Kantor Urusan Gaib

Kantor Urusan Gaib
KUG BAB 37 Wulan VS Arya


__ADS_3

Latihan bertarung adalah hal yang biasa terjadi, kedua belah pihak akan menampilkan beberapa teknik mereka untuk memukau para penonton ataupun mengukur kemampuan lawannya.


Biasanya mereka akan mengeluarkan teknik secara bergantian. Ketika salah satu dari mereka menyerang dan mengeluarkan teknik tertentu, maka pihak lawan akan mengeluarkan teknik pertahanan seperti bertahan menggunakan perisai ataupun menggunakan teknik yang berfokus kepada kecepatan dan menghindari serangan tersebut.


Namun saat ini, latihan bertarung yang terjadi disini tidak memperlihatkan teknik yang memiliki visual yang hebat ataupun menarik.


Mereka berdua hanya menggunakan teknik yang akan memperkuat tinjuan ataupun tendangan mereka. Bagaikan seorang petarung MMA yang menggunakan berbagai teknik bela diri.


Pukulan dibalas dengan pukulan, tendangan akan dibalas dengan serangan lainnya. Mereka berdua akan menggunakan teknik dan menggunakan tenaga dalam secukupnya saja.


Ketika Wulan menyerang Arya menggunakan kakinya, Arya terlihat menghindar dan menggunakan tangannya untuk memeluk kaki Wulan dan melemparkan tubuh Wulan sekuat mungkin.


Ketika Arya yang berlari menuju tubuh Wulan dan berniat menyerangnya, maka Wulan akan menggunakan beberapa teknik serangan jarak jauh untuk menghambat pergerakan Arya.


Bahkan saat Arya berhasil mendaratkan pukulan, Wulan berhasil menangkisnya dan menggunakan tangannya yang terlihat lemah itu untuk meninju mata Arya.


Arya pun tidak menghindar dan menerima pukulan tersebut dan membalas pukulan itu dengan cepat. Alhasil, wajah cantik milik Wulan pun harus menerima pukulan dari Arya dan tidak bisa menghindar.


Kemudian Wulan memeluk tubuh Arya dan dalam seketika seluruh tubuh Arya terbakar. Namun Arya menggunakan kedua tangannya untuk memegang pipi kiri dan kanan Wulan, dan seluruh tubuh Wulan pun bergetar dan dipenuhi aliran listrik.


" Aaaaaa! "


Mereka berdua berteriak secara bersamaan dan berusaha mengubah tenaga dalam yang ada di tubuh mereka menjadi elemen tertentu dan saling menyerang.


Tidak ada keindahan dan penampilan yang indah dalam pertarungan ini. Mereka berdua seperti hewan buas yang hanya memiliki pikiran untuk menjatuhkan lawan yang mereka masing masing.


Terkadang mereka berguling guling dan saling beradu tinju. Saling mengadukan kepala mereka seperti ingin menunjukan siapa yang memiliki kepala paling keras diantara mereka berdua.


Wajah mereka terlihat kotor, pakaian mereka berdua pun terlihat rusak di beberapa bagian. Keringat dan debu melapisi wajah dan rambut mereka.


" Kau cukup kuat untuk seorang pria yang terlihat lemah. Rasakan ini! "


Wulan yang sedang menindih Arya dan duduk diatas perut Arya mengangkat tangan kanannya yang diselimuti oleh api dan memberikan tinjuan ke arah mata Arya.

__ADS_1


" Kau cukup gila untuk seorang wanita.."


Arya menggerakan kepalanya kekiri dan berhasil mengindari pukulan itu, kemudian dia menggunakan tangan kanannya yang juga diselimuti oleh api untuk mencekik leher Wulan.


Wulan menggertakan giginya, tangan kanannya yang menembus lantai itu mengeluarkan cahaya dan mencoba menerobos pondasi dan mencoba memeluk kepala Arya dari bawah lantai.


Saat tangannya berhasil memeluk Arya, Wulan menurunkan kepalanya dan mendekatkan mulutnya dengan telinga Arya.


" Aaaaaaah! "


Kedua mata Arya terbuka lebar dan tubuhnya bergetar ketika teknik suara yang keluar dari dalam mulut Wulan terdengar oleh telinganya secara dekat itu.


Tangannya yang mencekik Wulan melemah dan Wulan berhasil  melepaskan cekikan itu. Kemudian Arya yang kehilangan kesadarannya selama beberapa detik itu merasakan wajahnya membentur sesuatu yang keras dan menyadarkannya.


