
Kamar yang biasa Ravino dan Cindy tempati terlihat begitu berantakan, pakaian berserakan di mana-mana, tempat tidur juga tidak tertata dengan rapi. Cindy dan Ravino ada di atas tempat tidur dengan tubuh polos yang hanya tertata oleh selimut tebal. Mereka baru selesai bercinta. Cindy merebahkan kepalanya di dada bidang Ravino, menggerakkan jarinya menggambar sesuatu yang tidak terlihat di dada Ravino.
Perasaan khawatir masih belum hilang dari dirinya semenjak bertemu dengan ibu Desi. Kecemasannya makin bertambah, ia takut pernikahan kontraknya diketahui oleh publik.
Cindy merasa bodoh, ia menyesal kenapa harus mau menyetujui pernikahan kontrak itu. Harusnya dirinya berhutang saja pada Ravino dan akan membayar dengan bekerja seumur hidup saja pada Ravino tanpa dibayar. Mungkin terdengar menyiksa, tetapi itu lebih baik dari pada dirinya dihantui rasa cemas yang begitu besar. Namun, nasi sudah menjadi bubur, dirinya sudah menikah dan keperawanannya juga sudah hilang. Kini dirinya hanya harus bersiap jika benih-benih kehidupan yang setiap malam Ravino tanam di rahimnya tumbuh.
"Ada apa? Aku merasakan kecemasan dalam dirimu?" tanya Ravino.
Tangan Cindy berhenti bergerak, wajahnya mendongak ke atas melihat sejenak wajah Ravino. "Saya memang sedang sangat cemas, Mas."
"Apa yang sedang kamu cemaskan?" tanya Ravino.
Cindy bangun dari atas tubuh Ravino, ia mengambil posisi duduk bersandar pada kepala ranjang. Ravino juga melakukan hal yang sama seperti yang Cindy lakukan.
"Apa yang sedang kamu cemaskan?" tanya Ravino.
"Tadi siang saya bertemu dengan ibu Desi. Beliau bertanya kabar Mas dan meminta Mas untuk menemui beliau. Ibu Desi sangat merindukan Mas," jawab Cindy.
"Itu bukan jawaban dari pertanyaan aku, Cindy," ucap Ravino.
Cindy melihat ke arah Ravino, menatapnya dengan tatapan penuh arti. "Saya belum selesai bicara, Mas."
"Terus?" Ravino menunggu perkataan Cindy selanjutnya.
"Ibu Desi curiga jika kita macam-macam di sini," jelas Cindy.
"Saya bohong pada ibu Desi dengan menjawab kita tidak pernah berbuat macam-macam di sini. Pada kenyataannya kita sudah macam-macam bahkan melakukan pernikahan kontrak. Saya takut bagaimana kalau ibu Desi tahu apa yang sudah kita lakukan?" tanya Cindy.
"Itu akan menjadi urusanku nanti," jawab Ravino.
"Tapi, Mas —" Ucapan Cindy dipotong oleh Ravino.
"Ini kehidupanku, aku yang menjalaninya dan aku akan berbuat seperti apa yang aku mau. Kamu hanya harus menuruti apa yang aku perintahkan," sela Ravino.
Cindy diam, ia tidak tahu harus bicara apa lagi. Setelah itu Cindy memberanikan diri untuk merebahkan kepalanya di dada bidang Ravino sambil memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian matanya terbuka merasakan usapan lembut di kepalanya.
"Mas, boleh saya bertanya?" tanya Cindy.
"Apa yang mau kamu tanyakan?" tanya Ravino.
"Jika Mas menginginkan seorang keturunan ... kenapa Mas tidak menikah saja. Maksud saya menikah untuk seumur hidup bukan menikah kontrak seperti apa yang sedang kita lakukan?" tanya Cindy dengan sedikit keraguan.
Tidak ada respon apapun dari Ravino, mungkin Ravino malas untuk menjawabnya. Cindy juga tidak menuntut jawaban dari Ravino walaupun sebenarnya dia ingin mendengar jawabannya.
