Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Tiga Puluh


__ADS_3

Ada yang berubah dari sikap Ravino setelah mengetahui kabar kehamilan Cindy. Rasanya Ravino mendapatkan seluruh kebahagiaan di muka bumi ini. Meskipun sempat kerepotan karena Cindy masih merasa mual, maunya makan yang aneh-aneh, dan Cindy juga berubah menjadi manja, tetapi tidak masalah bagi Ravino istri dan calon anak mereka sehat. Apa yang  Cindy mau pasti akan langsung Ravino kabulkan. Pria itu mencari apa yang Cindy mau dan itu dengan usahanya sendiri. Mungkin jika Cindy ingin pergi ke bulan Ravino juga akan mengabulkannya.


"Mas," panggil Cindy.


"Ada apa? Apa kamu ingin sesuatu lagi?" tanya Ravino.


"Iya," jawab Cindy.


"Apa lagi yang kamu inginkan?" tanya Ravino.


Bibir Cindy tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman lalu berjalan ke arah Ravino. Cindy membenahi dasi Ravino dan berkata, "Tolong jangan terlalu memanjakan diriku."


Ucapan Cindy jelas membuat Ravino merasa bingung. "Kenapa aku tidak boleh memanjakan dirimu?"


"Karena aku tidak mau jika hidupku bergantung padamu yang akhirnya nanti membuatku sulit untuk pergi dari hidupmu setelah anak ini lahir," jawab Cindy dengan wajahnya yang menunjukkan kesedihan.


Setelah mendengar apa yang Cindy ucapkan Ravino merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya. Ia merasa hatinya ikut terluka melihat Cindy merasa sedih.


Diraihnya dagu Cindy dan mengangkat wajahnya agar ia bisa melihat wajah Cindy yang makin hari terlihat semakin cantik.


"Kita pikirkan itu nanti." Ravino mendekat wajahnya dan mendaratkan kecupan di bibir Cindy.


"Aku harus segera pergi ke kantor," ucap Ravino.


"Iya, Mas. Aku sudah siapkan sarapan untukmu," ucap Cindy.


Ravino kembali mencium bibir Cindy dan beralih pada perut Cindy dimana di dalamnya ada benihnya. Setelah itu keduanya keluar bersama dari kamar itu.


Ravino dan Cindy duduk di meja makan bersama. Cindy menyiapkan sarapan berupa nasi goreng untuk Ravino, sedangkan dirinya hanya makan roti dan susu setiap harinya karena hanya itu yang bisa masuk ke dalam perutnya.


Ravino merasa senang mendapatkan seorang istri seperti Cindy yang mampu melayaninya dengan baik. Tidak seperti mantan istrinya yang sudah mengkhianatinya.


Selesai sarapan Cindy dan Ravino beranjak dari meja makan. Kemudian Cindy mengantar Ravino sampai pintu.


"Hati-hati di jalan, Mas." Cindy mencium punggung tangan Ravino dibalas kecupan yang Ravino berikan di keningnya.


Setelah Ravino pergi Cindy kembali masuk ke dalam apartemen dan melakukan ritual hariannya.


*****


Setelah makan siang Ravino dan Doni masih mengobrol di ruangan kerja Ravino. Memang saat keduanya berada di kantor, mereka adalah atasan dan bawahan. Namun, pada saat jam istirahat ataupun di luar kantor mereka adalah teman baik.


Selesai makan siang, Doni memilih untuk merebahkan tubuhnya di sofa, sedangkan Ravino memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


Ravino fokus pada laptop di hadapannya sambil mendengarkan ocehan sahabatnya.


''Ternyata enak juga kalau sudah memiliki istri. Semuanya sudah disiapkan. Apalagi kalau dingin di malam hari ada yang bisa menghangatkan," ucap Doni diikuti gelak tawanya.

__ADS_1


Ravino terkekeh dan menggelengkan kepalanya, siapa yang menyangka Doni masih perjaka sampai saat dia menikah dengan Sandra.


"Senang kalau memiliki istri yang baik. Tidak seperti ...." Ravino menghentikan perkataanya saat ia akan menyebut nama Gadis, mantan istrinya.


"Lupakan wanita yang tidak tahu diri itu." Doni bangun mengambil posisi duduk.


"Tapi Cindy tidak seperti itu, 'kan?" tanya Doni.


Ravino langsung menggelengkan kepalanya. "Dia sangat pengertian dan melayaniku dengan baik."


"Itu sangat bagus. Tidak inginkah kamu untuk menikahi Cindy secara resmi?" tanya Doni.


Ravino menghentikan aktivitasnya, ia menoleh ke arah Doni menatap sahabatnya dengan tatapan bingung.


"Kenapa kamu terlihat bingung? Bukankah Cindy itu wanita yang baik, cantik juga, tidak kalah sama Gadis," ucap Doni.


"Jangan sebut nama wanita itu di hadapanku!" Ravino marah saat nama Gadis terdengar di telinganya.


"Oke, oke, maaf. Kalau begitu kita bahas Cindy saja," ucap Doni.


