Kantor Urusan Gaib

Kantor Urusan Gaib
KUG BAB 17


__ADS_3

" Hah.. "


Aku menghela napas melihat Amel yang saat ini sedang bertatapan dengan nenek. Pandangan mata Amel terlihat kosong seperti orang yang sedang terhipnotis saja.


Aku mengerti meskipun Aku sudah melakukan pengecekan tentang apa yang dipikirkan oleh Amel saat interview tadi, Nenek masih ingin memeriksa Amel secara langsung.


Nenek adalah orang yang sangat berhati hati, dia tidak ingin ada kesalahan yang terjadi kelak. Apalagi Amel sudah dipastikan akan ikut tinggal disini bila dia bekerja disini.


" Hmm.. "


Nenek tertunduk dan menahan dagu menggunakan tangannya. Nenek seperti sedang memproses apa yang sudah dia lihat dari Amel.


Sedangkan Amel yang saat ini sudah lepas dari pandangan mata Nenek mulai tersadar, meskipun dia masih terlihat sedikit bingung dengan apa yang terjadi.


" Uh… Maap tadi kayaknya Saya gak fokus, mungkin Saya kurang tidur atau anemia Nek.. "


Amel terlihat sedikit malu, dan memberikan alasannya yang telah kehilangan fokus.


" Hah.. Kamu anak yang baik Amel.. "


Nenek mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Amel. 


" Maaf ya, Nenek harus tetep cek siapa kamu dulu sebelum setuju kamu bergabung disini. Tapi sekarang Nenek udah setuju kalau kamu mau bekerja disini. "


Nenek berbicara dengan nada yang lemah lembut. Suara Nenek sangat nyaman untuk didengar dan bisa membuat orang yang mendengarnya ikut nyaman.


" Oh.. Jadi tadi Nenek ngecek Aku? "


Amel terlihat sedikit bingung dengan apa yang Nenek katakan.


" Iya, jadi kurang lebih Nenek tau apa yang kamu alami sampai saat ini. " 


Nenek memberikan senyuman yang sepertinya penuh dengan arti itu. Amel langsung tersipu malu mendengar apa yang Nenek katakan.


' Aduh.. gimana ini.. Semua rahasiaku ketauan sama Nenek.. Tapi untung aja Aku gak ada rahasia yang memalukan.. Aman.. Aman.. '


Amel merasa sedikit lega mengingat tidak ada hal yang memalukan yang terjadi.


" Gak usah malu Mel. Nenek suka dengan pemikiran kamu yang selalu positif, dan kamu gak usah takut lagi sama hal hal yang gaib ya. Nenek bakal kasih kamu alat perlindungan biar kamu bisa merasa aman. Karena kamu juga cuma diam di kantor, kecuali kalau kamu mau ikut jalan jalan sama Arya dan Maja ke alam gaib, kamu harus punya kemampuan melindungi diri sendiri. "


" Iya Nek.. Makasih banyak.. " 


Amel tersenyum mendengar apa yang dikatakan Nenek, sepertinya dia paham apa yang Nenek lakukan adalah untuk melindungi keluarga dan kantor ini.


Kemudian Kakek pun masuk sambil membawa hidangan yang telah dia masak.


Hidangan ini terlihat lebih mewah dan memiliki aroma yang lebih lezat dari hidangan sebelumnya, sepertinya Kakek telah mengerahkan semua kemampuannya dalam hidangan ini.

__ADS_1


" Ah Sayang, keahlian memasakmu memang yang terbaik. "


Nenek tersenyum melihat hidangan yang saat ini sudah tersaji di depannya itu.


" Haha.. Aku masih harus banyak belajar. "


Kakek mengusap kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Nenek. Kemudian Kakek terlihat tegang dan gelisah ketika Nenek mulai memakan steak buatan Kakek.


" Hmmmm.. Lezat sekali. Kerja bagus Sayang. "


" Haha.. tentu saja, Aku menambahkan cinta kedalam masakan ini Sayang. Hahaha.. "


Aku dan Maja memasang wajah yang datar mendengar kata kata yang keluar dari mulut Kakek. Untung saja Aku berhasil menahan diriku sehingga bulu kudukku tidak merinding saat mendengar ucapan Kakek.


' Uh… Kok berasa aneh denger Kakek gombalin Nenek yang kelihatan jauh lebih muda.. '


Amel sepertinya tidak tahu bahwa Kakek saat ini menggunakan suatu teknik yang membuat penampilannya lebih tua. Karena Nenek berkata bahwa Kakek harus menjaga penampilannya agar tidak banyak lalat yang menghinggapi Kakek..