"Aku tidak percaya jika pernikahan itu akan terjadi untuk selamanya. Aku sudah pernah menikah dan berakhir dengan pengkhianatan. Aku tidak ingin itu sampai terjadi dan kembali merasakan sakit karena penghianatan," jelas Ravino.
Cindy menjauhkan kepalanya dari dada Ravino, menatap dalam-dalam pria yang ada di hadapannya. "Tidak semua perempuan seperti mantan istri Mas Ravi."
Mantan istri!
Ravino mendadak merasakan rasa kesal yang luar biasa saat Cindy kembali mengingatkan dirinya akan Gadis. Ravino mencengkram dua sisi wajah Cindy dan memberikan tatapan dingin.
__ADS_1
"Jangan berani mengingatkan aku dengan wanita murahan itu," ucap Ravino.
"Maaf, Mas." Cindy bicara tergagap, ia merasa takut melihat tatapan mata yang begitu dingin dari Ravino.
Ravino melepaskan cengkraman tangannya dari wajah Cindy, ia menarik tengkuk Cindy dan mencium bibirnya dengan sangat rakus. Bayangan Gadis waktu bercinta dengan Niko kembali melintas di ingatannya membuat amarah Ravino bertambah.
Cindy terbelalak saat merasakan ciuman yang begitu kasar dari Ravino. Ia memahami sikap Ravino, mungkin dirinya sudah membuat Ravino marah karena mengingatkan suaminya akan mantan istrinya.
Cindy membalas ciuman Ravino dengan lembut berharap amarah yang ada dalam diri suaminya mereda. Usaha Cindy berhasil perlahan amarah Ravino mulai mereda. Cindy kembali merasakan kecupan lembut di bibirnya.
Ravino menarik dirinya, memberikan kesempatan dirinya untuk bernapas. Keduanya masih berada dalam jarak yang begitu dekat sampai bisa saling merasakan hembusan napas satu sama lain.
"Maaf, Mas. Jika kata-kata saya tidak sengaja melukai hati Mas," ucap Cindy.
Ravino menggelengkan kepalanya, ia kembali menarik tengkuk Cindy. Ravino kembali mendaratkan kecupan di bibir Cindy, kecupan yang begitu lembut sampai bisa membuat Cindy terbuai. Tangan Ravino bergerak nakal menyusuri setiap inci tubuh Cindy.
Jantung Cindy berdegup kencang, ia merasa gugup dengan apa yang dilakukan oleh Ravino. Sentuhan Ravino membuat tubuh Cindy merinding seperti ada aliran listrik yang mengalir di sekujur tubuhnya.
"Mas ...." Cindy menarik dirinya saat udara dalam dirinya serasa menipis.
"Aku menginginkannya kembali, Cindy," ucap Ravino.
"Tapi, Mas .... kita baru melakukannya," ucap Cindy dengan suaranya yang lirih.
"Bukankah kita harus bekerja keras," ucap Ravino.
Cindy menatap wajah Ravino, rasa gugup, malu, bahagia berkumpul menjadi satu di dalam dirinya.
"Siap?" tanya Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.
*****
Keesokan harinya suara bel di apartemen mengusik tidur Ravino dan Cindy. Mata mereka bisa melihat waktu baru menunjukkan pukul 7 pagi.
"Siapa yang datang sepagi ini?" Ravino berdecak kesal, ia menyumpahi orang yang sudah menganggu mimpi indahnya.
"Aku akan melihatnya," ucap Cindy.
Cindy menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Piyama tidurnya yang tergeletak di lantai Cindy ambil lalu memakainya.
Cindy berjalan dengan tertatih karena pinggangnya terasa sakit, Ravino benar-benar sudah menghabisi tenaganya semalam. Sampai di ruang tengah tiba-tiba saja Ravino mencegahnya, ia memberitahu pada Cindy jika yang ada di balik pintu adalah ibunya.
Keterkejutan tidak bisa Cindy hindari, segera ia berlari menuju pintu melupakan rasa sakitnya. Benar saja saat pintu terbuka, ibu Desi berdiri tepat di hadapannya.
