Kantor Urusan Gaib

Kantor Urusan Gaib
KUG BAB 40 Jamuan Makan Malam


__ADS_3

Satrio tersenyum kaku melihat wajah Mbah Bondo yang dipenuhi kola. Semua pandangan mata pun tertuju padanya yang membuat Satrio merasa gugup.


" Maaf Mbah, Satrio khilaf.. "


Mbah Bondo hanya memutar bola matanya dan semua air yang berada di wajahnya mengering.


" Pertarungan yang bagus Arya dan Wulan. "


Wisnu berbicara sambil tersenyum lebar menatap Arya yang berjalan ke arahnya. 


" Heh.. Panda.. "


Wulan berbicara dengan nada yang menggoda, karena penampilan Arya yang memang terlihat seperti panda. Kedua mata Arya memiliki bulatan hitam yang menjadikannya terlihat seperti seekor panda.


Arya mengacuhkan kata kata dari Wulan dan langsung pergi menuju kamar mandi yang berada di dalam ruangan ini setelah membungkukkan badan pada para penonton yang mengamatinya.


" Makasih Om Wisnu udah ngasih kesempatan ini. "


Wulan membungkukkan badannya kepada Wisnu.


" Haha, namanya juga kan latihan tanding buat mengukur kemampuan kalian masing masing. Jadi memang buat kebaikan kalian berdua. "


Wisnu tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk tidak menatap gigi depan Wulan yang tidak ada karena pukulan Arya.


" Gimana, gak mengecewakan kan si Arya? "


Bara menatap putrinya dengan bangga, setidaknya kemampuan mereka terlihat seimbang meskipun mereka berdua tidak menggunakan senjata dalam pertarungan ini.


Pertandingan antara Wulan dan Arya akan memiliki hasil yang berbeda bila masing masing dari mereka menggunakan senjata yang mereka miliki. Namun hal tersebut terlalu berbahaya dan memiliki resiko yang tinggi, oleh karena itu mereka tidak ingin menggunakan senjata mereka dalam pertandingan ini.


" Hmm.. Boleh lah. "


Wulan menganggukkan kepalanya sambil mengingat kembali pertarungan mereka berdua.


Sudah lama dia tidak merasakan sensasi pertarungan yang seperti ini, meskipun tubuhnya lelah dan kehabisan tenaga dalam, namun seluruh tubuh dan pikirannya terasa segar.


Setidaknya kemampuan yang ditunjukkan Arya termasuk kuat untuk seusianya. Pantas saja Wisnu bersedia menjadikan Arya penerusnya secara terang terangan kepada Ayahnya.


" Kau semakin kuat saja Wulan. "


Mbah Bondo yang berpenampilan seperti remaja itu memuji Wulan dengan kagum.


" Makasih Om bon. "

__ADS_1


Wulan tersenyum kepada Mbah Bondo yang merupakan teman ayahnya. Hubungan Bondo dan Bara cukup dekat karena mereka sering bertarung sejak dulu kala, oleh karena itu Wulan cukup sering melihat Bondo.


" Ini murid Om, namanya Satrio. Kalian baru pertama kali ketemu kan?. "


Bondo memperkenalkan Satrio kepada Wulan, Bondo berharap Satrio bisa mencontoh sikap Wulan yang sangat serius dalam berlatih, meditasi, dan meningkatkan kekuatannya.


" Aku Satrio, salam kenal cantik. "


Satrio mengulurkan tangannya dan menunjukkan senyuman terbaiknya yang selalu dia latih di depan cermin.


" Wulan. "


Wulan mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Satrio, kemudian senyuman terbaik yang ada di wajah Satrio menghilang dan dia merapatkan giginya untuk menahan rasa sakit yang dia rasakan di tangannya itu.


" Oh maaf, Aku baru selesai bertarung. Masih belum bisa kontrol kekuatan. "


Wulan tersenyum tipis dan melepaskan jabatan tangannya. Namun wajahnya tidak menunjukkan sedikitpun rasa bersalah dan matanya terlihat memprovokasi Satrio.


" Haha.. Gak apa apa, Aku ngerti kok. Aku juga suka kayak gitu. "


Satrio hanya bisa tersenyum kaku dan mencoba menghiraukan rasa sakit di tangannya. Kemudian Satrio melihat Mei yang berada tidak jauh dari mereka sedang menatap ke arah mereka berdua.


' Ah.. Semoga Kak Mei gak cemburu liat Aku kayak gini. '


Satrio teringat bahwa dia harus sedikit menjaga jarak dengan wanita lain ketika Mei ada di dekatnya. Satrio tidak ingin Mei salah paham dengan interaksi yang terjadi dengan wanita lain.


