Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Dua


__ADS_3

“Cind, kamu dari mana saja? Jam segini baru nongol? Biasanya kamu gak pernah telat?” tanya Sandi.


“Tadi ada ibu-ibu keserempet motor. Aku nolongin dia terus nungguin dia sampai ada yang menjemputnya?” jawab Cindy.


“Terus ibu-ibu itu bagaimana? Lukanya parah gak?” tanya Sandi.


“Gak apa-apa, cuma lecet-lecet doang,” jawab Cindy.


“Syukur deh. Kamu tuh memang baik,” puji Sandi.


“Terima kasih untuk pujiannya,” ucap Cindy. “Aku ke toilet dulu, San. Aku mau ganti baju,” ucap Cindy.


Cindy masuk ke dalam toilet untuk mengganti pakaiannya dengan seragam kerjanya. Di dalam toilet Cindy bertemu salah seorang teman kerjanya, yang sekaligus sahabatnya, Mira.


“Pagi, Mira,” sapa Cindy.


Mira nampak malas untuk membalas sapaan Cindy. Mira ingin pergi, tetapi Cindy menahannya.


“Mir, mau sampai kamu marah sama aku?” tanya Cindy.


Mira menarik napas kesal, lalu menghempaskan tangan Cindy.


“Jangan sentuh aku!” bentak Mira.


Cindy menarik napasnya, berharap dirinya memiliki kesabaran lebih untuk menghadapi sikap sahabatnya.


Mira bersender di dinding dan melipat tangan di depan dadanya serta menatap remeh pada Cindy.


“Mir ....”


“Cindy ... cukup!” Mira menunjukan telapak tangannya ke hadapan Cindy, mengisyaratkan agar Cindy berhenti bicara.


Cindy dan Mira adalah sahabat dekat, tetapi karena laki-laki yang Mira sukai ternyata malah menyukai Cindy. Hal itu membuat hubungan keduanya menjadi renggang.


“Gak usah sok baik, Cind! Aku tahu kamu itu sebenarnya hanya baik kepadaku di depan saja. Tapi di belakangku, kamu tega nusuk aku dari belakang,” ucap Mira penuh amarah.


Cindy yang mendengar ucapan temannya itu merasa sedih dan hanya mampu terdiam dengan wajah tertunduk.


“Jadi mulai sekarang, kamu mending jauh-jauh dariku. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi,” ucap Mira.


“Tapi, Mir ... kita ini teman, 'kan? Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku?” tanya Mira.


Cindy mengatur nafasnya, mencoba membuat dirinya setenang mungkin.


“Aku sudah pernah bilang sama kamu ... jangan pernah deketin Reno lagi. Tapi sepertinya kamu ngeyel. Kamu masih saja ngedeketin dia,” bentak Mira.


Cindy menggelengkan kepalanya dan mengerutkan keningnya merasa heran dengan temannya.

__ADS_1


“Sorry, Mir. Tapi aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Reno. Aku hanya menganggap dia sebagai kakakku.”


“Gak usah bohong deh,” sungut Mira. “Aku tahu kamu suka sama Reno. Kamu berniat merebut dia dariku, 'kan?” Nafas Mira memburu, menandakan Mira dalam keadaan emosi level akut.


“Kamu jahat, Cin. Kamu tahu 'kan dari dulu aku cinta banget sama Reno. Tapi kenapa kamu mau merebut dia dari aku? Temen macem apa kamu?” Mata Mira sudah berkaca-kaca karena marah.


“Mir ... aku gak pernah berniat untuk merebut Reno dari kamu. Aku sama dia cuma temen. Perasaan aku ke Reno juga gak lebih dari seorang adik ke kakak laki-laki saja,” jelas Cindy.


“Tapi dia cinta sama kamu, Cin!” tegas Mira.


“Tapi aku gak suka sama Reno, Mir. Harus berapa kali aku bilang sih?” ucap Cindy.


“Bohong!”


“Gak, Mir?”


“Oke, kalau memang kamu gak ada perasaan apapun ke Reno. Aku minta kamu keluar dari restoran ini!” suruh Mira.


Mata Cindy langsung terbelalak. “Apa? Itu gak mungkin bisa, Mir ... aku butuh pekerjaan ini.”


“Kamu 'kan bisa cari pekerjaan lain. Lagian kamu harus ingat ... aku yang masukin kamu kerja di sini. Jadi ... kamu harus nurutin apa kumau. Dan sekarang aku minta kamu keluar dari restoran ini, hari ini juga!” ucap Mira.


