
Hari ini adalah hari yang mungkin tidak akan pernah bisa Aku lupakan dalam hidupku. Aku tidak menyangka akan bisa bertemu dengan Arya, Maja, dan Kakek.
Apalagi saat ini Aku telah setuju untuk bekerja di tempat ini, Aku yang selama ini berusaha menghindari sesuatu yang menurutku menyeramkan ini harus berinteraksi dengan Jin yang selalu membuatku takut sejak kecil.
Namun melihat keakraban Arya dan Maja, serta suasana hangat di dalam rumah ini telah mengubah pandanganku tentang mereka.
Aku menatap Arya yang saat ini masih mengacuhkan candaan yang Maja katakan kepadanya. Terkadang Arya memutar bola matanya mendengar hal konyol yang Maja katakan.
Aku sepertinya mengerti bahwa Arya adalah orang yang tidak banyak berekspresi, namun terkadang Aku merasa bahwa dia merasa sangat senang dan nyaman dengan candaan yang Maja dan Kakek berikan padanya.
Mungkin setiap orang memang memiliki caranya tersendiri dalam berkomunikasi. Secara tidak sadar, Aku pun tersenyum melihat mereka berdua yang saat ini berada di hadapanku.
Arya duduk bersebrangan denganku di meja makan ini. Sedangkan Maja duduk disebelahnya dan menyandarkan kepalanya diatas meja sambil mengobrol dengan Arya.
" Udah Kubilang Ya, Top-up in lah. Aku mau beli skin baru nih. Hargai hak asasi Jin, dan naikan gaji pegawai Jin disini. "
Maja merengek dengan nada malasnya kepada Arya.
" Kalau buat kepentingan lain pasti Aku kasih Ja. Masa uang jajanmu dipakai game terus. "
Arya menatap Maja sambil memijat dahinya. Sepertinya ini bukan pertama kalinya mereka melakukan percakapan ini.
" Kan boring lah, gak ada lawan berantem juga. Makanya main game, haha.. "
Maja sepertinya merasa sedikit malu dan memberikan alasannya bermain game.
" Hah… Nanti ku transfer.. "
Sepertinya Arya menyerah dengan permintaan Maja itu sambil menghela napasnya.
" Hahahaha.. Kamu memang anak baik Ya, tenang nanti Aku bantu kamu cari cewek yang banyak! "
Maja sangat senang dan tertawa terbahak bahak, namun kenapa dia harus membantu Arya mendapatkan wanita yang banyak!
Aku yakin bahwa Aku sendiri sudah cukup untuk Arya. Meskipun Aku tidak lagi muda dan lebih tua darinya, Aku adalah seorang wanita yang mandiri!.
Aku akan memperhatikan Arya, memanjakannya setiap hari dan kami pun akan….
" Eee.. ini.. "
Hah.. hah.. Senyum dan lamunanku terhenti ketika Maja dan Arya menatapku dengan ekspresi yang datar, membuatku sedikit terkejut dengan apa yang terjadi.
Kemudian Aku melihat tisu yang Arya simpan di depanku. Kemudian Arya mengusap bibir dan dagunya, Aku pun meniru gerakannya secara tidak sadar.
Sial… Mengapa hal ini harus terjadi.. Tanganku terasa basah ketika menyentuh ujung bibirku. Aku langsung mengambil tisu dan mengelap ujung bibirku yang sedikit basah.
" Kami.. tidak melihat apa apa.. "
Maja berkata dengan sedikit canggung dan menundukan pandangannya ke meja makan.
__ADS_1
" Gak usah malu Mel, Aku juga kayak gitu waktu Kakek masak. Aromanya emang bisa buat kita lapar dan keluar air liur. Maja juga sama kok. "
Hah.. Arya arya.. kenapa harus nyerang Aku terus kayak gitu..
" Uh.. Masakannya udah beres. "
Aku menoleh kearah Kakek yang berdiri di dekat meja kami. Mulutku terbuka lebar melihat piring piring yang melayang di sekitarnya.
Masih terlihat sedikit asap yang berada di atas hidangan hidangan itu, dan aromanya membuatku harus menelan ludahku sendiri.
Ah.. Sepertinya mereka tidak berbohong mengenai hidangan yang mereka bicarakan ini.
Tanganku bergetar ketika memotong daging steak ini, teksturnya sangat lembut seperti puding.
Ketika Aku mengunyahnya, mulutku seakan dipenuhi ledakan rasa yang nikmat. Aku tidak punya kata yang tepat untuk mendeskripsikan rasa yang benar benar lezat ini.
Seluruh tubuhku terasa dipenuhi energi ketika daging ini masuk ke dalam perutku.
" Mmmh… "
Aku bergumam dan memejamkan mataku ketika merasakan tubuhku semakin dipenuhi energi.
" Hah… Sayang sekali energi itu tidak dapat diserap semuanya.. "
Maja menggelengkan kepalanya sambil menatap Aku. Aku pun mulai membukakan mataku dan melihat Arya, Maja, dan Kakek menatapku dengan seksama.
Memakan makanan lezat ditemani seorang pria yang tampan seperti Arya membuat saat ini semakin berharga. Aku merasa sangat bersyukur bisa berada ditempat ini, Aku bersyukur memiliki kemampuan ini dan bisa bertemu dengan mereka.
