
" Uh.. Arya, akhir akhir ini kamu sering babak belur.. "
Maja mengamatiku yang sedang mengguyur seluruh tubuhku dengan air. Kutukan yang kuterima sangatlah kuat karena dalam waktu setengah jam saja kutukan ini belum menghilang.
Aku harus meminum pil penambah darah untuk mengimbangi darah yang terus keluar dari dalam tubuhku. Jika tidak, Aku akan kehabisan darah dan bisa mati.
Apalagi kutukan ini ikut menggerogoti roh ataupun jiwa seseorang. Rasa sakitnya bisa membuat orang biasa kehilangan akal sehat dan berharap ingin mati daripada harus merasakan rasa ngilu yang seperti ini.
" Maja, ini adalah hal yang serius… "
" Aku juga ngerti Ya. Tapi kamu harus tetep tenang, jangan bertindak gegabah. Semoga Indah baik baik aja. "
Maja menggelengkan kepalanya. Namun kali ini situasinya sangat berbahaya, Aku yakin Indah mengalami hal itu karena Indah mengenalku. Dan sepertinya Iblis ini merupakan tipe yang suka bermain main dengan manusia, karena dengan kekuatan seperti itu, dia masih melakukan trik kecil seperti ini.
" Hah.. selesai juga.. "
Aku bernafas lega ketika merasakan kutukan ini sudah selesai. Ketika Aku melepaskan genggamanku, telapak tanganku dipenuhi luka bekas kuku yang menancap. Namun setidaknya Aku berhasil melewati kutukan dari Iblis itu.
Aku dan Maja pun kembali ke ruang tamu untuk beristirahat, namun kami menemukan Nenek yang sedang duduk dengan wajah yang serius. Di depannya terlihat sesosok Jin yang berasal dari sekitar sini.
".... "
Aku melihat Nenek memegang sebuah lencana yang bertuliskan Kasim. Aku dan Maja yang bermaksud untuk menyapa Nenek hanya bisa terdiam melihat semua ini.
" Kau boleh pergi. Terima kasih telah mengantarkan benda ini. "
Jin itu membungkukkan badannya yang bergetar dan langsung pergi. Sepertinya Jin itu takut karena Nenek terlihat menakutkan sekali saat ini.
" Arya, Maja. Duduk. "
Kami berdua menuruti perintah Nenek dan duduk disofa yang berseberangan dengan Nenek. Kemudian Nenek menyuruh kami berdua menceritakan apa yang terjadi selama dia pergi.
" Cek Anak yang kamu selamatkan Arya. Iblis itu mungkin adalah atasan dari Iblis yang kamu bunuh. Soalnya kamu gak pernah kasih tau nama kamu kan. "
" Uh.. Iya, Aku cuma kasih tau namaku ke anak itu Nek. Bentar biar Aku periksa. "
" Kamu istirahat aja Ya. Biar Aku yang periksa. "
Karena Maja menawarkan diri untuk memeriksanya, Aku pun memproyeksikan penampilan anak itu kepada Maja agar Maja bisa menemukannya dengan cepat. Aku pun memberitahu alamat anak itu kepada Maja.
Setelah Maja pergi, Aku pun menceritakan tentang Indah kepada Nenek.
" Hah… "
__ADS_1
Nenek menggelengkan kepala sambil mengepalkan tangannya. Mengingat seorang manusia telah menjadi korban, dan beberapa Jin telah dibunuh oleh Iblis itu.
" Dari teknik kutukannya, Nenek curiga kalau dia itu Iblis sejati… "
Nenek mengerutkan dahinya sambil berpikir. Memang banyak hal yang janggal, bila ada Iblis sejati sekuat itu, mengapa mereka masih melakukan ritual pemanggilan Iblis sejati lainnya.
Karena satu Iblis sejati saja membutuhkan banyak energi negatif untuk mempertahankan tubuhnya di alam manusia. Bila ada dua Iblis sejati, mereka berdua harus berebut energi negatif untuk mempertahankan eksistensinya.
Kecuali Iblis sejati ini tidak hanya diam di Indonesia dan merupakan Iblis yang berasal dari tempat lain dan kebetulan sedang berada disini.
Saat Aku dan Nenek sedang terdiam memikirkan semua ini, Kami berdua melihat Maja yang saat ini sudah kembali dari tugas pemeriksaannya itu.
" Hah… Anak itu tewas karena kecelakaan sehari sebelum Indah hilang.. "
Aku berdiri secara refleks mendengar kata kata yang keluar dari mulut Maja. Tubuhku bergetar mengingat anak kecil yang polos dan ceria itu. Pelindung yang kuberikan padanya bahkan tidak memberiku signal seperti yang terjadi pada Indah..
