Kantor Urusan Gaib

Kantor Urusan Gaib
KUG BAB 39 Wulan VS Arya 3


__ADS_3

" Makasib Mbah udah ngajak Aku, Aku janji bakal hati hati. "


Satrio berbicara dengan riang sambil mengikuti seorang laki laki yang terlihat berusia 14 tahun.


" Yang penting kamu harus jaga sikap kamu di pertemuan nanti. Apalagi kalau nanti kamu ikut dalam penyerangan, kamu harus mementingkan keselamatan. Ingat, safety first. "


Mbah Bondo yang terlihat seperti anak kecil itu berbicara sambil menggelengkan kepalanya. Meskipun dia memiliki penampilan luar yang seperti seorang anak kecil, namun tatapan matanya terlihat penuh dengan misteri. 


Satrio pun mendengarkan beberapa instruksi lain dari Mbah Bondo sampai mereka tiba di tempat tujuannya.


" Akhirnya sampai juga. "


Mereka berdua tiba di sebuah bangunan menyerupai kastil yang dikelilingi oleh tembok yang terlihat kokoh.


" Wah megah juga ya.. "


Satrio mengamati bangunan ini dengan seksama dan merasa cukup takjub. Meskipun kastil ini tidak terlihat besar dan luas, namun keheningan di sekitar kastil ini membuat kastil ini semakin misterius.


Namun hal yang terpenting adalah dia merasa sangat senang karena bisa bertemu dengan seorang wanita cantik yang akan dia temui sebentar lagi.


Akan tetapi, wajah Satrio yang penuh harapan itu tiba tiba membeku dan tergantikan oleh ekspresi yang terlihat kaget. Seluruh tubuhnya bergetar, dan instingnya berteriak untuk melarikan diri secepat mungkin. 


" Dia adalah muridku, Satrio. Aku sudah memiliki janji dengan Wisnu hari ini. "


Mbah Bondo menepuk pundak Satrio yang terlihat ketakutan itu. Setelah Mbah Bondo selesai berbicara, Satrio merasa sesuatu yang memperhatikannya itu pun menghilang.


" Hah… Hah… "


Satrio yang sudah tersadar langsung menatap Mbah Bondo dengan wajah yang pucat. Nafasnya menderu deru dan seluruh tubuhnya terasa tegang.


Kemudian mereka melihat gerbang yang besar itu terbuka dengan perlahan, namun tidak ada siapapun di balik gerbang itu. Gerbang itu terlihat terbuka dengan sendirinya tanpa ada yang membukanya.


" Terima kasih. "


Mbah Bondo berbicara dan masuk ke dalam gerbang diikuti oleh Satrio yang masih terlihat tegang.


" Kamu harus menyiapkan mental dan tubuhmu ketika bertamu pertama kali bertamu seperti ini. Kamu tidak tenang dan fokus, jadi hal seperti tadi bisa terjadi. Kalau kamu bisa tenang ya gak bakal kaget kayak tadi. "


Mbah Bondo kembali menasihati Satrio sambil tersenyum, kemudian mereka melihat seekor Kuda yang sedang bersantai di atas rerumputan dengan wajah yang malas.


" Haha Bob Bob, selalu santai kamu. "


Mbah Bondo tertawa melihat tingkah Bob yang terlihat sedang bermalasan. Kemudian Mbah Bondo dan Satrio melihat Bob yang melihat mereka itu memutar bola matanya layaknya seorang manusia. Namun Bob kembali menutup matanya dan tidak ingin diganggu oleh mereka berdua.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan sambil melihat tumbuhan dan bunga yang berada di dalam tembok kastil. Satrio merasa lebih rileks ketika melihat keindahan pemandangan yang ada di sekitarnya saat ini.


" Kak Mei! "


Satrio berteriak dan tersenyum senang ketika melihat sosok perempuan yang terlihat membuka pintu kastil itu.


***


Satrio menelan ludahnya sendiri melihat apa yang sedang terjadi di depan matanya. Dua orang yang saling bertukar pukulan dan tendangan bagaikan berandalan itu membuatnya takjub.


Seorang pria dan wanita itu hanya menggunakan kekuatan fisiknya saja saat bertarung, dia tidak tahu bila tenaga dalam mereka sudah habis ataupun memang mereka hanya beradu fisik saja.


Bila dirinya yang sedang bertarung, maka dia akan menggunakan tenaga dalam dan berbagai teknik lain untuk menghabisi lawannya.


Apalagi dia merupakan murid Mbah Bondo yang memiliki berbagai teknik yang ditujukan untuk memperkuat fisiknya dan memiliki berbagai teknik pertarungan jarak dekat.


Satrio menyayangkan pertandingan yang dia saksikan ini karena seorang wanita cantik yang berkulit merah itu harus menerima pukulan dari seorang pria.