Satrio langsung menoleh ke arah Mei dan mencoba memuji Arya yang merupakan adik angkat dari Mei, tentu saja itu adalah informasi yang dia terima dari Bondo.


" Jadi kamu bilang dia hebat, tapi Aku gak hebat?"


Senyuman Satrio kembali menjadi kaku ketika mendengar suara Wulan yang saat ini sedang mengerutkan dahinya.


" Haha.. Gak gitu juga. Kalian berdua sama sama hebat kok. GG dua dua nya. "


Satrio mengangkat kedua tangannya dan mencoba meyakinkan Wulan bahwa dia kemampuan yang sama dengan Arya.


Saat Satrio menoleh kembali ke arah Mei, Mei sudah menghilang dari pandangannya.


' Hah.. Dasar cewek, kenapa harus gitu cemburunya. '


Satrio menggelengkan kepala sambil bergumam dalam hatinya.


***

__ADS_1


" Ayo silahkan dinikmati makan malamnya. "


Wisnu yang duduk di kursi tuan rumah mempersilahkan semua tamu yang hadir untuk menyantap hidangan yang telah ia siapkan.


Wisnu telah memasak hidangan ini dengan kemampuan terbaiknya. Memasak adalah hobinya sejak dulu kala, dan dia sangat senang ketika melihat setiap orang menyukai apa yang dia masak.


Tentu saja dia tidak memasak setiap hari dan hanya melakukannya pada waktu tertentu.


Semua orang yang berada di ruang makan ini terlihat takjub dengan apa yang dihidangkan di meja ini.


Di panci yang paling besar terlihat hidangan sup yang masih mengeluarkan sedikit asap dan dipenuhi oleh energi spiritual yang berasal dari Elang yang diberikan oleh Bara.


Makhluk spiritual, gaib dan lainnya memiliki tenaga dalam maupun energi spiritual yang terkandung dalam tubuhnya. Sehingga saat mereka dijadikan hidangan seperti ini, mereka akan menyisakan energi yang berguna bagi praktisi tenaga dalam dan spiritual.


Lalu sesuatu yang diiris tipis dan berwarna merah menyala dilengkapi beberapa tumbuhan yang memiliki energi spiritual semakin membuat semua yang hadir menelan air liurnya.


" …. "


Amel yang saat ini duduk di sebelah Mei pun terlihat tidak bisa menahan diri menelan air liurnya. Amel merasa hidangan kali ini lebih mewah dengan apa yang dia rasakan sebelumnya, dia merasa beruntung bisa menghadiri acara makan malam hari ini.


Kemudian mereka semua mulai mengambil porsi makanan mereka masing masing setelah Wisnu selaku tuan rumah sudah mengambil porsinya.


Mata dari Bara dan Wulan berkilau ketika Wisnu selesai mengambil porsi makannya. Mereka berdua bergerak cepat dan mengambil porsi yang besar kedalam piring mereka yang memang memiliki ukuran lebih besar dari tamu lainnya.


" Disini banyak anak muda, mengapa kau tidak mau mengalah.. Dan kamu ini wanita Wulan, harus bisa jaga image… "


Bondo mengomentari Bara dan Wulan dengan alis yang berkedut kedut. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan Bara yang seperti tidak ingin kalah cepat mengambil makanan.


Bahkan Wulan yang saat ini sudah meminum pil penyembuh yang bisa menumbuhkan giginya kembali terlihat sangat senang karena berhasil mengambil porsi yang besar.


" Ini kebiasaan kami Om. Yang kalah cepat ambil makanan gak bakal kebagian makan. Aku aja pernah gak kebagian makan karena kalah cepat sama keluargaku yang lain waktu masih kecil. "


Wulan tersenyum dan menjelaskan kebiasaan kaum raksasa ketika makan bersama.


" Ya minta ke Ayahmu lah… "


Bondo berkata dengan bibirnya yang berkedut kedut.


" Bara kan gak pandang bulu kalau masalah makanan. "


Wisnu memutar bola matanya dan menanggapi Bondo.


" Haha Wisnu, kau benar. Masalah makanan tidak ada kata keluarga, siapa cepat dia dapat. Kita gak bakal mati kelaparan kok. Aku belum pernah kehilangan jatah makanku dari kecil. "

__ADS_1


Bara menganggukkan kepalanya dan menunjukkan wajah yang penuh kebanggaan.


Semua yang berada di meja makan ini berpura pura tidak mendengar Bara dan mulai mengambil porsi makan mereka masing masing.


__ADS_2