
Ravino pergi ke tempat mamanya bersama sahabatnya Doni sekaligus untuk makan siang bersama di sana. Dalam perjalanan Ravino mengambil ponsel dari saku jasnya untuk menghubungi mamanya.
“Halo, Mah, aku sudah di jalan,” ucap Ravino.
Mamah juga masih di jalan
“Oh, oke, Mah. Kita ketemu di sana,” ucap Ravino.
Setelah mengatakan itu Ravino mengakhiri panggilan teleponnya dengan mamahnya. Ravino kembali fokus mengendarai mobilnya menuju tempat mamahnya bersama Doni.
Dalam perjalanan Doni menanyakan perihal hubungan Ravino dengan Gadis.
“Kamu dan Gadis masih baik-baik saja?” tanya Doni.
Ravino menaikan kedua bahunya lalu kemudian menggelengkan kepalanya. Jujur Ravino sendiri merasa bingung arah hubungannya bersama Gadis.
“Sudahlah, Rav ... sebaiknya kamu cari perempuan lain saja, lupakan Gadis. Aku sudah pernah bilang tentang Gadis ke kamu, dia kayaknya gak serius sama kamu,” ucap Doni.
Ravino diam tidak tahu harus mengatakan apa pada Doni. Entah mengapa rasanya hari ini dirinya tidak bersemangat.
“Jangan terus menyiksa dirimu dengan sebuah hal yang tidak pasti,” ucap Doni.
Tidak lama Ravino dan Doni sampai ke tempat yang mereka tuju membuat mereka menghentikan obrolan tentang Gadis.
Ravino memarkirkan mobilnya di depan restoran, lalu kemudian turun dari mobil bersama dengan Doni. Keduanya masuk ke dalam restoran dan langsung disambut oleh salah satu karyawan di restoran itu yang bernama Sandi.
Ravino dan Doni duduk di meja yang ada di dekat jendela.
“Kamu pesan apa, Don?” tanya Ravino.
“Ayam teriyaki sama capcay saja,” jawab Doni.
“Oke, aku samain saja sama pesanan Doni,” ucap Ravino kepada Sandi.
“Oke, ditunggu pesanannya, Tuan ganteng,” ucap Sandi.
Setelah menunggu beberapa saat, makanan yang Ravino dan Doni pesan akhirnya datang.
“Ini pesanan Anda.”
Ravino mengalihkan pandangannya ke asal suara. Siapa sangka, Ravino bertemu kembali dengan perempuan yang semalam melempari mobilnya dengan batu.
“Kamu!”
“Kamu!”
Bukan hanya Ravino yang terkejut, Cindy pun sama terkejutnya dengan Ravino.
Pandangan Ravino dan Cindy bertemu. Namun, setelah itu keduanya saling membuang muka. Cindy benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengannya laki-laki menyebalkan itu.
Meksi perasaannya kesal, Cindy tetap mencoba bersikap profesional. Setelah memberikan pesanannya, Cindy langsung pergi dari meja Ravino.
Pemandangan itu tidak luput dari penglihatan Doni. Doni mengerutkan keningnya karena merasa penasaran. Ada apa dengan sahabatnya dan pelayan restoran itu?
__ADS_1
“Ada apa kamu sama dia? Kami kenal dia?” tanya Doni.
“Semalam aku bertemu dengan dia. Dan dia berani melempari mobilku dengan batu,” jawab Ravino.
“Oh.”
Ravino dan Doni melupakan tentang Cindy, keduanya fokus pada makan siang mereka. Setelah selesai menyantap makanan mereka, Ravino dan Doni bergegas kembali ke kantor karena ada meeting dadakan dengan klien.
Saat Ravino dan Doni akan keluar dari restauran, tiba-tiba Cindy menghadangnya.
“Mau ke mana? Kamu belum membayar makanan yang kamu makan,” ucap Cindy. “Mau kabur dari di sini?”
Perkataan Cindy berhasil mengalihkan pandangan semua orang kepadanya.
“Berani banget kamu bicara seperti itu padaku. Kamu tidak tahu siapa aku?” ucap Ravino.
“Kamu itu laki-laki berhati dingin,” jawab Cindy.
Ravino mengerutkan keningnya setelah mendengar jawaban Cindy, sedangkan Doni tertawa lepas di belakang Ravino.
“Apa yang kamu lakukan, Cindy?” tanya ibu Susi.
“Dia belum bayar makanannya, Bu. Dan dia mau pergi begitu saja,” ucap Cindy.
“Cindy ... dia ini —” Belum sempat ibu Susi melanjutkan kata-katanya, Cindy lebih dulu memutusnya
“Mau makan gratis di sini,” ucap
Cindy.
Ibu Susi menghela nafas lalu menepuk keningnya sendiri. Sedangkan Doni masih tertawa bahkan sampai mengeluarkan air mata dari sudut matanya.
