
*Bamm!*
Terdengar suara yang lantang saat Wulan mendarat di lantai sambil membungkuk. Wajah cantiknya terlihat dipenuhi debu, terlihat bercak darah di dahi dan ujung bibirnya.
" Puhh.."
Wulan meludahkan darah yang berasal dari dalam mulutnya. Kemudian dia menatap wajah Arya yang saat ini sudah mengambil kuda kuda dengan ekspresi datar di wajahnya.
" Ayah.. Bolehkah Aku menghajar bocah ini.. "
Wulan berbicara tanpa ekspresi apapun di wajahnya sambil menatap Arya.
" Uh.. Ini hanya latihan tanding.. "
" Kakek, Boleh gak Aku hajar tante tua ini.. "
Arya memotong perkataan Bara dengan nada datarnya yang seperti biasa.
"....."
Bara dan Wisnu saling menatap dan hanya bisa menghela nafas ketika melihat Arya dan Wulan yang terlihat sudah serius ini.
" Ya.. Sesukamu lah.. "
Wisnu menjawab Arya dengan nada yang terdengar terpaksa sambil menundukkan kepalanya. Namun matanya masih terlihat bersinar dan senyumnya tidak dapat terlihat karena posisi wajahnya yang menunduk.
Bara pun melakukan hal yang sama, dia menundukkan wajahnya dan tersenyum puas melihat putrinya itu bersemangat dan terlihat tidak ingin kalah dari Arya.
' Bagus Arya, terkadang pertarungan bisa membuat kedua pihak saling mengerti sama lain dan menjadi dekat. Akhirnya Aku akan memiliki cucu.. '
Pikiran Bara terasa ringan ketika memikirkan putrinya yang sangar itu mungkin bisa melepas status lajangnya. Mengingat semua pria yang ia kenalkan pada Wulan berakhir babak belur ataupun tidak menyukai sifat Wulan yang agresif dan suka bertarung.
" Dengerin Arya, Aku akan bertarung dengan serius. Kamu boleh menyerah sebelum kamu nyesel karena ngelawan Aku yang serius. "
Wulan berbicara kepada Arya dengan pelan. Saat ini mereka berdua berwajah serius, namun tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk mundur.
Awalnya Wulan hanya berniat melakukan rutinitas yang selalu ia lakukan ketika Ayahnya memperkenalkan dia dengan seorang pria.
Namun saat ini Wulan merasa tertantang dengan kemampuan Arya. Wulan merasa bahwa ini juga adalah kesempatan untuk mengukur kemampuan dirinya.
Ayahnya terlalu kuat dan tidak membuat dirinya puas ketika bertarung karena meskipun dia menang, itu hanyalah karena Ayahnya itu tidak ingin melukai dirinya.
"....."
__ADS_1
Melihat Arya yang hanya diam dan tetap mempertahankan kuda kudanya itu, Wulan tersenyum sedikit dan memejamkan matanya.
Aura dan tenaga dalam yang berada di dalam tubuhnya semakin membesar. Kulitnya yang putih bersih tanpa sedikit noda itu memerah secara perlahan.
Arya merasakan kekuatan Wulan semakin membesar. Tubuhnya yang tinggi dan berisi itu masih terlihat lemah secara fisik, namun dia tahu bahwa satu pukulan saja dari Wulan akan sangat berbahaya.
" Hah… "
Arya menghela nafasnya, kemudian dia menggenggam sebuah kalung yang menggantung di lehernya dan melepasnya secara perlahan.
Saat bertarung dengan Iblis yang sebelumnya dia lawan, dia pun telah melepaskan kalung ini sebelum bertarung agar bisa bertarung dengan maksimal sejak awal.
Tubuhnya yang mulai terasa lemah itu kembali segar bugar. Arya memejamkan matanya dan merasakan seluruh tubuhnya dipenuhi kekuatan.
Kalung itu memiliki fungsi untuk menahan dan memalsukan kekuatannya agar tidak bisa terdeteksi orang lain.
Kalung itu pula merupakan segel yang akan menahan kekuatannya, karena Kakek tidak ingin bila ada pihak lain yang tahu dengan kekuatan Arya yang sebenarnya.
Sudah terjadi banyak kejadian pahit menimpa seseorang yang memperlihatkan kekuatannya di usia muda. Pihak musuh akan melakukan segala cara untuk membunuh seseorang yang memiliki bakat yang baik agar musuhnya tidak semakin kuat.
Wisnu khawatir bila kemampuan Arya yang bisa dibilang kuat dan masih muda itu diketahui oleh musuhnya, maka musuhnya akan melukai Arya sebelum Arya berkembang lebih jauh.
