
Kota Jakarta adalah Kota yang sangat ramai. Banyak orang orang yang berdatangan dari luar kota untuk mengadu nasib di kota ini.
Kota ini bagaikan sumber harapan untuk sebagian orang yang ingin mendapat peningkatan dalam hidupnya.
Namun sebagian orang dapat merasakan bahwa hidup di ibu kota ini tidaklah mudah. Banyak persaingan yang terjadi, baik secara sehat dan tidak sehat.
Sekilas suasana di kota ini sangat ramai dan hangat, namun Aku masih bisa merasakan aura negatif seperti keputus-asa-an, amarah, iri, dengki dan hal hal negatif lainnya.
Tentu saja hal tersebut sangat biasa ditemukan dimana mana, karena kehidupan adalah roda yang berputar, dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.
" Hah.. "
Aku menghela napas dan menatap balik kumpulan Jin wanita yang saat ini sedang menatapku, mereka saling berbisik dan tertawa melihatku.
" Ah..! Hai ganteng, bisa lihat kami kah? "
" Haha barang premium ini, hari ini giliran Aku kan yang dapat jatah ngikutin cowok sesukanya, haha! "
" Ah curang, Aku juga pengen deket deket yang kayak begini. Rame rame aja biar adil, kita ikutin dan bisa gantian setiap hari! "
Mereka mulai berbicara tidak karuan dan bersorak. Kemudian salah satu dari mereka mulai turun dari dahan pohon, sedangkan wanita lainnya tertawa sambil mengayunkan kaki mereka dari batang pohon yang besar.
Saat ini Aku sedang berada di sebuah warung kopi sambil menunggu Amel yang sedang mengambil beberapa pakaian dan benda pribadinya.
Pohon itu berseberangan dengan warung kopi tempatku menunggu Amel. Bob yang melihat Aku masih harus menunggu Amel langsung beristirahat dan tiduran di tempat kami muncul tadi, dia tidak mengikutiku kesini.
" Ah.. Kenapa kita baru ketemu sekarang sih sayang… "
Jin wanita yang saat ini berada didekatku itu mencoba mengulurkan tangannya agar bisa menyentuh pipiku. Penampilannya terlihat menakutkan dengan rambut panjang tidak beraturan, wajahnya dipenuhi luka dan belatung yang bergerak gerak dari dalam pipinya yang berlubang.
Pakaian putih panjang khas kuntilanak yang ia kenakan pun sangat kusam dan dipenuhi bercak darah.
Tangan yang dipenuhi luka disertai kuku panjang itu semakin mendekati kepalaku, tercium juga bau amis dan menjijikan yang berasal dari dirinya.
" Hehe.. Kamu sensitif banget ya, bisa lihat kita atau memang bisa merasakan aja ya.. "
__ADS_1
Jin wanita itu bersuara dengan lembut dan terlihat girang.
" Eh.. "
Jin wanita itu terkejut saat jarinya yang akan menyentuh pipiku itu tertahan oleh tanganku.
Aku menggenggam jarinya sambil menatap bola matanya yang dipenuhi urat urat merah.
Kemudian penampilannya yang menakutkan dan menjijikan itu pun memudar dengan perlahan.
" Aaaahhhh!! "
Jin wanita itu berteriak dengan keras. Seluruh tubuhnya terlihat tegang dan dia langsung mencoba berlari dan melepas genggaman tanganku dari jarinya itu.
" Ah! "
Para Jin wanita lain pun ikut berteriak melihat ilusi temannya itu memudar dan sosok temannya yang terlihat panik serta mencoba kabur dariku.
Setelah beberapa saat yang dipenuhi teriakan dan kepanikan, Aku mengeluarkan sedikit energi spiritual untuk menahan tubuh mereka semua.
Mereka terlihat seperti wanita biasa yang memakai jubah, kebaya dan pakaian kuno lainnya. Mereka mencoba tersenyum kaku saat Aku menatap mereka dengan wajah tanpa ekspresi sehingga mata mereka mulai berair.