Setelah Aku menghabiskan steak ini, Aku melihat Arya dan Maja yang sedang menutup mata mereka dan terlihat sedang berkonsentrasi.
Aku pun mengikuti mereka dan memejamkan mataku, barulah Aku sadar bahwa tubuhku yang dipenuhi energi ini terasa mengeluarkan sesuatu.
Mungkin ini yang dimaksud Maja bahwa Aku tidak menyerap semua makanan ini. Aku tahu bahwa makanan ini dipenuhi apa yang disebut energi spiritual. Namun untuk orang awam sepertiku, makanan seperti ini terlalu mewah dan berharga.
Saat Aku membuka mataku, Aku terkejut melihat lingkaran hitam yang tiba tiba berada di dekat meja.
Arya dan Maja pun membuka mata mereka, ekspresi wajah mereka terlihat sangat aneh. Arya menggerak gerakkan mulutnya, Maja pun melakukan hal yang sama dengan wajah harimaunya itu.
Kakek tetap tersenyum, namun Aku bisa melihat tangannya yang sedang memegang gelas itu sedikit bergetar.
Lingkaran hitam itu berputar dan semakin membesar sampai Aku bisa melihat tangan yang keluar dari dalam lingkaran hitam itu.
Tangan itu terlihat seperti milik seorang wanita, kulitnya sangat putih bersih dan bahkan Aku yang merasa kagum melihatnya.
Kemudian dari dalam lubang hitam itu keluar tangan lainnya dan kedua tangan itu terlihat seperti ingin memperbesar lubang hitam ini.
Tak lama kemudian, lubang itu menjadi semakin besar dan dari bagian bawah, munculah kaki yang melangkah keluar.
" Hai.. "
__ADS_1
Ah.. Siapakah wanita itu, saat ini berdiri seorang wanita yang sangat cantik sekali. Wanita itu berambut panjang dan memiliki bentuk tubuh yang seperti model.
Wanita itu terlihat dewasa dan sangat berkarisma sekali, dia memakai baju rajut berwarna coklat dan rok rempel panjang yang berwarna putih.
Hidungnya mancung dan matanya seakan bersinar sinar dan membuat orang yang menatapnya akan terpesona.
Ah.. Aku merasa benar benar dikalahkan sebagai seorang wanita, baru kali ini Aku merasakan kekalahan telak seperti ini.
Apakah wanita itu adalah seseorang yang dekat dengan Arya? Aku mulai merasa terancam dan gelisah. Karena Aku tidak akan menang bila harus bersaing dengan wanita itu.
Dan.. Oh tidak.. senyumannya sangatlah manis. Sial.. bahkan Aku sebagai seorang wanita pun merasa bahwa wanita itu benar benar cantik sekali.
" Sepertinya makan malamnya sudah selesai. Kenapa kalian tidak mengajakku… "
Wanita itu berkata dan memasang wajah yang memelas. Bahkan Aku pun merasa bersalah ketika wanita itu berkata seperti itu.
" Uh… Sayang.. Aku gak tau kamu mau pulang.. "
Kakek menjawab wanita itu dengan nada yang bergetar, namun.. Aku merasa ada yang aneh, mengapa Kakek memanggil wanita itu dengan sayang, wanita itu terlihat berumur tidak lebih dari 30 tahun.
" Maaf kami tidak tahu Nenek akan pulang. "
Arya dan Maja menjawab wanita itu secara bersamaan. Wajah mereka berdua penuh dengan senyuman, bahkan Aku bisa melihat wajah harimau milik Maja terlihat penuh dengan ekspresi kebaikan…
" Ah.. Tidak apa apa Arya, Maja. Kalian tidak perlu seperti itu. Sayang, Aku pulang dengan tiba tiba dan belum makan sama sekali… "
Wanita itu memasang wajah yang memelas dan menatap Kakek.
" Haha.. Tenang saja Sayang, Aku akan memasak lagi sekarang… Tolong tunggu sebentar. "
Kakek kemudian pergi bergegas ke dapur untuk memasak dan wanita itu pun duduk di meja makan sambil menatapku.
" Jadi kamu yang akan bekerja dan tinggal disini?"
Wanita itu tersenyum kepadaku dan menatapku dengan tenang.
" Ah… iya Kak.. Perkenalkan Saya Amelia."
" Hehe.. Tidak usah gugup seperti itu. Kau bisa memanggilku Nenek. Meskipun Aku terlihat seperti ini, Aku sudah sangat tua. "
Nenek tersenyum dan Aku merasa bahwa dia senang karena Aku memanggilnya Kakak. Ah.. Aku tidak bisa percaya bahwa wanita secantik ini adalah istri Kakek, bukan maksudku Kakek tidak berhak atas nenek.
Namun nenek terlihat sangat muda sekali bila dibandingkan dengan Kakek.
" Maafkan Aku cantik, namun bisakah kau menatap mataku sebentar? "
Huh?.. Aku pun mengikuti perkataan Nenek dan mulai menatap mata indahnya itu.
Aku melihat pantulan diriku sendiri didalam bola mata itu, semuanya mulai menggelap dan Aku pun kehilangan kesadaranku.
__ADS_1