Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Sejuta kebahagiaan


__ADS_3

Ravino mendekati bayi yang sedang menangis, bayi laki laki yang masih merah yang beberapa hari baru saja dilahirkan istrinya. Sudah satu minggu bahkan istrinya masih terbaring diranjang Rumah Sakit dan sampai sekarang belum sadarkan diri.


Bayi digendongan Desy terus saja menangis, sampai Desy terlihat cemas. Ravino mendekat lalu mengusap kepala anaknya. Dan perlahan bayi itu mulai tenang. Perlahan Desy memindahkan bayi itu ke gendongan anaknya.


"Tenang ya nak, ade kangen ya sama mama..?"


Ravino mencoba untuk menenangkan bayi kecilnya yang sedang mengamuk. Desy menyerahkan botol berisi susu formula, sesikit demi sedikit susu didalam botol habis dan bayi kecil itu mulai tertidur.


Ravino menaruh bayinya ke dalam box bayi di dalam ruangan bayi Rumah Sakit dan segera menuju ruangan dimana istrinya masih terbaring. Dengan memakai pakaian khusus, Ravino menghampiri istrinya. Air mata tak kuasa dia tahan, dikecup kening sang istri dengan cukup lama hingga air matanya mengalir ke wajah sang istri.


"Apa kamu masih ingin tidur, apa kamu tak ingin melihat anak kita..!" Ravino menagis, merasakan sesak didalam dadanya melihat istrinya tak juga membuka matannya.


Diraihnya telapak tangan Cindy lalu dia cium berulang ulang seraya memohon untuk istrinya cepat membuka mata. Ravino menundukan kepalanya di tepi ranjang, sambil tetap menggenggam tangan istrinya.


Beberapa menit kemudian Ravino merasakan pergerakan tangan istri di dalam genggamannya. Ravino mendongak dan melihat wajah sang istri, perlahan mata Cindy mulai terbuka, dengan segera Ravino berdiri dan mendekap kedua sisi wajah Cindy.


"Cindy..!"


"Mas dadaku sakit"


Ravino panik lalu dengan segera memanggil Dokter. Beberapa menit Dokter dan para perawat datang dan menyuruh Ravino untuk segera keluar. Di luar sudah ada Rohim ayah Cindy dan juga Aryo.


"Kenapa nak Ravi, Cindy kenapa..?"


"Tadi Cindy sempat siuman, tapi tiba tiba dia mengeluh dadanya sakit". Ravino sangat cemas, disaat dia merasakan kebahagiaan istrinya bangun dari tidur panjangnya. Namun harus kandas lagi.


Seketika Rohim merasakan sesak didadanya, tubuhnya melemah, Aryo membawa ayahnya untuk duduk di kursi tunggu. Dokter yang menangani Cindy keluar dan menghampiri Ravino dan keluargannya.


"Syukurlah Pak Ravi, istri anda sudah melewati masa kritis".


"Tapi bagaimana tadi dia mengeluh dadanya sakit..?"

__ADS_1


"Tidak apa apa, istri anda mengeluarkan banyak Asi, saya sudah meminta suster untuk membawa anak anda untuk mendapat Asi"


Semua bernafas lega. Desy bergegas. Menghampiri Ravino dan menanyakan kebenaran tentang Cindy. Sungguh Desy sangat bahagia mendengar menantunya sudah siuman dan melewati masa kritis.


Setelah Cindy dipindahkan ke ruang rawat semua menghampirinya.


"Cindy gimana nak keadaan kamu, bapak khawatir Nak...?" tanya Rohim kepada putrinya.


"Allhamdulillah pak, Cindy udah baik baik aja." Rohim mencium pucuk kepala anaknya.


Pandangan Cindy beralih kepada Desy ibu mertuanya.


"Bu Desy tidak apa apa..!"


Desy tersentuh dan bertanya kenapa Cindy masih saja mengkhawatirkannya sedang kondisi dirinya saja lebih mengkhawatirkan. Desy menghapus air disudut matanya lalu menghampiri Cindy.


"Kamu masih saja mengkhawatirkan saya, dengan kondisimu yang sedang seperti ini"


"Aku sudah baik baik saja Bu"


Cindy tercengang lalu Desy memeluk Cindy dengan penuh kasih sayang. Bayi kecil didekapan Cindy sudah tertidur lelap. Desy mengambil alih bayi mungil itu, lalu menidurkanya di ranjang bayi. Setelah itu Desy, Aryo dan Rohim pulang ke rumah untuk beristirahat.


Cindy menatap Ravino yang sedang duduk di sofa. Melihat Cindy sedang menatapnya, Ravino menghampiri istrinya dan duduk di tepi ranjang.


"Sudah merasa lebih baik..!"


Cindy menganggukan kepalanya. Ravino langsung memeluk tubuh sang istri dan mendaratkan banyak ciuman di pucuk kepala istrinya.


"Kamu tahu Cindy, aku tidak sanggup kalau aku harus kehilanganmu, aku sangat mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintai mas Ravi."

__ADS_1


Ravino melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Cindy. Ravino bersyukur istrinya kembali kedalam hidupnya lagi. Tangisan bayi mengejutkan mereka, Ravino mengangkat bayi kecilnya di box bayi dengan sangat hati hati. Lalu memberikannya kepada Cindy.


Cindy mendekap putra pertamanya lalu mencium keningnya. Bayi laki lakinya sangat mirip dengan ayahnya, tetapi matanya bening persis seperti Cindy. Ravino melingkarkan tangannya kepinggang dan menyandarkan kepala dipundak sang istri.


"Terima kasih sudah melahirkan anak ini untukku"


"Mas perjanjiannya"


Ravino mendongak lalu terkekeh.


"Perjanjian yang mana...?" tanya Ravi masih dengan senyumnya.


"Perjanjian yang dulu kita sepakati"


Ravino terkekeh lalu menggenggam tangan sang istri.


"Aku berfikir saat itu aku hanya membutuhkan anak darimu. Tapi kali ini aku membutuhkan dirimu dan anak kita. Dan soal surat perjanjian itu.... Kakakmu sudah merobeknya setelah dia mengetahui itu dulu."


Ravino dan Cindy tertawa ringan mengingat saat Doni memergoki mereka tidur satu kamar. Sebenarnya Ravino tak begitu memikirkan soal perjanjiannya, saat bersama Cindy dia merasa begitu nyaman sampai dia merasa takut kehilangan Cindy dan jatuh hati kepada Cindy.


*Happy reading gaes


Mampir juga ke novel ku yang lain


Raja dan Ratu


Demi Nama Cinta


Jangan lupa like 👍


Tambah ke favorit ❤

__ADS_1


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Jika kalian suka 😘😘😘😘😘*


__ADS_2