
Di tempat yang berada tidak jauh dari tempat Arya bertarung dengan keturunan Iblis tadi, terlihat seorang Pria paruh baya yang sedang menyandarkan kepalanya di pepohonan.
" Hah.. Anak itu masih saja bertarung tanpa banyak berbicara, dia tidak memberi kesempatan kepada musuhnya untuk melakukan hal lain. "
" Dan Lucy sepertinya sedikit tertarik pada Arya, haha.. Kau pikir cucuku akan langsung tertarik padamu? tidak semudah itu nona kecil, hahahaha! ".
Pria paruh baya itu tersenyum sinis dan mengangkat tangan kanannya yang sedang menggenggam sikat gigi. Kemudian dia mengangkat gayung yang berada di tangan kirinya untuk berkumur.
" Puah! Untung saja kalian membuat Iblis bodoh itu sebagai umpan. Jadi perjalanan mereka tidak terganggu, Kalian ini benar benar selalu bersemangat dalam hal apapun haha! ".
Pria paruh baya itu tertawa dan penampilannya yang membawa gayung, sikat gigi, dan hanya memakai celana pendek tanpa atasan itu sangat aneh.
Namun di sekitar si Pria itu terlihat lima tubuh yang tergeletak dan sepertinya mereka tidak sadarkan diri. Apalagi mereka memiliki sayap dan tanduk, hanya saja tubuh dan kaki mereka berserakan dan terpisah dari tubuh mereka.
Hanya suara hembusan angin dan pohon pohon yang bergerak saja yang mengiringi tawa pria paruh baya itu.
***
" Sepertinya Arya sangat dekat Sang Ratu heh.. "
Lucy menatap bangunan tinggi yang menghadap ke arah lautan, meskipun dia tidak bisa melihat apapun dari luar karena terhalang oleh suatu perisai yang membuat bangunan tersebut nampak seperti biasanya dan tidak ada siapapun yang berada disana.
" Sang Ratu hanya ingin mengetahui kondisi kantor mereka saja, mengingat bahwa Sang Ratu telah setuju untuk bekerja sama dengan kantor mereka. "
Seorang wanita yang memakai kebaya tradisional dengan rambut sanggulnya itu berbicara dengan elegan dan penuh wibawa.
Dia merupakan salah satu ajudan Sang Ratu dan sangat dekat dengan Beliau. Dia memiliki tugas untuk menerima tamu formal dari luar kerajaan yang ingin berinteraksi dengan Kerajaan Pantai Selatan.
" Hmm.. Ya dengan kemampuan yang Wisnu miliki, dia memang pantas untuk memiliki kontrol atas suatu tempat. Namun bukankah hal tersebut menjadikan dirinya target dari beberapa pihak yang menentang tentang kekangan yang Wisnu berikan? Aku mengerti jika Bangsa Jin mematuhi peraturan Kerajaan Jin, namun Aku ingin tahu bagaimana para pemberontak dari golongan Jin menyikapi sikap Wisnu yang terlalu berani ini "
" Kau tidak perlu khawatir, Kerajaan kami sudah menyetujui berdirinya kantor mereka. Dan kami mendukung langkah Wisnu dalam hal ini, jadi jika ada situasi yang berada diluar kendali mereka, Kami pun tidak akan diam begitu saja. "
" Bahkan bila banyak kerajaan Jin lain yang akan menentang sikap Kerajaan Pantai Selatan? Hal tersebut bisa menyebabkan perang besar antara kerajaan Jin. "
" Oleh karena itu kami hanya akan bertindak jika situasi sudah darurat, dan akan memikirkan apa tindakan kami selanjutnya. Dan sepertinya informasi ini sudah cukup bukan, Nona Lucy? "
" Hehe, Terima kasih Nona. Aku hanya penasaran saja "
Lucy tersenyum dengan nakal kepada wanita di dekatnya itu, namun wanita itu hanya tersenyum kecil dan memutar matanya.
