
" Udah abis ya, makasih semuanya. "
Ipul melambaikan tangannya kepada kerumunan di depannya, sebagian mereka terdiri dari anak anak dan orang tuanya yang sedang menonton dan merekam aksi dirinya dan Arya yang sedari tadi membuat permen gulali.
Mereka semua pun berterima kasih dan bertanya kapan Ipul akan kembali lagi ke taman ini, namun Ipul hanya berkata bahwa dia hanya melakukan ini sebagai hobi saja.
" Kalau kita berjodoh, kita pasti akan bertemu lagi. Terima kasih semua. "
Ipul pun membantu Arya yang sedang membenahi peralatan saat kerumunan itu sudah meninggalkan tempatnya. Meskipun beberapa dari mereka merasa menyesal karena Arya menolak untuk memberikan nomor kontaknya.
" Kau selalu populer dengan wanita seperti biasanya. "
Ucap Ipul sambil tersenyum lebar kepada Arya. Sedangkan Arya hanya memutar bola matanya mendengar perkataan Ipul.
Kemudian Arya mengikuti Ipul yang berjalan di depannya sambil menyeret koper besar berisi peralatan yang digunakan untuk berjualan.
" Aku butuh informasi tentang racun api dari Iblis. Kakek terkena racun itu saat melawan Iblis sejati sebelumnya. "
Arya langsung mengatakan maksud tujuannya mencari Ipul saat mereka tiba di tempat yang sepi.
" Huh? Apa kamu punya contohnya? "
Ucap Ipul sambil tetap menyeret koper besarnya didepan Arya. Ipul membutuhkan contoh dari racun tersebut agar dia tidak salah memberikan informasi.
Karena racun adalah hal yang sangat berbahaya, banyak racun yang memiliki gejala sama dan terlihat sama dengan racun lainnya untuk mengecoh seseorang yang berniat mengobatinya.
Oleh karena itu Ipul membutuhkan sampel dari racun yang diterima oleh Wisnu agar tidak terjadi kesalahan dalam memberikan informasi tentang penawar racun tersebut.
" Aku sudah menyiapkannya. "
Arya berniat untuk mengambil sesuatu dari dalam kantong dimensi yang berada di saku depan sweater yang ia kenakan. Namun tangannya terhenti karena Ipul menggenggam tangannya dengan sangat cepat.
" Apa kamu seceroboh itu? Kamu boleh panik, tapi kamu harus tetap fokus dan tidak boleh ceroboh Arya. "
Ucap Ipul sambil membetulkan posisi kacamata yang ia kenakan disertai senyuman lebar miliknya.
" … Maaf, Aku terlalu terburu-buru. "
__ADS_1
Arya terdiam sejenak setelah memahami apa yang Ipul maksud.
Sepertinya dia terlalu ingin cepat tahu jawaban dari Ipul dan melupakan bahwa mereka sedang berada di tempat umum.
Meskipun mereka tidak berada di tempat ramai dan hanya ada mereka berdua di jalan setapak ini, semuanya akan sangat berbahaya bila Arya mengeluarkan sampel racun yang ia bawa.
Meskipun racun itu telah di segel di dalam wadah khusus yang Li Shu berikan, namun mengingat kekuatan racun itu yang sangat kuat, maka ada kemungkinan bahwa racun itu akan berdampak pada lingkungan tempat mereka berada.
Ipul hanya tersenyum lebar melihat Arya yang menyadari kesalahannya dan kembali berjalan di depan Arya seperti tidak ada apa-apa.
" Ikuti Aku. "
Ucap Ipul yang tetap berjalan santai, Arya pun mengikuti Ipul dan berjalan di belakangnya. Arya merasa malu dengan kecerobohannya dan menahan pertanyaan lain yang ia miliki.
Mereka berdua melewati gang yang sempit dan saat mereka bertemu pertigaan, Ipul dan Arya menghilang dari tempat tersebut dan memasuki alam Astral.
" Tunggu sampai Aku memintamu mengeluarkan racun itu. "
Ucap Ipul yang memperhatikan tempat disekitarnya. Mereka berdua berada di hutan belantara yang ada di alam Astral, kemudian koper yang Ipul bawa menghilang karena terjatuh kedalam pusaran hitam yang berada dibawah koper tersebut.
Lalu mereka berdua kembali berjalan melewati pepohonan dan tumbuhan yang berada di hutan belantara ini. Namun tidak ada suara hewan gaib yang biasa terdengar di dalam hutan gaib ini, mereka seolah olah takut akan sesuatu dan langsung bersembunyi tanpa suara yang membuat hutan ini tiba-tiba menjadi hening sejak Ipul dan Arya tiba.
