
" Perkenalkan, Aku Arya Wisesa. "
Aku memperkenalkan diriku sendiri kepada mereka semua yang berada disini. Mereka memiliki reaksi yang beragam saat Aku berbicara, Sosok Pria kuat berkulit merah itu terlihat sangat tertarik padaku.
" Kau bisa bersikap seperti biasa ketika berada disini, Aku menghargaimu bocah. Sepertinya Wisnu tidak salah memilihmu. "
Dia berbicara sambil menganggukkan kepalanya. Aura dan gelombang energi didalam ruangan ini sangatlah kuat dan bisa membuat orang yang tidak biasa merasa panik. Wajar saja, mereka yang berada di dalam ruangan ini memiliki tingkatan kekuatan yang tinggi.
Namun Aku bisa bersikap biasa seperti ini karena Aku sudah terbiasa, bahkan Aku masih bisa mengacuhkan beberapa energi dan teknik yang ditujukan untuk memeriksa tubuh dan kekuatanku.
" Cukup, singkirkan pemeriksaan kalian."
Kak Nilasari berbicara dengan nada yg kesal sambil memutar bola matanya. Kemudian semua energi yg tertuju padaku pun menghilang.
" Heh.. Aku tidak akan memperkenalkan Arya jika Aku tidak yakin dengan kemampuannya. "
Kakek tersenyum sinis dan memiliki ekspresi yang sangat puas.
" Satu pesan dariku. Bila kau memiliki niatan buruk pada Arya, Kau harus siap menahan gempuran dari banyak pihak. Hahahaha.. "
Saat Kakek berbicara dan tertawa puas, Kak Nilasari tersenyum dan menatap mereka yang hadir disini. Seekor macan kumbang yang sedari tadi berdiam diri pun mengangkatkan kepalanya dan menatap yang lainnya dengan mata yang berkilau.
" Uh.. Aku bukanlah pribadi yang seperti itu. Bahkan Aku pun menyukai penerusmu Wisnu, Tenang saja Aku juga akan ikut membantu penerusmu. Hahaha "
Pria dengan kulit yg berwarna merah itu membukakan matanya lebar lebar dan langsung berbicara sambil tertawa. Dan Aku merasakan suatu teknik pelacak yang berada di dalam tubuhku pun menghilang.
Namun semua yang berada disini memandang pria berkulit merah itu dan mulut mereka berkedut kedut.
" Ayolah, Kami sudah tahu bahwa kau hanya akan mengincar dia dan akan menjodohkan putrimu saja. "
" Haha.. Wisnu.. Bagaimana jika kau mengadakan jamuan makan malam. Aku akan menghormatimu dan mengajak keluargaku untuk datang! Kami adalah suku terhormat dan sangat jarang berbaur dengan yang lain, ini adalah suatu kehormatan untukmu! "
__ADS_1
Pria berkulit merah itu berbicara kepada Kakek dengan mata yang bersinar sinar. Untukku, dia seperti seorang sales yang bersiap untuk mempromosikan apapun.
" ….. Maaf keluargaku sangat miskin dan hanya bisa memakan mie instan. Kami akan sangat malu untuk menjamu suku terhormat seperti kalian… "
Kakek menjawab pria itu dengan alis yang berkedut kedut.
" Hah… Bara.. Bila Aku memenangkan pertarungan ini, Aku akan melakukan jamuan makan untuk kalian. Oleh karena itu, kalian harus benar benar menjaga sikap kalian, Aku tidak ingin… bertarung dengan seorang rekan yang pernah bahu membahu berjuang bersamaku.. "
Kakek berbicara dengan nada yang berat. Matanya sedikit kosong ketika mengucapkan kalimat terakhir itu, sepertinya Kakek mengingat hal hal yang telah menjadikan mereka seperti saat ini.
Mereka semua yang berada disini pun ikut terdiam ketika mendengar ucapan Kakek yang penuh nostalgia itu.
" Hah… Aku… sebenarnya sudah memiliki firasat buruk Wisnu. Namun Aku tidak berani memperkirakannya, dan tidak berani untuk terjun lebih jauh dari ini.. "
Kakek tua dengan tubuh bungkuk itu pun menghela napas panjang, kemudian matanya bersinar secara tiba tiba dan auranya yang tenang itu berkobar kobar dengan kuat sekali.
