Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Empat Belas


__ADS_3

Sebulan setelah kejadian itu, Ravino benar-benar berubah. Sikapnya yang baik dan hangat berubah menjadi dingin, sombong, gila kerja dan suka main perempuan.


Hampir setiap hari, Ravino membawa perempuan ke apartemennya dan melakukan cinta satu malam. Cindy yang mengetahui itu merasa sakit iba pada bos mudanya.


Satu hari Ravino pulang dalam keadaan mabuk bersama seorang perempuan. Dari penampilannya jelas bukan wanita baik-baik.


Pakaian kurang bahan, menonjolkan dua gunung kembarnya dengan dandanan yang menor.


Terlihat Ravino berjalan dibantu sang perempuan masuk ke dalam kamarnya, mereka melewati Cindy. Sudah bukan sekali ini saja Cindy mendengar desahan-desahan nikmat dari Ravino dan perempuan- perempuan yang selalu Ravino bawa pulang ke apartemen.


Jam menunjukan pukul 11 siang Melani keluar dari kamarnya kamar bersama Ravino. Melanie keluar dari kamar hanya memakai kemeja milik Ravino tentu terlihat seksi. Perut Cindy bergejolak saat melihat penampilan Melani.


“Kamu! Mana masakan yang tadi aku minta?” tanya Melani sambil menarik kursi meja makan.


“Ini?” Cindy meletakan makanan yang dia masak ke atas meja makan.


“Apa ini?” Mata Melani melebar. “Aku gak minta ini.”


“Tadi mintanya apa?” tanya Cindy.


“Rendang,” jawab Melani.


“Ini rendang.”


“Ini rendang jengkol, bukan rendang daging,” sungut Melani.


“Tadi 'kan Mba mintanya rendang doank, gak bilang kalau maunya rendang daging.” Cindy memasang wajah polos. Namun, tertawa puas dalam hatinya.


Brak


Melanie menggebrak meja makan. Cindy pun pura-pura terkejut tetapi tertawa dalam di dalam hati.


“Heh kamu itu cuma pembantu di sini. Jangan macam-macam sama saya,” ucap Melani.


Melani mengangkat tangannya mencoba menampar pipi Cindy. Akan tetapi sebelum tangannya mendarat di pipi Cindy, Ravino lebih dulu mencengkram tangan Melani dengan begitu kuat sampai Melani meringis kesakitan.


“Sayang lepas dong, ini sakit.” Melani mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Ravino.


“Sekali lagi kamu berani menghina Cindy. Kamu akan berhadapan denganku.” Ravino menatap tajam Melani kemudian menghempaskan tangan Melani.


“Kamu belain dia ... pembantu kamu dari pada aku?” Melani menunjuk dirinya sendiri.


“Dia bukan cuma pembantuku tapi sudah seperti keluargaku.” Ravino mencengkram kedua sisi wajah Melani.


Cindy melihat kemarahan Ravino seketika menjadi takut dan berlari ke dapur. Sedangkan Melanie pergi meninggalkan apartemen dengan keadaan marah.


Setelah Melani pergi Ravino menarik napas dan mencari keberadaan Cindy. Setelah menemukan Cindy, Ravino mendekati Cindy yang menangis.


“Kamu kenapa menangis?” tanya Ravino.


Cindy menggelengkan kepala, Ravino tersenyum lalu menghapus air mata Cindy dan memeluknya. Cindy menangis di pelukan Ravino.


“Mas Ravi beneran menganggap saya keluarga?” tanya Cindy.


Ravino mengangguk.


“Apa saya boleh tanya?” tanya Cindy.

__ADS_1


Ravino mengangguk lagi.


“Apa Mas Ravi bahagia tiapa hari ngelakuin hal terlarang ini. Bahkan dengan perempuan-perempuan seperti mereka tadi. Tiap hari mabuk dan melakukan hal yang tidak benar?” tanya Cindy.


Ravino terdiam dan menunduk. Ravino sadar apa yang dia lakukan sekarang semata-mata melampiaskan rasa sakit hatinya kepada Gadis dan Niko.


“Aku juga gak tahu, Cind.” Ravino menggelengkan kepalanya.


“Mas jangan biarkan masa lalu Mas Ravi ngancurin masa depan mas Ravi,” ucap Cindy.


Ravino terdiam dengan wajah tertunduk. Tidak terasa air matanya menetes membasahi pipi. Ravino memeluk Cindy pelukan yang sangat nyaman bagi Ravino selain ibunya.


Beberapa saat Ravino melepas pelukannya dan menatap lekat wajah Cindy. Entah apa yang merasuki pikiranya, Ravino mendekatkan wajahnya ke wajah Cindy.


Ravino mendaratkan kecupan bibir Cindy. Ciuman pertama untuk Cindy.


Cindy yang terkejut melebarkan matanya dan mencoba melepaskan diri dari Ravino. Akan tetapi apa daya tenaganya tidak sebanding dengan Ravino.


Perlahan tapi pasti ciuman lembut Ravino meluluhkannya. Cindy menutup matanya seraya membalas ciuman Ravino, sampai akhirnya meraka hanyut di dalam ciuman itu.


Cindy tiba-tiba mendorong tubuh Ravino setelah suara desahan- desahan perempuan yang selalu Ravino bawa ke apartemen. Cindy meneteskan air mata nya dan berlari ke kamar dan meninggalkan Ravino.


Ravino merasa kesal sadar apa yang sudah dia lalukan kepada Cindy. Ravino mengumpat dalam hatinya.