[ Aku tidak mempermasalahkan kalian yang memang suka mendekati manusia, tetapi setidaknya kalian harus membatasi jarak dan waktu. Bagaimanapun, akan ada dampak tertentu bila kalian terlalu lama dan berdekatan dengan manusia. Kalian juga tidak boleh memberi sugesti ataupun menakuti mereka, apalagi menggunakan ilmu tertentu dan masuk kedalam mimpi manusia.]
Aku berbicara melalui telepati kepada mereka semua. Mereka mengangguk anggukan kepalanya seperti seekor ayam yang sedang memakan beras saja.
[ Kalian tidak perlu ketakutan dan panik, Aku tidak akan melakukan apapun. ]
Wajah mereka langsung terlihat sedikit rileks ketika mereka mengetahui bahwa Aku tidak akan mengurung ataupun menyakiti mereka, namun ada satu Jin wanita yang terlihat sedikit kecewa ketika mendengarkan ucapanku…
" Mas.. Masih muda tapi udah kuat gitu. Maafin kami semua yang gak sopan. "
Salah satu dari mereka berbicara dengan lemah lembut. Sepertinya dia merupakan yang paling kuat dari kumpulan Jin wanita ini.
Kemudian Aku mengajak mereka mengobrol tentang kejadian kejadian yang terjadi di daerah ini. Mereka terlihat senang karena Aku mau berinteraksi dengan mereka semua.
__ADS_1
Aku pun memberi beberapa peringatan kepada mereka agar tidak menakuti dan mengganggu manusia.
' Uh.. Arya dikerubutin laler lagi.. '
Aku mendengar isi pikiran Amel yang saat ini berjalan ke arahku. Amel membawa kantong dimensi milikku yang sudah berisi barang barang pribadinya, agar memudahkan untuk memindahkannya ke rumah kami.
Kemudian Amel duduk disebelahku setelah dia menyapaku. Amel menatap para Jin wanita itu sambil mengerutkan dahinya.
" Kalian geng centil yang suka nongkrong deket sini kan, ngapain kalian disini? "
Amel bertanya kepada mereka dengan suara bisikan yang pelan, namun dia merapatkan giginya dan wajahnya terlihat kesal sekali.
" Hehe iya, Maaf mbak. Mbak nyuekin kita terus sih jadi kita gak tau kalau Mbak bisa lihat kita, maaf kalau kehadiran kami mengganggu. "
Aku menggelengkan kepalaku dan menyuruh Amel untuk tidak berbicara dengan mereka, karena di warung kopi ini ada pelanggan lainnya yang akan salah paham bila Amel terlihat berbicara dengan Jin yang sedang duduk di seberang meja kami berdua, dan mereka hanya akan melihat Amel berbicara dengan udara kosong saja.
Kemudian Aku mengajak Amel untuk pergi dari tempat ini dan bersiap siap untuk kembali ke Sukabumi. Para Jin wanita itu melambaikan tangannya melihat kepergian kami berdua.
***
Apa yang terjadi… Mengapa semua ini bisa seperti ini… Arya…
Saat ini Aku sedang menunggangi Bob sambil memeluk Arya yang tidak sadarkan diri. Arya menghadap ke arah ku dan Aku memeluknya dengan erat.
Air mataku menetes dan dadaku terasa sangat sesak sekali, bahkan Aku merasa sedikit kesulitan untuk bernapas.
Seluruh tubuhku bergetar ketika mengingat kembali bagaimana Arya yang sedang berada di depan Aku dan Bob terjatuh secara tiba tiba. Ketika Bob dan Aku menghampirinya, Kami berdua melihat sebuah anak panah yang telah tertanam ke dalam punggung Arya dan mengarah tepat pada jantungnya.
" Hah.. Hah.. Cepet Bob… "
Napasku tergesa gesa dan Aku hanya bisa memeluk Arya dengan hati hati agar ujung panah yang keluar dari dadanya itu tidak tersentuh olehku.
Bob berlari sekuat tenaga sampai sampai Aku tidak bisa melihat pemandangan di sekitar, pandangan mataku pun sedikit kabur karena air mata yang terus mengalir ini.
" Cepet Bob! "
__ADS_1
Aku hanya bisa berharap kami lekas sampai agar Kakek atau siapapun bisa segera menolong Arya. Namun Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, karena.. Aku tidak bisa merasakan hembusan napas dan denyut nadi milik Arya..