
Pada esok harinya Cindy bangun pukul lima pagi setelah mendengar alarm pada ponselnya. Sebelum melakukan pekerjaannya Cindy lebih dulu membersihkan dirinya.
Sebenarnya Cindy masih ragu dengan pekerjaan itu, tetapi Cindy mencoba untuk menerimanya. Lagipula Ravino sudah menjanjikan gaji yang lumayan besar yaitu tiga kali lipat dari gajinya saat di restoran.
Kalau itu benar.
Selesai mandi Cindy lebih dulu membersihkan apartemennya itu. Setelah bersih-bersih Cindy pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Cindy membuka lemari pendingin, tetapi ternyata isinya kosong. Hanya ada beberapa butir telur saja.
“Hanya ada telur,” batin Cindy. “Apa aku bikin nasib goreng saja untuk sarapan ya?”
Beruntung sebelumnya Cindy sudah lebih dulu memasak nasi. Jadi akhirnya Cindy memutuskan untuk memasak nasi goreng.Cindy mulai membuat nasi goreng dengan bahan seadanya.
Nasi goreng sudah siap dan sudah tersaji di atas meja makan. Cindy berniat untuk membangunkan Ravino. Saat Cindy mencoba mengetuk pintu, ternyata pintu leCindy.ulu terbuka dari dalam.
Dari balik pintu Ravino muncul dan ia sudah siap untuk berangkat ke kantor. Cindy terpesona melihat Ravino yang memakai pakaian kerjanya.
Hanya satu kata yang mampu Cindy ucapkan pada saat itu. “Sempurna.”
“Halo, Cindi ... Cindy.” Ravino melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Cindy.
Ravino merasa kesal, saat Cindy diam mematung tepat di hadapannya.
“Jangan kebanyakan mengkhayal,” ucap Ravino seraya menjentikkan jarinya.
Perkataan Ravino berhasil membuyarkan lamunan Cindy. Wajah Cindy tertunduk untuk menyembunyikan rasa malunya.
Perempuan mana coba yang tidak terpesona dengan Ravino?
“Eh, Maaf. Selamat pagi, Mas,” sapa Cindy.
“Pagi juga,” balas Ravino.
“Baru mau saya bangunin. Eh, Mas Ravino sudah bangun duluan,” ucap Cindy.
“Aku sudah biasa bangun sendiri,” ucap Ravino.
”Iya, Mas ....”
Nada bicara Ravino terdengar begitu dingin di telinga Cindy, tetapi tidak masalah yang penting laki-laki itu masih mau membalas perkataannya.
“Kamu masak?” tanya Ravino saat mencium aroma masakan.
“Iya,” jawab Cindy sedikit gugup.
“Kamu masak apa? Baunya wangi banget?” Ravino melangkah ke arah meja makan.
Ravino berhenti tepat di meja makan dan melihat ada nasi goreng yang tersaji di atasnya.
“Maaf, Mas Ravino ... cuma ada nasi sama telor. Jadi ... saya cuma masak nasi goreng,” ucap Cindy.
“Tidak masalah,” sahut Ravino.
Ravino menarik salah satu kursi yang ada di meja makan untuk ia duduki. Segera Ravino mengisi piringnya dengan nasi goreng.
Ravino memasukan satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Ravino mengunyah sambil mencoba rasa.
__ADS_1
“Rasanya enak juga,” puji Ravino.
“Terima kasih, Mas,” ucap Cindy diikuti senyumnya.
Cindy tersenyum saat melihat Ravino makan dengan lahap. Awalnya Cindy takut jika bos-nya itu tidak akan menyukai masakannya.
“Silahkan lanjutkan sarapannya, Mas. Saya mau ke dapur dulu,” pamit Cindy.
“Buatkan juga aku kopi kaya semalam ya,” pinta Ravino.
“Baik, Mas,” sahut Cindy.
Cindy kembali ke dapur untuk membuatkan kopi yang diminta oleh majikannya. Beberapa menit kemudian secangkir kopi sudah siap. Cindy kembali ke meja makan untuk memberikan kopi kepada Ravino.
“Ini, Mas ... kopinya.” Cindy meletakan secangkir kopi ke hadapan Ravino.
Cindy melangkah meninggalkan meja makan. Namun, suara Ravino menghentikan langkahnya.
“Mau ke mana?” tanya Ravino.
Cindy berbalik menghadap ke arah Ravino.
“Mau beres-beres lagi, Mas,” jawab Cindy.
“Kamu sudah sarapan?” tanya Ravino.
Cindy menggelengkan kepalanya. “Belum, Mas.”
“Duduk di sini. Temenin aku makan,” suruh Ravino.
“Tapi —” Perkataan Cindy langsung dipotong oleh Ravino.
Hah!
“Baiklah.” Cindy duduk di kursi yang ada di sebelah Ravino dengan rasa kesal bercampur dengan malu.
