
" Kalian kenapa? "
Mei mengerutkan dahinya dan melihat dua pasiennya yang sedang berbaring. Arya terlihat sedang tidur nyenyak, sedangkan Satrio sedang menatap langit langit dengan mata yang kosong.
Maja yang sedang tertidur membuka satu matanya dan menatap Mei, namun Maja kembali menutup matanya dan tertidur kembali.
" ….. "
Satrio yang mendengar suara Mei langsung mencoba untuk bangun dan bermaksud menyapa Mei, namun saat dia membuka mulutnya, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari dalam mulutnya.
" Hah.. Kamu kasih dia apa Maja? "
Mei menggelengkan kepalanya dan sudah bisa membayangkan apa yang terjadi disini. Mengingat sifat Satrio yang tidak bisa diam dan sering bertanya hal hal aneh, Mei mengetahui bahwa kali ini Satrio sudah menggali kuburannya sendiri.
" Ayolah Mei, kenapa nyalahin Aku? bisa saja Arya kan? "
Maja menjawab dengan nada yang malas, namun kedua matanya masih tertutup.
" Mana mungkin Arya gitu lah. "
Mei memutar bola matanya ketika mendengar jawaban dari Maja. Lagi pula Mei sudah mengetahui dari Satrio yang tidak bisa berbicara, bahwa Maja memberikannya salah satu pil aneh yang menyebabkan Satrio tidak bisa berbicara.
Pil pil aneh tersebut adalah buatan dirinya sendiri dan tentu saja Mei pun memiliki penawarnya, namun mengingat sifat Satrio kembali, Mei hanya bisa membiarkan keadaan ini sampai Arya dan Maja selesai beristirahat.
" Itu gak permanen kok, nanti juga ilang efeknya. Kalian istirahat sana. "
Mei mengacuhkan Satrio yang terlihat kecewa, kemudian dia membalikkan badannya dan meninggalkan ruangan ini.
Mei merasa apa yang dilakukan oleh Maja wajar saja karena Satrio memang terkadang terlalu berlebihan dalam perkataannya. Terkadang Mei pun ingin melakukan hal yang sama seperti yang Maja lakukan, namun karena dia adalah seorang wanita dan cukup dekat dengan Mbah Bondo, maka dia merasa tidak bisa bertindak keras seperti Maja.
" Mereka baik baik aja Mei? "
Amel bertanya kepada Mei yang sudah kembali dari ruang perawatan. Amel bertugas untuk membantu Mei menyiapkan makanan yang mengandung tanaman herbal yang berasal dari alam gaib.
Makanan penyembuh ini bisa membantu proses penyembuhan dan merupakan keahlian yang dimiliki Mei. Mei menekuni teknik pembuatan pil dan masakan penyembuh, karena sejak kecil dia senang melihat Wisnu memasak.
__ADS_1
" Mereka baik baik aja kok Mel. Yuk kita masak lagi, biar Aku ajarin cara caranya. Aku bukan petarung kayak mereka, kemampuan Aku biasa aja. Tapi kalau masalah penyembuhan, Aku ahlinya. "
Mei tersenyum dan berniat mengajarkan Amel, Mei merasa senang oleh kehadiran Amel. Karena dia ingin mengajarkan banyak hal tentang pengetahuannya kepada Amel.
" Iya Mei, makasih. Aku juga pengen punya keahlian biar bisa bantu bantu disini.
Amel tersenyum senang dan bisa membayangkan Arya yang akan selalu tersenyum ketika memakan masakannya.
***
Bara mengamati daerah di sekitarnya dan melihat tubuh Iblis yang berserakan disekelilingnya. Dia tidak mengetahui sudah berapa Iblis yang dia bunuh, dan dia hanya menghancurkan tubuh mereka saja tanpa membunuh jiwa mereka.
Mereka berjumlah terlalu banyak dan membuat Bara sedikit malas untuk membunuh jiwa mereka semua. Lagi pula terdapat beberapa Iblis yang cukup kuat diantara mereka, kekuatan yang mereka tunjukan hampir menyamai Iblis sejati.
" Hah.. Sejak kapan banyak Iblis yang cukup kuat seperti ini berkeliaran di dunia manusia.. "
Bara bergumam dan sedikit khawatir, biasanya hanya Iblis yang lemah saja yang berkeliaran di luar alam Iblis. Namun pertarungan ini menyadarkannya bahwa bangsa Iblis memiliki Iblis yang cukup kuat di luar alamnya itu.