" Hah.. "
" Wah seru ini, bentar Kek Aku ambil snack. "
Maja terlihat senang melihat suasana di ruangan yang semakin panas ini. Kemudian dia bergegas dan berlari sekuat tenaga untuk menyediakan snack dan jamuan untuk dirinya dan penonton yang lain…
Bara mengeluarkan sesuatu dari kantong kecil yang menggantung di celananya. Sesuatu yang dia genggam itu terlihat dipenuhi oleh energi, terlihat sedikit asap yang keluar dari benda itu.
" Jantung Buaya Merapi.. Mengapa kau mengeluarkan sesuatu yang berharga seperti itu, mencurigakan.. Aku tidak akan menjual Arya dengan harga semurah ini.. "
Bibir Bara berkedut kedut ketika mendengar kata kata yang keluar dari mulut Wisnu.
" Untuk makan malam nanti... "
Bara hanya ingin berterima kasih dengan memberikan sesuatu yang berharga untuk bahan makan malam nanti. Karena mereka memang berencana untuk melakukan makan malam bersama kelak.
" Hah.. Jantung ini hanya sebesar telapak tangan, kau ingin Aku mencampurnya dengan raskin dan membuat bubur jantung untuk kita makan? "
Wisnu menggelengkan kepalanya dan menerima jantung itu dengan wajah yang terpaksa.
Bara menggertakan giginya dan berusaha sekuat mungkin menahan alisnya yang berkedut kedut. Kemudian dia mengambil sesuatu dari kantongnya dengan tangan yang bergetar.
__ADS_1
" Satu ekor Elang Malam.. Aku akan memukulmu bila kau masih rewel.. "
Bara menggenggam kaki seekor Elang yang berukuran sebesar manusia dewasa dengan tangan yang bergetar. Wajahnya menghadap ke arah arena pertarungan dengan mata yang penuh penderitaan, dan wajahnya terlihat lebih tua dari biasanya.
" Haha.. Kau memang yang terbaik Bara. Aku akan menerima ini karena kau telah memaksaku. Bangsa kalian memiliki porsi makan yang besar dan tidak akan cukup dengan hanya satu jantung yang mungil itu, haha… "
Wisnu menerima Elang yang sudah tak bernyawa namun masih terlihat segar itu sambil tertawa. Kemudian Wisnu memasukkannya kedalam kantong kecil dan Elang yang besar itu pun bisa masuk ke dalam kantong kecil itu secara ajaib.
Mereka berdua berinteraksi dan mengacuhkan arena yang sudah dipenuhi oleh api.
Sebelumnya teknik api yang dilakukan oleh Wulan hanya membakar tubuh Arya saja. Namun saat ini seluruh arena itu dipenuhi oleh api dan menutupi apa yang terjadi di dalam arena tersebut.
" Kekuatan Api yang lumayan.. "
Wisnu menganggukkan kepalanya, Bara pun ikut menganggukkan kepalanya dan berusaha memfokuskan pikirannya kepada pertandingan antara Wulan dan Arya agar dia bisa melupakan Elang Malam yang telah dia berikan kepada Wisnu..
Untung saja Wisnu sudah memperkuat formasi yang berada di arena itu sehingga apapun yang mereka lakukan tidak akan menembus formasi yang berada di arena dan ruangan ini.
Tiba tiba seluruh arena itu dipenuhi oleh air, mereka bisa melihat Arya yang sedang melakukan gerakan tangan tertentu dan Wulan yang sedang berada di dalam pusaran air yang kuat.
Kemudian Arya merapatkan kedua tangannya dan air yang menjebak Wulan itu membeku dalam sekejap.
Arya menggertakan giginya dan mencoba mempertahankan postur tangannya, namun pusaran air yang membeku dan menjebak Wulan itu meleleh dan Wulan melompat ke arah Arya dengan cepat dan melepaskan tinjunya yang sangat kuat.
Seluruh tubuh Wulan dipenuhi oleh asap, dan balok es yang sebelumnya menjebak tubuh Wulan menguap dengan cepat.
" Ughh.. "
Arya merasakan sesuatu yang kuat menghantam perutnya, kemudian dia bergerak dengan cepat dan tangannya mencekik Wulan yang sudah berada di hadapannya.
Tubuh Arya terbang karena tinjuan dari Wulan itu, namun tubuh Wulan pun ikut terbawa bersama Arya karena cekikan di lehernya.
Mereka berdua saling bertatap muka dan menggunakan tangan mereka yang bebas untuk saling memukul.
Setiap pukulan mereka menghasilkan suara yang bergemuruh. Mereka berdua saling menyerang dengan gerakan yang cepat sekali.
*Bam bam bam*
*Kriuk.. kriuk.. kriuk..*
*Bam bam bam*
*Kriuk.. kriuk.. kriuk..*
__ADS_1
Hanya suara dari serangan mereka berdua dan suara keripik kentang yang dikunyah oleh Maja, Wisnu, dan Bara saja yang terdengar di ruangan ini.