
Cerita Ini direvisi dari awal sampai akhir, alur tetep sama. Hanya kata-katanya yang aku tulis ulang. Jadi mohon bersabar
Tuhan menciptakan manusia di dunia, ada yang kaya dan ada yang miskin. Terlahir dari keluarga kaya, mungkin itu adalah suatu keberuntungan, itulah yang dipikirkan oleh gadis bernama Cindy Larasati. Cindy merasa dirinya kurang beruntung karena terlahir dari keluarga yang kurang mampu.
Cindy Larasati, gadis berusia 19 tahun berasal dari salah satu desa di Jawa Tengah. Ia pergi ke kota untuk mengadu nasib. Cindy berharap dengan pergi ke kota dirinya bisa mengubah nasibnya dan juga keluarganya.
Terlahir dari dua bersaudara Cindy yang merupakan anak pertama. Dirinya merasa bertanggung jawab pada keluarganya. Meskipun ayahnya masih ada, tetapi hasil kerja ayahnya tidak akan mencukupi semua kebutuhan keluarganya.
Apalagi setelah ibunya menderita penyakit gagal ginjal, keluarganya makin mengalami kesulitan keuangan, karena ibunya harus rutin cuci darah.
Dengan berbekal ijasah SMA-nya dan rekrut dari temannya, Cindy akhirnya pergi ke kota. Dirinya bekerja di salah satu restoran di Jakarta bersama teman sekampungnya, Rini.
Siapa sangka pekerjaan itu adalah awal dari perubahan dalam hidupnya. Cindy tidak pernah menyangka jika dirinya akan bertemu dengan seorang laki-laki dan melakukan nikah kontrak dengannya.
*****
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh, Cindy sedang bersiap untuk bekerja. Gadis itu sedang mematut dirinya di depan cermin sambil mengikat rambut panjangnya seperti ekor kuda. Tubuhnya tinggi semampai, kulitnya berwarna seperti buah langsat. Itu adalah nilai plus untuk Cindy.
Setelah selesai bersiap, Cindy segera keluar dari kosannya. Jarak dari tempat tinggal ke tempat tempat kerjanya lumayan jauh, berkisar antara satu jam. Maka dari itu Cindy berangkat lebih awal agar tidak terjebak oleh jam macet.
Cindy berjalan menyusuri jalan untuk menuju tempat dirinya biasa menunggu angkot. Di dalam perjalanan tidak sengaja Cindy melihat seseorang yang terserempet oleh motor.
“Ya Tuhan!” Cindy segera berlari menghampiri orang itu.
“Nyonya, Anda tidak apa?” tanya Cindy kepada wanita berumur sekitar 40 tahun.
Wanita yang masih sangat cantik dan modis, jatuh dan terduduk lemas di pinggir jalan. Cindy melihat ada luka lecet di tangan serta di lutut wanita itu, serta pakaiannya yang nampak kotor.
“Ya, saya tidak apa-apa,” jawab wanita itu.
“Mari saya bantu berdiri, Nyonya,” ucap Cindy.
Cindy membantu wanita itu berjalan, lalu mendudukkannya di kursi depan sebuah mini market tidak jauh dari tempat itu.
“Tolong, berikan tas saya,” pinta wanita itu.
Cindy mengangguk lalu mengambil dan memberikan tas yang terlihat mahal itu kepada wanita tersebut. Wanita itu merogoh tas untuk mengambil sesuatu dari dalamnya. Cindy melihat wanita menelpon seorang.
“Anda baik-baik saja, Nyonya? Mau saya antar ke rumah sakit?” tanya Cindy.
__ADS_1
“Tidak usah. Saya baik-baik saja,” tolak wanita itu.
“Ini minum dulu, Nyonya.” Cindy memberikan air mineral yang baru saja dibelinya.
“Terima kasih.” Wanita itu menerima air mineral yang diberikan oleh Cindy.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan perempuan itu. Cindy melongo melihat laki-laki yang memakai kaca mata hitam, berjas hitam semua serba hitam, tetapi kulitnya putih. Laki-laki berjalan cepat menuju tempatnya berdiri.
“Maaf, Nyonya ... saya terlambat menjemput Anda. Saya terjebak macet,” ucap laki-laki itu.
“Jadi wanita ini bosnya,” batin Cindy.
