
" Hah.. Hah.. Kakek..! "
Aku berteriak sambil menangis ketika Aku melihat bangunan batu yang seperti kastil kecil. Kemudian Aku mendengar suara pintu yang terbuka, dan Kakek pun berlari ke arah kami dengan wajah yang panik.
" …. "
Kakek mengerutkan dahinya dan tubuh Arya pun melayang pergi dari pelukanku. Tubuh Arya melayang di depan Kakek dengan posisi terbaring, Aku pun baru menyadari bahwa tidak ada darah yang keluar dari bekas luka anak panah yang menembus tubuh Arya tersebut.
" Panah penghapus jiwa? Haha… Kalian benar benar belum musnah. "
Kemudian Kakek berjalan mondar mandir sambil bergumam, tangannya terlihat bergetar dan nafasnya terlihat memburu. Wajahnya memerah, sepertinya Kakek terlihat marah sekali dengan apa yang terjadi.
" Kakek.. Tolongin Arya.. "
Aku berbicara ditengah tangisanku, Aku berharap Kakek bisa menyelamatkan Arya.
" Aku… "
Kakek mencoba berbicara, namun tidak ada kata kata lagi yang keluar dari dalam mulutnya yang sudah terbuka lebar itu.
" Tenangkan dirimu Wisnu. "
Aku melihat Nenek yang berjalan ke arah kami, namun nada bicaranya yang datar sangat berbeda dengan sorot matanya yang terlihat sangat menyeramkan dan membuat seluruh tubuhku bergetar.
Kemudian Kakek menarik nafasnya dalam dalam sambil menutup matanya, dan tubuhnya yang gemetar itu pun kembali tenang.
" Sepertinya kelompok itu masih tetap ada dan telah menerima tugas untuk membunuh Arya. Mereka tetap melakukan tugas mereka dengan cepat dan tidak meninggalkan jejak, Bob berkata bahwa pemanah itu langsung pergi dan tidak bisa dia deteksi sama sekali. "
Kakek berbicara dengan pelan sambil menatap tubuh Arya yang saat ini berada ditengah tengah kami.
__ADS_1
Mata Arya tertutup dan terlihat tenang seperti orang yang sedang tidur, namun dadanya tidak naik turun seperti orang yang sedang bernafas.
Aku tidak percaya hal seperti ini bisa terjadi, kami hanya bermaksud untuk mengambil barang barang pribadiku saja. Mengapa kami harus mengalami semua ini..
" Hik… Maaf Kek,Nek. Ini salah Aku, gara gara Arya nganter Aku, dia jadi kayak gini.. "
Aku menangis dan meminta maaf kepada Kakek dan Nenek. Mungkin semua ini tidak akan terjadi bila Arya tidak pergi mengantarku, Aku sangat menyesal sekali.
" Hah.. Bukan salahmu. Mereka sepertinya sudah menargetkan anggota keluarga kami, jadi mereka akan tetap melakukan penyerangan meskipun Arya tidak mengantar kamu Mel. "
Nenek menggelengkan kepalanya dan mengelus kepalaku. Kemudian tangisanku kembali pecah saat Nenek memelukku, meskipun Nenek berkata demikian, Aku tetap merasa bersalah atas kejadian ini.
" Fak, Arya! "
Aku mendengar suara Maja, dan dia pun tiba tiba berada didekat kami. Maja mengelilingi tubuh Arya seperti ingin memeriksa seluruh bagian tubuhnya.
" Sialan! "
" Raaawwrr! "
Maja mengaum sambil menghadap langit dan suaranya bergemuruh, untung saja Nenek menutup telingaku sehingga suara yang seperti menusuk telingaku itu menghilang.
" Hentikan Maja, tidak ada gunanya mengamuk, kita tidak tahu dimana lokasi musuh kita. Bahkan Aku baru tahu bahwa kelompok mereka masih ada sampai sekarang. "
Nenek berbicara dengan nada yang masam kepada Maja yang terlihat marah itu.
" Gak peduli, gua cari sampai ketemu! "
Maja yang terlihat menakutkan itu menatap Nenek dengan mata yang menyeramkan, ekspresinya sangatlah buas, tidak seperti Maja yang kutahu selalu terlihat malas.
__ADS_1
Kemudian Kakek dan Nenek berusaha menenangkan Maja, suasana yang penuh dengan kericuhan ini semakin membuatku susah bernafas.
Aku hanya bisa memeluk tubuh Nenek yang hangat semakin erat. Aku pun melihat seorang pria tua yang memakai pakaian jubah hitam mengawasi kami dari depan pintu kastil. Sepertinya dia adalah Jin yang Arya sebut sebagai penjaga sel tahanan disini.
Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, namun dia hanya terdiam dan mengawasi kami dari kejauhan saja. Namun kehadirannya saja sudah membuktikan bahwa dia sepertinya peduli kepada Arya.
Aku sangat merasa lelah, lemas, dan kesulitan bernafas. Suara mereka yang sedang berbicara itu semakin keras dan suasana disini semakin memanas dan membuatku semakin tidak nyaman.
Aku tidak tahu berapa banyak air mata yang telah keluar dari mataku ini, baru kali ini Aku merasa menangis sebanyak ini. Apalagi harapan untuk menyelamatkan Arya semakin jauh dari pikiranku, karena Kakek, Nenek, dan Maja tidak mencoba untuk melakukan apa apa untuk menolong Arya.
Apakah Arya akan mati.. Mataku terbuka lebar ketika berpikiran seperti itu. Hal itu tidak mungkin terjadi.. Kami baru saja bertemu.. Apakah pertemuan singkat ini akan berakhir seperti ini..
Siapa saja.. tolonglah Arya, Aku tidak ingin dia mati seperti ini.. Tangisanku semakin mengeras ketika Aku terjun dalam lamunanku yang menakutkan ini.
" Hah.. Bisa gak jangan berisik.. "
Suara hela nafas dan disertai nada yang datar itu membuat semua suara lainnya terhenti. Aku tidak pernah merasa sesenang ini ketika mendengar suara orang lain.
" Arya.. "
Kami semua menoleh kepada Arya yang saat ini sudah membuka matanya. Namun tubuhnya masih melayang dan terlihat lemas, anak panah yang bersarang di tubuhnya itu pun masih ada disana.
Namun Aku melihat Arya membuka matanya yang terlihat lelah itu, nafasnya pun terlihat lemas sekali.
" Arya! "
Aku melepas pelukanku dari tubuh Nenek dan berjalan menuju tubuh Arya dengan tergesa gesa.
" Eee.. Jangan deket deket… "
__ADS_1
Suara Arya yang pelan dan lemas itu membuat tubuhku yang akan memeluk Arya berhenti secara tiba tiba.