Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Dua Puluh Delapan


__ADS_3

Terhitung sudah tiga bulan pernikahan kontrak Cindy dan Ravino terjadi. Sampai sejauh itu Cindy belum juga mengandung.


Mas bagaimana jika aku ternyata tidak bisa memberikanmu seorang anak?


Pertanyaan itu yang selalu Cindy utarakan kepada Ravino. Demi mematahkan rasa penasaran mereka keduanya melakukan tes kesehatan. Hasilnya tidak ada masalah pada keduanya. Mereka hanya tinggal menunggu waktu saja.


Waktu menunjukan pukul 9 pagi Cindy dan Ravino sedang dalam perjalanan pulang menuju tempat diselenggarakannya pesta pernikahan Doni dan Sandra. Mereka sengaja berangkat lebih awal agar tidak terjebak oleh kemacetan.


*****


Ijab qobul sudah selesai, kini Sandra dan Doni sudah resmi menjadi suami istri. Para tamu undangan mulai menyalami sepasang pengantin baru itu, senyum yang tidak luntur dari bibir pengantin baru itu menjadi pemandangan yang memikat hati.


Resepsi diselenggarakan hotel dengan tema out door. Taman yang cukup luas dihiasi berbagai macam bunga dan lampu kerlap-kerlip menambah suasana romantis di malam itu.


"Selamat ya Mas Doni, Mba Sandra, semoga jadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah. Cepet dapet momongan juga," ucap Cindy.


"Amiiin" seru Doni dan Sandra bersamaaan.


Doni pergi menyapa teman- temanya bersama dengan Ravino. Hanya tinggal Sandra dan Cindy di tempat itu.


"Cindy, bagimana apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil?" tanya Sandra sedikit berbisik di telinga Cindy.


Cindy membulatkan matanya lalu melihat sekelilingnya takut ada yang mendengarnya. Cindy merasa lega saat semua orang sedang fokus pada kegiatan masing-masing.


"Belum, Mba." Cindy menggelengkan kepalanya.


Cindy dan Sandra tertawa disela obrolan. Mereka terlihat begitu dekat tidak ada batasan di antara mereka. Dari kejauhan Ravino memperhatikan Cindy, malam itu Cindy terlihat begitu cantik dengan gaun hitan panjang dengan belahan sampai batas lutut, ditambah make-up bold yang menambah aura cantiknya.


"Ravi, siapa yang sedang kamu lihat?" tanya Aldi, salah satu teman di kampusnya dulu.


Aldi mengikuti arah pandang Ravino, ia melihat Cindy sedang mengobrol dengan Sandra. "Perempuan itu bukannya yang tadi datang bersamamu? Apa mainanmu yang baru?"


"Berisik!" sungut Ravino.


Ravino melangkah meninggalkan Aldi dan menghampiri Doni yang sedang berkumpul dengan teman-temannya yang lain.


Ravino mengobrol bersama Doni kemudian kedua kembali ke tempat Sandra, tetapi Cindy sudah tidak bersamanya.


Ravino melihat ke kanan kirinya dan tidak mendapati keberadaan Cindy. "San, Cindy di mana?''


"Tadi dia bilang mau menemui temannya. Kalau tidak salah namanya Mira," jawab Sandra diikuti anggukan Ravino.


Doni memang menggunakan jasa Wedding organizer. Namun untuk konsumsi dia percayakan kepada ibu Desi, ibu dari sahabatnya yang memiliki cabang restauran dimana-mana.


Di tempat lain Cindy sedang membantu Mira dan Sandy menata makanan untuk para tamu yang datang ke acara itu. Saat sedang membantu kedua temannya, seorang perempuan datang dan mengejeknya.


"Bukannya kamu pembantunya Ravino. Iya, 'kan?"


Suara itu tiba-tiba menggema di telinga Cindy. Cindy memutar arah memandang perempuan yang sedang mengejeknya. Cindy mengerutkan keningnya sambil mengingat-ingat siapa perempuan yang sedang berdiri di hadapannya.


