Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Hak dan kewajiban


__ADS_3

Cindy sudah tak kuasa menahan luka dihatinya. Meski Ravino menjanjikan kebahagiaan untuk nya, tetapi menurutnya percuma. Ucapan ibu mertuannya sudah sangat melukai hatinya. Didalam hatinya berkata meski dia tak bisa bersama sang suami, tetapi dia memiliki bagian lain dari suaminya, yaitu bayi didalam kandungannya.


Cindy berniat kembali ke kampung, dirinya hanya harus bersiap menerima apapun yang akan di lontarkan orang-orang kepadanya. Tetapi kenapa harus takut, toh dirinya gak hamil diluar Nikah.


Setengah perjalanan Cindy teringat, sepertinya ada sesuatu yang dia lupakan.


"STOOOOOOOOOOOOP"


Mendengar teriakan penumpangnya, supir taxi online memberhentikan laju mobilnya.


"Kenapa Mba?"


"Tas saya ketinggalan" jawab polos Cindy. "Tolong balik lagi ke tempat yang tadi ya Pak." Lanjut Cindy.


Dan pastinya Cindy akan ketinggalan kereta. Tapi bagaimana lagi, tiket Kereta, dompet, hp ada didalam tas yang dia tinggalkan.


Sang sopir taxi online menepuk keningnya, lalu menggelengkan kepalanya. Mobil berputar arah kembali ke apartement Cindy.


Didalam perjalanan Cindy terus saja menggerutu bagaimana bisa, dia meninggalkan benda sepenting itu.


Sesampainya di gedung apartement, segera Cindy memasuki lift menuju lantai 10. Cindy menekan passcode, pintu mulai terbuka pelan pelan pelan dan Cindy terbelalak melihat Suaminya sudah di depan mata.


Ravino menatap tajam penuh intimidasi kearah Istrinya. Cindy gelagapan bertanya dalam hatinya kenapa suaminya bisa disini, bukankah hari ini hari pernikahannya.


" Kamu kembali untuk mengambil ini Cindy!"


Ravino menunjukan tas Cindy yang tertinggal di sofa ruang tengah.


"Mas Ravi kembalikan tas aku"


"Kita harus bicara Cindy"

__ADS_1


"Ok kita bicara. Tapi tolong berikan tas aku dulu", pinta Cindy.


"Kita bicara dulu, baru aku kembalikan tas ini." Cindy tetap memaksa meminta tasnya. "Cindy apa tas ini lebih berharga dari aku?''


Cindy menghela nafas. "Mas Ravi, kita bicara tapi berikan tasku dulu. Aku harus membayar ongkos taxi online ku dulu."


Ravino menggeram pelan, lalu memanggil bi Sumi dan memberikan beberapa lembar uang untuk membayar ongkos taxi online Cindy serta meminta membawa kembalinya untuk mengambil barang barang Cindy.


Karena terlalu lama berdiri, Cindy merasa sedikit sakit di kakinya. Ravino yang melihat langsung membawa Cindy duduk di sofa. Lalu tanpa menunggu lama, Ravino mengangkat kedua kaki istrinya dan menaruh di pangkuannya.


"Apa masih sakit?", tanya Ravino sambil memijat kaki Istrinya.


Cindy tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. " Mas Ravi kenapa kesini? Apa Mas Ravi kabur lagi!"


"Pernikahannya batal Sayang", Ravino tersenyum menatap lurus ke mata istinya.


Cindy terkejut, lalu Ravino menceritakan apa yang sudah terjadi di acara pernikahannya.


" Kenapa kamu mau pergi, kita sudah sepakat bukan!"


"Aku gak sanggup mas", Aliran air mata sudah tak bisa dibendung lagi. Cindy tak bisa menceritakan apapun soal bu Desi, dia tak mau memperkeruh keadaan. Tapi tak di ketahui Cindy, kalau suaminya sudah melihat rekaman cctv di apartementnya. Ravino tahu kalau istrinya tidak akan mengatakan apapun soal kejadian waktu itu.


Ravino menghapus air mata istrinya yang masih tetap mengalir. Digenggam tangan istrinya lalu menciumnya.


"Aku mencintaimu Cindy. Lupakan semua, mulai saat ini tak ada lagi yang bisa membuat aku jauh darimu, meski itu mamah sekalipun."


Ravino melepas kalung miliknya dan milik istrinya. Cincin pernikahan yang dia jadikan liontin kini disematkan ke jari manis istrinya dan juga jari manis dirinya.


"Ini hak mu." Mencium cincin yang melingkar di Jari manis istrinya. Hak untuk mendapat pengakuan sebagai istri sah dari Ravino Arga Wijaya.


"Dan ini kewajibanku", memperlihatkan cincin di jari manisnya. Kewajiban mengakui kalau dia adalah suami dari Cindy larasati dan memberikan Cindy hak atas nama Wijaya. Cindy Wijaya.

__ADS_1


Sudah tak bisa lagi Cindy menahan perasaamnya sekarang. Diturunkannya kaki dari pangkuan suaminya lalu dengan segala perasaan bahagianya, Cindy memeluk erat suaminya. Ravino membalas pelukan sang istri, lalu mencium seluruh wajahnya.


"Ehmmmmmm."


Suara deheman menghentikan keduanya untuk melepas tautan bibir mereka. Ravino dan Cindy menoleh ke asal suara.


"Di Kondisikan dong perasaan bahagiannya. Banyak oranh disini." Seloroh Doni.


Sandra dan bi Sumi hanya senyum senyum saja. Bi sumi pamit kedapur membuatkan minum setelah menaruh barang barang Cindy ke ruang tengah. Keempatnya begitu duduk bersama di ruang tengah. Doni menceritakan apa yang terjadi antara Niko dan Tiara. Ravino terkejut, dia baru tahu kalau Niko mencintai Gadis begitu besar. Tapi sayang , setelah dia mendapatkannya malah dihianati oleh Gadis.


Hukum karma masih berlaku


Cindy mengucapkan banyak terima kasih kepada Doni dan Sandra yang sudah membantunya. Beruntung Cindy bertemu dengan orang orang baik seperti mereka, yang tak pernah memandang status sosial seseorang.


"Mba Sandra aku boleh peluk Mas Doni gak." Pertanyaan Cindy membuat Sandra membelakan matanya, dengan cepat Sandra menjawab.


"Enak aja, gak boleh lah."


Jawaban Sandra mengejutkan semuanya. Melihat ekspresi ketiga orang didelannya, sontak membuat tawa Sandra meledak.


"Aku hanya bercanda." Seloroh Sandra masih dengan tawanya.


" Kamu mau peluk Mas Doni, enak aja. Aku sama calon baby ku duluan yang harus kamu peluk." Ucapnya seraya mengusap perut yang masih rata.


Cindy tersenyum sumringah mendengar kabar kehamilan Sandra. Kemudian Cindy merentakan tangannya dan disambut rentangan tangan Sandra.


*Terima Kasih buat yang sudah berkenang mampir ke Novel aku.


Jangan lupa like, rate dan tambahkan ke menu favorit ❤.


Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2