Meskipun dia mengerti bahwa ketika bertarung, kita harus melakukannya dengan serius dan tidak boleh pandang bulu, namun melihat wajah cantik dengan luka memar itu membuatnya sedikit kasihan.


*Bam*


Satrio melihat pria yang bertarung itu tergeletak dan wanita yang menjadi lawannya itu langsung melompat dan mendaratkan pukulan yang kuat di mata sang pria itu.


" Hah… Hah.. "


Wanita itu kembali memukul bagian mata lainnya dengan kuat dan tidak memberikan kesempatan untuk pria itu melawan.


Namun tiba tiba pria itu memegang kepala lawannya dan mengadukan dahi mereka berdua. Kemudian saat wanita yang sedang menduduki perut pria itu terdorong ke belakang, si pria tersebut melepaskan pukulan yang kuat ke arah wajah wanita itu.


*Bam*


" Ughh… "


Satrio mengerutkan dahinya ketika melihat bibir kecil mungil itu harus mencium kepalan tangan pria tersebut. Satrio pun ikut merasa mulutnya terasa sakit dan dia langsung mengambil snack kentang yang ada di tangan kirinya dan mengunyahnya untuk menghilangkan sensasi yang aneh ini.


*Kriuk.. kriuk.. kriuk*


Satrio mengunyah snack kentang itu dengan serius sambil melihat si pria yang saat ini membalas dengan menaiki perut wanita itu dan bersiap untuk melepaskan pukulannya.


" Aaaa! "


" Heh.. Boleh juga kamu. "

__ADS_1


Saat si pria itu berteriak dan melihat wanita itu berkata sambil tersenyum sinis, si pria itu hanya melepaskan pukulannya ke arah lantai yang berada di samping wajah wanita tersebut.


*Bam!*


Satrio melihat lantai yang terkena pukulan itu sedikit retak, namun lantai itu langsung kembali seperti sedia kala karena formasi yang telah terpasang di tempat ini.


" Hah.. Hah… "


Satrio melihat mereka berdua saling bertatapan mata, kemudian dia merasa haus dan mengambil minuman kola yang ada di meja. Satrio meneguk minumannya, namun matanya masih tertuju pada arena tempat pria dan wanita itu bertarung.


Sensasi soda yang berada di dalam mulutnya membuat Satrio merasa segar, dan dia memang selalu melakukan hal ini ketika dia meminum minuman soda.


" Kenapa gak diterusin, nyerah? "


Wanita itu tersenyum, meskipun nafasnya tersengal sengal dan terlihat lemah. Namun pria itu hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi yang datar.


Kemudian pria itu berdiri dan membantu wanita yang masih tergeletak itu untuk berdiri dengan memegang tangannya.


Pria itu mundur dua langkah dan sedikit membungkukkan badan untuk memberikan gestur penghormatan kepada lawannya itu.


" Pertarungan yang sangat baik. "


Mbah Bondo bertepuk tangan, kemudian penonton lainnya pun berdiri dan bertepuk tangan kepada pertarungan antara seorang wanita dan pria ini.


Satrio pun ikut berdiri dan bertepuk tangan dengan mulutnya yang masih dipenuhi kola. Dia mengakui pertarungan fisik dari mereka berdua cukup menarik, namun sepertinya dia melewatkan bagian awal pertarungan ini dan hanya melihat mereka berdua yang sedang bertarung dalam kondisi kehabisan tenaga dalam.


Wanita yang terlihat kesulitan untuk berdiri itu menatap pria tersebut dengan wajah yang serius, kemudian kulitnya yang berwarna merah itu menjadi normal layaknya kulit seorang manusia biasa.


" Terima kasih telah melawanku dengan serius sampai akhir. "


Wanita itu berbicara dengan nada yang serius dan menganggukkan kepalanya.


" Pertarungan yang baik kan Yo? "


Mbah Bondo yang berdiri di sebelahnya tersenyum kepada Satrio. Satrio langsung memalingkan mukanya ke arah Mbah Bondo dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Namun matanya masih tertuju pada wanita yang cantik yang saat ini sedang berjalan mendekati si pria dan berjabat tangan. 


Wanita itu tersenyum lebar dan membuat bibit tipisnya itu sedikit terbuka, Satrio yang terbiasa memperhatikan setiap wanita itu mengamati senyuman itu dengan serius.


Namun dia terkejut ketika melihat wanita yang cantik itu tersenyum lebar tanpa dilengkapi dua gigi depannya, di barisan depan gigi yang rapi dan indah itu telah kehilangan dua gigi depan.


" Puah! "

__ADS_1


Satrio yang ingin tertawa itu pun tidak sengaja menyemprotkan minuman kola yang ada di mulutnya ke wajah Mbah Bondo.


__ADS_2