"Kenapa kamu membuka pintu lama sekali?" Nada bicara Cindy terdengar sangat kesal.
"Ma-af, Bu. Sa-ya sedang ada di kamar mandi," gagap Cindy.
"Alasan!" Ibu Desi menggeser tubuh Cindy dengan begitu kasar membuat Cindy hampir saja jatuh.
Cindy menarik napasnya mencoba sabar dengan sikap wanita yang merupakan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Ravi, di mana kamu? Mama ingin bertemu denganmu," teriak ibu Desi.
"Mas Ravi sepertinya sedang mandi, Bu," jawab Cindy.
"Ibu silahkan duduk! Saya akan membuatkan minuman untuk Anda," ucap Cindy.
Cindy melangkah menunju dapur. Rasa sakit di pinggang dan inti tubuhnya kembali terasa. Namun, Cindy mencoba untuk melangkah biasa saja agar ibu Desi tidak merasa curiga.
Beberapa saat kemudian, Cindy keluar dari dapur dengan membawa dua cangkir teh dan dua porsi sandwich telur. Ternyata Ravino sudah ada di meja makan bersama dengan ibunya. Cindy melihat ibu dan anak itu sedang mengobrol.
"Ini, Mas Ravi, Ibu Desi, sarapan dan tehnya." Cindy meletakan makanan dan minuman yang ia bawa di atas meja makan.
"Terima kasih, Cind." Ravino memberikan senyuman kepada Cindy yang membuat ibu Desi tidak menyukainya.
"Sedang apa kamu di sini? Cepat kembali ke dapur dan lanjutkan pekerjaanmu!" perintah ini Desi.
Cindy tersentak mendengar kerasnya suara ibu Desi. Jantungnya hampir saja lepas karena terkejut.
"Mam, jangan seperti ini pada Cindy. Mama bisa 'kan bicara baik-baik padanya," ucap Ravino.
"Mama tidak suka kamu terlalu membela asisten rumah tangga kamu ini," ucap Ibu Desi.
Pandangan ibu Desi kembali melihat ke arah Cindy. "Kenapa masih di sini? Sana pergi!"
"Iya, Bu." Cindy langsung berlari ke dapur sambil menahan air matanya.
"Cindy." Ravino memanggil Cindy. Namun, wanita itu tidak menggubrisnya.
"Ravi kenapa kamu melihat Cindy terus? Kamu suka sama dia?" tuduh ibu Desi.
"Dengar, Ravi! Cindy itu dari kalangan bawah. Dia tidak pantas untukmu," ucap Ibu Desi.
"Mam, ini yang paling tidak Ravi suka. Kenapa Mama selalu saja membedakan status sosial orang," ujar Ravino.
"Mama hanya ingin yang terbaik," ucap ibu Desi.
"Jika Mama ke sini hanya untuk mengajak Ravi berdebat sebaiknya mama pulang saja," ucap Ravino.
"Kamu mengusir Mama?" Ibu Desi terlihat murka karena anaknya lebih membela orang lain.
"Bukan begitu, Mam," decak Ravino.
"Oke, Ravino minta maaf." Ravino memilih mengalah saat melihat air mata di mata ibunya.
"Nak, sebenarnya Mama pagi-pagi ke sini untuk membicarakan hal yang penting. Ini menyangkut masa depan kamu," ucap ibu Desi.
"Tentang apa, Mam?" tanya Ravino.
Ibu Desi menggenggam tangan Ravino dengan erat memberikan kehangatan seorang ibu. "Nak, Doni sudah akan menikah. Apa kamu tidak ingin menikah?"
"Mam, Ravi belum memikirkan hal itu. Ravino masih ingin berkarir," tolak Ravino.
__ADS_1
Ibu Desi menggelengkan kepalanya. "Sampai kapan kamu akan sendiri. Dan Mama sudah memilihkan calon istri untukmu."
Ravino terkejut begitu juga dengan Cindy. Rasa terkejut Cindy membuatnya tidak sengaja menjatuhkan piring dan menimbulkan suara yang begitu nyaring.