
Cindy sedang dalam perjalanan ke restoran tempat dulu ia bekerja untuk menemui Mira. Saat akan masuk Cindy berpapasan dengan Reno yang akan keluar dari restoran. Cindy memalingkan wajahnya tidak berniat untuk bertegur sama dengannya. Namun justru Reno menghadang langkah Cindy.
"Cind, tolong maafin aku. Aku khilaf waktu itu," mohon Reno.
Tidak ada respon dari Cindy, Reno meraih tangan Cindy dan kembali meminta maaf.
Cindy yang masih trauma langsung menghempaskan tangan Reno dan masuk ke restoran tanpa berkata apapun. Langkah Cindy terhenti saat ia mendengar suara Sandy memanggil dirinya.
"Cindy," panggil Sandy.
Cindy menolehkan kepalanya, melihat ke asal suara. Ia melihat Sandy sedang berlari menghampirinya.
"Hai, Sandy kamu apa kabar?" sapa Cindy.
"Aku baik, Beb." Sandy langsung memeluk Cindy.
"Kamu apa kabar. Lama kamu tidak datang ke sini," tanya Sandy.
"Kabarku baik. Aku sangat sibuk jadi aku jarang bisa main ke sini," jawab Cindy.
Sibuk mengurus suami, pagi dan malam.
''Beb, kamu makin cantik saja, gemukan lagi," puji Sandy.
"Kamu juga makin cantik," gurau Cindy yang membuat Sandy tertawa girang.
"Halo, Cindy apa kabar?"
Cindy dan Sandy mengalihkan pandangan mereka, keduanya melihat ibu Susi yang baru datang ke Restoran.
"Baik, Bu Susi. Ibu sendiri apa kabar?" tanya Cindy, sambil mencium punggung tangan Ibu Susi.
"Saya baik, Cind. Ya sudah saya tinggal dulu ya," ucap Ibu Susi yang langsung dianggukki setuju oleh Cindy.
Tidak sengaja Cindy melihat Mira baru memasuki tempat itu. Tidak menunda waktu Cindy berjalan menghampiri Mira, sahabatnya.
__ADS_1
"Hai, Mir. Apa kabar?" tanya Cindy.
"Baik Cind. Kamu sendiri gimana?" balas Mira.
"Aku baik. Oh iya Mir aku ke sini mau minta sesuatu." Cindy menarik tangan Mira, membawanya ke belakang restoran.
Cindy menghentikan langkahnya ia berbalik menatap merah dengan menggenggam tangan Mira.
"Mir, tolong kamu jangan seperti ini terus sama aku. Aku minta maaf kalau aku sudah menyakitimu," ucap Cindy.
"Cind, yang harusnya minta maaf itu aku bukan kamu. Aku yang sudah menyakitimu dengan tuduhan-tuduhan yang tidak jelas. Aku yang bodoh sudah marah karena laki-laki yang tidak pernah bisa aku dapatkan," ucap Mira.
Cindy senang melihat Mira kembali seperti dulu, menjadi sahabat terbaiknya. Mira bercerita kalau dirinya berhenti mengejar Reno, semenjak tiga bulan yang lalu, semenjak Reno menolak perasaannya, bahkan terang terangan menyatakan kalau dirinya mencintai Cindy. Dan juga berkata akan mendapatkan Cindy dengan cara apapun.
Cindy teringat kejadian tiga bulan yang lalu, saat Reno berusaha untuk menodainya. Cindy berniat memberitahukan kepada Mira kejadian itu. Namun ia urungkan untuk kebaikan semua.
"Nah begitu dong baikan. Jangan malu-maluin berantem karena laki-laki. Gantengan juga aku," ucap Sandy dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.
"Weeeee, weeee." Cindy dan Mira menjulurkan lidah mereka untuk mencibir Sandy.
Sandy kesal lalu melempar celemek ke muka Mira.
"Kalau begitu aku balik dulu ya, selamat bekerja. Sampai jumpa lagi," ucap Cindy.
Saat keluar dari restoran, Cindy melihat mobil yang bisanya ibu Desi gunakan. Cindy menghentikan langkahnya saat mobil Honda City itu berhenti di hadapannya. Kaca mobil belakang perlahan terbuka, terlihat wajah ibu Desi yang terlihat sedikit angkuh. Wanita tua yang masih anggun itu menyuruh Cindy untuk menemui dirinya di ruangannya. Cindy berbalik kembali ke dalam restoran dan mengikuti langkah anggun bosnya sekaligus mertuanya.
