
" Sudah cukup, kita tidak perlu lagi berjalan jalan. Bagaimana kalau kita bertarung? ".
Wulan mengatakan hal yang cukup mengejutkan kepadaku. Dari tadi kami hanya berjalan jalan dan mencoba beberapa makanan dan minuman yang sedang populer. Namun dia sepertinya kurang tertarik akan hal ini dan terlihat sedikit bosan setelah mencoba beberapa makanan.
" Aku tidak ingin bertarung… "
Aku memutar bola mataku dan berjalan menuju rumah karena Wulan sudah tidak ingin berjalan jalan lagi. Aku lebih baik pulang dan beristirahat daripada harus menjadi pusat perhatian seperti ini.
Sepanjang perjalanan, Wulan terus menantangku untuk bertarung dan memberikan tatapan mata yang penuh semangat. Namun Aku tidak memiliki keinginan untuk melayaninya, Aku tetap berjalan dan mengacuhkan semua provokasi yang dia ucapkan.
***
" Ayah.. Kau bilang Arya itu cukup kuat, namun dia tidak berani untuk berlatih tanding denganku".
Wulan yang sedang duduk disamping Bara menatapku dengan tatapan mata yang kosong.
" Aku sudah meluangkan waktu meditasiku hanya untuk membuktikan ucapanmu. Namun hasilnya sangat mengecewakan, dia bahkan tidak berani untuk melawanku sama sekali. "
" …. "
Bara hanya bisa tersenyum kaku mendengar ucapan putrinya itu. Kakek yang duduk disampingku pun tersenyum mendengar ucapan Wulan.
" Ayolah Nak, Aku mengajakmu kesini untuk memberimu waktu untuk melihat dunia. Ayah capek lihat kamu meditasi terus, sampai kapan kamu jomblo…. "
Bara menggelengkan kepalanya dan menatap Wulan dengan mata yang penuh belas kasihan.
" Kita memiliki umur yang panjang, buat apa terburu buru. Lagian Aku gak bakal tertarik sama orang yang lemah. "
Wulan mengatakan semua itu sambil tersenyum padaku. Sebetulnya Aku tidak ingin ikut dalam pembicaraan ini, namun Kakek memaksaku untuk menemani mereka karena Nenek dan Kak Mei sedang memiliki urusan.
" Kalau dilihat dari fisik, dia tidak akan memalukan. Namun dia tidak agresif dan terlihat lemah, selera Ayah semakin hari menjadi semakin buruk.. Ayah gak perlu lagi ikut campur. "
Wulan menggelengkan kepalanya lagi dan berbicara dengan nada yang penuh penyesalan.
" Haha.. Kamu ini Wulan. Dari dulu gak pernah berubah ya. Arya, kasih tau dia Ya, masa kamu diem aja digituin. "
Kakek tertawa melihat Wulan dan berbicara sambil menepuk punggungku.
" Hah… "
Aku hanya bisa menghela nafas dan berdiri menuju ruang latihan dengan malas.
***
__ADS_1
" Hah.. hah… "
Aku menatap Wulan dengan nafas yang memburu sambil mengusap darah yang keluar dari mulutku..
Bukankah ini hanya latihan?. Mengapa harus memukul wajahku…
" Lumayan kuat, tapi kamu masih butuh banyak belajar dek kecil. "
Wulan berdiri dan menatapku dengan tatapan mata yang penuh ejekan.
Aku berniat untuk melakukan pertarungan ini dengan santai. Namun saat Kakek memberi tanda bahwa pertandingan dimulai, Wulan langsung melaju cepat ke arahku dan memberikan tinju yang cepat dan kuat.
" Hahaha.. Bagaimana kemampuan putriku, tidak buruk bukan? "
Aku mendengar tawa Bara yang sangat berisik, dan Kakek hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
" Jangan menahan dirimu hanya karena Aku adalah seorang perempuan. Apa kau tidak malu dipukul di hadapan orang seperti ini. Hadapi Aku dengan serius, Aku tidak akan memprovokasimu bila kau menganggap semua ini serius. "
Wulan tersenyum dan mengangkat alisnya sambil melakukan kuda kuda. Tenaga dalam yang dimilikinya membara bara dan semakin agresif.
Kemudian Wulan kembali melompat ke arahku dengan tinju yang dipenuhi tenaga dalam yang besar, Aku pun bertindak dengan cepat dan menghindari tinju dari nya.