Ravino melihat sekilas ke arah Cindy sebelum akhirnya berdiri dan pergi ke dapur.
Cindy mengerutkan keningnya melihat Ravino pergi.
“Tadi nyuruh aku temenin dia makan. Sekarang sudah ditemenin malah pergi? Aneh?” Cindy membatin sendiri.
Tidak lama Ravino kembali ke meja makan. Ternyata Ravino mengambilkan piring untuk Cindy.
“Aku bilang temenin aku makan, bukan ngeliatin aku makan,” ucap Ravino.
Ravino menaruh piring yang ia ambil dari dapur ke hadapan Cindy. Bukan hanya itu saja, Ravino bahkan mengisi piring Cindy dengan nasi goreng.
“Makan yang banyak. Tubuh kamu keliatan kurus,” ucap Ravino.
Eh?
Cindy bingung, perkataan majikannya itu sedang memperhatikannya atau sedang mengejeknya.
Apapun itu, Cindy merasa senang ternyata Ravino orang yang lumayan baik.
“Makan! Jangan hanya diam saja,” ucap Ravino.
__ADS_1
“Iya, Mas.” Cindy benar-benar merasa gugup.
Cindy tersenyum kikuk dan diam-diam memegang dadanya. Mendadak ia merasakan debaran jantungnya begitu cepat.
“Apa ini tanda-tanda penyakit jantung,” batin Cindy.
Cindy mulai menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Sesekali juga Cindy mencuri pandang ke arah Ravino.
“Apa tanggapan kedua orangnya jika mereka tahu kalau aku hanya tinggal berdua dengan dia,” batin Cindy.
Setelah selesai sarapan, Cindy merapikan meja makan, sedangkan Ravino berangkat ke kantornya. Sebelum itu Ravino memberikan sebuah kartu ATM kepada Cindy untuk membeli segala keperluan sehari-hari.
“Pergi ke supermarket dan beli apapun yang kamu butuhkan,” ucap Ravino.
“Baik, Mas.” Cindy menerima kartu ATM yang Ravino berikan kepadanya.
“Pin-nya nanti aku kirim lewat pesan,” ucap Ravino yang langsung diangguki oleh Cindy.
“Aku berangkat ke kantor dulu. Ingat jangan mencoba untuk kabur,” ancam Ravino.
“Tahu jalan juga tidak. Lalu bagaimana aku mau kabur,” ucap lirih Cindy. Namun, Ravino masih bisa mendengarnya.
Ravino melangkah ke pintu keluar apartemennya dan langsung melesat ke kantor bersama supir pribadinya.
Sementara itu di apartemen Cindy masih menatap bingung kartu ATM yang baru saja diberikan oleh Ravino. Sejujurnya Cindy bingung, apa yang mau dia beli.
“Aku gak bisa pergi sendiri. Aku juga belum tahu letak supermarketnya,” ucap Cindy. “Aku ajak siapa ya?” pikir Cindy.
Cindy berpikir sejenak, memikirkan siapa yang harus ia ajak untuk pergi berbelanja. Dirinya tidak memiliki teman selain teman-temannya yang ada di restoran.
Cindy menghubungi Sandi dan ternyata sahabatnya itu sedang masuk pagi. Mau mengajak Mira? Itu tidak mungkin.
Akhirnya satu pilihan terakhir Cindy jatuh kepada Reno. Ternyata Reno bisa meluangkan waktu untuk dirinya, karena Reno masuk jam siang.
Pekerjaan rumahnya sudah beres. Kini Cindy sedang bersiap-siap untuk pergi ke supermarket. Reno juga sudah menghubunginya dan mengatakan jika dia sudah dalam perjalanan.
Cindy keluar dari apartemen dan menunggu Reno di lobby apartemen saja.
“Beluk datang juga ya?” Cindy sudah menunggu Reno di lobby sekitar lima belas menit, tetapi Reno belum juga datang.
Tin Tin Tin
Cindy menoleh ke mobil yang berhenti di depannya. Keningnya berkerut, mobil siapakah itu. Rasa penasaran Cindy terjawab saat kaca mobil mulai menurun.
“Loh, Mas Reno?” ucap Cindy.
“Cindy, ayo masuk,” suruh Reno.
“Eh, iya.” Cindy membuka pintu mobil dah duduk tepat di samping Reno.
“Ini mobil Mas Reno?” tanya Cindy.
“Bukanlah. Aku cuma menyewanya saja,” jawab Reno yang langsung dianggukki oleh Cindy.
“Kita berangkat sekarang!” ajak Ravino.
“Yuk, Mas. Maaf ya kalau aku ngerepotin jadi ngerepotin kamu,” ucap Cindy.
__ADS_1
“Gak masalah. Apa sih yang gak buat kamu,” ucap Reno yang langsung membangkitkan rona merah di kedua sisi wajah Cindy.