba dan mengalahkan musuhnya.
__ADS_1
Ia tidak bisa menyelamatkan seseorang yang harus ia selamatkan, dan tidak bisa mengalahkan seseorang yang tidak bisa ia kalahkan..
Arya hanya bisa menatap wajah Nenek tua yang ramah itu dengan tatapan mata yang kosong.