
Hari ini Aku akan mengantar Amel untuk mengambil barang barang dan pakaian dari rumahnya. Maja sedang melaksanakan tugas dari Kakek sehingga dia tidak bisa ikut mengantar kami hari ini.
Aku dan Amel sudah masuk kedalam alam Gaib melalui gerbang yang ada di kantor kami.
" Wah… Dimana ini.. "
Amel melirik ke kiri dan kanan ketika dia melewati gerbang Gaib. Saat ini kami sedang berada didalam bangunan yang terlihat kuno dan megah.
Dinding bangunan ini terbuat dari logam yang seperti batu yang sudah disertai formasi yang akan melindungi bangunan ini dari serangan.
Bangunan yang merupakan kantor kami di alam Gaib ini hanya memiliki empat ruangan saja. Satu ruangan bawah tanah yang digunakan sebagai sel tahanan, ruangan untuk rapat dan berdiskusi, ruangan untuk tamu, dan satu lagi adalah ruangan untuk bertapa.
Saat Aku berjalan menuju ke luar ruangan, Terdengar suara pintu yang terbuka secara perlahan dari ruang bawah tanah.
Tiba tiba suasana di ruang tengah ini terasa berbeda, dan Amel sepertinya mulai kesulitan untuk bernapas.
" Ini Arya sama karyawan baru Mbah. "
Aku berkata dengan nada yang pelan. Suaraku terdengar menggema di dalam ruangan tengah ini. Tak lama kemudian terdengar suara pintu yang menandakan pintu menuju sel tahanan sudah tertutup kembali.
Saat Aku dan Amel tiba di halaman depan, barulah Amel merasa sedikit tenang.
" Hah.. Aku gugup banget.. "
Amel berkata dengan pelan sambil mengambil napas panjang, bahkan tubuhnya sedikit bergetar akibat kejadian tadi.
" Tadi itu penjaga tahanan Jin yang kami penjara di ruang bawah tanah Mel. Dia bangsa Jin yang Kakek kenal dan bersedia menjaga tahanan sama bangunan ini. "
" Oh… Jadi semacam sipir gitu? "
" Iya. Dia jarang interaksi karena lebih fokus bertapa. "
Setelah menjelaskan kepada Amel, Aku mulai bersiul dengan suara yang tidak terlalu kencang.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang berasal dari bangunan yang berada di sebelah, lalu munculah seekor kuda berwarna hitam yang berjalan dengan mata tertutup.
Kuda itu terlihat seperti kuda normal, tidak ada perbedaan bentuk tubuh ataupun besar tubuhnya dengan kuda pada umumnya.
" Bob, Kamu disuruh Kakek nganter kami. "
Aku berbicara kepada Bob yang merupakan nama dari kuda kesayangan Kakek ini. Tentu saja Bob bukanlah kuda normal yang ada di dunia manusia.
" Hrrrr… "
Bob hanya mendengus mendengar apa yang Aku ucapkan. Kemudian dia menundukan badannya agar dia mudah untuk ditunggangi.
" Kamu naik Bob Mel. Aku jalan sendiri. "
" Eh.. Aku gak bisa naik kuda Ya.. "
__ADS_1
Amel terdengar kaget dengan perintahku, dan Aku mengacuhkan pikirannya yang merasa kecewa karena dia tidak akan menaiki kuda berdua denganku.
" Tenang aja, Bob bukan kuda biasa kok. Bob itu kuda kesayangan Kakek dan bisa ngerti bahasa kita juga. "
" Oh.. Oke… "
Amel pun memberanikan diri menaiki Bob, untung saja Aku menyuruhnya untuk menggunakan celana panjang agar dia bisa menaiki Bib dengan nyaman.
" Tenang aja gak bakal jatuh, dan gak kena hembusan angin juga. Bob itu hewan Gaib yang punya kemampuan khusus juga. "
Setelah Aku melihat Amel yang sudah tidak panik lagi, Bob mulai berdiri tegak, namun matanya masih tertutup.. Aku tahu bahwa Bob selalu terlihat malas dan tidak bisa diandalkan… Namun Bob adalah kuda yang benar benar cepat sehingga Kakek pun benar benar peduli padanya.
Aku melihat peta sekali lagi untuk memastikan arah dan tujuan kami. Aku mencari gerbang dunia gaib yang berjarak dekat dengan rumah Amel, Aku sengaja melakukan perjalanan lewat alam gaib agar tidak memakan banyak waktu yang lama.
Setelah Aku menemukan titik yang tepat, Aku pun melakukan kuda kuda untuk berlari.
Setelah menghela napas yang panjang dan mengalirkan semua tenaga dalamku, Aku berlari sekuat tenaga.
" Aaaaaaa…!!!! "
Aku mendengar Amel yang berteriak karena Bob mulai mengejarku.
