
Doni sedang menikmati makan malam bersama istri tercintanya di sebuah cafe. Senyum Sandra tak luntur mengingat Dokter memberitahukan padanya dia sedang mengandung. Dan sudah memasuki usia dua bulan. Mereka begitu bahagia karena sebentar lagi keluarga kecil mereka akan lengkap.
Hubungan Doni dan Ravino mulai sedikit membaik. Ada rasa iba di hati Doni melihat sahabatnya harus memilih antara cinta dan keluarganya. Rasa kasihan kepada adik angkatnya juga turut dia cemaskan, apa bisa adik angkatnya bisa melewati semua masalh yang menghadang nanti, mengingat kondisi Cindy yang sedang hamil.
Kecemasan pada Adiknya dia utarakan pada istrinya. Doni bersyukur ternyata istrinya mengerti dirinya, bahkan tak sedikitpun menaruh rasa curiga terhadap hubungannya dengan Cindy. Malah Sandra yang sering memberi dukungan kepada Cindy.
Seseorang menepuk pundaknya saat Doni sedang menikamti makanannya.
"Lo Doni kan?" tanya laki laki tersebut
"Ya, maaf anda siapa?" tanya balik Doni
Laki laki iti menyunggingkan senyuman." Lo gak usah terlalu formal sama gue, kaya sama siapa"
Sungguh Doni masih belum mengingat siapa laki laki yang ada dihadapannya sekarang. Dia merasa pernah melihatnya tapi dia tidak ingat di mana.
"Gue Andre bar tender di Club langganan lo dan sahabat- sahabat lo" jawab Andre
Doni kembali mengingat dan setelah ingatannya kembali dia langsung tersenyum dan bertos ria dengan Andre.
"Woy bro apa kabar? Gila lo beda banget sekarang.'' Doni meneliti setiap sudut penampilan Andre. Yang dulu bergaya ala badboy dan sekarang seperti seorang pengusaha.
Andre yang dulu seorang bar tender di Club malam sekarang sedang menapaki usaha kuliner bahkan Cafe yang sekarang Doni kunjungi adalah Cabang Cafe milik nya dan pusatnya di Bali. Doni memperkenalkan Sandra kepada Andre, dan akhirnya mereka bercerita panjang lebar.
Andre menanyakan sesuatu yang membuat mood Doni berubah sedih. Dia menanyakan soal adik kandung Doni yang sudah meninggal. Andre sangat terkejut mendengar penuturan Doni.
" Apa..! meninggal. Dan lo bilang bunuh diri".
Andre sangat terkejut mendengar ucapan Doni. Dia mengusap wajahnya kasar dan itu membuat Doni heran kenapa Andre begitu terkejut mendengar soal adiknya.
"Sory bro, kalo akhirnya akan kaya gini. Gue bakalan kasih tahu lo waktu itu". ucap Andre masih dengan wajah penuh penyesalan.
" Tunggu, , , tunggu maksud lo apa, lo tahu sesuatu soal adek gue Tiara?" Tanya Doni antusias.
Andre menghela nafas berat dan mulai menceritakan tentang kejadian satu minggu sebelum kematiam Tiara.
Flashback 4 tahun yang lalu>>>>>
Andre sedang bekerja di Club malam waktu itu. Saat dirinya akan ke toilet tak sengaja dia melihat laki laki dan perempuan sedang bertengkar. Dia mengenal laki laki tersebut karena memang sering ke Club. Sedangkan sang perempuan dia tahu kalau itu Tiara adik Doni yang memang pernah sesekali di bawa kakaknya.
Mereka berdua sedang berdebat tetapi apa yang mereka bicarakan Andre tak bisa mendengarnya. Cukup lama mereka berdebat sampa laki laki itu terlihat marah dan mendorong Tiara dengan sangat keras. Laki laki tersebut pergi tanpa peduli dengan rintihan Tiara.
__ADS_1
Andre mendekati Tiara yang sedang memegangi perutnya. Andre yang kebingungan langsung mengangkat tubuh Tiara lewat pintu belakang Club. Andre merebahkan Tiara di kursi belakang mobil nya, dia begitu terkejut melihat darah di tangannya.
Dengan cepat Andre membawa Tiara ke Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit Andre langsung membawa Tiara ke ruangan UGD. Karena Darah terus mengalir sepanjang kaki jenjang nya, Dokter langsung membawa Tuara ke ruangan Operasi. Andre merasa kebingungan apa yang harus dia lakukan, dia memang mengenal Kakaknya tapi dia tak tahu alamat Rumah bahkan nomer ponselnya pun dia tak punya.
Beberapa jam Dokter yang menangani Tiara keluar. Dokter tersebut mengatakan kalau Tiara mengalami keguguran. Bak disambar petir setelah Andre mendengar penuturan Dokter tersebut.