Ucap Ipul sambil menundukan badannya dan memetik buah ciplukan yang berada di antara semak semak. pohon ciplukan yang memiliki tinggi sekitar 1 meter itu berada tidak jauh dari pohon besar dan terhalang oleh semak semak disekitarnya.
" Kau tidak keberatan bila Aku mengambilnya bukan? "
Ucap Ipul sambil tersenyum lebar ke arah pohon besar yang ada di dekatnya.
Seekor monyet yang memiliki tinggi 2 meter dan bulu berwarna hitam pekat tampak sedang memeluk batang pohon dengan tubuhnya yang gemetaran dan posisi tubuh yang membelakangi Arya dan Ipul.
Tubuh monyet itu terhenti sejenak seakan terkejut oleh suara Ipul, kemudian monyet tersebut langsung mengambil aba aba, berlari dan melompat.
Tubuh monyet itu terlihat tidak seimbang saat menghantam tanah yang membuat tubuhnya berguling, kemudian dia langsung mencoba menyeimbangkan tubuhnya dan berlari menjauhi tempat ini.
" Ayolah.. Mengapa harus seperti itu.. "
Ucap Ipul sambil membuka kacamatanya dan menunjukkan wajah yang penuh rasa kecewa. Arya hanya bisa menahan kedutan di alisnya saat melihat seekor monyet yang lari terbirit-birit dan meninggalkan sedikit cairan yang menetes di rerumputan yang ia lewati.
__ADS_1
" Hah.. Aku hanya berniat mengambil satu buah saja, namun sepertinya monyet itu tidak menginginkan buah ini lagi, dasar monyet yang kurang sopan santun, pergi tanpa pamitan. "
Ipul menggelengkan kepalanya dan membuka kelopak buah ciplukan yang ada di tangannya, kemudian dia menyantap buah ciplukan itu sambil memejamkan matanya.
" Hmm.. Rasanya asam, tapi ada manis manisnya di ujung. Apa kamu mau Arya? "
Ucap Ipul sambil memetik buah lainnya dari pohon kecil itu.
" … "
Arya merasa sedikit kasihan mengingat pohon dan buah ini merupakan sesuatu yang telah dijaga oleh monyet tadi.
Hewan mistis seperti monyet tadi terkadang menguasai wilayah di sekitar dan memiliki kemampuan yang kuat.
Pohon ini merupakan sesuatu yang ia jaga dan akan ia santap untuk meningkatkan kekuatan mereka, jumlah energi spiritual yang dimiliki buah yang menyerupai buah ciplukan tersebut terbilang cukup baik.
Monyet itu harus merelakan pohon tersebut dan memilih untuk melarikan diri, meskipun buah tersebut merupakan benda yang paling berharga di hutan ini, namun instingnya berkata bahwa ia akan kehilangan nyawanya bila berurusan dengan manusia aneh yang memakai kacamata dan topi koboi tersebut.
Kemudian Arya ikut memetik satu buah ciplukan dan membuka kelopak berwarna keemasan itu dengan perlahan.
" Bagus, kau harus mencobanya agar mengerti. "
Ucap Ipul sambil memperhatikan Arya yang mengerutkan dahi dan memejamkan matanya saat mengunyah buah ciplukan yang berwarna kemerahan itu.
Arya merasakan rasa asam yang luar biasa saat dia mengunyah buah ciplukan ini, namun setelah rasa masam yang cukup mengganggu ini, Arya merasa seluruh rasa masam itu menghilang dan lidahnya tidak bisa merasakan apapun. Namun dalam sekejap Arya bisa merasakan rasa yang sedikit manis dan tubuhnya dipenuhi oleh energi spiritual yang menyebar dari buah ini keseluruh tubuhnya.
Namun tentu saja rasa masam yang luar biasa itu tetap mengganggu, dan rasa manis yang ada di akhir itu tidak terlalu memuaskan. Hanya energi spiritual yang berjumlah cukup banyak lah yang membuat Arya bisa sedikit melupakan rasa masam sebelumnya.
" Gimana? Kamu ngerti kan maksud omonganku tadi ? "
Ucap Ipul sambil menganggukan kepalanya, seolah bangga karena telah memberikan Arya buah tersebut.
" Kita harus bertahan dari ujian apapun dan tetap menjalaninya, karena kalau kita bertahan dan berusaha, maka kita akan mendapatkan hasil yang manis seperti buah ini? "
Ucap Arya sambil mengerutkan dahinya, Arya berpikir mungkin Ipul ingin mengajari bahwa dalam keadaan yang sulit ini Arya harus tetap berusaha hingga mendapatkan hasil yang memuaskan layaknya energi spiritual yang ia rasakan dari buah ini.
" Uh… Maksudku tidak semua buah yang memiliki energi spiritual itu enak.. "
__ADS_1
" …. "