" Hahahahaha! "
Amel tertawa girang ketika ia tersadar bahwa menunggangi Bob sangatlah nyaman meskipun Bob berlari dengan cepat. Mata Bob hanya terbuka sedikit dan dia hanya berfokus mengikutiku saja.
Kami berdua melewati padang rumput dan sesekali terlihat beberapa Jin yang sedang berkumpul ataupun melakukan kegiatan lainnya.
***
Setelah 30 menit, Aku merasa bahwa kami sudah dekat dengan tempat tujuan, lalu Aku berhenti ketika sampai di suatu perkampungan Jin.
" Udah sampai Mel. "
Aku memberitahu bahwa kita sudah mencapai tempat tujuan.
" Hah.. Kayak mimpi aja… "
Amel menghela napas panjang sambil melirik ke kiri dan kanannya. Bob telah memperlambat langkah kakinya dan tepat berhenti di dekatku.
Kami berada di dekat perkampungan Jin. Disini terlihat beberapa rumah yang terbuat dari bambu, rumah rumah itu berukuran besar dan memiliki tinggi 10 meter.
Terlihat seseorang yang membuka pintu. Sosok itu bertubuh besar dan memiliki tinggi sekitar 3 meter.
Jin itu hanya memakai celana pendek yang kusam dan tidak memakai pakaian. Tubuhnya kekar dan terlihat bersinar karena pantulan cahaya matahari.
Rambutnya panjang dan dia memakai ikat kepala agar pandangan matanya tidak tertutupi oleh rambut panjangnya itu.
Dia memiliki taring panjang yang membuatnya terlihat buas. Bola matanya berwarna hitam semua yang membuat sosoknya lebih menyeramkan.
__ADS_1
Dia menggenggam sebuah golok yang besar dan terlihat tajam. Penampilannya sangat mengintimidasi dan dia terlihat kuat.
" Saya datang untuk menggunakan gerbang. "
Aku berkata kepadanya dari kejauhan sambil menunjukan sebuah keris kecil. Kemudian dia menatap keris itu sambil mengerutkan dahinya, setelah beberapa saat dia menganggukkan kepalanya dan menjulurkan tangannya sebagai gestur mempersilahkanku untung menggunakan gerbang itu.
Dia melirik ke arahku dan Amel, dan menganggukan kepalanya sambil mengarahkan jempolnya ke arah kami berdua.
Hah… Mengapa banyak yang salah paham padaku. Aku hanya bisa menyalahkan Kakek yang sering bepergian bersama wanita di alam Gaib.
Tentu saja Aku hanya mendengar ceritanya dari Nenek. Keris yang kubawa pun memiliki aura milik Kakek yang membuat Jin tadi beranggapan bahwa Aku adalah penerus Kakek.
Aku pun baru pertama kali melewati daerah ini sehingga Aku harus menunjukan keris ini agar Jin lain tahu bahwa Aku berada di pihak Kakek, dan aura Kakek sangat kuat yang akan membuat Jin lain lebih waspada dalam bertindak.
Amel yang dari tadi bersembunyi dibalik punggungku pun bernapas lega, dan dia tersenyum ketika melihat Jin tadi memberikan gestur jempol itu, bahkan Amel memberikannya 'like' balik kepada Jin itu.
" Ayo kita masuk Mel. "
Aku pun berjalan menuju gerbang gaib setelah melihat Jin tadi telah masuk kedalam rumahnya lagi. Para penghuni rumah rumah lain yang sebelumnya dipenuhi tatapan ke arah kami pun kembali tenang dan berhenti memperhatikan kami.
" Hah.. Tegang banget Aku. Untung Aku gak punya penyakit jantung, haha.. "
Amel mengusap dada nya sambil berjalan mengikutiku.
Kami berhenti setelah tiba di depan Batu berukuran besar. Batu tersebut merupakan gerbang yang bisa menyambungkan Alam gaib dan alam Manusia.
Aku menyentuh batu itu secara perlahan, kemudian permukaan batu itu terlihat bergelombang setelah Aku menyalurkan energi spiritual.
Aku memegang tangan Amel dan menuntunnya untuk masuk ke dalam gelombang yang semakin membesar.
Tentunya Aku mengacuhkan apa yang berada di pikirannya saat Aku menggenggam tangannya.
***
Kami berdua beserta Bob tiba di padang rumput yang luas.
" Uh.. dimana ini.. "
Amel terlihat bingung dan merasa tidak mengenali tempat ini sama sekali.
" Ini alam Astral yang berada di antara alam Manusia dan alam Gaib. "
Kemudian Aku menepuk pundak Amel dan pandangan matanya pun langsung berubah dengan sekejap.
Saat ini hanya kami berdua yang masuk ke alam manusia dan Bob tidak dapat terlihat oleh manusia.
Namun Aku melakukan kesalahan karena tidak memeriksa dimana letak tempat alam manusia ini dari alam astral sehingga kami harus muncul diatas sungai.
" Aaaaaa!! "
__ADS_1
Amel berteriak dan langsung memelukku seperti seekor koala.