
Arya memegang sebuah botol sebesar jari kelingking yang transparan. Botol tersebut terlihat sedikit menyala karena dipenuhi oleh formasi segel yang ditumpuk di seluruh permukaan botol.
Di dalam botol itu terlihat setetes darah berwarna merah, namun darah tersebut terlihat lebih kental dari darah pada umumnya.
Kemudian Arya menggunakan tenaga spiritualnya untuk melayangkan botol yang berisi darah milik Wisnu kehadapan Ipul.
" Ah.. Permainan yang baik dari bangsa Iblis. Aku harus memastikannya lebih lanjut. Buka penutup botolnya. "
Ucap Ipul sambil membuka kacamata miliknya dan tersenyum lebar.
" Baik, tapi darah itu sangat panas dan kita tidak tahu cara penyebarannya. Jadi hati hati ya. "
Arya menganggukkan kepalanya dan membuat seluruh tubuhnya dilapisi energi spiritual untuk bersiap siap menahan hawa panas dari setetes darah itu.
Meskipun darah itu hanya setetes dan terlihat tidak berbahaya, namun Arya tidak tahu apakah racun ini bisa menyebar atau tidak.
Sebuah racun yang tidak diketahui asal usulnya harus ditindak secara serius agar tidak ada kesalahan fatal yang terjadi.
" Haha.. Terima kasih atas peringatanmu."
Kedua bola mata Ipul berkilauan saat melihat tutup botol itu terbuka. Kemudian setetes darah itu keluar dengan perlahan dari dalam botol.
" Hmm.. "
Ipul memegang dagunya dan memperhatikan setetes darah yang melayang di hadapannya. Ia mengacuhkan hawa panas yang berasal dari darah itu dan mengamati darah itu dari berbagai sudut.
Saat ini darah itu terlihat bergerak gerak layaknya air yang mendidih, namun darah itu tidak menguap dan hanya mengeluarkan hawa panas saja.
Untung saja tempat ini adalah tempat yang aman dan tidak berada di alam manusia. Karena udara di sekitar pun terasa cukup panas, Arya bersyukur Ipul mengingatkannya yang akan menunjukkan sampel darah ini di alam manusia.
Meskipun hawa panas ini tidak akan berdampak besar, namun siapa tahu racun ini memiliki properti lain yang berbahaya bila berada di udara bebas terlalu lama.
" Aku tidak menyangka mereka berani melakukan hal sebesar ini… Racun yang sangat indah.. "
Ipul mengerutkan dahinya, wajahnya terlihat sangat serius dengan mata yang berkilauan.
" Ah.. Dimana Aku pernah melihat sesuatu yang indah seperti ini.. "
Ipul berjalan mondar mandir sambil memijat dahinya.
Bola mata Arya mengikuti gerakan Ipul yang mondar mandir. Hatinya berharap bahwa Ipul bisa mengetahui asal dari racun ini, dan tentu saja dia juga berharap Ipul mengetahui penawarnya.
__ADS_1
" Ah! "
Langkah kaki Ipul terhenti dan dia bersorak seakan telah menyadari sesuatu.
" Udah inget Bang? "
Ucap Arya sambil tersenyum dan mendekati Ipul setelah ia memasukan tetesan darah milik Wisnu kembali kedalam botol.
" Uh.. Aku tidak tahu harus mengatakannya atau tidak.. "
Ipul tersenyum kaku dan ia bisa melihat senyuman Arya yang memudar dengan seketika.
" Gak apa-apa Bang, bilang aja. "
Arya kembali berbicara dengan nada yang tenang dan datar, namun matanya tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa yang ia rasakan.
Arya tahu bahwa Ipul berkata demikian karena sepertinya penawar dari racun ini akan sulit untuk didapatkan, atau mungkin Ipul sama sekali tidak mengetahui obat penawarnya.
" Hmm.. Phoenix Terkutuk. Seekor burung Phoenix yang dipenuhi oleh kebencian dan emosi negatif lainnya akan menjadi Phoenix terkutuk. Bangsa Iblis memiliki beberapa tetesan darah dari burung Phoenix terkutuk. "
" Awalnya mereka berniat untuk menggunakan darah tersebut untuk membuat teknik kultivasi, senjata spiritual dan benda lainnya. Namun sepertinya mereka mencampurkan sedikit tetesan darah itu dan menambahkan beberapa racun dan kutukan kedalam racun ini. "
Ipul menjelaskan apa yang dia tahu mengenai racun ini kepada Arya sambil memegang dagunya.