" Tua Bangka! Keluar Kau. Mereka sudah menghina kita seperti ini. "
Nenek menggeram dan menatap ruangan bawah tanah yang merupakan tempat Kakek bermeditasi.
Kami pun mendengar suara pintu yang terbuka dan melihat seorang pria bertubuh besar dan berambut panjang.
Wajahnya sangat serius dan menyeramkan karena sorotan matanya yang tajam.
" Kau benar.. Sepertinya mereka telah melupakan apa yang dinamakan teror.. Maaf Aku terlambat. "
" Karena mereka bertindak sesukanya, biar Aku melakukan hal yang sama. Beritahu Aku pihak yang mencurigakan Li Shu."
Kakek tersenyum lebar dan bertanya kepada Nenek. Sepertinya Kakek sudah berada dalam kondisi terbaiknya dan siap bertarung dengan siapapun.
" Hah.. Untung saja Kau cepat keluar. Sang Ratu memberitahu informasi ini, jadi kau bisa bertindak sesukamu untuk membersihkan para kotoran itu. Mengamuklah Wisnu. "
Nenek pun tersenyum melihat Kakek yang terlihat gagah berani itu.
***
" Kau sudah gila Wisnu! Kau menyerang kerajaan kami tanpa alasan! Kau ingin memulai perang antara Jin dan Manusia hah? "
" Aku tidak perlu alasan untuk menghancurkan kalian. Dan kalian sangat benar karena Aku sudah gila, hahaha! "
" Sialan Wisnu! "
***
__ADS_1
" Setidaknya beri kami alasan, kau tidak berbicara apapun dan langsung menyerang kami! "
" Aku bertindak sesukaku. Apa yang bisa kamu lakukan? "
***
" Kau akan mendapatkan pembalasan dari para Iblis, terkutuk kau Wisnu! "
" Ya, Aku harap mereka cepat membalasku dan berhenti bertindak seperti pengecut. "
***
Aku dan Maja yang ikut dengan Kakek hanya bisa mengamati Kakek dari jauh saja.
Malam ini banyak kerajaan Jin dan pihak lainnya yang hancur di tangan Kakek. Sepertinya Kakek tidak bercanda mengenai teror yang ia sebut, mereka tidak dapat melakukan apapun ketika Kakek menyerang mereka dengan serius dan tanpa ampun.
Kakek muncul dengan tiba tiba di kediaman mereka dan langsung menyerang mereka dengan bertubi tubi. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk kabur dan hanya bisa bertahan, bahkan Kakek tidak menerima satu serangan pun dari pertempuran panjang ini.
Dan di sepanjang jalan, kami tidak menemui satu Jin pun yang berkeliaran ataupun berniat untuk menonton pertarungan ini. Sepertinya mereka mengerti bahwa saat ini seekor hewan buas sedang berburu dan tidak ingin menjadi korban selanjutnya.
" Mengapa kau melakukan ini Wisnu, Kau tahu Aku tidak akan pernah bersekutu dengan Iblis."
" Hah.. Aku ingin percaya padamu, tapi kenyataannya memang seperti ini. Kau tidak usah berbicara apapun, setidaknya Aku akan melakukan ini dengan cepat. "
Kakek mencekik sesosok Jin yang bertubuh besar dan Jin itu merupakan salah satu Jin yang hadir dalam pertemuan di kantor kami.
" Hah.. Kau menang Wisnu, mereka memperbudakku, tempat persembunyian mereka ada di… "
Jin itu tersenyum sayu dan mencoba memberi tahu Kakek tentang posisi para Iblis, namun tiba tiba tubuh Jin itu membesar dan meledak begitu saja.
".... "
Kakek hanya terdiam melihat salah satu teman lamanya meledak dan mati di depan matanya itu.
" Su.. Hah… Tenang, Aku akan membuat mereka menyesal melakukan semua ini.. "
Kakek berbicara sambil menggertakan giginya, sepertinya amarah Kakek semakin menjadi dan membuat auranya semakin kuat saja.
" Apa kau senang dengan hadiahku.. "
Terlihat sebuah bayangan yang berasal dari ledakan Jin itu, bayangan itu tersenyum lebar dan terlihat sangat senang melihat apa yang ia saksikan ini.
Kakek hanya mengerutkan dahinya dan pergi meninggalkan tempat ini, ia mengacuhkan provokasi murahan dari Iblis itu.
__ADS_1
" Sial.. dikacangin… "
Kami bertiga bisa mendengar suara Iblis yang dipenuhi rasa kecewa itu dengan jelas dari jarak yang jauh.