"Dari yang aku lihat sepertinya kamu mulai memiliki perasaan kepada Cindy. Kamu mulai menyukai Cindy. Aku melihatnya saat aku melihat betapa khawatirnya dirimu saat Cindy jatuh ke dalam kolam berenang malam itu," ucap Doni.


Ravino masih diam, tetapi ia mencoba mencerna semua perkataan yang keluar dari mulut Doni.


Benarkah dirinya jatuh cinta kepada Cindy?


Namun tidak dipungkiri Ravino merasakan hal yang lain saat sedang bersama dengan Cindy. Jantungnya ikut berdebar saat berada dekat dengannya, saat Cindy merasa bahagia maka dirinya juga ikut dengan kebahagiaan itu, saat Cindy merasa sedih maka hatinya juga ikut merasa bersedih.


Mungkinkah benar aku jatuh cinta kepada Cindy?


Ravino menggelengkan kepalanya mencoba menepis apa yang sedang dirasakannya.


"Jangan mencoba untuk membohongi dirimu sendiri, Rav. Jika kamu tidak ingin mengakuinya, maka jangan menyesal jika nantinya kamu akan kehilangan Cindy," ucap Doni.


Ravino mengela napas beraturan. Ia merasakan beban hidup di dunia ini berada di atas pundaknya.


"Don, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu. Ini mengenai Cindy," ucap Ravino.


"Ada apa dengannya?" tanya Doni.


"Cindy hamil," ungkap Ravino.


"Apa?" Doni tersedak air ludahnya sendiri saat Ravino mengatakan jika Cindy tengah hamil.


"Beneran, Rav? Kamu serius?" tanya Doni memastikan kalau dia tidak salah mendengarnya.


"Serius," jawab Ravino singkat, tetapi jelas.

__ADS_1


"Sudah berapa bulan?" tanya Doni lagi.


"Kami belum tahu. Cindy tidak mau aku ajak ke Dokter." Ravino menghela napas sambil melempar berkas ke meja dan memijit  pangkal hidungnya.


Doni melihat kecemasan di wajah Ravino. "Kenapa dia tidak mau diperiksa?"


"Entahlah! Aku melihat Cindy sepertinya merasa terbebani dengan kehamilannya." Ravino menyenderkan kepalanya di kursi kerjanya.


"Jelaslah Cindy pasti sedang merasa khawatir. Apa kamu tidak berpikir saat nanti tante Desi dan semua orang tahu tentang kehamilannya," ucap Doni.


"Aku akan mengatakan jika anak yang Cindy kandung itu anak aku. Mudah, bukan!" jawab Ravino dengan entengnya.


"Terus kamu juga akan mengatakan kepada tante Desi dan semua orang, kalau kamu menikah dengan Cindy karena sebuah perjanjian dan kalian akan bercerai setelah anak itu lahir," ucap Doni.


Ravino langsung terdiam mendengar serangakaian pertanyaan dari Doni. Ravino tenggelam dalam diam sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah anak itu lahir.


"Aku minta tolong padamu, jangan sakitin Cindy. Dia gadis baik yang masih polos. Bahkan dia mau mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan orang lain," pinta Doni.


"Aku sama sekali tidak punya niatan untuk menyakiti Cindy. Hubungan kami berawal dari sebuah perjanjian dan akan berakhir seperti yang tertera di dalam surat perjanjian itu," ucap Ravino.


Doni menarik napasnya dalam-dalam mencoba menahan amarah yang ada di dalam dirinya.


"Jika sampai kamu berani menyakiti dirinya, aku orang pertama yang akan menghajarmu," ucap Doni.


"Hmmmm." Ravino hanya bisa bergumam karena dirinya tidak tahu apa yang harus ia katakan.


Doni merasa kesal dengan respon dari Ravino. Akan tetapi Doni mencoba menahannya. Doni memilih keluar dari ruang kerja Ravino sebelum dirinya hilang kendali.


Doni keluar dari ruang kerja Ravino dan membanting pintu dengan keras. Doni tidak habis pikir Ravino sekarang benar-benar sudah seperti tidak memiliki perasaan.


Sepeninggal Doni, Ravino masih terdiam sambil memiliki perkataan Doni. Terlihat jelas Doni marah besar karena Cindy sudah seperti adiknya sendiri.


Kenapa aku jadi bingung seperti ini?


Dering di ponselnya membuyarkan lamunannya. Ravino tersenyum melihat nama di layar ponselnya. Ternyata istrinya yang menghubunginya. Tanpa menunggu waktu lama lagi Ravino langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke dekat telinganya.


"Halo, Cind. Ada apa?" tanya Ravino.


"Mas, aku mau pulang ke kampung," jawab Cindy.


Ravino mengerutkan keningnya saat mendengar suara serak Cindy.


"Cindy, kenapa kamu menangis?" Ravino berdiri dari kursinya.


"Mas, ibuku masuk ke rumah sakit. Dan kata bapak ibu sakitnya parah," jawab Cindy.


"Apa? Baiklah kamu tunggu di apartemen. Aku akan segera pulang. Kita pergi bersama-sama," ucap Ravino.

__ADS_1


Setelah itu sambungan telepon terputus. Ravino bergegas membereskan barang-barangnya dan pergi dari kantornya.


__ADS_2