Kemudian semua yang berada di tempat ini memasang wajah yang serius. Mereka semua menatap kakek bungkuk itu secara seksama, seolah olah tidak ingin melewatkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kakek bungkuk itu menatapku dan Kakek dengan wajah yang terkejut. Dari ujung mata dan mulutnya mengalir darah dengan jumlah yang banyak, darah yang segar itu menetes di atas lantai tempat kami berkumpul ini.
" Wisnu… Kau tahu ramalan hanyalah sebuah kemungkinan dan bukanlah hal yang 100% akan terjadi. Setidaknya kau memiliki gambaran tentang ancaman yang akan terjadi dan bisa lebih berhati hati.. Dan bisa saja mereka melakukan hal tertentu untuk mengganggu visi dalam proses peramalan agar membuatmu terganggu.. Uk… "
Kakek Tua itu berbicara dengan napas yang tersengal sengal, kemudian dia terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya itu.
" …. "
Semua yang berada disini terdiam dan membukakan mata mereka lebar lebar ketika mendengar ucapan Kakek tua tersebut. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari dalam mulut mereka yang telah membukakan mulutnya itu.
Mereka seolah tidak tahu harus berkata apa dalam situasi seperti ini.
" Arya, Apa kau percaya dengan ramalan ini.. "
__ADS_1
Kakek tetap tersenyum tenang dan berbicara padaku dengan lembut. Mataku yang tenang ini sedikit bergetar, namun Aku mengepalkan tanganku sejenak dan melepaskan kembali genggaman tanganku ini.
" Aku setuju dengan beliau dan merasa bahwa itu hanyalah satu dari banyak kemungkinan yang akan terjadi. Hidup adalah hal yang penuh dengan keajaiban, sebagian orang akan mundur ketika mendengar hal seperti ini. Namun Aku sudah tahu bahwa Kakek adalah orang yang akan menghadapi semua tantangan. Aku yakin Kakek akan menang dan tertawa pada akhirnya. "
" Haha.. Lihat saja, Cucuku ini saja tahu bahwa Aku akan menang. Aku lebih mempercayai Cucuku daripada ramalan busukmu Soca. Kau sudah terlalu tua dan pikun, kau lebih baik beristirahat dan mengurus kebun saja. "
Kakek tertawa dan menatap Kakek Tua bungkuk yang bernama Soca dengan sorotan mata yang penuh ejekan.
" Kalau begitu kalian hanya harus menunggu undangan pesta kemenanganku haha, kalian harus menyiapkan hadiah yang terbaik. Kalau tidak, Aku akan mempermalukan kalian dan mengganggu anggota keluarga kalian, Hahaha.. "
Kakek kembali tertawa terbahak bahak, yang membuat mereka hanya bisa tersenyum kecil mendengar perkataan dari Kakek itu.
" Wisnu… "
Kek Soca mencoba berbicara, namun tidak ada lagi kata kata yang keluar dari mulutnya ketika Kakek menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
Kemudian aura Kakek berubah secara drastis. Kulit kulit keriputnya pun menghilang dan mengencang kembali dengan perlahan. Rambut pendeknya yang dipenuhi uban itu pun memanjang dan kembali menghitam.
Tubuh kurus kering Kakek membesar secara perlahan dan membuat jubah longgar yang dipakai Kakek menjadi ketat dan bahkan terlihat akan robek.
" Hentikan mulutmu Soca. Aku bukanlah manusia lemah yang akan tergoyah hanya karena ucapan dari seseorang yang sudah pikun sepertimu. "
Kakek berbicara dengan nada yang tegas dan lantang. Semua yang berada disini hanya terdiam melihat Kakek yang saat ini terlihat gagah berani itu.
" … Haha.. Kau benar, Aku sudah tua dan pikun".
Kek Soca tersenyum kaku dan membersihkan wajahnya yang dipenuhi darah itu menggunakan sapu tangan yang tiba tiba sudah ada ditangannya.
" Bagus kalau kau mengerti dan sadar dengan usiamu. Kau harus lebih bisa menjaga sikapmu dan berhenti bersikap sok keren dan misterius itu. Hahaha ".
Kakek kembali tertawa, namun dia tidak terlihat konyol seperti sebelumnya. Kakek terlihat seperti seorang jendral yang bersiap siap berperang dan mentertawakan musuhnya yang akan ia kalahkan nanti.
__ADS_1