
" Udumbara… "
Li Fei bergumam setelah mendengarkan apa yang telah diceritakan oleh Arya. Kemudian ia melihat Wisnu yang lebih banyak terdiam dan bermeditasi.
Sepertinya Wisnu sedang menahan perasaan negatif yang berasal dari darah Phoenix terkutuk yang meracuni tubuh dan pikirannya.
Awalnya Li Fei dan Wisnu masih sering mengobrol melalui telepati, namun akhir akhir ini Wisnu tidak banyak berbicara.
" Hah.. Kau bahkan tidak mau mengatakan efek samping lainnya? "
Li Fei bergumam sambil menggelengkan kepalanya.
" Aku hanya tidak mau membuatmu khawatir. "
Terdengar suara Wisnu yang disertai hembusan angin, seolah-olah ingin menenangkan Li Fei yang sedang mengerutkan dahinya.
" Kau ini… Kita bukanlah anak muda lagi.. "
Li Fei kembali menggelengkan kepalanya, namun ia tersenyum kecil dan matanya dipenuhi sesuatu perasaan yang dalam ketika menatap Wisnu yang berada di dasar laut.
Meskipun mereka terpisahkan oleh lautan yang dalam, namun mereka seolah-olah masih bisa melihat satu sama lain dengan jelas.
Senyuman kecil dan perasaan yang terlihat di dalam mata mereka masing-masing membuat Arya menundukkan wajahnya dan berpura-pura mengagumi kakinya sendiri.
" Sepertinya kamu bakal punya adek.. uh.. Kakak kecil baru Ya? "
Maja berbisik kepada Arya dan mengikuti arah pandang mata Arya yang sedang melihat kakinya sendiri.
" Ada apa Maja? "
" Uh.. ini kaki Arya kayaknya nginjek sesuatu Nek. ada bau bau amisnya.. "
Tubuh Maja bergetar saat mendengar suara dari Li Fei, kemudian wajahnya menjadi serius sambil memperhatikan kaki milik Arya.
Bibir Arya hanya bisa berkedut kedut mendengar perkataan dari Maja.
Arya terkadang heran dengan Maja, meskipun dia kadang terkena masalah karena perkataannya sendiri, namun Maja seperti tidak pernah kapok dan akan melakukan hal yang sama seperti itu lagi.
" Biar Nenek cari informasi dulu tentang Udumbara, kalian pulang aja. "
Li Fei berbicara kepada Arya dan Maja dan menyuruh mereka untuk pulang.
" Tenang aja, Aku pasti bisa adaptasi sama racun ini. Gak usah dijadikan beban nyari penawarnya."
Wisnu berbicara melalui telepati kepada Li Fei yang menatap langit dengan tatapan mata yang kosong.
Mereka berdua sudah tahu bahwa benda selangka itu akan sangat sulit ditemukan. Apalagi mereka berdua belum pernah melihat Udumbara secara langsung, dan hanya mendengar desas desusnya saja.
" Mmm.. "
__ADS_1
Li Fei hanya bisa bergumam pelan mendengar apa yang Wisnu ucapkan.
***
" Arya? Bangun Ya. "
Amel membangunkan Arya yang sedang tertidur diatas sofa yang ada di kantor.
" Hmm? "
Arya membuka kedua matanya dan terlihat kelelahan. Meskipun dia terlihat sedang tertidur, namun sebenarnya dia menggunakan energi spiritualnya untuk menyelimuti daerah di sekitar rumah ini.
Lalu setelah ia selesai memeriksa setiap sudut wilayah ini, maka ia akan memperbesar jangkauan spiritualnya dan memeriksa setiap daerah dengan seksama.
Arya berniat untuk mencari Udumbara di daerah ini, tentu saja hal tersebut adalah hal yang sia-sia. Namun dia tetap tidak bisa berdiam diri dan menyerahkan semuanya kepada orang lain.
Setidaknya dia akan mencoba mencari Udumbara di daerah sekitar secara perlahan sambil berdiam diri di kantornya ini.
" Kenapa Mel? "
" Uh ini ada client yang minta diperiksa. Katanya mereka bener bener butuh pertolongan dan bersedia bayar berapa aja. "
Amel menunjukkan pesan yang masuk kedalam akun khusus yang ditujukan untuk menerima pasien khusus yang menerima gangguan ghaib.
" Masalahnya apa Mel? "
Arya memijat dahinya dan tidak menatap layar handphone tersebut. Saat ini dia merasa kelelahan dan ingin beristirahat sejenak.
Amel menceritakan apa yang telah client itu ucapkan ucapkan sebelumnya kepada Arya.
Anak dari client itu baru saja pulang mendaki gunung bersama teman-temannya. Namun saat anak itu tiba dirumah, dia mengeluh seluruh tubuhnya terasa lemas.
Kemudian orang tuanya memberi suplemen dan makanan bergizi lainnya, namun kondisi anak tersebut tidak berubah. Kemudian saat anak itu kehilangan kesadaran, orang tuanya membawa anak tersebut ke rumah sakit untuk diperiksa dan diobati.
