
Ravino dan Cindy segera melesat kembali ke Jakarta setelah mendengar kesehatan Bu Desi menurun. Ravino merasa cemas, meski hubungannya dengan ibunya sedang dalam keadaan tak baik, tetapi mengingat hanya tinggal ibunya satu satunya orang tua yang masih ada.
Cindy mengenggam tangan suaminya dan mengatakan semuanya akan baik baik saja. Ravino mencoba tersenyum meski hatinya tetap merasa cemas.
Sesampainya di rumah mewah Bu Desi dan juga rumah masa kecilnya, Ravino bergegas keluar dari mobilnya.
"Mas Ravi aku tunggu sini aja yah", pinta Cindy. Ravino tahu kenapa istrinya tidak ikut masuk.
Ravino mengusap pipi dan mencium kening istrinya. "Ok, kamu tunggu sini. Aku masuk dulu yah". Cindy menganggukan kepalanya.
Ravino berlari masuk kedalam rumahnya, setelah masuk Ravino menggerutu melihat ibunya sedang melihat lihat majalah di ruang tengah rumahnya.
"Mamah katanya sakit, ko gak istirahat di kamar, malah baca majalah disini..! ".
Bu Desi menghela nafas lalu menutup majalah di tangannya serta meletakan ke atas meja. "Apa mamah harus terus terusan sakit supaya kamu bisa menemuin mamah ", tanya Bu Desi sendu.
Ravino menggenggam tangan ibunya. "Maafin Ravi mah. Bukannya Ravi gak sayang sama mamah, tapi.... mamah tahu kan keadaannya sekarang."
Bu Desi menatap anak lekat lekat. Lalu menghela nafas dalam. "Apa kamu tidak bisa lagi tinggal disini sama mamah..!"
Ravino terdiam lalu menunduk sebelum menatap kembali mamahnya. "Mah. Mamah tahu kalo Ravi sudah gak sendiri lagi. Ravi akan tinggal di sini kalo bersama istri Ravi."
"Terserah kamu, aja," pasrah Bu Desi.
Ravino mengecup pucuk kepala mamahnya. Setelah Cindy kehilangan ibunya, Ravino tak ingin mengalami hal yang sama dengan istrinya. Apalagi tinggal sosok seorang ibu yang dia punya. Ingin sekali Ravino membahagiakan kedua wanita terpenting dalam hidupnya istri dan ibu tercintanya. Dan semoga saja ketika istri dan mamahnya tinggal bersama, mungkin bisa mendekatkan keduanya.
Ravino menghampiri Istrinya di teras rumahnya. Ravino bersimpuh di depan sang istri dan menggenggam erat tangannya.
"Sayang, mamah nyuruh aku untuk tetap tinggal disini."
Cindy mengantup kedua sisi wajah suaminya.
"Tidak apa apa, Bu Desi pasti kangen sama Mas Ravi".
"Cind, aku minta tolong, tinggalah disini bersamaku..!"
Cindy menganggukan kepalanya, meski dihati amatlah berat. Bu Desi sama sekali tak menyukainya bahkan tak akan pernah menganggap dirinya dan anaknya. Namun dia tak ingin menyakiti hati suami tercintanya.
Ravino tersenyum sumringrah lalu mengecup kening Cindy. "Makasih sayang."
******
Cindy masuk ke rumah besar mertuanya, tangannya yang gemetar langsung digenggan erat sanhg suami. Cindy tahu Suaminya pasti sangat tahu bagaimana perasaannya sekarang.
__ADS_1
"Apa kabar Bu Desi", tanya Cindy ragu ragu
"Hmmm", jawab Bu Desi singkat. "Istirahatlah", lanjutnya.
Cindy memandang suaminya seakan bertanya bagaimana selanjutnya. Ravino menganggukan kepalanya.
"Turuti saja apa yang mamah perintahkan", bisiknya.
"Mah Ravi kekamar dulu".
"Permisi, Bu"
Bu Desi menganggukan kepalanya tanpa melihat anak dan menantunya. Bergegas Ravino menarik tangan istrinya menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Saat akan melangkah menaiki tangga Bu Desi memanggilnya.
"Kamu mau kemana Ravi..?"
"Ke kamar mah"
"Kamu lupa istri kamu lagi hamil besar, apa kamu mau menyuruhnya naik turun tangga..?"
Ravino melirik istrinya lalu menepuk keningnya. "Ravi lupa mah."
Bu Desi menghela nafas panjang lalu memanggil para pekerja rumahnya untuk segera memindahkan barang barang anaknya dan menantunya ke kamar tamu.