Di saat Cindy sudah mengingat siapa perempuan itu, Cindy mengantupkan bibirnya untuk menahan tawa. Cindy ingat perempuan itu yang pernah dibawa suaminya ke apartemen dan marah karena memberikan makanan yang salah.

__ADS_1


Perempuan itu melihat Cindy dengan kesal karena Cindy berani menertawakan dirinya. Rasa kesal itu semakin bertema saat Cindy memakai gaun limited edition yang dia sendiri sulit mendapatkannya.


"Melani, kamu bicara sama siapa?" Temannya mengikuti pandangan Melani. "Itu bukannya perempuan yang datang bersama Ravino, kamu kenal, Mel?"


"Dia pembantunya Ravino." Melani menjawab dengan penuh amarah.


Teman Melani membuka mulutnya lebar-lebar. Wanita terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Apa? Pembantunya? Melani, Melani ternyata kamu kalah dengan seorang pembantu." Beberapa teman Melani menertawakannya membuat Melani merasa sangat kesal.


Melani yang kesal ditertawakan oleh teman-temanya melampiaskan amarahnya dengan mencengkram kedua pipi Cindy.


"Kamu pasti sudah merayu Ravino sampai-sampai dia mau memberikanmu gaun yang mahal ini! Iya, 'kan?" tuduh Melani.


Cindy berhasil melepas cengkraman tangan Melani di wajahnya. "Maaf, Anda jangan keterlaluan! Jangan membuat keributan di pesta orang lain."


"Diam kamu! Dasar wanita kampung!" Melani bicara dengan keras sehingga mengundang perhatian banyak orang di sekitarnya.


"Hei Tante! Maaf ya menurut saya yang kampungan itu kamu. Tidak punya sopan santun membuat keributan di pesta orang lain," bela Sandy.


"Kamu sebaiknya jangan ikut campur!" Melani memperingati Sandy dengan menunjukkan jari telunjuknya ke arah Sandy.


Sandy yang tidak terima dengan perlakuan Melani ingin mencakar wajah Melani. Namun dicegah oleh Cindy dan Mira.


"Jangan, San!" Cindy dan Mira menahan tubuh Sandy.


"Kalian dengar ini! Kalau nantinya aku menjadi istri Ravino, kalian- kalian ini adalah orang pertama yang bakal aku pecat lebih dulu," ancam Melani diiringi senyum sinis.


Semua orang yang mendengar kata-kata Sandi tidak bisa lagi menahan tawanya.


Melani yang merasa malu menarik tangan Cindy dan mendorong Cindy ke dalam kolam renang. Mira dan Sandy terkejut dan berteriak meminta tolong.


Tidak berselang lama terlihat seseorang menceburkan diri ke kolam dan berenang untuk menolong Cindy. Ternyata orang itu adalah Ravino. Ravino meraih tubuh Cindy dan membawanya ke tepian kolam.


"Cindy, bangun!" Ravino menepuk-nepuk pipi Cindy berulang-ulang. Namun, tidak ada respon dari Cindy. Tanpa ragu Ravino memberikan napas buatan kepada Cindy dan membuat banyak pertanyaan pada setiap orang yang melihatnya.


Cindy terbatuk-batuk bersamaan dengan keluarnya air dari mulut Cindy.


"Syukurlah!" Ravino menghela napas panjang dan menarik Cindy ke pelukannya, ia merasa lega saat Cindy baik-baik saja.


"Kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.


Doni meminta seorang pegawai hotel membawakan handuk untuk Cindy dan menyuruh Ravino membawa Cindy ke salah satu kamar di hotel itu.


Ravino membantu Cindy berdiri menuntunnya untuk pergi dari tempat itu. Ia berjalan melewati menatap tajam Melani saat berjalan melewatinya. Untung saja Aldi memberitahu kalau Cindy sedang bertengkar dengan Melani, kalau tidak entah apa saja yang akan dilakukan perempuan arogan itu pada Cindy.


