Kantor Urusan Gaib

Kantor Urusan Gaib
KUG 54 Interogasi


__ADS_3

" Gak usah repot-repot Pak. Lebih baik Saya liat kondisi pasiennya dulu biar tenang. "


Arya menolak tawaran dari Roni. Dia ingin melihat kondisi pasien terlebih dahulu agar dia bisa mengetahui apa yang harus dia lakukan dan menyelesaikannya dengan secepat mungkin.


" Makasih Pak Arya.. "


Roni tersenyum dan merasa senang karena Arya lebih mementingkan kondisi anaknya daripada harus menerima jamuan terlebih dahulu.


Arya pun berjalan mengikuti Roni, mereka berdua menaiki tangga ke lantai 2 menuju kamar anak dari Roni.


*Sreeek sreeeeek*


Arya melihat kondisi di dalam rumah ini dari sudut matanya. Namun anehnya, dia tidak menemukan makhluk gaib lainnya selain wanita yang ia temui saat masuk rumah ini.


*Sreeeek sreeeeek*


Wanita itu masih mengikuti Arya dan terlihat senang dengan keberadaan Arya. Wajahnya mendekati Arya dan ia menghirup aroma tubuh serta mencoba menghisap aura spesial yang dimiliki oleh manusia.


*Sreeeek sreeek*


Terdengar suara rantai yang terseret seiring Arya dan Roni berjalan, namun tentu saja hanya Arya yang bisa mendengar suara tersebut. 


Wanita berwujud menyeramkan itu terlihat dirantai di kedua tangan dan kakinya, sehingga ketika ia berjalan akan terdengar suara rantai yang terseret.


Arya menghiraukan wanita itu dan tetap berjalan mengikuti Roni dengan sikap yang biasa saja. 


" Ini anak Saya Pak Arya.. Namanya Nisa."


Arya melihat seorang wanita muda yang terlihat berumur kurang lebih 20 tahun sedang terbaring dilengkapi alat bantu medis lainnya.


Arya berjalan mendekati Nisa dan mengamatinya dengan wajah yang serius. Roni pun berwajah gelisah ketika melihat Arya memperhatikan Nisa sambil mengerutkan dahinya.


" Hah.. "


Arya menghela nafas saat melihat raga dari Nisa kosong tanpa adanya roh di dalam tubuhnya tersebut. Arya memijat dahinya dan merasa bahwa hal ini tidak akan selesai dengan cepat.


" Gimana Pak Arya? "


Roni semakin khawatir ketika melihat gerak gerik dari Arya. Namun Arya hanya memandangi seorang wanita lain yang berada di ruangan ini sambil menangis.


" Dia istri Saya Pak Arya. "


" Tolong anak Saya Dek.. "


Kemudian Roni memperkenalkan Istrinya meskipun Istrinya hanya menganggukkan kepalanya saja sambil memohon kepada Arya untuk menolong Nisa.


" Bapak sama Ibu jangan kaget ya, Saya mau tanya sama yang ada disini. Kalau gak mau lihat, balik badan aja. "

__ADS_1


Ucap Arya dengan serius sambil menatap Roni dan Istrinya.


"... Iya.. Saya gak bakal taak… "


Suara Roni terhenti ketika melihat sosok yang tiba-tiba muncul. seluruh badannya bergetar mengamati lidah yang menjulur sampai ke lantai.


"Aaaaa!!! "


Istri Roni berteriak ketakutan sambil memeluk Roni. Mereka berdua membalikkan wajahnya sambil menunduk.


" Sekarang yang ada disini bisa lihat kamu. Apa kamu tahu apa yang terjadi sama anak ini? "


Arya bertanya dengan ekspresi yang datar sambil menatap wanita itu.


Wanita yang wajahnya berdekatan dengan Arya itu membeku sejenak ketika menyadari bahwa Arya menatap matanya secara langsung.


Biasanya praktisi natural yang datang kesini hanya bisa merasakan keberadaan dirinya saja, bahkan kebanyakan dari mereka tidak bisa mengetahui dengan jelas akan kehadiran dirinya.


Namun saat ini Arya berbicara langsung dan bertatap muka dengan dirinya, seakan-akan Arya bisa melihat dirinya dengan sangat jelas.


" Kamu bisa lihat Saya? "


Wanita itu berbicara dengan tergagap gagap, kemudian ia memasukan lidahnya yang menjulur sampai ke lantai dengan cepat setelah Arya menganggukkan kepalanya.


" Aaaaa!"


Roni dan istrinya yang mendengar suara teriakan itu pun terkejut dan menoleh ke arah Arya. 


" Uh.. Aku gak ngapa-ngapain.. "


Arya memutar bola matanya dan merasa canggung dengan apa yang terjadi. Mengapa semua ini terlihat begitu aneh dan tidak pantas, dia benar-benar tidak melakukan apapun selain bertanya kepada wanita itu.


Bahkan dia belum mengeluarkan tenaga dalam ataupun teknik lainnya. Namun wanita itu menjerit dengan penuh rasa takut, bahkan sampai saat ini tubuhnya bergetar dengan sangat hebat layaknya seorang mangsa yang bertemu predatornya di alam liar.