“Tidak apa-apa. Tapi lain kali jangan seperti ini lagi,” balas Wanita itu.
“Anda baik-baik saja, Nyonya?” Laki-laki terkejut saat melihat luka yang diderita oleh majikannya.
“Apa perlu saya antar ke rumah sakit?" tanya pria itu.
“Ini hanya lecet,” jawab wanita itu.
“Tidak perlu membawa saya ke rumah sakit. Antar saya ke restoran saja,” pinta wanita itu.
“Baik, Nyonya. Mari saya bantu ke mobil,” ucap laki-laki itu.
Cindy tersadar dari lamunannya saat wanita itu memberikan sejumlah uang kepadanya.
“Eh ... ini apa, Nyonya?” Cindy masih terlihat bingung bahkan sampai tidak bisa berkata apa-apa.
“Ini untukmu karena sudah membantu saya tadi,” ucap wanita itu. Wanita itu pergi tanpa menunggu perkataan Cindy selanjutnya.
Cindy masih mematung merasa terkejut saat melihat uang di tangannya. Cindy tersadar ketika melihat mobil mewah itu melaju jauh dan menghilang dari pandangannya.
“Hei, Nyonya ... Nyonya ... Nyonya,” Cindy berusaha mengejar mobil itu. Namun, apa daya mobilnya sudah tidak terlihat lagi.
Cindy melihat uang seratus ribuan, ada sekiranya sepuluh lembar. Senyum Cindy mengembang saat melihat uang itu.
“Mimpi apa aku semalam?” guman Cindy.
Mata Cindy tidak sengaja melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 8 pagi.
__ADS_1
“Ya Tuhan! Aku bisa terlambat.” Cindy langsung berlari dan menaiki ojek yang ada di sebrang jalan.
“Bang, tolong anterin saya ke jalan mawar,” pinta Cindy pada tukang ojek itu.
Tukang ojek itu mengangguk lalu memberikan helm kepada Cindy dan segera melesat.
“Ngebut ya, Bang!” pinta Cindy.
“Baik, Neng. Pegangan ya, Neng!” suruh tukang ojek itu kepada Cindy.
Di dalam perjalanan Cindy menggerutu kepada dirinya sendiri. Kenapa dirinya mencari rumah kontrakan yang jauh dari tempat kerjanya?
Hampir satu jam Cindy melewati perjalanan dan akhirnya Cindy sampai di depan tempat kerjanya. Setelah memberikan ongkos kepada tukang ojek itu, segera Cindy berlari menuju ke dalam tempat kerjanya.
“Ya ampun ... aku terlambat. Semoga saja aku tidak kena marah,” harap Cindy.
Akan tetapi harapannya pupus, saat dirinya dihadang oleh manager restoran itu saat akan masuk ke dalam restoran.
“Cindy!”
Mendengar namanya dipanggil, Cindy langsung menghentikan langkahnya.
“Ke mana saja kamu jam segini baru datang?” tanya ibu Susi yang merupakan manager di restoran itu.
“Ada insiden saat saya akan berangkat tadi, Bu,” jawab Cindy dengan polosnya.
“Insiden apa? Kamu bangun kesiangan atau terjebak macet?” omel ibu Susi.
Cindy menggeleng. “Bukan, Bu. Tadi ada ibu-ibu terserempet motor. Saya menolongnya dan menungguinya sampai ada yang menjemputnya.”
“Bener? Kamu tidak bohong, 'kan?” tanya ibu Susi.
“Saya bersumpah, Bu,” ucap Cindy.
“Maafkan saya, Bu. Saya tidak akan mengulangi ini lagi. Saya tidak akan datang terlambat lagu,” ucap Cindy.
“Baiklah. Tapi jika sekali lagi kamu terlambat ... saya tidak akan segan-segan untuk menghukum kamu,” ancam ibu Susi. “Sekarang masuklah!”
“Terima kasih, Bu,” ucap Cindy diikuti tarikan napas leganya.
__ADS_1
Meskipun Cindy karyawan baru di restoran, tetapi sikapnya yang selalu ceria, mudah bergaul, dan tentunya baik terhadap sesama membuat dia disenangi banyak orang.
Akan tetapi ada juga yang merasa iri dengannya. Dan orang itu adalah Mira, sahabatnya sendiri.