Ravino mengambil pakaian ganti di mobilnya. Untung saja Cindy selalu menyiapkan pakaian ganti di dalam mobil. Ravino sedikit kecewa banyak orang di tempat itu, tetapi tidak ada yang seorangpun yang berusaha melerai pertengkaran itu. Mereka justru menikmati tontonan yang menurut mereka menarik.


"Rav, kamu punya hubungan apa dengan pembantu murahan itu?" tanya Melani yang tiba-tiba sudah berada di samping Ravino.


"Jaga bicaramu! Dia perempuan baik-baik tidak seperti dirimu!" Ravino mencengkram leher Melani. Sorot mata elang Ravino seakan membekukan Melani.

__ADS_1


"Ravi, lepaskan! Apa kamu ingin membunuhku?" Melani memukul-mukul pergelangan tangan Ravino agar Ravino mau melepas genggaman tangannya.


Ravino melihat Melani mulai kehabisan napas, dengan kasar Ravino menghempaskan tubuh Melani ke samping mobilnya dan berlalu meninggalkan Melani.


Melani mencoba menetralkan napasnya lalu dengan lantang dia berteriak kepada Ravino


"Kamu suka sama wanita itu, 'kan?"


Ravino berhenti dan berbalik. "Kalau iya kenapa?"


"Selera kamu sangat rendah, Rav! Wanita itu bahkan tidak se-level denganku," ucap Melani.


Ravino kembali berjalan ke arah Melani, menatap wanita itu dengan senyuman mengejek. "Dia memang tidak se-level sama kamu, karena level dia lebih tinggi dari pada kamu. Dan satu lagi, setidaknya dia masih perawan saat aku tidurin."


Ravino tersenyum sinis dan berlalu meninggalkan Melani dengan amarah yang siap meledak.


Sementara itu Cindy keluar dari kamar mandi, hanya dengan handuk yang melilit tubuhnya. Pintu kamar terbuka menampakan Ravino dari baliknya, keduanya saling berbalas senyuman dan menutup kembali pintu kamar itu.


"Ini pakaian ganti untukmu." Ravino menaruh paper bag ke atas tempat tidur.


"Iya, Mas. Terima kasih," ucap Cindy.


"kalau begitu aku masuk ke kamar mandi dulu," ucap Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.


Ravino masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang basah. Beberapa menit kemudian Ravino keluar dari kamar mandi dan mendapati Cindy sedang duduk di tepi ranjang.


"Mas Ravi, kita pulang yuk. Saya merasa tidak enak pada keluarganya Mas Doni. Karena aku sudah membuat keributan di pesta tadi," ucap Cindy.


Ravino mengangguk, dipegangnya dagu Cindy dan mencium kening Cindy dalam jeda waktu lebih lama.


"Kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Ravino disambut gelengan kepala Cindy.


Ravino menatap Cindy dan entah dorongan dari mana Ravino mencium bibir merah itu. Perlahan keduanya larut dalam ciuman itu. Cukup lama mereka berciuman membuat mereka terlena. Namun suara ketukan pintu memaksa mereka mengakhiri kecupan itu.


Cindy dan Ravino saling melempar senyum lalu Cindy menjauh dari Ravino untuk membuka pintu. Pintu terbuka dan laki-laki di hadapannya mengejutkan dirinya.


"Reno.''


"Maaf, Cind —" Ucapan Reno terpotong oleh Ravino.


"Siapa, Cind?" tanya Ravino.


Cindy membuka pintu kamar lebih lebar lagi, Reno bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di belakang Cindy.


"Maaf, Mas Ravi. Saya disuruh mas Doni mengantar pakaian ini untuk Cindy dan Mas Ravi," ucap Reno.


Ravino mendekati Reno, tidak sengaja pandangan Reno melihat ke arah leher Ravino yang masih bertelanjang dada dan beralih ke leher Cindy. Benda yang sama tergantung di leher keduanya.


"Bawa kembali saja. Kami sudah membawa pakaian ganti dan kami akan langsung pulang," ucap Ravino.


"Baik, Mas." Reno pergi dari kamar itu dengan sejuta pertanyaan di benaknya.

__ADS_1


__ADS_2