Cindy menyandarkan dirinya dikepala ranjang. Pikirannya masih melayang memikirkan tentang statusnya di rumah ini. Sebelum masuk kekamar, Cindy mendengar percakapan dua orang pekerja dirumah mertuanya sedang membicarakan dirinya.
Keesokan harinya Cindy bangun pagi karena memang setiap harinya dia harus menyiapkan sarapan untuk suaminya. Matannya tak sengaja menangkap sosok yang sangat dia takuti, siapa lagi kalo bukan mertuanya Bu Desi.
"Pagi Bu", sapa Cindy
"Pagi"
Cindy sedikit lega mertuanya menjawab salamnya meski terlihat sangat terpaksa. Cindy masuk kedalam kamarnya dan melihat sang suami sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk kekantor. Cindy mendekat dan mencium aroma tubuh suaminya dan memeluknya. Ravino tersenyum melihat betapa manjanya istrinya sekarang.
"Kamu gak apa apa aku tinggal di rumah..!"
Cindy menggelengkan kepalanya, ada sedikit kekhawatiran memang. Tapi Cindy mencoba untuk tidak menampakannya, dia tak mau suaminya merasa terbebani.
>>>>>Satu bulan kemudian>>>>>
Tak terasa Cindy sudah berada di rumah mertuanya selama satu bulan. Dan selama satu bulan Cindy merasa badannya sudah seperti **** bahkan bisa tidur seharian seperti ****. Hubungannya dengan mertuanya belum sepenuhnya baik, tetapi sungguh perhatian mertuanya sangat luar biasa.
Semua makanan Cindy pun selalu mertuanya yang mengatur, tidak boleh ini tidak boleh itu. Bahkan melakukan pekerjaan rumah pun Cindy tak boleh menyentuhnya. Meski perkataan Bu Desi terkesan dingin kepada dirinya, namun Cindy merasa mertuanya begitu memperhatikannya. Kadang juga Cindy menitihkan air matanya karena merasakan kerinduan kepada sang ibu.
__ADS_1
Saat sarapan Bu Desi tak sengaja mihat tanda merah di leher menantunya. Sedikit senyum menghias di bibirnya.
"Ravi, kamu harus ingat Cindy sedang hamil besar, kalo berhubungan sama Cindy jangan kasar kasar."
Sontak saja perkataan mamahnya membuat Cindy dan Ravino tersedak makanan mereka. Dengan segera keduanya meminum air masing masing. Cindy benar benar tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Bisa bisanya mertuanya berbicara seperti itu.
"Mamah apaan sih..!"
Ravino menggaruk tengkuknya yang tak gatal untuk menyembunyikan rasa malunya. Bu Desi dengan santainya menunjuk tanda merah yang tergambar di leher Cindy menggunakan garpu di tanganya.
"Tuh ada bekasnya di leher istri kamu"
Pandangan Ravino beralih keleher istrinya lalu segera melipat bibirnya menahan tawa.
Cindy bangun dari duduknya dan segera menghampiri kaca dekat ruang tamu. Cindy membelakan matanya melihat ada jejak merah dilehernya.
"Mas Raviiiiiiiii", pekik Cindy
Suami dan mertuanya terlihat sedang tertawa lepas. Ravino menghampiri istrinya yang sedang cemberut lalu dikecup kening sang istri dan ber alih ke perut buncit sang istri. Setelah suaminya pergi, Cindy melirik ibu mertuanya yang masih betah menahan tawanya sungguh sekarang Cindy begitu malu kepada mertuanya. Dia tidak tahu kalau semalam suaminya membetikan jejak di lehetnya. Cindy menghentakan kakinya lalu berlalu masuk ke dalam kamar
Ibu Desi bahagia melihat anaknya begitu bahagia bersama istrinya, tidak ada lagi wajah tertekan seperti saat dulu dirinya menjodohkan dengan Gadis. Tetapi gengsi tinggi masih menyelimuti dirinya. Mengingat apa yang dulu pernah ia katakan kepada menatunya.
Suara ketukan pintu di kamarnya membuyarkan lamunan Cindy. Dengan berjalan pelan segera ia membuka pintu kamarnya. Dia terkejut melihat ibu mertuanya sedang berdiri dihadapannya.
"Bu Desi. A...aada yang bisa aku bantu."
"Bersiap dan segera ikut saya."
Ibu Desi berlalu setelah Cindy menganggukan kepalanya.
*Terima kasih banyak yang sudah like, favorit dan juga votenya .
Mampir yuk ke novel terbaruku
Raja dan Ratu
Jangan lupa like👍
tambah ke favorit ❤
Rate ⭐⭐⭐⭐⭐*
Happy reading gaes
__ADS_1