Setelah keadaan Tiara mulai membaik, Dokter memindahkannya ke ruang perawatan. Andre mendekati Tiara yang sedang melamun di ranjang dengan selang infus menancap di punggung tangannya.
"Apa lo sudah merasa lebih baik Tiara?" tanya Andre
Tiara memandang Andre. " Lo kenal gue?"
Andre tersenyum lalu duduk dikursi sebelah ranjang. "Lo adek nya Doni kan?, gue pernah liat lo di Club".
" Lo kenal abang gue, lo sudah kasih tahu ke mas Doni tentang keadaan gue sekarang" tanya Tiara yang terlihat begitu ketakutan.
"Belum, gue baru mau tanya sama lo alamat rumah dan nomer ponsel abang lo. Mana biar gue hubungi Doni". Andre mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
" Tidak tolong jangan kasih tahu mas Doni, tolong" pintan Tiara menyatukan kedua tangannya memohon kepada Andre.
Andre bingung kenapa dia tidak boleh menghubungi keluarganya. Tiara masih memohon dengan tangisannya yang mulai pecah.
"Ok ok gue gak kasih tahu ke keluarga lo. Tapi bisa lo jelasin kenapa?" tanya Andre.
Hanya Andre yang tahu tetang kejadian yang menimpa dirinya, dengan sangat Tiara memohon kepada Andre dan juga mengancam, jika Andre mengatakan semua ini pada keluarganya tentang ini maka dia akan bunuh diri.
-
-
-
-
Doni terdiam mendengar penuturan Andre sungguh dia tidak menyangka adiknya memiliki masalah sebesar itu dan dia sebagai kakaknya merasa tidak berguna.
Doni dengan rasa marah menarik kerah kemeja Andre. "Kenapa lo gak kasih tahu gue dulu, kenapa?"
Andre diam tak bersuara, dia kini hanya merasakan penyesalan yang begitu dalam.
" Sory Don, kalo gue tahu kejadiannya akan seperti itu gue pasti akan kasih tahu lo waktu itu".
__ADS_1
Sandra mencoba melepaskan tangan Doni dari kemeja Andre. "Mas, tolong lepasin Andre. Ini di luar kendali dia".
Perlahan Doni menarik tangannya dari Andre, dia kembali duduk. Ingatannya kembali disaat dia melihat Tiara meregang nyawa, menjatuhkan dirinya dari lantai 15 gedung apartementnya.
Doni meremas rambut dan tak bisa menahan air matanya. Diraihnya kembali kerah kemeja Andre lalu bertanya. " Siapa laki laki itu".
Andre mematap lurus mata Doni yang memerah. "Sahabat lo sendiri".
Andre memberi tahu siapa laki laki/yang di ceritakan Tiara padanya. Amarah Doni makin memuncak, setelah Andre memberi tahu nama laki laki yang membuat adiknya celaka.
Doni pergi dari Cafe tersebut menggandeng tangan istrinya. Sandra merasakan kemarahan Suaminya. Dia merasakannya dari genggaman tangan Doni yang membuat pergelangan tangannya serasa akan patah.
" Mas Doni tanganku sakit"
Doni berhenti dan melihat istrinya menahan sakit. "Maaf sayang, aku aku gak sengaja".
Doni meraih tangan Sandra dan mengusapnya. Sandra meraih wajah suaminya yang sendu, di usap wajah itu dengan kelembutan. Doni selalu merasa tenang saat Sandra menyentuh dengan kelembutannya.
Doni sudah tak bisa lagi menahan perasaannya. Diraihnya punggung Sandra dan memeluknya. Menumpahkan segala kekecewaan serta amarah di dalam dirinya. Sandra mengusap punggung suaminya mencoba memberi ketenangan para Suaminya.
Perlahan Doni melepas pelukan mereka, mereka saling menghapus air mata masing masing.
"Aku harus menyelesaikan masalah ini"
"Apa perlu kita memberi tahu Ravino"
"Tidak! dia juga sedang mengalami masalah"
"Lalu apa yang akan kita lakukan"
"Aku harus ke Club, semoga saja mereka masih menyimpan rekaman Cctv kejadian malam itu".
Sandra mengangguk dan mengusap punggung tangan suaminya. Doni ingin mengantar Istinya pulang, karena dia mencemaskan kehamilan istrinya. Namun Sandra menolak, dia ingin menemani Suaminya.
" Kamu benar tidak akan apa apa'' ucap Doni mengusap pipi Istrinya.
Sandra meraih tangan suaminya lalu menciumnya. "Dia pasti kuat sayang".
Sebenarnya Sandra lebih mengkhawatirkan Suaminya yang sedang tidak stabil emosinya.
Bersambung
__ADS_1
( Selamat membacaπππππ )