***


" Uh.. Maaf Aku gak ada niatan nakutin kamu.. "


Arya berbicara dengan nada yang pelan. ia menatap Jin wanita yang sedang membelakanginya. Wanita tersebut terlihat duduk di lantai dan memeluk lututnya, wajahnya terbenam di antara lututnya yang terbalut pakaian yang kusam.


" Mmm. "


Wanita itu menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Namun tubuhnya masih gemetaran dan ia terlihat takut dengan Arya, bahkan wanita itu tidak berani menatap Roni dan istrinya yang saat ini mengamati kejadian ini dengan wajah yang penuh kebingungan.


" Kamu gak usah takut, Saya cuma mau kasih beberapa pertanyaan sama kamu. Bisa jawab? "


Arya mencoba berbicara dengan nada yang pelan dan lembut agar Jin wanita itu tidak ketakutan lagi.

__ADS_1


" Aku malu.. Aku jelek.. "


Jin wanita itu bergumam dengan pelan, kemudian ia mencoba membenamkan wajahnya lagi lebih dalam, seolah-olah tidak ingin siapapun melihat penampilannya.


"....."


Bibir Arya berkedut-kedut saat mendengar jawaban dari wanita itu. Baru kali ini ia mendengar Jin yang malu akan penampilannya, namun ia memang sedikit heran dengan Jin wanita ini.


Biasanya seorang Jin hanya akan menunjukan wujud seperti ini untuk menakuti manusia. Tentu saja semuanya hanyalah teknik ilusi tingkat rendah yang ia bisa lihat dengan sekejap, namun berapa kalipun Arya mencoba untuk menggunakan matanya, wujud wanita ini tetaplah seperti ini.


Apalagi penampilannya yang dirantai membuatnya mencurigai sesuatu. Meskipun tubuhnya dipenuhi aura negatif dan terlihat menyeramkan, namun Arya tidak yakin bahwa Jin wanita ini lah yang telah menjadikan Nisa seperti ini.


" Jadi ini bukan perbuatan kamu kan? "


Ucap Arya sambil mencoba memasang senyum profesionalnya. Jin wanita itu pun menganggukkan kepalanya dengan cepat layaknya seekor ayam yang sedang makan.


" Apa kamu tau siapa yang ambil roh dia? ".


Arya berbicara dengan wajah yang serius, seluruh tubuhnya pun dipenuhi tenaga dalam, suaranya bergema dan dipenuhi intimidasi.


Semua ini adalah cara yang selalu Wisnu ataupun Li Fei lakukan ketika melakukan interogasi kepada makhluk ghaib.


Seluruh suasana di ruangan ini berubah dengan seketika saat Arya berbicara, bahkan Roni dan istrinya ikut terbawa dalam suasana dan bernafas dengan perlahan. 


Mereka merasa takjub dengan apa yang Arya lakukan, karena baru kali ini mereka melihat mahluk tak kasat mata seperti ini. Untungnya Jin wanita itu terlihat takut ataupun malu kepada mereka sehingga Roni dan istrinya tidak terlalu takut untuk melihat mahluk gaib ini.


Tentu saja mereka pun bersyukur karena Jin ini membelakangi mereka, sehingga tidak terlihat lagi penampilan yang menakutkan seperti sebelumnya.


" Aku cuma lihat waktu Nisa pulang, dia sakit dan ada tanda di jiwa nya. Terus waktu tubuh Nisa semakin lemah, ada yang datang dan ambil jiwa nya diam-diam. Aku gak sempat lihat karena takut. "


Wanita itu berbicara dengan nada yang penuh ketakutan, tubuhnya semakin bergetar hebat seakan-akan peristiwa tersebut sangat mengguncang dirinya.


" Apa dia sekuat itu sampai kamu ketakutan dan gak berani lihat dia? "


Ucap Arya sambil mengerutkan dahinya. Sejujurnya, Arya merasa bahwa wanita ini tidaklah lemah untuk seorang Jin, bahkan bisa dibilang bahwa dia mempunyai kekuatan yang cukup besar.


Jadi Arya merasa bahwa ini merupakan hal yang cukup serius, apalagi belum diketahui apakah ini merupakan tindakan kelompok atau individual.


Arya harus meminta bantuan bila semua ini adalah tindakan suatu kelompok. Ia harus berhati-hati karena ia sedikit khawatir bila semua ini adalah tindakan dari kelompok Iblis.


Arya mengepalkan tangannya dan menunggu jawaban dari Jin wanita yang masih saja terlihat ketakutan.


" Uhh.. Aku.. Jelek.. Malu kalau kelihatan yang lain…"


Arya merasa tubuhnya sedikit lemas dan memijat dahinya dengan perlahan, ia hanya bisa menghela nafas mendengar lelucon seperti ini.


" Hah.. "

__ADS_1


****Tinggalkan komentar anda untuk membuat author semakin semangat untuk update ya! *****


__ADS_2