***
__ADS_1
Aku menatap matahari yang bersinar terang di siang ini, sang mentari seakan tidak ingin membiarkan dunia yang tidak bisa terlihat oleh manusia biasa ini terlihat sunyi dan senyap.
Seakan memberitahu kepada dunia bahwa dimanapun kita berada, cahayanya tetap akan sampai padamu, memberimu kehangatan dan berbisik jika kau tetaplah hidup.
" Kau masih saja selalu tersenyum setiap memandangi matahari di tempat ini "
" Ketika kau masih kecil, kau terlihat sangat takjub melihat matahari terbit yang seperti muncul dari lautan "
" Aku.. bukan anak kecil lagi.." Aku tersenyum kecil dan mengalihkan pandanganku ke arah seorang wanita yang memakai kebaya berwarna hijau.
Rambut panjangnya terurai, dan tidak digulung ataupun diikat seperti yang dia selalu tunjukan di publik.
Raut wajahnya yang ramah serta matanya yang penuh dengan kelembutan itu membuat siapapun yang melihat dirinya akan merasa tenang dan sungkan untuk bersikap buruk di dekatnya.
Suaranya yang lembut bagaikan bisikan ombak yang lembut di pagi hari.
" Tapi kau tetap menyukainya kan? "
" Hmm…" Aku bergumam sambil menganggukkan kepalaku dan mengalihkan pandanganku kepada matahari yang memberikan kehangatan di balkon ini.
Aku memejamkan mataku dan terdengar suara ombak kecil yang menghantam dasar dari pondasi istana yang berada di atas lautan ini.
Istana ini merupakan salah satu tempat peristirahatan Ratu Pantai Selatan. Karena kerajaan Pantai Selatan sangatlah luas, Sang Ratu memiliki beberapa istana peristirahatan di sepanjang Pantai selatan.
Namun tentu saja pengamanan di tempat ini sangatlah ketat, bahkan Jin kelas tinggi pun tidak akan bisa masuk ke dalam tempat ini dengan tubuh yang utuh.
Beberapa formasi dan segel telah menyatu dengan bangunan yang berdiri ini, dan formasi ini lebih kuat dari formasi yang berada di sekitar dinding istana Pantai Selatan ini.
" Bagaimana kehidupan sekolahmu Arya ? "
" Biasa saja, tidak ada hal penting yang terjadi. "
" Syukurlah, Aku lihat kau mulai terbiasa dengan kegiatanmu saat ini "
" Ya, Kakek dan Maja mengajarkan banyak hal dan membantuku untuk terbiasa dengan semuanya "
" Hmm.. betul sekali, bahkan kini kau sudah bisa tersenyum palsu dan berinteraksi dengan orang lain lebih baik. "
" Uhuk.. itu terdengar seperti aku ini seorang penipu ulung… " Aku tersenyum kaku menanggapi pernyataan yang tiba tiba itu.
Namun Wanita itu hanya tersenyum melihatku, dan Aku pun hanya bisa tersenyum balik dan mengalihkan pandanganku kembali ke arah lautan luas yang indah.
__ADS_1
***
Aku berjalan keluar dari istana tempat Sang Ratu beristirahat. Percakapan kami berdua masih sangat jelas di dalam pikiranku, Sang Ratu mengingatkanku bahwa kantor kami harus tetap waspada dari pergerakan para Iblis dan pihak pihak lain yang menentang keberadaan kantor kami yang dianggap membatasi kebebasan kaum Jin.
Aku sadar bahwa kantor atau organisasi yang didirikan Kakek dan teman temannya ini akan mendapatkan perlawanan dari kaum Jin dan kerajaan kerajaan Jin lain yang tidak bersahabat dengan manusia.
Namun sampai saat ini belum ada perlawanan yang jelas dari pihak luar, mereka seperti ingin mengawasi kegiatan kami dan belum bertindak apapun yang bisa menyebabkan konflik dengan Kakek.