" Haha.. Bagaimana? Bukannya cowok suka kalau cewek cantik berbisik di telinga mereka? "


Wulan yang saat ini memegang leher Arya tersenyum nakal sambil melihat rambut Arya yang terlihat acak acakan.


Wisnu, Bara, dan Maja yang baru saja datang itu membuka kedua mata mereka lebar lebar ketika melihat apa yang dilakukan Wulan.


" Uh… Sakit.. "


Arya yang baru tersadar itu mendengar suara Maja dan merasa seluruh wajahnya ikut merasa sakit sekali. Darah mengalir dari hidungnya, namun yang dia lihat hanyalah batu yang merupakan pondasi dari ruangan ini.


Namun dia seperti bisa melihat ekspresi Maja yang canggung ketika melihat dirinya babak belur seperti ini. Wisnu hanya menatap Arya dan mengacuhkan Bara yang tersenyum bangga melihat kekuatan putrinya.


Kemudian seluruh tubuh Arya dipenuhi tenaga dalam dan Arya menggunakan tangan kirinya untuk menggenggam tangan Wulan yang memegang lehernya.


Wulan yang masih tersenyum nakal dan sedang lengah itu terkejut dan merasakan tangannya digenggam dan tubuhnya pun terlempar jauh.


Saat tubuhnya masih melayang, Wulan merasakan pukulan kuat yang menghantam perutnya.


" Uugh… "

__ADS_1


Wulan merasa mual dan pukulan yang mendarat di perutnya itu membuat tubuhnya membungkuk dan melayang ke atas dalam sekejap.


Ruangan yang digunakan untuk latihan ini berbentuk seperti gor olahraga. Meskipun dari luar bangunan ini hanya terlihat seperti gudang dan hanya setinggi 5 meter saja, namun sebenarnya ruangan ini memiliki tangga kebawah yang membuat sebagian bangunan ini berada di bawah permukaan tanah.


Ruang latihan ini memiliki tinggi asli sekitar 35 meter dan dibangun dengan material tertentu yang membuat bangunan ini kuat, dilengkapi beberapa formasi yang membuat bangunan ini semakin kokoh dan kedap suara.


Namun di dalam bangunan yang tinggi ini, terlihat tubuh seorang wanita yang bergelantungan, wajah dan kepala wanita itu tidak bisa terlihat dari bawah.


Karena kepala seorang wanita itu telah tersangkut di atap bangunan. Mungkin karena bangunan ini sangat kokoh disertai tubuh, ataupun dalam hal ini, kepala wanita itu yang kuat, membuat kepalanya yang tersangkut itu bisa menahan beban tubuhnya dan bergelantungan di bawah langit langit bangunan ini.


"....Ughh.. Ruangan ini gak perlu hiasan seperti itu.. "


Suara Maja begitu menggema di seluruh ruangan, bahkan Arya sedikit tersenyum mendengar ucapan Maja.


Meskipun nafasnya terdengar tersengal sengal dan penampilannya terlihat menyedihkan, namun Arya terlihat sedikit tersenyum sambil melihat karya seni yang menggantung di langit langit itu.


" Haha.. Kau tidak boleh berbicara seperti itu Maja. "


Wisnu hanya tersenyum kecil, namun matanya terlihat bersinar sinar dan seperti memohon Maja untuk melanjutkan perkataannya.


Bara hanya bisa mengacuhkan pembicaraan mereka dan berusaha menahan kedutan di bibir nya sambil mengepalkan tangan.


" Maafkan cucuku Bara, tenang saja ini hanyalah latihan untuk anak anak. Orang tua seperti kita bisa mengetahui perkembangan kemampuan mereka dengan melihat pertarungan seperti ini. "


Wisnu berbicara kepada Bara dengan nada yang penuh penyesalan sambil menggelengkan matanya.


" Arya, kemampuan kamu semakin bagus. Kakek naikkan uang jajan bulanan kamu kalau kamu bisa menang. "


Wisnu mengusap janggutnya sambil menatap Arya dengan wajah yang penuh dorongan.


"... Dasar gak tau malu.. "


Mereka yang berada dalam ruangan ini bisa mendengar bisikan yang keluar dari mulut Bara, namun Wisnu bersikap seperti tidak mendengar ucapan itu dan hanya menganggukkan kepalanya saja.

__ADS_1


__ADS_2