“Ada apa ini?” Tiba-tiba suara ibu Desi menghentikan keributan di restorannya.
“Mah ... dia karyawan baru di sini?" tanya Ravino.
“Kalau iya ... ke-na-pa ... mamah?” Cindy merasa terkejut setelah mendengar ucapan Ravino yang memanggil ibu Desi dengan sebutan 'mamah.'
“Mamah?” ulang Cindy.
“Iya, Cindy. Mas Ravino ini anaknya ibu Desi,” jelas ibu Susi.
“Mati aku ... mati aku,” guman Cindy dalam hati.
Mendadak rasa cemas menyelimuti hati Cindy detik itu juga.
*****
Cindy terus berjalan mondar-mandir di ruang istirahat. Cindy benar-benar tidak tahu kalau Ravino anaknya ibu Desi. Selama dia bekerja di restoran itu Cindy sama sekali tidak pernah melihat Ravino.
“Eh, Cind kamu itu cari masalah. Aku 'kan gak jadi gak enak sama ibu Desi. Aku yang sudah bawa kamu kerja di sini,” ucap Mira.
“Eh, Mira ... kamu gak bisa nyalahin Cindy begitu saja. Selama dia bekerja di sini, dia 'kan memang gak pernah ketemu sama mas Ravi,” bela Sandi.
__ADS_1
“Itu benar, Mir,” sambung Reno.
Mira mendengkus dan merasa tidak suka saat Reno dan Sandi membela Cindy.
Cindy duduk di kursi seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dirinya benar-benar merasa frustasi.
“Aku takut jika aku dipecat,” ucap Cindy.
“Sabar saja, Cind,” ucap Sandi.
"Iya kamu tenang saja. Ibu Desi pasti ngertiin kamu kok, Cind.” Ucapan lembut Reno pada Cindy membuat hati Mira meradang.
Tidak tahan dengan itu Mira memilih pergi dari tempat itu sambil menghentakkan kakinya. Kemarahan Mira pada Cindy semakin meningkat. Sebenarnya itu bukanlah salah Cindy, melainkan Reno yang selalu mengejar cinta Cindy.
“Kalian berdua kalau mau romantis-romantisan jangan di depan Mira.” Sandy menunjuk ke arah Mira menggunakan dagunya.
“Cindy, kamu dipanggil oleh bu Desi di ruangannya,” ucap ibu Susi.
Glek
Cindy menelan air ludahnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering.
“Iya, Bu. Saya segera ke sana,” ucap Cindy.
Cindy melangkah ke ruangan ibu Desi. Setelah mengetuk pintu Cindy masuk ke dalam ruangan ibu Desi dengan dipenuhi rasa takut.
“Ibu manggil saya?” tanya Cindy yang langsung diangguki oleh ibu Desi.
“Silahkan, duduk,” suruh ibu Desi.
Ibu Desi mempersilahkan Cindy untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya.
Cindy duduk di kursi yang ditunjuk oleh ibu Desi. Mata Cindy melihat sekilas ke arah Ravino yang tengah duduk di sofa. Cindy bisa melihat Ravino yang tengah menatapnya dengan tajam.
“Cindy kamu tahu ... apa yang kamu lakukan tadi bisa membuat reputasi anak saya buruk,” ucap ibu Desi.
“Maaf, Bu ... saya benar-benar tidak tahu kalau dia ... maksud saya Tuan Ravino itu anak ibu,” ucap Cindy.
Desi menghela nafas beratnya. “Maaf, Cindy ... tapi kamu tidak bisa bekerja lagi di sini dan kamu —”
Belum sempat ibu Desi melanjutkan kata-katanya, Cindy histeris memohon untuk tidak dipecat.
“Bu, tolong jangan pecat saya. Saya sangat butuh pekerjaan ini,” mohon Cindy.
“Kamu bisa tenang sedikit gak sih?” Ucapan Ravino berhasil membuat Cindy diam. Apalagi saat melihat tatapan Ravino yang terkesan sedang mengintimidasi dirinya.
“Cindy, kamu memang berhenti kerja di sini. Tapi kamu pindah kerja sama anak saya. Kamu akan mengurus segala keperluan sehari- hari anak saya,” jelas ibu Desi.
“Maksud Ibu Desi ... saya jadi asisten rumah tangganya anak ibu?” tanya Cindy lalu yang langsung diangguki oleh Ravino dan ibu Desi.
“Itu hukuman buat kamu yang sudah bikin aku malu di depan umum. Tapi kamu tenang saja, kalau kamu kerjanya bagus, aku akan berikan kamu gaji tiga kali lipat dari gaji kamu di sini,” ucap Ravino.
“Tapi —”
__ADS_1
“Kalau kamu menolaknya, aku akan laporin kamu ke kantor polisi atas tuduhan pencemaran nama baik,” ancam Ravino.
Mendengar ancaman dari Ravino Cindy hanya bisa mengangguk dengan wajah tertunduk.