Apalagi Aku banyak mendengar cerita Kakek dari bangsa Jin. Mereka menyebutkan bahwa Kakek adalah manusia yang sering mengunjungi alam Jin dan bertarung dengan beberapa Jin yang mempunyai kekuatan besar.
Perilaku nya ketika bertarung sangatlah eksplosif dan mengintimidasi para kaum Jin, bahkan Sang Ratu Pantai Selatan memuji kemampuan bertarung Kakek.
Meskipun Aku sendiri belum pernah melihat Kakek bertarung dengan serius, namun caranya mengontrol tenaga dalam sangatlah mahir sekali.
Dan dibalik wajahnya yang terlihat konyol itu Aku bisa merasakan sesuatu yang sangat berbahaya sekali.
Ketika Aku sedang memikirkan semua ini, Maja datang menghampiriku sambil membawa ransel milikku. Namun kini Maja berwujud manusia yang berbadan besar dan kekar sekali.
Wajahnya terlihat seperti orang yang malas namun cerdik, dan dia terlihat seperti pria yang berusia 30 tahun.
" Ya, tahanannya udah diserahin. Dokumen pemindahannya udah ada di dalem tas. " Maja melemparkan tas yang kini berisi dokumen dokumen pemindahan tahanan kepadaku.
" Oke Ja, Mau langsung pulang aja? "
" Lama tidak bertemu Arya, mengapa terburu buru sekali? apa kamu tidak suka berada ditempat ini sampai sampai kamu langsung pergi setelah menyelesaikan tugasmu? "
Aku mendengar suara wanita yang lembut dan menggoda dari belakangku, dan ketika Aku membalikkan badanku, Aku bisa melihat seorang wanita yang memakai kebaya berwarna hijau.
Wanita itu memiliki rambut berwarna hitam yang terurai sampai pinggulnya, matanya seakan bersinar sinar dan membuat siapapun yang melihatnya terkagum kagum.
" Tidak sama sekali Kak Nila, Aku berharap Kak Nila tidak tersinggung dengan perkataanku barusan " Aku berkata dengan lembut sambil tersenyum kecil kepada Nila yang merupakan salah satu Ajudan kepercayaan Sang Ratu.
" Hmm.. " Nila terlihat memperhatikanku sambil membusungkan aset nya yang besar itu. Dia memiliki tubuh yang sangat molek dan wajah yang sangat cantik sekali. Ia akan selalu menggodaku setiap Aku datang ke Pantai Selatan, dan tentu saja Aku tersipu malu ketika awal awal bertemu dengannya.
" Udah ga malu malu lagi ya sekarang " Nila terlihat kecewa dengan respon yang kuberikan dan mengerutkan dahinya.
" Kalian berdua jangan dulu pulang, sebentar lagi ada jamuan makan siang yang akan dihadiri Ratu dan Tamu asing tadi. Awas kamu kalo kabur, Kuculik semalaman loh " Nila Tersenyum dan mengeluarkan lidahnya untuk membasahi bibir bagian atasnya.
" Iya Kak Nila, haha " Aku hanya bisa tersenyum kaku mendengar apa yang dia ucapkan, namun Aku sangat senang mendengar bahwa akan ada jamuan makan siang, dan Maja pun terlihat sangat girang sekali dengan kabar gembira ini.
" Haha tenang saja Nona Nila, Kau bahkan bisa mengurung dia seminggu penuh jika Aku bisa makan mewah setiap hari disini, Hahaha " Maja yang biasanya terlihat malas langsung menanggapi Nila dengan penuh semangat.
__ADS_1
" Nggak Kakeknya, nggak pamannya, sama sama mucikari. Kalian ini bener bener nggak pernah berhenti promosiin Arya ya. Udah tinggal sama Kakak aja Arya, Kakak jamin kamu ga bakal mau balik lagi sama mereka. "
" Haha…. " Aku hanya bisa memberikan tawa palsu menanggapi percakapan antara Nila dan Maja.