“Mir, kamu gak bisa kaya gitu dong. Kenapa kita harus mencampuradukkan urusan pribadi kita sama pekerjaan,” ucap Cindy.


“Aku gak peduli,” ucap Mira.


Mira geram setelah mendengar ucapan Cindy. Tangan Mira terangkat dan mencoba menampar Cindy. Cindy yang tidak sigap langsung memejamkan mata.


Cindy tidak merasakan sakit di pipinya, melainkan telinganya mendengar suara teriakan Mira.


“Aaaaaaaaaaaa!” Suara teriakan Mira membuat Cindy terkejut dan buru-buru membuka matanya.


Cindy melihat Mira melompat lompat dan membuatnya tertawa lepas. Cindy melihat tikus putih kecil tiba-tiba ada di kepala Mira.


Cindy tertawa lepas sampai memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.


“Sukur! Kualat, 'kan? Pagi-pagi sudah ngomel-ngomel. Tikus saja sampai merasa terganggu,” ledek Cindy masih tertawa lepas bahkan sampai memegangi perutnya.


Mira yang ketakutan masih berjalan mondar mandir ke sana ke mari. Tidak sengaja kakinya menginjak kain pel. Mira pun terpeleset kain pel dan jatuh ke lantai.


Gubraak


Mira terjatuh, entah apa yang membuat tikus itu betah di kepala Mira.


Merasa kasian, Cindy mencoba menolong Mira. Dia mengambil tikus di kepala Mira dan membuangnya.


“Dari mana datangnya tikus ini?” gumam Mira.

__ADS_1


Cindy mencoba membantu Mira berdiri dengan mengulurkan tangannya ke Mira, tetapi tangannya langsung ditepis oleh Mira.


“Gak usah sok baik. Aku bisa bangun sendiri.” Mira menolak bantuan dari Cindy dan mencoba berdiri dengan usahanya sendiri.


"Ada apa ini?”


Suara nyaring itu tidak asing di telinga Cindy dan Mira. Keduanya sama-sama mengalihkan pandangnya ke asal suara. Mata mereka berdua melihat ibu Susi.


Manager itu tiba-tiba masuk ke dalam toilet setelah mendengar suara ribut. Matanya melihat tajam ke arah Mira dan juga Cindy.


Mira dan Cindy melihat ada kemarahan dalam tatapan ibu Susi.


Gleeek


Mira dan Cindy menelan air liur mereka sendiri untuk membasahi tenggorokan mereka yang mendadak terasa kering. Jantung Mira dan Cindy seakan berlomba untuk berdetak saat mendapat tatapan tajam dari Ibu Susi.


“Ibu tiri datang,” batin Mira.


“Ada singa betina yang sedang kelaparan,” batin Cindy.


“Katakan, apa yang terjadi di sini?” tanya ibu Susi.


Cindy dan Mira saling bertukar pandang. Cindy mencoba membuka suara, tetapi Mira langsung menyelanya.


“Cindy dorong saya, Bu,” ucap Mira.


Cindy langsung menoleh ke arah Mira yang sedang menyunggingkan senyum licik.


Cindy bingung harus bagaimana ia mencoba membela diri, tetapi lagi-lagi kata-katanya diputus oleh Mira.


“Bukan —”


“Cindy marah sama saya. Karena saya menegurnya,” ucap Mira.


Mendengar kebohongan Mira, Cindy hanya diam dan menundukkan kepalanya. Lebih baik dirinya mengalah dari pada memperkeruh keadaan.


“Bos datang.”


Suara Sandi memecah ketegangan di dalam toilet. Segera ibu Susi meminta semua karyawan untuk menyambut kedatangan bos besar mereka yang memang jarang datang ke restoran itu.


“Cepat kalian rapikan penampilan kalian dan segera menyusul ke pintu masuk,” perintah ibu Susi.


“Baik, Bu,” sahut Mira dan Cindy secara bersamaan.


“Apa?”


“Apa?”

__ADS_1


Cindy memilih untuk lebih dulu pergi untuk kembali merapikan penampilannya. Cindy merasa tidak sabar untuk melihat seperti apa bos-nya. Pasalnya selama ia bekerja di restoran itu, dirinya belum pernah bertemu dengan pemilik restoran itu.


__ADS_2