
Keadaan Cindy sudah membaik, Dokter pun sudah mengizinkan untuk pulang. Mira membantu membawa bayi kecil Cindy, sedang Reno dan Fajar membawa barang barang Cindy. Ravino membantu Cindy untuk duduk di kursi roda. Mereka menuju mobil masing masing.
Kepulangan Cindy sudah dinanti semua orang di kediaman Desy. Mobil yang menjemput Cindy sudah memasuki halaman rumah besar Desy. Reno membukakan pintu mobil untuk Ravino dan Cindy. Cindy masih belum bisa berjalan lancar karena operasi caesarnya. Dengan dibantu oleh suaminya Cindy melangkah masuk kedalam rumah.
"Selamat datang sayang", Desy mengecup kening menantunya dan sudah menjadi kesayangannya.
Cindy sangat bahagia mendapat perlakuan begitu spesial dari mertuanya. Mira memindahkan bayi Cindy kegendongan Desy.
"Terima kasih ya Mir", ucao Desy dengan senyum tulusnya. Mira menganggum dan membalas senyum tulus Desy.
Cindy duduk di ruang tamu bersama semua orang. Bayi kecil itu masih terlelap digendongan oma nya. Desy sangat bahagia melihat cucu pertamanya.
"Oh ya Ravi, kamu sama Cindy sudah siapin nama buat bayi manis ini", tanya Desy tanpa mengalihkan pandangannya dari bayi kecil itu.
"Sudah mah, Vincent Sebastian Wijaya."
"Hmmm Vincent Sebastian Wijaya, itu bagus mamah juga suka."
Cukup lama mereka saling berbincang semua meminta izin untuk pulang supaya Cindy bisa beristirahat. Cindy bersender dikepala Ranjang dengan bantal tersusun dibelakangnya. Cindy sempat terkejut mendengar kabar kalo yang mencoba menabrak ibu mertuanya adalah Gadis. Bahkan sampai sekarang Gadis masih menjadi buronan Polisi.
Cindy melamun sampai tak menyadari kalau Suaminya duduk dihadapannya.
__ADS_1
"Kamu lagi mikirin apa sayang?" usapan tangan Ravino dipipinya membuat Cindy tersadar.
"Eh Mas Ravi ngagetin deh"
Cindy menarik tangan Ravino dari pipinya lalu mencium punggung tangan sang Suami. Cindy menceritakan apa yang ada dipikirannya. Cindy tak menyangka kalau Gadis bisa sejahat itu.
"Aku tahu dia tak bisa mengendalikan amarahnya, tetapi aku juga terkejut Gadis bisa melakukan itu kepada mamah."
"Sudah istirahat saja, jangan pikirkan hal yang macam macam." Lanjutnya.
Desy dengan sigap selalu membantu Cindy saat tengah malam Vincent terbangun. Cindy sangat senang mertuanya begitu perhatian padanya dan sangat gesit mengurus Vincent.
Cindy melihat mertuanya sedang memijit keningnya. Cindy mendekati mertuanya lalu memijit kedua pundak yang Desy. Desy terlonjat namum begiti menikmati pijatan sang menantu.
"Cindy minta maaf mah, Cindy sudah ngerepotin mamah."
Desy menarik tangan menantunya, Cindy membungkukan wajahnya dan menempelkan wajahnya disisi wajah Desy.
"Tidak sayangku, dia cucuku"
"Ok, mamah istirahat dulu. Vincent sudah tidur biar Cindy yang jagain Vincent."
__ADS_1
"Perut kamu sudah tidak sakit!!!"
Cindy menggeleng, lalu melepas tautan tangannya di leher Desy, untuk membiarkan sang mertua istrirahat.
"Ya sudah mamah istirahat dulu, kalo ada apa apa panggil mamah."
Cindy mengangguk lalu tersenyum. Desy meninggalkan kamat Cindy menuju kamarnya sendiri. Sebelum itu Desy membangungkan Ravino untuk menemani istrinya.
Ravino membuka pintu kamarnya, dan mendapati Cindy sedang menyusui Vincent. Anak laki lakinya sangat kuat mengusap asinya. Belum satu bulan, matanya hampir tertutup oleh gundukan pipinya.
Cindy kembali merebahkan Vincent ke box bayi. Lalu menghampiri suaminya yang sudah membawa satu gelas susu untuk Cindy.
"Makasih Mas"
"Sama sama. Tidurlah aku akan menjaga jagoan kita".
"I love you my hubby"
"I love you too my wife"
Happy reading gaessπππ
__ADS_1