" Aku hanya khawatir mereka masih mempunyai beberapa racun lainnya dan berniat menyerang manusia yang kuat seperti Wisnu. Tapi kamu tidak usah khawatir, karena dari apa yang kudengar, Wisnu terkena racun itu saat bertarung dengan seorang Iblis sejati. "
" Jadi bisa dipastikan bahwa tidak ada Iblis biasa yang membawa racun ini dan menyerang manusia untuk saat ini.. Untuk saat ini.. "
Ipul berbicara panjang lebar dan membetulkan posisi kacamatanya.
Arya hanya berdiam diri, menyimak, dan mengingat semua perkataan yang keluar dari mulut Ipul.
Mengenai Burung Phoenix yang merupakan makhluk mitologi, Arya sudah pernah mendengarkan sekilas tentang keberadaan mereka.
Namun Wisnu tidak menjelaskan lebih jauh mengenai hal tersebut, dan sampai saat ini Arya belum memiliki kesempatan untuk bertanya kembali kepada Wisnu mengenai keberadaan makhluk mitologi.
Arya sedikit terkejut dengan bangsa Iblis yang bisa memiliki darah dari seekor makhluk mitologis yang sudah lama tidak terdengar kabarnya.
Apalagi mereka berani menggunakan racun yang berbahan dasar darah terkutuk tersebut untuk membunuh Wisnu.
Untung saja Wisnu mengalahkan Iblis tersebut dengan cepat, sehingga dia bisa bertindak cepat dan menghubungi Pantai Selatan untuk membantunya menekan racun yang berbahaya bagi dirinya itu.
__ADS_1
" Darah dari seekor burung Phoenix sangatlah panas. Namun burung Phoenix terkutuk memiliki efek tambahan seperti perusak dan kutukan yang membuat orang yang terkena racun itu merasakan kebencian yang berasal dari rasa benci Phoenix itu. "
" Tentu saja ini semua hanya dugaanku saja. Namun Aku pernah melihatnya sekali dan bisa mengatakan bahwa hawa kebencian yang berasal dari darah Phoenix terkutuk itu sangatlah indah. "
Ipul memeluk dirinya sendiri dan memejamkan matanya sambil mengingat betapa indah kutukan yang berasal dari beberapa tetes darah milik burung Phoenix terkutuk itu.
Tentu hal tersebut hanyalah indah menurut bangsa Iblis saja.
" Lalu apa kamu tau penawar dari racun ini? "
Arya lebih tertarik akan penawar dari racun ini, karena dia berharap mungkin Ipul yang merupakan Iblis sejati yang kuat bisa mengetahui sesuatu mengenai penawar dari racun ini.
" Mmm.. Aku tidak mengetahui dengan pasti, karena racun ini sepertinya dikembangkan setelah Aku meninggalkan Alam Iblis. "
Ucapan Ipul membuat Arya terdiam dan mengepalkan tangannya.
" Tapi.. "
Kata " Tapi " dari Ipul membuat Arya yang menunduk kembali menoleh ke arah Ipul dengan penuh semangat membara.
" Bunga yang tidak dapat ditemukan di alam manusia, Bunga yang konon berasal dari surga, mekar setiap 3.000 tahun sekali.. Udumbara.. "
" Konon Bunga tersebut bisa menenangkan dan memurnikan segala energi negatif, namun Aku tidak mengetahuinya karena Aku belum pernah melihatnya. "
Ipul mengangkat kepalanya dan menghadap ke langit gua, seolah pandangannya bisa menembus gua dan melihat langit biru yang membentang di alam Astral ini.
Ucapan Ipul yang lebih terdengar seperti gumaman itu terus terdengar berulang-ulang di dalam pikiran Arya.
Arya tidak harus berkata apa ketika mendengar penjelasan dari Ipul.
Dimana dia bisa menemukan sebuah Bunga yang hanya bisa mekar 3.000 tahun sekali?.
Dimana dia bisa menemukan Bunga yang tidak berasal dari alam manusia?.
Apakah Bunga itu berasal dari Alam Jin? Alam Iblis?.
Atau alam lainnya yang dia tidak ketahui?.
" Darimana Aku bisa menemukan Bunga itu.. "
Meskipun Arya sudah tahu jawabannya, namun dia tetap menanyakannya dengan nada suara yang bergetar.
__ADS_1
" Hah.. Kau bertanya padaku?. Lalu kepada siapa Aku harus bertanya?. Aku yakin bahkan Gugel pun tidak akan tahu jawabannya.. "
Ucapan Ipul seperti sambaran petir bagi Arya.