" Arya, kamu anterin Amel ke kamarnya biar dia bisa istirahat. "


" Iya nek. "


Aku menjawab Nenek dan langsung mengajak Amel untuk menuju kamar tamu yang akan dia tempati mulai dari hari ini. Kamar tersebut memang kosong, namun kamar tersebut sudah rapi dan siap ditempati, bahkan sudah tersedia komputer yang bisa dia gunakan di kamar itu.


' Hah.. Masih kaya mimpi aja kejadian hari ini '


" Kamar ini sudah terpasang formasi supaya gak ada yang bisa mengawasi kamu lagi ngapain di dalem. Dilengkapi formasi pertahanan dari serangan gaib juga, jadi keamanannya udah terjamin Mel. "


Aku menjelaskan semua ini agar Amel tidak merasa terganggu dengan kemampuan kami yang mungkin dia tidak ketahui. Setidaknya dia akan merasa lebih aman ketika berada di dalam kamar ini.


" Oh.. Iya, makasih Arya. Tapi Aku nanti harus pulang buat bawa pakaian dan barang barang  dari Jakarta. "


" Iya, besok Aku anter kamu buat pulang ke rumah Mel. "


Aku memang harus mengantar Amel mengambil barang barang pribadinya besok. 


" Ah.. Oke.. "


' Yes! Dewi asmara berada di pihakku. Tiba tiba jadi semangat lagi.. '


Aku bisa melihat mata Amel kembali bersinar sinar seperti biasanya. Setidaknya dia tidak terlihat lesu seperti sebelumnya.


Apa yang dilakukan oleh Nenek sebenarnya bisa menguras energi dan mental si penerima teknik, oleh karena itu Kakek sengaja memberikan hidangan spiritual yang akan membuat tubuh dan mental Amel lebih kuat bila Nenek tiba tiba datang dan memeriksa Amel.


Nenek pun melakukan teknik tadi karena dia sudah tahu bahwa Amel sudah menyantap hidangan spiritual dan tekniknya tidak akan memberi dampak yang buruk bagi Amel.


" Selamat bergabung Mel. "

__ADS_1


Aku menyodorkan tanganku untuk bersalaman dengan Amel, kemudian Amel langsung menyambut tanganku dan tangan kami pun bersentuhan.


' Ayo… Gak bakal Aku lepas duluan. Kamu pasti canggung kan kalo harus lepas duluan, haha.. '


Senyumku menjadi lebih kaku mendengar apa yang dipikirkan oleh Amel..


Kemudian Amel menggunakan tangan kirinya untuk memegang kepalanya dan tiba tiba menyandarkan menyandarkan kepalanya di atas pundakku.


' Rasakan ini.. Hah .. Kayaknya ini terlalu berlebihan.. '


Aku menghela napas melihat apa yang terjadi, Aku tahu pikirannya memang berkata seperti itu, namun nyatanya tubuhnya memang lemah sekali saat ini. Bahkan wajahnya terlihat sedikit pucat.


Setelah Aku merasa bahwa Amel benar benar kehilangan kesadarannya, Aku membopong Amel untuk masuk ke kamar dan membaringkannya di atas kasur. 


Setelah Aku menyelimutinya, Aku pun beranjak keluar dari kamar.


" ……. "


Aku melihat bahwa Maja, Kakek dan Nenek sedang menatapku yang saat ini sedang menutup pintu kamar Amel.


" …… "


Aku pun menatap balik kepada mereka dengan tatapan mata yang kosong dan wajah tanpa ekspresi.


Kakek menunjukan ekspresi yang sangat kecewa, sedangkan Nenek menunjukan ekspresi yang penuh simpati dan rasa kasihan.


Maja… Dia hanya menggelengkan kepalanya saja.


" Hah… Setidaknya Arya kini sudah bisa mengajak seorang wanita masuk kamar. "


Kakek bergumam dan tersenyum kaku.


" Apa yang kau pikirkan Sayang, kau tidak boleh seperti itu. "


Nenek mengerutkan dahinya mendengar ucapan Kakek, Namun tiba tiba sorotan matanya menjadi tajam.


" Arya tidak sepertimu yang selalu bermain wanita saat masih muda. Untung saja dia tidak sepertimu yang selalu memberikan harapan palsu kepada lawan jenis. "


Aku dan Maja pun ikut menatap Kakek dengan tatapan mata yang tajam.


Kakek yang merasakan semua tatapan mata yang tajam ini mulai menunjukan senyumnya yang konyol, keriput di wajahnya terlihat bertambah dan dia pun tertawa terbahak bahak.


" Hahaha.. Aku sudah tua, Aku tidak ingat dengan hal seperti itu. "


Kemudian Kakek mengangkatkan lengan tangannya.


" Oh sudah malam, waktunya orang tua untuk beristirahat. "

__ADS_1


__ADS_2