Bara khawatir bahwa jumlah Iblis yang kuat itu merupakan salah satu rencana Iblis yang berbahaya.
Sejak dahulu kala, Iblis dan manusia selalu bermusuhan. Bangsa Jin bersifat netral karena memang sabagian dari mereka mendukung manusia, dan ada pula yang mendukung Iblis.
*Duar*
Bara mendengar suara ledakan yang berasal dari kejauhan. Dari gelombang energi yang bisa dia rasakan, dia tahu bahwa energi ini berasal dari Wisnu yang sedang bertarung dengan Iblis sejati.
Bara mengangkat tangannya dan dalam seketika seluruh tubuh Iblis yang berserakan ini diselimuti oleh api dan terbakar.
" Semoga kau baik baik saja… "
Bara pun langsung berlari ke arah dimana suara itu berasal untuk membantu Wisnu.
***
Bara menghentikan langkah kakinya, karena bila dia melangkah satu langkah lagi, maka dia akan menginjak tanah yang sudah menjadi seperti lava.
__ADS_1
Bara melihat banyak reruntuhan yang tenggelam di antara lautan lava ini. Lautan lava itu membentuk lingkaran dan di tengah tengah lingkaran tersebut terlihat Wisnu.
Wisnu membungkukkan badannya dan bertumpu pada pedang besarnya yang menancap di dalam tanah. Nafas Wisnu tersengal sengal dan seluruh tubuhnya dipenuhi oleh luka.
Tangan kanan Wisnu bertumpu pada pedang besarnya, sedangkan lengan kirinya terlihat patah dan akan terlepas dari bahunya.
Seluruh tubuhnya dipenuhi luka bakar, dan kadang terlihat menyala nyala. Wisnu merapatkan giginya dan menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Tidak jauh dari tempat Wisnu, terlihat tubuh Iblis sejati yang tergeletak dan sudah tidak bernyawa. Namun dalam wajahnya masih terlihat sebuah senyuman. Seakan akan Iblis itu senang karena telah berhasil melakukan sesuatu meskipun harus mati ditangan Wisnu.
" Iblis menjijikan… "
Wisnu berkata sambil menatap tubuh Iblis itu, matanya masih terlihat tajam dan dipenuhi semangat bertarung. Namun kini Iblis itu sudah mati dan meninggalkan racun yang terus membakar tubuhnya dari dalam.
Seluruh tubuh Wisnu terasa terbakar bakar yang membuat Wisnu mengerutkan dahinya. Bahkan dengan tubuhnya yang kuat, Wisnu merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa.
Wisnu mencoba menggunakan aliran tenaga dalamnya untuk mengusir racun yang berada di seluruh tubuhnya, namun tenaga dalam yang berpusat di dekat perutnya itu tidak bisa keluar dan tertahan oleh racun yang terus membakar seluruh tubuhnya.
Wisnu bisa merasakan bahwa lama kelamaan racun ini akan membuatnya tidak bisa menggunakan tenaga dalam dan hanya bisa mengandalkan kekuatan fisiknya saja.
" Kau baik baik saja Wisnu? "
Bara melewati lautan lava dan menghampiri Wisnu sambil menepuk pundaknya, namun Bara langsung menarik tangannya karena dia merasa tangannya terbakar ketika menyentuh Wisnu.
" Tubuhmu… "
Bara terkejut dan menatap telapak tangannya yang masih merasakan panas. Bara memiliki fisik yang kuat, namun dia masih bisa merasakan rasa panas yang luar biasa.
Bara bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh Wisnu pasti lebih menyakitkan. Apalagi Bara tidak bisa merasakan energi tenaga dalam dari tubuh Wisnu.
" Ayo pulang… "
Wisnu mencoba berdiri dan mengacuhkan rasa terbakar yang luar biasa itu. Wajahnya sangat tenang, seakan akan tubuhnya baik baik saja.
" Baik… "
__ADS_1
Bara menggelengkan kepalanya dan mengikuti Wisnu untuk meninggalkan tempat ini.
Sisa sisa energi dari pertarungan antara Wisnu dan Iblis sejati itu sangat kuat, bahkan lautan lava ini sudah dipastikan tidak akan hilang dan akan menjadi tanda pertarungan yang telah terjadi di alam astral ini.