Satu minggu berlalu, hubungan Ravino dan Cindy sedikit berbeda. Cindy sedikit menghindari Ravino.


“Bagaimana caranya aku minta maaf ke Cindy?” Ravino bicara pada dirinya sendiri.


Tok tok tok


Ravino yang sedang duduk di ruang kerjanya menoleh saat ada yang mengetuk pintu.


“Silahkan,” ucap Ravino.


Cindy melangkah masuk setelah Ravino menyuruhnya untuk masuk.


“Mas Ravi, saya mau berhenti bekerja di sini,” ucap Cindy.


Ravino tidak terkejut untuk itu.


“Tunggu sampai aku mendapatkan penggantimu,” ucap Ravino tampa menoleh ke arah Cindy.


“Tapi —”


“Tolong, Cind,” mohon Ravino.


Ravino beranjak dari kursi yang sedang ia duduki. Ia menghampiri Cindy.


“Cind, aku tahu kamu marah atas tindakan aku kemarin. Aku minta maaf, aku khilaf,” ucap Ravino.


“Kalau kamu ingin keluar setidaknya tunggu sampai aku mendapatkan penggantimu,” mohon Ravino.


Mengingat kebaikan bos-nya selama ini, Cindy akhirnya mengalah dan mengurungkan niatnya untuk keluar dari pekerjaan.


“Baiklah, Mas.” Cindy mengangguk dengan wajah tertunduk.


*****

__ADS_1


Ravino mulai kembali ke kebiasaannya sebelumnya, melakukan cinta satu malam dengan wanita berbeda setiap harinya.


Waktu menunjukan pukul satu malam, Cindy terbangun karena haus. Saat menuju ke dapur, Cindy melihat lampu kamar Ravino menyala.


Merasa penasaran Cindy mendekati kamar Ravino. Pintunya sedikit terbuka, pelan- pelan Cindy membuka pintu itu.


Cindy membulatkan matanya dan menutup mulut dengan tangan, menahan suaranya untuk tidak berteriak. Betapa terkejutnya Cindy melihat sosok Ravino sedang memadu kasih dengan dengan seorang perempuan.


Matanya serasa ternodai.


Cindy segera pergi dari tempat itu dan berlari ke arah dapur. Cindy menuang air ke dalam gelas dan meminumnya. Satu gelas air putih langsung habis dalam sekejap.


Keesokan harinya


Waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang. Cahaya matahari menembus dari celah tirai jendela. Ravino membuka perlahan membuka matanya dan mengedarkan pandanganya ke seluruh sudut kamarnya.


Matanya melihat pakaiannya berserakan di lantai. Ravino turun dari tempat tidur, tangannya mengambil celana pendeknya lalu memakainya.


Beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka dan keluar sosok perempuan yang semalam menemaninya.


Perempuan itu keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di tubuhnya. Perempuan itu mendekati Ravino yang sedang duduk bersandar di ranjang. Dengan manjanya perempuan itu bersandar di dada Ravino.


“Morning, Sayang.” Perempuan yang memiliki nama Rena mencium sekilas bibir Ravino.


“Morning juga, Sayang.” Ravino melingkarkan tangannya ke pinggang Rena.


Dengan berani tangan Rena mulai berkeliaran di badan Ravino. Bahkan sampai ke dalam area terlarangnya.


“Apa kamu sedang menggodaku Rena?” Ravino berbisik di telinga Rena.


Rena hanya membalas dengan senyum menggodanya. Ravino yang sudah kembali bergairah mulai ******* bibir Rena dengan rakusnya.


Saat ciuman mereka mulai panas tiba-tiba pintu kamar Ravino yang tidak terkunci terbuka. Ternyata Doni yang datang.


Ravino dan Rena terkejut dan langsung menghentikan kegiatannya. Rena kembali melilitkan handuk tubuhnya.


Doni menatap tajam ke arah pasangan itu. Doni berjalan menghampiri Ravino dan menarik tangan Rena.


“Kamu keluar!” Tangan Doni menunjuk ke arah pintu.


Setelah berganti pakaian Rena keluar dari kamar Ravino dan pergi dari apartemen itu.


“Kamu benar-benar sudah gila, Rav! Gara satu perempuan kamu sampai berbuat hal gila seperti ini.” Doni memaki Ravino.


“Aku hanya bersenang-senang saja. Lalu apa salahnya?” jawab Ravino dengan suara datar.


“Bersenang-senang kamu bilang?” Doni menggeram. “Kamu gak takut kena penyakit?”


“Aku pake pengaman,” jawab Ravino.


Doni menggelengkan kepalanya dan juga mengacak-acak rambutnya. Doni merasa bingung harus mengatakan apalagi supaya sahabatnya itu mengerti.


“Sudahlah, Don. Kamu gak usah ikut campur dengan ini.” Ravino menepuk pundak Doni.


“Aku hanya sedang menikmati hidup,” ucap Ravino sebelum meninggalkan Doni ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Ravino berdiri di depan cermin. Ravino melihat pantulan dirinya yang nampak sangat kacau.

__ADS_1


Mendadak bayangan Gadis dan Niko yang sedang memadu kasih seolah muncul di cermin itu. Ravino ingin memecahkan cermin itu. Namun ia menahannya.


Ravino tersenyum seolah sedang mengejek dirinya sendiri. Rasa cintanya yang begitu besar kepada Gadis membuatnya merasa kehilangan separuh hatinya.


__ADS_2