
" Maaf apa kamu kenal dengan Arya? "
Seorang pria paruh baya yang memakai jas dan kacamata bulat menghampiri Aku dan bertanya dengan nada yang ramah.
" Siapa ya? "
Aku mengerutkan dahiku dan menatap pria paruh baya yang memiliki kumis tipis itu dengan penuh kecurigaan. Mengapa orang ini tiba tiba bertanya tentang Arya kepadaku, darimana dia bisa mengetahui jika Aku mengenal Arya.
" Haha.. Tenang saja, Saya ini kerabat dari Arya dan sering melihat kalian keluar gerbang sekolah berdekatan. Jadi Saya pikir kalian itu teman dekat. "
Pria itu tersenyum lebar, bibirnya terbuka lebar sampai ke ujung pipi. Ada yang sedikit aneh dari senyuman itu, semua yang dikatakannya membuatku semakin curiga. Namun… dia terlihat seperti orang yang baik sekali, tidak mungkin orang seperti dia mencurigakan.
" Oh iya. Saya kenal sama Arya kok Pak. Dia duduk di belakang Saya. Ada keperluan apa Pak, Saya bakal bantu sebisanya. "
Melihat senyuman lebar di wajahnya membuatku semakin tenang, sepertinya Bapak ini memerlukan bantuanku dan Aku akan membantunya sebisa mungkin!.
" Tenang saja. Ayo kita pesan minuman dulu biar enak ngobrolnya. Jangan sungkan sungkan sama Bapak. "
Kemudian dia memesan minuman untuk kami berdua. Sebenarnya Aku sudah selesai makan dan minum ditempat ini dan berniat untuk langsung pulang ke rumah. Namun karena Bapak ini membutuhkan bantuanku, Aku akan menemaninya sebentar.
Untung saja Ayahku memiliki urusan dan tidak bisa menjemputku pulang, Aku berniat untuk makan siang disini karena Ibuku pun sedang ada urusan keluarga dan tidak ada di rumah saat ini.
" Oh.. Arya itu orangnya pendiam, dia gak banyak interaksi di sekolah. Tapi dia udah tiga hari gak masuk sekolah, katanya ada urusan keluarga. "
Aku pun menceritakan tentang perilaku Arya ketika di sekolah kepada Bapak ini, entah mengapa berbicara dengannya membuatku merasa nyaman dan ingin menceritakan semua yang kutahu tentang Arya.
[ Lari.. ]
Aku mendengar suara seorang pria yang terdengar sesak, namun suara itu tiba tiba menghilang ketika Bapak itu bertepuk tangan.
" Banyak sekali lalat disini, mereka sangat mengganggu. "
Pria paruh baya itu melakukan gestur seperti orang yang menepis sesuatu. Sepertinya memang banyak lalat disini, padahal tempat ini adalah kafe yang kehigienisannya sudah terjamin. Aku pun mendengar beberapa suara aneh, namun sepertinya itu hanya imajinasiku saja, dan itu semua adalah suara lalat.
" Gantungan handphonemu terlihat sangat bagus. Dimana kau mendapatkannya?. "
Pria itu menunjuk kepada gantungan berbentuk kucing milikku.
__ADS_1
" Ah iya, Aku sangat menyukai gantungan ini. Bahkan Arya pun berkata bahwa gantungan ini sangat cocok denganku. "
" Oh? Pantas saja.. Bolehkah Saya memegangnya? Saya jadi ingat kalau anak Saya suka hal yang seperti ini. "
Aku pun dengan senang hati memberikan handphone milikku padanya tanpa berpikir panjang.
Kemudian dia memperhatikan gantungan handphone ku dengan seksama dan menggenggamnya sambil tersenyum lebar.
Aku mendengar suara sesuatu yang retak dan sedikit khawatir bila gantungan itu rusak, namun Aku bernafas lega ketika melihat gantungan itu baik baik saja.
" Sangat menarik. Pantas saja Arya tertarik pada gantungan ini. Sepertinya Aku harus membeli sesuatu yang seperti ini untuk anakku. "
Dia mengembalikan gantungan itu kepadaku dengan hati hati. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari gantungan ini, namun sepertinya itu hanya perasaanku saja.
Kami berdua mengobrol sambil menikmati minuman yang telah kami pesan. Aku bercerita panjang lebar dan dia hanya menanggapiku sesekali saja disertai senyuman lebar miliknya itu.
" Indah, semoga dengan keterlibatanmu, Semuanya akan lebih indah. Haha.. "
Aku tidak mengerti apa yang dia maksud, namun senyumannya membuatku ikut tersenyum senang.