Semua mata melihat Cindy berjalan mengikuti ibu Desi. Saat ibu Desi berjalan melewati mereka kepala mereka menunduk memberi salam pada pemilik restoran.
Rasa khawatir menyelimuti hati Cindy. Cindy berpikir apakah ibu Desi mengetahui tentang pernikahannya dengan anaknya?
Sampai di dalam ruangan kerja ibu Desi, Cindy duduk di kursi tepat di hadapannya. Cindy benar-benar merasa takut dan cemas. Bagaimana jika ibu Desi tahu mengenai pernikahannya dengan Ravino? Apa yang akan dilakukan oleh ibu Desi nantinya?
''Cindy, angkat wajahmu! Saya ada di depanmu bukan di bawah kakimu," ucap ibu Desi datar tetapi terdengar penuh penekanan.
"Ma-af, Bu," ucap Cindy gagap.
__ADS_1
"Saya mau bertanya tentang anak saya ke kami," ucap ibu Desi.
Cindy sudah benar benar ketakutan bahkan sampai keringat dingin keluar di area wajahnya.
"Cindy, bagaimana kabar anak saya? Apa dia masih suka membawa pulang wanita berbeda setiap harinya ke apartemen?" tanya ibu Desi.
Desi pernah dengar dari teman sosialitanya kalau anaknya sering terlihat bersama wanita berbeda setiap harinya, dirinya yang khawatir sempat bertanya kepada anaknya itu. Namun Ravino menjawab untuk tidak ikut campur dengar urusannya.
Hubungan Ravino dan ibunya memang tidak terlalu baik. Menurut Ravino ibunya terlalu ikut campur dengar urusan pribadinya, apa lagi ibunya tidak suka kalau Ravino memiliki hubungan dengan seseorang yang tidak sepadan status sosial dengan diri keluarga mereka.
"Keadaan Mas Ravi baik-baik saja, Bu. Masalah itu, memang Mas Ravi pernah begitu. Tapi ... sekarang Mas Ravi tidak pernah membawa wanita ke apartemennya. Setiap hari hanya bekerja dan selalu pulang tepat waktu kalau tidak lembur," jawab Cindy.
"Kamu tidak bicara bohong, 'kan?" Ibu Desi menatap Cindy dengan rasa curiga.
"Benar, Bu. Saya bicara jujur," jawab Cindy cepat.
Cindy memang bicara jujur, Ravino sudah tidak pernah lagi membawa perempuan manapun karena Cindy sudah memenuhi kebutuhan malam Ravino sebagai seorang istri.
"Baguslah! Tolong beritahu Ravino untuk sekali-kali pulang ke rumah. Saya merindukan dia," pinta ibu Desi.
"Baik, Bu. Nanti saya sampaikan," ucap Cindy.
Suasana kembali hening dan menegangkan bagi Cindy. Namun, ketegangan itu menghilang saat Cindy merasa yakin ibu Desi belum mengetahui tentang hubungan dengan Ravino.
"Cindy, kamu dan anak saya tidak pernah berbuat macam-macam di sana, 'kan?" Ibu Desi merasa khawatir anaknya tinggal berdua dengan seorang wanita akan berbuat macam-macam.
"Ti-tidak Bu. Mas Ravi sangat baik. Kami tidak berbuat macam macam," kilah Cindy.
"Baguslah! saya tidak mau anak saya memiliki hubungan dengan wanita yang tidak jelas, dan tolong kamu awasi anak saya kalau dia berbuat macam-macam beritahu saya!" perintah Bu Desi.
"Baik Bu." Ketakutan makin menguasai Cindy, ia benar-benar merasa takut kalau sampai ibu Desi tahu yang sebenarnya.
"Maaf, apa sudah tidak ada yang Ibu ingin tanyakan?" tanya Cindy dengan ragu.
"Tidak ada. Kamu boleh pergi sekarang!" ucap Desi.
__ADS_1
"Baik, Bu. Saya permisi dulu," pamit Cindy.
Cindy beranjak dari ruangan ibu Desi dengan terburu-buru, bahkan sampai tidak menyapa teman-temannya. Jantung Cindy terpacu sangat cepat, kini ia benar-benar khawatir kalau sampai pernikahan kontaknya dengan Ravino diketahui oleh publik.