Akan tetapi hasil laboratorium tidak menunjukan anak itu mengalami gangguan apapun. Lalu para dokter melakukan pemeriksaan secara langsung dan telah mencoba berbagai cara untuk membangunkannya.
Setelah merasa kecewa dan tidak mendapatkan hasil apapun, orang tuanya membawa anak itu kembali ke rumah dan membeli beberapa alat medis untuk merawat anak mereka di rumah.
Kemudian mereka mencoba cara lain dan mengundang beberapa "orang pintar" dan dukun yang direkomendasikan oleh beberapa keluarga dan temannya.
Namun sampai saat ini tidak ada hasil yang nyata dan anak mereka masih terbaring di kasur yang dilengkapi beberapa alat bantu medis lain.
Sampai suatu waktu ada salah satu client kantor ini yang memberitahu keberadaan kantor ini kepada mereka. Meskipun mereka sudah beberapa kali kecewa, namun demi kebaikan anaknya, mereka pantang menyerah dan mencoba untuk menghubungi kantor ini.
"... Hah.. "
Arya menghembuskan nafasnya dan masih merasa kelelahan, namun setelah mendengar cerita dari Amel, dia tidak bisa mengacuhkan hal ini dan berdiam diri begitu saja.
Apalagi client tersebut sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengobati anaknya. Arya pun berpikir kasus ini cukup serius karena beberapa praktisi spiritual yang mereka undang tidak cukup membantu kondisi anak itu.
__ADS_1
Tentu saja Arya tidak mengetahui bila praktisi spiritual yang mereka undang merupakan ahli spiritual yang benar ataupun hanya bermaksud untuk memancing di kolam yang keruh.
Namun dia tidak ingin memiliki pikiran jelek dan berpikir bahwa kasus ini cukup serius dan tidak bisa mereka selesaikan begitu saja. Oleh karena itu, dirinya yang memiliki kelebihan dalam hal ini harus melakukan tugasnya untuk membantu orang lain.
" Alamatnya Mel. Nanti Aku kesana secepat mungkin. "
Kemudian Arya meminta alamat lengkap dan kontak pasien tersebut kepada Amel.
" Kamu gak apa-apa? kelihatan capek gitu. Aku sebenernya gak mau bangunin kamu, tapi gak tega juga denger cerita pasien ini. "
Amel tersenyum kaku dan merasa sedikit bersalah karena mengganggu Arya yang memang selalu sibuk akhir akhir ini. Namun ia merasa kasihan dengan pasien ini dan tidak bisa memberikan pertolongan sendirian saja.
" Aku gak apa-apa. Lagian Kakek selalu bilang kita harus siap menolong orang yang membutuhkan, apalagi hal kayak gini mungkin dianggap sepele sama kita, tapi dampaknya besar banget buat mereka yang kita tolong. "
Arya menggelengkan wajahnya dan teringat ucapan Wisnu. Arya pun menjadi semangat kembali ketika mengingat ucapan Wisnu.
Setelah berbicara sejenak dengan Amel, Arya pun pergi mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap untuk mengunjungi kliennya.
" Aku pergi sekarang ya Mel. "
Arya yang sudah berpakaian rapi dan terlihat segar menyapa Amel yang sedang berjalan menuju kamar mandi.
" Uh.. Aku gak diajak..? "
Amel terlihat terkejut ketika mendengar bahwa Arya akan pergi. Dia berpikir bahwa Arya akan mengajaknya, oleh karena itu dia telah memilih beberapa pakaian yang akan ia kenakan, namun setelah Amel menemukan pakaian yang ia rasa cocok dan pergi untuk mandi, Arya malah mengatakan hal yang membuatnya kecewa..
" … Aku harus cepet selesain ini Mel, jadi gak bisa ngajak kamu. Maaf.. "
Arya mencoba tersenyum kaku dan berbicara dengan nada yang bersalah.
" Ok. Fine.. Hati-hati dijalan Ya. Aku gak apa-apa kok.. "
Amel langsung tersenyum seperti biasa kepada Arya.
"...."
Arya merasakan firasat yang buruk dan mengingat beberapa pepatah Maja tentang kamus bahasa wanita.
" Uh.. Kamu mau oleh-oleh apa? Biar nanti Aku beliin. "
Arya mencoba melakukan apa yang sudah diinstruksikan oleh Maja dalam keadaan seperti ini dan berharap semuanya akan baik-baik saja.
" Hehe kamu ini, gak usah repot-repot gitu. Tapi Aku suka ….."
Amel mengatakan beberapa makanan khas dari daerah tersebut dengan cepat, sepertinya Amel memang sudah berniat untuk ikut dengan Arya dan akan membeli semuanya kelak.
Untung saja Arya mengingat beberapa pepatah Maja dan membuat situasi ini menjadi aman dan terkendali.
" Ok.Aku pergi dulu Mel. "
__ADS_1
Arya pun bernafas lega setelah mengingat semua yang dipesan oleh Amel.
Arya pun berterima kasih kepada Maja didalam hatinya. Sepertinya dia harus lebih banyak belajar kepada Maja dalam hal bersosialisasi dengan manusia.