***
" Halo Arya? ini…. "
Mendengar informasi yang kuterima ini, Aku merasakan firasat yang buruk.
" Saya kesana sekarang Pak. "
Aku langsung mengganti pakaianku dan beranjak keluar dari kamar. Kemudian Aku berbicara sejenak kepada Maja dan Amel, setelah Aku menjelaskan apa yang terjadi, Aku langsung pergi keluar dari rumah dengan segera.
Aku melangkahkan kakiku dan pemandangan di sekitarku pun berubah. Aku berlari melewati dimensi Astral ini agar bisa cepat sampai ke tempat tujuanku.
***
Seorang gadis cantik terlihat sedang tertidur, matanya tertutup dan wajahnya terlihat tenang. Gadis itu memakai pakaian seorang pasien dan ditubuhnya terpasang beberapa alat medis.
" Apa ada hal yang janggal Arya?. Waktu Indah pulang ke rumah, dia tiba tiba pingsan. Jadi Saya langsung bawa ke rumah sakit biar cepat ditangani tim medis. Tapi dokter gak bisa menemukan penyebab koma nya Indah.. "
__ADS_1
Pak Indra berbicara dengan nada yang pelan. Aku pun sudah memeriksa tubuh Indah dan tidak menemukan apa apa. Detak jantung dan denyut nadinya normal, namun.. Jiwa ataupun roh nya tidak berada di dalam tubuhnya.
Tubuh Indah seperti cangkang yang kosong. Aku menutup mataku sejenak dan menggunakan kekuatan mentalku untuk memeriksa keadaan di sekitar rumah sakit ini.
Aku mengepalkan tanganku ketika Aku tidak dapat menemukan roh Indah di tempat ini.
" Pak.. Saya belum bisa bilang apa apa. Saya akan coba untuk membantu Indah, tapi saya harus minta tolong dulu sama Kakek. Jadi Bapak tenang dulu aja disini, Indah pasti sembuh kok. "
Aku langsung berpamitan setelah Aku menenangkan Pak Indra beserta Istrinya yang sedang menangis. Mereka berdua mengantarkan ku sampai keluar ruangan dengan raut wajah yang sedih.
Aku bergegas menuju toilet dan pergi melewati dimensi Astral menuju rumah Indah. Sesampainya disana, Aku kembali mencari keberadaan Indah namun tidak bisa menemukan apa apa.
Para Jin yang berada disekitar rumah Indah pun hilang entah kemana. Perasaanku semakin tidak enak dan Aku pun berkeliling di sekitar tempat ini dengan tergesa gesa.
" Hah.. Hah.. "
Aku berada di dekat sekolah dan menatap sebuah kafe yang sudah tutup. Ketika Aku menerobos tempat ini, Aku duduk di sebuah kursi sambil menatap meja kosong yang berada didepanku.
Aku masih bisa merasakan sisa sisa energi yang memudar. Energi ini berasal dariku yang sengaja ku simpan di gantungan handphone milik Indah untuk melindunginya dari serangan gaib, bahkan Aku seharusnya bisa merasakan hilangnya energi ini.
Namun sepertinya siapapun yang telah menghancurkan teknikku ini adalah seseorang yang kuat, karena Aku tidak bisa merasakan apapun.
Aku pun masih bisa merasakan serpihan serpihan energi yang berasal dari hancurnya tubuh dan Jiwa Jin di sekitar tempat ini.
" Hah.. Hah… "
Pencarian ini menguras seluruh sisa energi mentalku yang baru saja pulih. Hanya suara hela nafasku saja yang terdengar di dalam ruangan ini.
Aku mengepalkan tangan dan jantungku berdetak dengan kencang. Pikiranku terasa berhenti sejenak saat Aku memikirkan apa yang terjadi tanpa sepengetahuanku ini.
" Ukh.. "
Tiba tiba Aku merasakan suatu energi yang menyambar tubuh dan jiwaku. Aliran darah mengalir dari dalam mulut, mata, hidung dan telingaku.
Kepalaku terasa berat dan pandangan mataku sedikit kabur. Seisi perutku seakan menjerit dan ingin keluar dari dalam tubuhku ini.
" Kutukan huh? ".
__ADS_1
Aku mengusap darah yang keluar dari mulutku dan menatap telapak tanganku yang bersimbah darah.
Aku hanya terdiam menatap kondisi tubuhku yang saat ini diselimuti oleh aura hitam pekat yang membara.