Namun saat berhasil mengelak dan keluar dari jangkauan pukulannya, Wulan tiba tiba menghilang dari hadapanku.
" Heh.. Gak kena ya.. "
Aku berhasil menghindari tendangan itu dan menatap Wulan dengan wajah yang serius. Hal sebelumnya sangatlah berbahaya… Mengingat bahwa Wulan merupakan bangsa Raksasa dan memiliki kekuatan fisik yang kuat, meskipun saat ini dia belum mengerahkan semua kekuatannya, namun kekuatan fisiknya bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan.
" Hey.. Itu sangat berbahaya… "
Aku masih merasa sedikit kaget dengan hal yang terjadi sebelumnya. Namun Wulan tidak menanggapiku dan melanjutkan serangannya.
Aku berkonsentrasi dan tidak mempunyai pilihan lain selain melakukan perlawanan. Aku mengepalkan tanganku dan menyambut tinjuan dari Wulan.
*Bam*
Mata kami saling bertatapan ketika tangan kami beradu. Kemudian Wulan mulai tersenyum dan menggenggam tanganku, lalu dia mencengkram tanganku sekuat tenaga dan melemparkan badanku ke belakang dirinya.
"....."
Aku harus mengakui kekuatan fisik dirinya sangatlah kuat..
Saat tubuhku masih melesat, Wulan melompat ke arahku dan berniat untuk memberi tendangan kepadaku.
__ADS_1
Aku langsung membuat tumpuan yang terbuat dari energi spiritual dan mengeluarkan semua tenaga dalam untuk bertumpu dan melompat menyambut tendangannya.
Semua ini terjadi begitu cepat dan Aku berhasil memiringkan tubuhku untuk menghindari kakinya.
Namun tangan kiriku sudah mengepal dan siap menyambut tubuhnya yang masih melesat itu.
Uh.. Aku merasa meninju sesuatu yang berat dan hampir terbawa oleh tubuh Wulan, namun Aku merapatkan gigiku dan menggerakan tinjuanku ke atas
Tubuh Wulan terlempar ke atas dan melesat dengan kencang. Namun sebelum dia melesat jauh, dia membuka mulutnya dan menyemburkan api kepadaku.
Aku menanggapi hal itu dengan cepat dan membuat perisai yang melindungi seluruh tubuhku. Di dalam setiap lapisan kulit dan rambutku terdapat tenaga dalam yang melindungiku dari semburan api tersebut.
Namun setelah api itu menghilang dari pandanganku, Wulan sudah berada di hadapanku dan tinjunya mengarah kepada wajahku.
Aku bergerak cepat dan menahan tinjunya dengan menyilangkan kedua tanganku.
Terlihat sedikit asap yang keluar saat tangan kami berbenturan dan kami berdua kembali bertatap mata.
Aku tidak menyangka bahwa Wulan akan bertarung agresif seperti ini. Bila Aku terlambat merespon serangan darinya, maka lama kelamaan Aku bisa terluka.
" Pukulan yang bagus Arya. Sepertinya kamu tidak terlalu lemah. "
Wulan menurunkan tangannya dan mundur dua langkah dariku.
" Terima kasih. "
Aku menganggukkan kepalaku dan menarik seluruh tenaga dalam yang kugunakan untuk bertahan.
Kemudian Wulan mengulurkan tangannya, Aku pun menyambut tangannya yang lembut itu dan masih sedikit kagum karena tangan yang terlihat lemah lembut ini menyimpan kekuatan yang besar.
" Ooops. "
Namun saat tangan kami bersalaman, seluruh tubuhku terasa membara dan terbakar. Seluruh pandangan mataku pun tertutup oleh api yang membara bara.
Aku bisa melihat senyuman kecil di wajah Wulan yang berada di balik api yang menutupi pandanganku.
Lalu Aku menutup kedua mataku sejenak dan menatap Wulan dengan wajahku yang datar dan mengacuhkan api yang saat ini berkobar kobar menyelimuti seluruh tubuhku.
Untung saja Aku masih mengenakan pakaian yang memiliki ketahanan terhadap serangan, karena akan sangat memalukan bila seluruh pakaianku habis terbakar.
" Hah.. "
Baiklah..
__ADS_1
Aku akan memberikan apa yang dia inginkan...